OVERGIVING & SELF WORTH
Jujur aku baru sadar…
Ternyata ada orang yg hidupnya terlalu fokus membuat semua orang merasa nyaman sampai lupa caranya nyaman dengan diri sendiri.
Dengan mindset:
“as long as they’re okay, aku juga harus okay.”
Dia selalu available.
Selalu ngerti keadaan semua orang.
Selalu jadi safe place.
But rarely asks himself:
“who’s gonna hold me when I’m tired too?”
At first keliatannya tulus.
Dan iya, memang tulus.
Tapi lama2 aku sadar…
Sometimes it’s not kindness anymore.
It’s fear of being unwanted.
Karena dia tumbuh dengan rasa:
Diterima = aman.
Ditinggalkan = sakit.
Jadi sekarang…
Dia rela ngorbanin dirinya sendiri demi menjaga orang lain tetap tinggal.
Makanya people pleaser sering kelihatan kuat.
Padahal sebenarnya…
Dia cuma terlalu takut bikin orang kecewa.
Even if it means disappointing himself every single time.
Dan yg paling capek itu bukan ngertiin orang lain sih.
Tapi pretending you’re okay,
So nobody feels bad around you.
Sampai akhirnya aku sadar…
Self worth bukan tentang seberapa banyak orang memilih kita,
tapi apakah kita masih bisa memilih diri sendiri? saat orang lain tidak melakukannya.
Dan sejak itu aku belajar…
Kita ga harus selalu jadi rumah untuk semua orang.
Karena terkadang, orang yg mahir menyelamatkan orang lain juga sering tenggelam dalam diamnya.
Written by Aftansa












