masih teringat jelas beberapa hari sebelum akhirnya aku memutuskan untuk kerumah sakit, untuk pada akhirnya aku memutuskan untuk memasrahkan diri, mengetahui apa yang salah denganku, sebelum akhirnya aku menyerah menantang ego karea merasa aku si paling benar.
rasa marah, sedih, pesimis, takut, semuanya campur aduk. sesak nafas, kepala sakit luarbiasa, badan gemetar seperti orang menggigil, kacau balau. luarbiasa, amarahku luarbiasa hebat. otak?berfikir? buntu. yang aku tahu yang aku harus lakukan adalah mengambil pisau, atau gunting, atau benda tajam lainnya yang dekat denganku agar bisa ku cabik-cabik kulitku untuk sedikit saja menghirup nafas. menyayat, menggores, mencabik-cabik, memukuli diri sendiri adalah caraku bernafas ketika dadaku terhimpit amarah.
hal lain yang takbisa kulupa, ada seorang yang masuk kamar dan memeluk. menahan, dan menyadarkan. responku? takut setengah mati. cuma bisa mojok jambak-jambak rambut dan teriak. hanya ketakutan yang menggerogotiku. semuanya gelap. gelap, sesak, aku gabis aliat semuanya dengan jelas. bagiku hari itu adalah wujud asliku;monster.
dia tetap tidak beranjak, tetap memelukku berusaha menyadarkan dan merebut semua benda tajam ditanganku, memegang kencang pergelangan tanganku dan tetap membuatku tersadar. aku tetap dengan tangisku yang meledak-ledak. habis ribuan kata caci maki ku lontarkan untuk mengusir orang itu, tetap saja dia setia bergeming, sial.
“aku mau mati, ah aku mau mati, sial, aku benci diri aku, mau mati.” berulang kata hanya itu yang aku ucap. “udah gakuat, tolong tolong aku mau mati aja” sampai saat ini, semua pikiran itu masih bergeming, betah katanya.
semua berjalan begitu lama, tidak kerasa sudah larut malam. aku? aku mulai membaik ketika dia patahkan cutter dan memelukku, menahanku bergerak, sekuat mugnkin memelukku, membiarkan aku menangis, mengeluarkan semua yang ku rasa, mencium keningku, membiarkan aku larut dalam kesedihanku dengan tetap tidak melepaskan pelukannya. hingga pada akhirnya, dia lelah dan sangat lelah. egoisku adalah tidak bertanya selelah apa atau semuak apakah dia padaku. aku biarkan dia beri makan egoku, hahaha memang payah aku ini kurang ajar, haus kasih sayang hingga lupa kembali menyayangi. hingga akhirnya dia terlelap dengan tetap menjagaku yang mulai kembali pulih. tapi aku, tidak pernah terlelap setelah itu untuk 4 hari mendatang.
melek. merem. melek lagi. dadaku sakit sekali seperti ditancap benda yang sangat tajam, setiap ingin ku pejamkan mataku banyak bayang bayang kejadian yang tidak pernah ingin ku ingat lagi muncul satu persatu, menghantui aku sepanjang malam itu. hingga lagi-lagi mataku jadi korban pembengkakan dari airmata yang tidak berhenti keluar, semalaman.
ini bukan kali pertama, ada banyak kejadian si monster hadir menjelma aku, ada banyak malam dengan kesesakan dan kebencian, bahkan siangku terkadang menjelma menjadi begitu murung. ada banyak kekacauan sebelum ini dan setelah ini. ada banyak yang akan ku coba cerita satu persatu.
yakinku bahwa aku monster adalah hari-hari setelah ini, seorang yang memelukku di malam itu tidak berani bertemu denganku,
“aku takut, aku trauma, gamau lagi, gabisa dulu ketemu”
aku telah merusak mental seseorang, biadab memang.
kumaki diriku berulang-ulang kali. dasar monster. memang tak pantas aku hidup.
diantara banyaknya siklus yang berputar tidak pernah kutemukan terang dalam urutannya; hitam.