Getirnya Cinta Dalam Hati
Kalau bisa aku menentukan nasibku, aku ingin menjadi seorang anak dari pengusaha sukses bidang pertambangan dan semua kebutuhanku tercukupi. Tapi takdir berkata lain. Aku lahir dari keluarga yang cukup. Maka dari itu, aku selalu bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan.
Perkenalkan namaku Raelyn Aulia. Biasa disapa Rae oleh teman-temanku. Di rumah, aku dipanggil Lia. Sekarang, aku duduk di kelas dua SMA. Kalian pasti akan bertanya. Apa aku sudah punya pacar? Jawabanya sangat mudah. Belum pernah berpacaran. Dan tak mau berpacaran. Apa aku tak normal? Aku masih normal seperti kalian semua. Karena masa remaja masa senang-senang dan pencarian jati diri. Sebenarnya, aku sudah pernah merasakan cinta. Dulu, saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Jatuh cinta dalam diam pada teman sekelas. Tapi cinta itu bertepuk sebelah tangan. Tragis memang. Dan sekarang, aku ingin memulai hidup baru menjadi gadis tangguh untuk meraih cita-cita dan membahagiakan orang tua.
“Liaa.. udah siap belum? Ditunggu Ayah dan Bunda di meja makan,” koor Gabriel dari depan kamarku. Sekedar kalian tahu, Gabriel adalah abangku satu-satunya. Dia sangat perhatian denganku, walaupun dia terkadang pendiam dan sangat introvert dengan orang yang tak dikenalnya. Dia berada satu tingkat di atasku di sekolah yang sama.
“Oke kak Iel. Ini udah selesai kok,” sahutku sambil menyambar tas ransel berwarna hitam, bersiap ke ruang makan.
Selang beberapa waktu, aku sudah duduk di meja makan. Aku sangat senang suasana tiap pagi di meja makan. Ada Ayah, Bunda, dan Kak Iel. Ditemani dengan menu makanan sederhana. Tetapi yang membuat sarapan pagi menjadi enak adalah kebersamaan keluarga kami yang tidak bisa tergantikan apapun.
“Ayo berangkat, dek. Keburu telat. Hari ini aku ada jam pagi,” ajak Kak Iel sembari berdiri akan bersalaman dengan ayah dan bunda.
“Siiap, Kak. Let’s go. Assalamu ‘alaikum semua,” salamku setelah bersalaman dengan ayah bunda.
“Hati-hati di jalan ya sayang. Wa‘alaikumsalam,” sahut ayah bunda bebarengan.
“Udah sampek ini, dek. Sana buruan masuk,” usir kakakku dari motornya.
“Bentar duuh Kak. Takut pacarnya liat ya? Padahal sama adik sendiri. Masak enggak boleh?” nyolotku pada Kak Iel sembari turun dari jok motor.
“Sok tahu banget. Situ aja belum pernah pacaran,” ucapnya dengan sok marah.
“Yaaa, gini-gini aku juga pernah merasakan cinta Kak,” jawabku lirih.
“Aku duluan. Nanti kalau ada apa-apa What’s App aku. Ok?” ujar Kak Iel sembari menjauh dari parkiran.
Aku cukup terkenal di sekolah, hanya karena adik dari Gabriel Stevent. Ia genius, ramah, dan yang membuat ia semakin terkenal adalah ia tampan. Dengan rahang kuat dan tegas, bentuk wajah yang manis, sepasang lesung pipit, serta pembawaan yang karismatik. Kak Iel juga aktif di organisasi Basket dan OSIS. Sedangkan aku? Aku hanya gadis biasa, tak begitu cantik, dan tak punya banyak teman.
“Pagi Rae… cantik banget hari ini,” sapa Rio. Untuk informasi, Rio Stevano adalah satu-satunya temanku sekaligus sahabatku. Biasa dipanggil Rio. Cowok tampan, mapan, dan cerdas. Dikelilingi oleh banyak gadis. Tapi tetap saja, aku sahabat satu-satunya.
“Makasih. Emang aku cantik ya? Masih ada yang lebih cantik lagi di angkatan kita,” jawabku sekenanya, duduk di sebelah Rio.
“Kamu cantik kok, manis lagi. Nanti kan malam minggu, gimana kalau aku main ke rumah?” tanya Rio padaku bersamaan dengan bel masuk jam pertama berbunyi.
“Boleh aja. Aku tunggu,” jawabku tenang di tengah jantungku yang siap meloncat dari tempatnya.
“Ok. Makasih Rae, sayang,” ucapnya sambil bersiap karena guru matematika sudah datang.
Mendengar hal itu, aku hanya bisa diam terpaku. Bagaimana tidak? Seorang yang sudah hadir sejak aku masuk ke sekolah ini sampai sekarang aku duduk di kelas dua mengucapkan kata sayang untuk yang pertama kalinya untukku. Dia yang mengisi hari-hariku di sekolah ini. Dan dia juga yang telah mengisi ruang di hatiku. Kalau bisa aku berkata. Mungkin akan ku katakan sejak dulu.
“Liaa.. dicari pacarnya tuh di depan rumah. Kasihan dia, hujan-hujan begini masih aja nekat,” suruh Kak Iel di ruang tv.
“Iya bawel,” jawabku ketus. Berjalan ke teras membawa handuk kecil untuk jaga-jaga kalau Rio basah kuyup.
“Riooo.. kenapa tetep nekat ke rumah. Kalo hujan, enggak usah ke sini juga enggak apa-apa kok,” cemasku sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
“ Cuma mau lihat kamu. Aku kangen lihat senyum manis kamu,” ucapnya lirih tapi masih sanggup aku dengar.
“Ulangi, Yo. Tadi kamu ngomong apa?” tanyaku penasaran.
“Enggak kok. Enggak apa-apa. Aku izin ke toilet dulu ya,” elaknya dariku.
“Ya udah sana!” ucapku seru.
Aku kaget dengan apa yang dia katakan. Aku terlalu penasaran dengan apa yang ia akhir-akhir ini lakukan. Apakah itu memang yang ingin dia katakan atau hanya halusinasiku saja. Aku terlalu bimbang untuk mengambil keputusan. Apakah benar Rio membalas perasaanku? Aku bingung. Sungguh. Tapi aku tak ingin termakan oleh situasi ini.
Ramainya kelas ini karena guru-guru sedang rapat membuatku beranjak untuk pergi ke tempat kesukaanku. Di mana lagi kalau bukan di atas sekolah. Tempat paling tentram dan menenangkan di sekolahku ini.
“Sial banget. Headphone ketinggalan di kelas. Enggak bisa dengerin lagu dengan tenang di sini,” gerutuku sambil duduk bersandar di dinding menghadap ke lingkungan sekolah. Tiba-tiba ada yang menyenderkan kepalanya di bahuku.
“Ke mana aja Rae? Aku cariin dari tadi,” adu Rio padaku.
“Aku di sini, Yo. Ada apa cari aku, ada yang mau dibicarain?” jelasku pada Rio yang masih menyenderkan kepalanya dengan memejamkan mata.
“Memang ada yang mau aku bicarain sama kamu. Ini penting, Rae!” ucap Rio membuat aku penasaran. Tidak pernah dia seserius ini.
“Silahkan kalau mau bicara,” suruhku dengan hati yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Sebenarnya aku udah pacaran sama Alyssa, Rae,” ucap Rio singkat. Namun langsung berimbas pada hatiku. Runtuhlah duniaku untuk yang kedua kalinya.
“Kenapa kamu baru cerita?” tanyaku dengan nada yang cukup bergetar. Karena aku berusaha tidak terlihat rapuh di depan Rio.
“Aku baru pacaran sekitar dua hari lalu dan mau cerita hari itu juga. Tapi waktu itu, sepertinya kamu ada masalah. Jadi aku menunda berita bahagia ini,” jelasnya tegas, memandang kosong ke depan.
“Kamu masih nganggep aku teman kan, Yo?” tanyaku berusaha tenang.
“Iya Rae. Kamu teman terbaik yang pernah ada di hidup seorang Rio. Walaupun kamu orangnya judes, cueknya minta ampun, kalau sama orang yang baru kenal. Yah, kamu sahabat terbaikku Rae,” jelas Rio dengan kedua tangannya berada di bahuku dan tatapannya yang tajam tapi menentramkan jiwa.
“Iya Yo. Kamu juga sahabat terbaikku. Sahabat yang selalu ada saat suka dan duka,” kataku meyakinkan Rio. Ia langsung merengkuhku dalam pelukannya. Pelukan persahabatan. Pelukan yang penuh dengan kedamaian dan kehangatan persahabatan. Pelukan yang akan membuatku rindu akan masa-masa indah seperti saat ini. Serta pelukan yang akan membuatku selalu merindukanmu.
Akhir pertemuan itu, aku diantar oleh Rio. Setibanya di rumah, aku menangis karena menyesal pada keputusanku untuk memendam perasaan pada Rio. Paginya, aku diberondong pertanyaan oleh Kak Iel karena mataku sembab. Aku yang awalnya hanya tutup mulut perihal perasaanku dengan Rio, akhirnya menceritakan semuanya pada Kak Iel. Dan setelah aku ceritakan semua, abang marah pada Rio. Ia ingin membalaskan kesedihanku pada Rio. Tapi aku tahan Kak Iel. Aku tak ingin Rio tahun tentang semua perasaanku terhadapnya.
Cinta. Cinta datang karena terbiasa. Memang, awal merasakan jatuh cinta itu meyenangkan dan mendatangkan berjuta kegembiraan. Tapi saat orang yang kau cintai sudah dimiliki orang lain yang tak lain adalah musuhmu. Kalian tidak bisa melakukan apapun. Dan jangan pernah kalian mencintai seseorang dalam diam. Karena itu lebih menyakitkan daripada menyatakannya secara langsung. Dan cinta itu hanya bisa kita pendam sendiri. Tanpa orang lain ketahui.