"Raise your head and taste the courage...."
A7X - Chapter Four
Mike Driver
YOU ARE THE REASON

shark vs the universe

pixel skylines

if i look back, i am lost
taylor price
noise dept.
No title available
d e v o n
he wasn't even looking at me and he found me
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

titsay

izzy's playlists!
Interview Vampire Daily

tannertan36
cherry valley forever
EXPECTATIONS
Sade Olutola

No title available
seen from Germany
seen from Vietnam
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Russia
seen from Japan
seen from United States
@rageandlove172
"Raise your head and taste the courage...."
A7X - Chapter Four
Hail To The King.
Believe it or not, this song always reminds me of how powerful Allah SWT is and therefore I should be obedient to Him.
A proof that rock isn’t always related to satan. It can also make you a more religious person.
Orang yang bodo amat
sesungguhnya adalah
seorang pencemas
yang sudah lelah
kemudian pasrah.
Understand first, love afterwards.
Jangan pernah bergantung pada sesuatu yang nggak bisa kamu kontrol.
Me
Kau tak akan pernah bisa sepenuhnya melupakan sesuatu yang sebelumnya amat sangat kau sukai.
"....Nggak capek kok, Zaf, asal kamu ikhlas melakukannya. Apapun yang terpaksa itu nggak baik."
- Ernita Dewi Nuraini
Everything that God has given to us is a gift. None of them are trials. All depends on your mindset. Positive - negative, good - bad, gift - trial, those terms only exist in your head. Make sure you label things properly.
Me
I can’t help to not fall in love with...
I can’t help to not fall in love with a skillful and loving guy who gives out every fucking pieces of him in something he really passionate about.
First, I love a smart person. No, it’s not necessarily smart in academic things. IMO, smart is when you know something really good because you keep learning it yet you still want to explore that thing more until you reach your brain limit. That could be in any field, including sports, music, etc.
Second, I love to see someone who really sure about his passion. He knows exactly what he wants. He’s not gonna changing his mind even when people around him persuade or force him to quit. He will always doing what he loves.
Third, I do really fond of a hardworker. Eventhough he knows that he has shortcomings, he keeps striving. All he wants to do is being all out, even if it’s gonna make him sacrificing some things, including his life.
Fourth, I like to see a man who loves his family very much. He’ll do anything to protect them and to stay in touch with them. What a gentleman.
When I watch someone like that doing his passion, and see his eyes and his movements that represent an-”I do what I love, I pour my entire heart into this, I will keep going on no matter what obstacles I face and what people’s opinion about me” thought…..
I’m melted down.
Wish I can meet a guy like that in person.
————————————-
[Written while listening to “The Kids From Yesterday” by My Chemical Romance. Triggered after watching My Chemical Romance’s performance video at iTunes Festival 2011. Been thinking about Frank Iero, Billie Joe Armstrong, and Chester Bennington while writing this. Thanks for inspiring me all the time.]
Everybody Has Their Soft And Rough Sides
Tetiba dapet pemikiran kayak gini kemarin, 3 Oktober 2017 (tapi baru sempet nulis sekarang).
Begini ceritanya. Kemarin, aku habis nonton video live performancenya Green Day bawain lagu 21 Guns. Di versi live performancenya ini, ada tambahan satu instrumen, yaitu keyboard. Nah, ketika sampai di bagian afterclimax, keyboard ini jadi satu-satunya instrumen yang mengiringi BJA nyanyi. Di saat itulah, ketika aku ngeliat Jason Freese (keyboardist tour-nya GD) mainin keyboard, aku ngerasa kalo permainan keyboardnya itu indah dan mengalun dengan lembut banget. Rasa-rasanya kalo dilogika nggak mungkin lah member band punk rock macam dia bisa mainin lagu dengan feel yang mellow gitu. Nah, di situlah aku dapat pencerahan (alias illumination, lagi).
Everybody has their soft and rough sides. Pasti. Mau sesangar apapun seseorang, pasti ada saat-saat tertentu di mana dia bersikap lembut. Begitupun sebaliknya. Orang yang terlihat sangat lembut pun pasti menampilkan sisi garangnya ketika waktunya memang tepat. Walaupun mungkin kamu terlihat berbeda, tapi kamu ya tetap kamu, dan kamu tidak perlu malu atau ragu untuk mengakui dan menunjukkan bahwa, “Iya, aku emang kayak gini orangnya.” Udah, nggak usah nutup-nutupin identitasmu. Show your true colours.
Hmm, jangan sampe deh ada stereotipe yang enggak-enggak kayak, “Weh, dia kan anak punk. Tatoan lagi. Pasti sukanya misuh-misuh, ngehancurin barang-barang, berbuat onar, bikin huru-hara.”
Siapa sangka kalo ternyata anak punk yang kalian bicarakan itu adalah orang yang sama yang sangat mencintai keluarganya, berjuang mati-matian untuk mengubah negaranya menjadi lebih baik lagi melalui kritikan yang ia sampaikan via lagu-lagunya, dan menjadi alasan bagi banyak orang untuk mengurungkan niatan melakukan bunuh diri?
Cuma mau ngomong aja sih gez. “Don’t judge the book by its cover” itu bukan cuma bullshit. Jadi, kurang-kuranginlah stereotipe nggak berdasar terkait hal-hal begituan. Aku cen bocah sing ket cilik rungokane lagu-lagu rock beserta segala turunannya, tapi yo aku ra njuk gaweane ngantemi uwong dan tawuran kok. Aku yo ra kerep misuh-misuh dan ijek sangat eling pada Allah, ora njuk worshipping satan atau semacamnya. Ya, tomboi sithik oke lah, tapi yo ra njuk kebablasan. Aku isih isa dadi cewek normal sekaligus anak punk kok.
“Punk is about being an individual and going against the grain and standing up and saying, “THIS IS WHO I AM.” - Joey Ramone
Rage And Love: About The Term
Have you ever heard the term “rage and love” before?
If you’re a Green Day fan, congratulations, you’re absolutely familiar with this one. Billie Joe Armstrong says this term often in every occasion.
Dulu, aku nggak paham apa artinya itu. “Kemarahan dan cinta.” Bukankah itu dua istilah yang sangat berbeda, bahkan bisa dikatakan berlawanan?
Nah, pagi ini, tiba-tiba aku mendapatkan pencerahan soal arti sesungguhnya dari istilah itu.
Jadi gini.
Hari ini, aku akhirnya menyadari kalau kemarahan adalah salah satu motivator paling kuat yang kumiliki. Aku adalah tipe orang yang mudah kesal dan marah sebenarnya. Hal sekecil apapun bisa bikin aku ngedumel nggak karuan.
“Weh asem tenan kok kamare berantakan banget to. Mangkeli.”
“Ih kok ini orang nggak bales-bales chatku sih? Ditungguin tau. Nyebelin sumpah!”
“Kenapa pagi ini semua orang yang ada di jalan nyebelin sih? Kalo mau jalan pelan-pelan ya jangan di tengah jalan dong! Aku buru-buru nih, ntar telat!”
Nah, justru karena sifatku yang begitulah aku jadi mau “bergerak.” Aku jadi mau melakukan sesuatu untuk mengubah sesuatu yang bikin aku sebel, ya supaya aku jadi nggak sebel lagi.
Ketika aku sebel liat kamarku berantakan, ya segera aku beresin.
Ketika aku sebel sama orang gara-gara nggak bales chatku, ya aku berusaha bales chat dia secepat yang aku bisa, supaya dia nggak melakukan hal serupa lagi.
Ketika aku sebel sama orang yang jalan pelan-pelan di tengah jalan, ya aku berusaha supaya aku selalu jalan di pinggir kiri (kalo emang lagi pingin pelan-pelan) atau ngebut sekalian biar nggak ngalangin jalan orang-orang yang di belakangku.
Sebenarnya, marah atau mengeluh itu adalah salah satu cara untuk bersyukur, menurutku. Ketika kita marah atau mengeluh, artinya kita merasa ada sesuatu yang salah terjadi. Maka dari itu, kita berusaha untuk memperbaikinya supaya jadi benar. Akhirnya, kita jadi belajar banyak hal dan mensyukurinya. Kita bersyukur karena berkat kemarahan kita, kita jadi mau bergerak untuk memperbaiki atau mengubah sesuatu yang salah.
Now, I understand, Billie.
“Rage and love”.
Kemarahan untuk menunjukkan cinta.
Love the people God gave you because He will need them back one day.
Anonymous
We are what we believe we are.
Split (2016)
[OPINION #1] Do You Realize That You Love Someone Because He/She Has Something Similar With Your Mom/Dad?
Pasti kamu kaget kan baca judul di atas?
Well, hold on a sec. Take a deep breath. Don’t be panic.
Sekarang, aku mau jelasin dari segi ilmiahnya dulu ya. Dibaca pelan-pelan aja.
Jadi, menurut Freud (dalam Feist & Feist, 2010), terdapat sebuah kondisi yang dinamakan Oedipus Complex. Kondisi tersebut dialami oleh anak-anak saat mereka memasuki fase falik, atau dengan kata lain saat usia 3 atau 4 tahun. Lalu, apa yang terjadi dengan si anak? Nah, ternyata kondisinya berbeda untuk anak dengan jenis kelamin yang berbeda.
Pada anak laki-laki, sebelum memasuki fase falik, ia telah membentuk identifikasi dengan ayahnya. Ia ingin menjadi seperti ayahnya. Setelah itu, ia mengembangkan hasrat seksual dengan ibunya, atau dengan kata lain ia mencintai ibunya dan ingin memiliki ibunya. Ketika ego mulai berkembang dalam diri si anak, ia sadar bahwa kedua perasaan itu saling bertentangan, ia kemudian memilih untuk mempertahankan perasaan yang lebih kuat, yaitu cintanya pada ibunya. Ia ingin memiliki ibunya sepenuhnya, dan ia merasa bahwa ayahnya adalah saingan terberatnya. Persaingan dengan ayah dan perasaan cinta incest terhadap ibu inilah yang disebut sebagai Oedipus Complex pada laki-laki. Akan tetapi, perasaan ini tidak bertahan lama. Ketika superego anak mulai berkembang (sekitar usia 4 - 6 tahun), ia mulai menekan atau menghilangkan perasaan itu karena tahu bahwa itu adalah perasaan yang tidak boleh dan tidak pantas dimilikinya. Pada anak laki-laki, perasaan ini bisa benar-benar hilang.
Nah, pada anak perempuan, kondisinya hampir sama, hanya saja berkebalikan. Jika anak laki-laki menaruh hati pada ibunya, maka anak perempuan menaruh hati pada ayahnya. Ia mencintai ayahnya dan ingin memiliki ayahnya. Perasaan tersebut akan mulai memudar pada usia 4 - 6 tahun, namun ia tidak benar-benar hilang. Menurut Freud (dalam Feist & Feist, 2010), Oedipus Complex perempuan terjadi lebih lambat dan tidak selesai dengan tuntas dibandingkan dengan Oedipus Complex pada laki-laki.
Gimana guys? Paham? Udah bisa liat sangkut-pautnya sama judul postingan ini?
Jadi, berdasarkan teori Oedipus Complex dari Freud di atas, aku berasumsi kalau anak perempuan bakal nyari atau tertarik pada cowok yang punya kemiripan dengan ayahnya, entah itu dari segi fisik, tingkah laku, sifat, atau kepribadiannya. Kenapa? Ya karena itu tadi, Oedipus Complex pada perempuan tidak benar-benar tuntas. Perasaan cinta terhadap ayahnya masih akan terbawa hingga dewasa, tapi mungkin nggak disadari karena udah ditekan sejak lama.
Aku sempat melakukan survei kecil-kecilan ke temen-temen cewekku yang udah pada punya pacar (atau seenggaknya gebetan lah). Dan, dari tiga orang yang aku tanyain, semuanya menjawab, “Iya, cowok yang aku suka emang mirip banget sama Papaku.” Aku kemudian mikir kan, apakah asumsiku benar? But, besides that, aku nggak tahu apakah asumsiku ini berlaku juga untuk cowok, mengingat katanya Freud Oedipus Complex pada laki-laki itu bisa beneran tuntas.
So guys, I do really need your help. Please let me know that I’m right or wrong instead. Kalian bisa kasih comment di post ini (or contact me via anything), apakah cewek/cowok yang kalian suka emang punya kemiripan dengan ayah/ibu kalian. I’m really looking forward to it!
References:
Feist, J., & Feist, G. J. (2010). Teori Kepribadian (Theories of Personality). Edisi 7. Buku 1. Jakarta: Salemba Humanika.
Introduction
Hello everybody! Halo semuanya!
First of all, let me introduce myself. I’m Zafira, 20 y.o. girl, a psychology undergradute student at Gadjah Mada University. Now I’m on my 7th semester, so it will not (or should not) take a long time until I (finally) graduated, haha.
I’m a native Indonesian, by the way. I came from Bukittinggi, West Sumatra, so yeah, I’m a Minangese. The thing is, I still can’t decide in what language I should write on this blog with. Aku bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, hanya saja terkadang lebih mudah untuk mengungkapkan sesuatu dalam bahasa Inggris, wkwk. Ya, kita lihat saja nanti, mungkin postinganku bakal campur-campur bahasanya LOL
Why did I make this blog? Yah, setelah kuliah lebih dari 3 tahun di psikologi, aku jadi semakin banyak memikirkan hal-hal dalam hidup ini dan mencoba menganalisisnya dari segi psikologi. And, yeah, I’ve got too much things in my mind and heart, so I need another storage to keep it safe. Oh, and there’s another reason. I want to inspire, motivate, and help as much people as I can, because my knowledge will be useless unless I share it to the one who need it, right? :)
Happy reading!
P.S. If you have something to discuss with, you can catch me on LINE: zephyro97 or any social media account that I linked on the bottom of the page. I’m looking forward to it!