Ada sekitar 120 awardee pada saat pelatihan sesi itu. Tak mungkin aku hafal semua namanya dalam waktu 5 hari, jadi pada saat Ia menyerahkan kartupos seraya berucap: "Mbak, ini buat Mbak." —kupikir kami sudah pernah berkenalan, hanya aku yg terlampau payah utk mengingat namanya. Demi menjaga perasaannya, aku pura-pura mengerti namanya, jadi hanya kubalas: "Oh iya Mas makasih." Haram bagi kami; para peserta PK, utk acuh terhadap teman-teman satu angkatan. Krn sangat besar kemungkinan, kawan yg biasa duduk di sebelah kirimu, dengerin materi sambil ngantuk sampe mangap (baca: @ddokiii ) akan jadi Mendikbud 20 tahun lagi. Atau rekan di sebelah kananmu yg kalo malem sentrap sentrup sakaw minta obat (baca: @raggil_suliza ), 10 tahun lagi jadi Kepala BEKRAF merangkap pemilik sekolah DJ terbesar di Indonesia. Oleh krn itu, demi keselamatan masa depan bangsa, siapapun itu—termasuk mas-mas yg tadi kirim kartu pos creepy—harus ditanggapi dgn baik. Barangkali 20 tahun lagi dia jadi Menteri Pertanian saat diriku sedang butuh kerjaan, jadi bisa dibantu. Berbekal keyakinan itu, aku mencoba mencari kontaknya di grup. "Mas maaf, ini yg tadi kasih kartupos ya? Maaf bgt kirain kita udah pernah kenalan tp aku lupa nama seperti biasa, jd aku iya-iya aja pas mas kasih kartunya. Ternyata emang belum pernah kenalan sama sekali ya?" Perkenalan kami, dimulai dari percakapan di Telegram kali itu. Semuanya berjalan seperti biasa—tanya nama, universitas tujuan, universitas asal, dan okupansi pekerjaan. Standar. Tidak ada percikan api apapun di hati. Hingga pertama kali kami dipertemukan kembali, di suatu meeting koordinasi tugas angkatan pasca PK. (bersambung lagi) (anaknya susah mikir kepsyen, mohon maap) https://www.instagram.com/p/B0vRuWvlQyO/?igshid=gzg6jmtib7or