Kita tak akan pernah kehabisan waktu
“Anda siapa?”, tanyamu seperti biasa.
“Anda tak mengingat saya?”
Aku selalu suka raut wajahmu ketika sedang berpikir keras.
Sejenak kau mencoba mengingatnya lagi, kedua alismu tertekuk sempurna, ada dua kerutan yang terbentuk di keningmu ketika kau memaksakan diri berpikir.
Kau menggeleng lemah. Tak mengapa, harapku tak akan pernah hilang.
Namamu Roekmana, suamimu Dipta.
Ukuran sepatumu nomor 38.
Kau lahir tanggal 7 Juni 1955.
Kau menyukai semua jenis makanan, kecuali brokoli, paprika dan susu rasa strawberry.
Kau menyukai warna biru, katamu itu membuat mu tenang.
Kau suka sekali membaca buku di bawah pohon sawo yang ku tanam belasan tahun silam di pekarangan depan rumah kita. Setiap pagi kau akan duduk di atas kursi gantung taman yang ku buat dengan tanganku sendiri. Meski tak sempurna-sebab salah satu kaki penyangganya terlalu pendek beberapa senti- tapi aku masih ingat dengan jelas wajah bahagiamu ketika melihatnya.
Kau sangat menyukai tanaman hias.
Kau sangat menyukai ketika semua benda dalam keadaan bersih dan tertata rapi, sebab kau alergi debu.
Kau sangat keras kepala tapi kau akan langsung menangis ketika aku berbicara padamu dengan suara tinggi.
Kau sangat menyukai lagu The Carpenters-Close to You, kau akan mendengarkannya satu kali di pagi hari dan dua kali sebelum tidur malam.
“Pohon sawo dan kursi ini adalah tempat favoritku.”, kau pernah berkata seperti itu, aku ingat betul.
Dan tempat favoritku adalah dimana kau berada.
Subuh ini seperti biasa aku menolongmu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.
“Anda siapa? Apakah saya mengenal anda?”, tanyamu lagi yang ku jawab dengan senyuman.
Aku pernah hidup di dalam hatimu. Tidak tidak tidak, aku yakin sampai sekarang pun aku masih ada di sana, hanya saja sekarang kau tengah lupa siapa aku, siapa kita.
Aku masih mengingatnya.
Aku masih mengingat kita.
Kita menikah 23 Mei 1970.
Kau melahirkan anak pertama kita pada tahun 1973, setelah penantian yang cukup panjang akhirnya Tuhan mempercayakan seorang anak kepada kita berdua. Tapi kita harus merelakan kepergiannya sebab ia terserang demam berdarah dan tak tertolong lagi. Kita kehilangan malaikat kecil kita ketika ia baru berumur delapan bulan. Dan kau tak kalah terpukulnya.
Kemudian Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada kita untuk memiliki malaikat kecil lainnya. Tapi sayangnya kau divonis memiliki kanker rahim yang akan membahayakan nyawamu jika bayi itu tetap dipertahankan.
Aku masih bisa mengingat dengan sangat jelas, bagaimana malam itu kau berlutut memohon padaku agar aku mengijinkanmu untuk tetap mempertahankan bayi kita. Rasanya baru kemarin saja. Aku mengingat dengan jelas bagaimana airmatamu jatuh. Aku lemah dengan semua tentangmu. Kau memelukku seketika, menghadiahiku dengan ratusan kecupan di mukaku ketika aku mengijinkanmu.
Lima bulan setelahnya kau mengalami pendarahan hebat, sehingga bayi kita harus dilahirkan prematur. Aku masih mengingat bagaimana raut kekhawatiran di wajah dokter Budiman ketika ia menyampaikan padaku bahwa kau dan bayi kita dalam kondisi kritis.
Aku harus memilih di antara dua, kau atau bayi kita.
Atau aku akan kehilangan kalian berdua.
Maafkan bapak nak, bapak merelakanmu demi ibumu. Ku harap kau mengerti nak.
Masih jelas dalam ingatanku betapa marahnya kau kepadaku saat mengetahui bahwa kita kehilangan bayi kedua kita berikut dengan rahimmu. Kau memukulku, sama sekali tak kuat tapi itu cukup menyakiti hatiku hanya melihatmu menangis pasrah di bahuku. Meremas kuat kemeja biruku, warna kesukaanmu.
“Apakah kita akan maraton lagi pagi ini?”, tanyamu antusias.
Aku mengangguk pelan. Tak ada yang lebih bahagia dari pada melihatmu tersenyum. Aku rela kehilangan apapun asalkan senyum itu masih setia menempel di wajah persegimu. Terdengar konyol memang, tapi aku akan melakukan apapun untukmu.
“Oh aku ingat taman ini. Aku dulu senang sekali bermain layangan di sini. Dulu, ketika aku masih kecil dulu. Dan aku punya seekor anjing kecil yang ku beri nama Semesta sebab mata sebelah kirinya cacat tapi seakan kau bisa melihat semesta di dalam manik hitam itu. Akan kau temukan ratusan bintik putih bak bintang di sana.”
Kau sangat suka bercerita. Kau akan bercerita ketika kau marah, sedih dan bahagia. Tanpa aku minta sekalipun, dengan sukarela kau akan menceritakan apapun yang ada di dalam kepala kecilmu itu. Dan aku tak pernah bosan menjadi pendengarmu, meski sebagian ceritamu adalah cerita yang sudah pernah kau ceritakan padaku.
Kita pindah ke kota asalmu, tempat dimana pertama kali kita bertemu. Di taman ini, kita bertemu ketika kau sedang mengajak Semesta jalan sore dan aku merintang keponakanku yang tak henti menangis karena ia tak kunjung bertemu dengan orang tuanya, mereka meninggal karena kecelakaan kereta.
Aku memutuskan pindah kembali ke kota ini berharap itu bisa membantumu mengingat semuanya, satu persatu.
“Apakah nanti sore kita akan jalan-jalan seperti biasanya?”
Mana bisa aku melupakan salah satu dari ratusan kesenanganmu. Aku mengangguk mengiyakan.
Aku masih mengingatnya.
Kau akan membuka kaca jendela mobil, membiarkan rambutmu di sapu angin sore. Aku dengan sengaja melambatkan laju mobil kita dan kau akan mengeluarkan tanganmu, membentangkannya. Matamu akan kau pejamkan, menghapal bagaimana cara angin melewati celah di antara jemarimu. Kemudian kau akan bersenandung kecil.
Dan perjalanan akan berakhir di sebuah dermaga kecil. Dimana kau akan duduk di atas kap mobil sedan kita, melepas hari yang dijemput senja pulang ke peraduan malam.
Kau akan menunjukkan padaku bintang mana yang pertama kali muncul setelah tenggelamnya matahari. Kau akan bercerita sedikit mengenai bintang, nebula, galaksi dan semua yang kau tau.
Begitu cintanya kau kepada semesta!
Sore ini aku sengaja memutar lagu kesukaanmu. Selalu ada was-was di dadaku, berharap kau mengingatku.
Kau mengingat keseluruhan lirik lagu ini.
Kau terdiam cukup lama hingga akhirnya kau membalikkan badanmu, menatapku yang memperhatikanmu tak pernah ada habisnya.
“Apakah saya mengenal anda? Maafkan saya, saya memiliki penyakit yang membuat saya melupakan semua hal. Tapi saya yakin saya pernah mengenal anda.”
Tidak, senyumku tidak pernah memudar walau penyakit Alzheimermu tak mengijinkanmu mengingatku. Dari semua hal yang kau ingat, kenapa penyakitmu itu tak pernah mengijinkanmu untuk mengingatku?
Tak apa. Kau sedang lupa, hanya itu. Dan itu semua karena penyakitmu, bukan kehendakmu yang ingin melupakanku.
Ada aku di sini yang tak pernah bosan membantumu mengingat semuanya kembali.
Tak apa, akan ku coba besok dan jika kau masih belum bisa mengingat kita, maka masih ada besok-besok yang lainnya.
Tenang saja.
Kita tak akan pernah kehabisan waktu.