Sedikit cerita tentang masa kecil-ku dulu. boleh kan ya? (anggap saja boleh okay)
Dulu aku sempat merengek-rengek kepada Ibu-ku. Kalian mau tau apa itu?
Sanggar menari Trisnamanggala. Ya ketika duduk di sekolah dasar kelas satu aku sangat tertarik dengan menari dan kebetulan juga temen sekelas-ku dulu banyak yang ikut mendaftar. Alhasil keputusan-ku bulat untuk mendaftar juga.
Dengan kerja keras menangis merengek-rengek seperti anak bayi akhirnya usaha tangisan-ku tidak sia-sia. Aku didaftarkan oleh Ibu-ku.
Tidak sia-sia selama 6 tahun aku mengikuti sanggar. Banyak prestasi yang ku ukir dengan mengikuti kontes menari di berbagai daerah. Dari menarilah ku mendapatkan cara rasa percaya diri di depan khalayak banyak.
Jadwal latihan dilakukan setiap hari sabtu dan minggu. Memang kebetulan kegiatan masa kecil-ku hanya bermain belajar dan mengaji di tpa nurussa’adah. Betapa menyenangkannya masa kecil-ku dahulu.
Oiya setiap beberapa bulan sekali di sanggar dilakukan ujian tertulis dan praktek menarinya. Tujuannya agar guru tari-ku mengetahui sampai dimana progress-ku dalam menari.
Sedari awal hingga aku memutuskan berhenti untuk melanjutkan menari Ibu-ku lah yang rela menemani-ku saat latihan dan berpergian tampil dari panggung ke panggung. Ya Ibu-ku memang sangat amat setia menemani-ku. Namun sesekali pernah Bapak dan Abang-ku menemaniku.
Momen terlucu atau mungkin “ter-sweet” adalah ketika Abang-ku menemani-ku pentas di Ancol bersama beberapa teman-ku bersama Ibu-nya dan guru tari sekalgus make up artist-ku. Pada saat itu Abang-ku sekitar masih SMA kalau tidak salah. Mungkin beberapa kakak laki-laki malu dan malas menemani adik perempuan-nya untuk menemani pentas apalagi dikerumuni banyak anak kecil dan ibu-ibu, tapi tidak dengan ia. Dia begitu sabar menemaniku pentas dari pagi hingga sore. Dia memakaikan-ku kostum-nya, menyisir rambut-ku, menyuapi-ku ketika lapar, dan mengabadikan pentas-ku dengan merekamnya. Aku tak begitu ingat aku menari apa saat itu kalau tidak salah tari bali namun aku tidak ingat jelas tarian apa. Ditambah Abang-ku sungguh rela menanggapi pertanyaan celotehan obrolan Ibu-ibu yang pasti menurut-ku sangat tak asik. Hahahahaha sungguh kocak memang Abang-ku. Sehabis berbincang-bincang dengan ibu-ibu teman-ku, Abang-ku selalu berbisik “Gak jelas banget dah Ibu-ibunya rempong semua” hahaha itulah ke-dumel-an Abang-ku ketika ia sedang bercanda dan masih banyak lagi sehingga membuat-ku merasa tak jenuh ditemaninya.
Dan ketika kelas 6 SD aku memutuskan untuk berhenti sanggar karena beberapa alasan. Namun dengan keputusan-ku berhenti tidak membuat-ku menyesal. Sungguh hal itu-lah yang membuta-ku memiliki pengalaman indah di masa kecil-ku yang mungkin jarang anak kecil lain dapatkan. Aku sungguh bersyukur atas hal itu.
By the way maaf sekali aku tidak bisa mempsting foto masa kecil-ku saat menari :( karena aku belum menyimpannya di laptop-ku. Kapan-kapan aku akan mempostnya! Tunggu ya :))))))
*btw ngetik cerita ini sambil dengerin lagu-nya Payung Teduh judul-nya “Masa Kecil”*
thank you good people! hv a nice day!
I hope you enjoy reading my stories as much as I enjoy writing them. x))