Jadi yang sebaik-baiknya
"Gimana nikah? Enak ya pasti ada yang bisa dijadikan partner berbagi sepanjang masa, saat susah dan seneng." Maybe that is the most popular statement ever, since you've married. Iya. Bener sih. Kan menikah buat sepanjang masa, jadi otomatis kita harus berbagi kehidupan sama pasangan kita itu. Tapi tanggapan yang tepat buat statement-statement seperti itu sebenarnya agak membingungkan juga sih. "Gimana apanya? Ehehe." Kadang tanggapan itu yang malah keluar dari mulut. Karena kehidupan pasca menikah itu.. ya luas. Dan tentu aja gak melulu tentang haha hihi yang berisi fantasi dan romantisme. Keputusan merubah status 'mau' menjadi istri orang kan gak bisa bermodalkan perasaan aja hehe. Tapi di baliknya ada tanggung jawab besar yang harus siap juga diemban. You'll be someone's wife and raise your children, properly. Pastinya setelah status itu diemban, ada kewajiban yang mengiringinya. Dan yang paling bikin sedih dari pergantian status itu sebenarnya ketika, ya.. harus pisah dari orang tua. Mungkin kita memang selamanya akan menjadi anak mereka, tapi apakah selamanya kita akan bersama mereka? That's the point. Kebersamaannya itu. Tapi menikah, menyelamatkan jiwa dan ragamu. Memuliakan kewanitaanmu. Ketika waktunya memang sudah tepat, maka persiapkan sebaik-baiknya. Tapi setelahnya, jangan juga berhenti bersiap. Ada jalan panjang terbentang, dan kita tak bisa berhenti berjuang. Harus terus belajar. Jangan lupa tujuan untuk ibadahnya. Dan ketika waktunya belum kunjung datang, maka bersyukur pulalah. Waktumu masih sepenuhnya milikmu. Jadi manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Gak perlu galau pengin cepet-cepet nikah hehe yakin aja semua diberi sesuai kapasitasnya. Mungkin sekarang belum, karena Allah ingin menempa kita dulu di bagian diri kita yang lain :) Buat yang udah menikah juga pasti merasakan bagaimana Allah menempa kita pada hal-hal baru. Yes. Emak-emak's life haha So, Just be the best of yourself in every episode of your life.

















