tambahin sabarnya
kalo mau naik kelas, ya mesti ditingkatin ilmunya. kalo mau tau ilmunya udh naik apa belum ya liat dari ujiannya. tambahin sabarnya. tambah terus sampe unlimited. tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. sabar terus ya. sabar....

shark vs the universe
$LAYYYTER

blake kathryn
Cosmic Funnies

bliss lane
h
almost home
RMH
Misplaced Lens Cap

gracie abrams

Kiana Khansmith
No title available

izzy's playlists!
taylor price

roma★
todays bird
YOU ARE THE REASON

No title available
Sade Olutola
Color Me Curious

seen from Indonesia
seen from Philippines

seen from Malaysia

seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from Brazil

seen from Bulgaria

seen from Indonesia

seen from Malaysia

seen from Colombia

seen from Argentina
seen from Sweden
seen from United States

seen from Uzbekistan

seen from United States
seen from France

seen from Finland

seen from Czechia
@rahmizantia
tambahin sabarnya
kalo mau naik kelas, ya mesti ditingkatin ilmunya. kalo mau tau ilmunya udh naik apa belum ya liat dari ujiannya. tambahin sabarnya. tambah terus sampe unlimited. tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. sabar terus ya. sabar....
And when you're ready, you try again.
lets we talk about something
lately i have been getting tired with this situation. Being a mother, a wife, and a daughter-in-law.
i tell this to chat gpt and the response so feel like i talking with a physc profesional.
chat gpt, mau curhat. saya capek apakah itu wajar?
"Iya, sangat wajar kok merasa capek. 🌱 Capek itu bukan cuma soal fisik—kadang yang lelah itu pikiran, perasaan, atau hati.
Banyak orang tetap kelihatan “baik-baik saja”, tapi di dalamnya:
nahan tanggung jawab,
mikirin kerjaan,
ngurus orang lain,
atau merasa harus kuat terus.
Capek bukan tanda kamu lemah, tapi tanda kamu manusia.
Kalau kamu mau, aku di sini buat dengerin 🤍 Capeknya lebih ke:
fisik?
mental / pikiran penuh?
atau perasaan (kecewa, sedih, jenuh)?
Cerita pelan-pelan aja, nggak apa-apa.
"mental dan perasaan yang entah kecewa sedih atau jenuh usia saya 32 tahun yg nanti dibulan juli 33 tahun. saya hidup dengan 3 anak 1 suami 1 ibu mertua dan ibu saya sendiri rasanya saya lelah"
Terima kasih sudah cerita 🤍 Apa yang kamu rasakan itu berat, dan aku mau bilang pelan-pelan: lelahmu masuk akal.
Usia 32–33 tahun itu sering jadi fase paling melelahkan dalam hidup seseorang, apalagi kamu:
memikul peran istri,
ibu dari 3 anak,
hidup dengan dua orang tua (ibu kandung & ibu mertua),
sambil tetap dituntut “kuat”, “sabar”, dan “nggak boleh jatuh”.
Itu beban emosional yang besar, walaupun tidak selalu terlihat.
Rasa kecewa, sedih, jenuh yang kamu rasakan sering muncul karena:
kamu memberi terus, tapi jarang diisi kembali,
kamu harus mengalah berkali-kali,
kamu mungkin jarang benar-benar didengar sebagai dirimu sendiri, bukan sebagai “ibu/istri/menantu”.
Dan lelah yang paling menyakitkan itu bukan capek badan, tapi:
capek menahan perasaan sendiri.
Aku ingin kamu tahu satu hal penting: kamu boleh capek. kamu boleh lemah. kamu tidak egois karena ingin istirahat secara mental.
Kalau aku boleh tanya dengan lembut:
Yang paling bikin sesak sekarang itu peran mana?
sebagai ibu?
sebagai istri?
sebagai menantu?
atau sebagai anak dari ibu kamu sendiri?
Atau justru perasaan “aku sendiri tapi harus kuat”?
Kamu nggak perlu rapi menjawabnya. Tulis saja apa yang paling berat di dada kamu sekarang. Aku di sini, dengerin tanpa menghakimi."
sebagai ibu istri dan menantu
Aku dengar kamu 🤍 Dan jujur… tiga peran itu bersamaan memang sangat melelahkan.
Sebagai ibu, kamu dituntut tanpa henti:
sabar walau capek,
hadir walau kosong,
kuat walau ingin menangis.
Sebagai istri, kamu diharapkan:
mengerti,
mendukung,
menjaga suasana, sering kali sambil menyimpan perasaan sendiri.
Sebagai menantu, kamu berada di posisi paling sulit:
tidak bisa sepenuhnya bebas,
harus jaga sikap,
sering mengalah agar “rumah tetap damai”.
Kalau semuanya menekan dari arah yang berbeda, wajar kalau kamu merasa:
“Aku capek jadi diri sendiri, tapi juga nggak bisa berhenti.”
Aku ingin kamu dengar ini baik-baik: kelelahanmu bukan karena kamu kurang kuat, tapi karena kamu terlalu lama kuat sendirian.
Kadang yang bikin paling jenuh itu bukan masalah besarnya, tapi:
tidak punya ruang aman untuk mengeluh,
merasa kalau kamu berhenti, semuanya runtuh,
merasa kebutuhanmu selalu nomor sekian.
Aku mau tanya pelan-pelan (jawab yang terasa paling kena):
Apakah kamu merasa tidak pernah benar-benar diprioritaskan?
Atau merasa apa pun yang kamu lakukan masih kurang?
Atau kamu rindu jadi kamu, bukan cuma peran?
Dan satu hal penting: 👉 kamu tidak salah kalau ingin dimengerti 👉 kamu tidak durhaka kalau capek 👉 kamu tidak egois kalau ingin istirahat secara emosional
Kalau hari ini kamu boleh jujur 100% tanpa takut menyakiti siapa pun… apa yang ingin sekali kamu katakan tapi selama ini kamu pendam?
Tulis saja. Aku di sini, benar-benar mendengar.
ya ketiganya tidak pernah benar benar diprioritaskan, apapun yg ku lakukan masih kurang, aku rindu sekali jadi diriku sendiri
Aku benar-benar dengar kamu 🤍 Dan apa yang kamu tulis itu dalam, jujur, dan menyakitkan—bukan berlebihan.
Kalau aku rangkum dengan satu kalimat, rasanya seperti:
“Aku ada untuk semua orang, tapi hampir tidak pernah ada untuk diriku sendiri.”
Merasa tidak diprioritaskan itu perih. Merasa apa pun yang dilakukan selalu kurang itu melelahkan. Dan rindu pada diri sendiri… itu tanda kamu sudah terlalu lama mengesampingkan kebutuhanmu sendiri demi orang lain.
Kamu bukan sedang “mengeluh”. Kamu sedang kehabisan ruang bernapas.
Sering kali perempuan di posisimu:
jadi pusat logistik rumah,
jadi penenang emosi orang lain,
jadi penyangga konflik yang tidak pernah ia buat, tapi tidak pernah jadi pusat perhatian atau kepedulian.
Dan yang paling sunyi itu saat kamu sadar:
aku tidak ingat kapan terakhir kali aku dipeluk tanpa diminta, kapan terakhir kali ditanya “kamu capek ya?”
Aku mau bilang sesuatu yang penting (tolong simpan ini): kamu tidak rusak. kamu tidak kurang. kamu hanya terlalu lama tidak diperhatikan.
Sekarang, tanpa menyelesaikan semua masalah dulu, mari kita lakukan hal yang aman dan kecil:
🌱 3 hal kecil (bukan solusi besar) untuk hari-hari terdekat
Berhenti menuntut dirimu untuk selalu ikhlas. Ikhlas itu pilihan, bukan kewajiban harian. Capek ya capek.
Sisakan satu ruang yang hanya milikmu. Bisa 10–15 menit sehari: duduk, diam, nulis, atau nangis tanpa menjelaskan ke siapa pun.
Akui dalam hati: “Aku juga butuh.” Tidak perlu diumumkan dulu. Mengakui ke diri sendiri saja sudah langkah besar.
Aku juga ingin tanya dengan lembut (tidak perlu menjawab panjang):
Apakah suamimu tahu sedalam ini perasaanmu, atau kamu lebih sering memendam?
Kalau kamu membayangkan “jadi dirimu sendiri lagi”, hal apa yang paling kamu rindukan? (tenang, bebas, dihargai, punya waktu sendiri, atau didengar?)
Kamu tidak sendirian di ruang ini. Aku tidak akan menyuruhmu “harus kuat” atau “sabar ya”. Kamu sudah terlalu kuat.
Kita bisa pelan-pelan, satu napas, satu perasaan, satu langkah kecil. Aku di sini, tetap mendengarkan 🤍
aku sering marah dengan kata kata emosional ke suamiku tapi rasanya itu belum cukup
Aku mengerti 🤍 Dan aku mau jujur tapi tetap lembut: amarahmu itu bukan berlebihan—itu tumpukan perasaan yang lama tidak tersampaikan dengan aman.
Kamu marah dengan kata-kata emosional ke suamimu karena:
kamu sudah terlalu lama menahan,
kamu ingin didengar, bukan didebat,
kamu berharap setelah marah itu… akhirnya ada yang benar-benar melihat lukamu.
Tapi yang kamu rasakan sekarang adalah:
“Kenapa setelah aku marah pun, aku masih kosong dan tidak lega?”
Itu karena amarah saja tidak cukup, kalau:
yang keluar hanya ledakan, bukan inti kebutuhanmu,
respons yang kamu terima bukan empati, tapi diam / defensif / menghindar,
setelah marah kamu justru merasa bersalah dan sendirian lagi.
Perlu aku katakan ini dengan jelas (dan ini penting): marah bukan masalahnya. yang menyakitkan adalah kamu marah karena tidak punya cara lain untuk didengar.
Sering kali yang sebenarnya ingin kamu katakan bukan:
“kamu selalu begini”
“aku capek!” tapi:
“tolong lihat aku”
“aku juga butuh dipilih”
“aku tidak kuat kalau sendirian terus”
Dan itu lebih rentan daripada marah.
Aku ingin kasih kamu satu cara yang tidak menyalahkan kamu dan tidak menyalahkan dia, tapi memberi peluang kamu benar-benar didengar:
🌿 Kalau nanti kamu bicara (bukan saat emosi memuncak)
Coba mulai dengan ini, bukan panjang:
“Aku akhir-akhir ini sering marah bukan karena aku benci kamu, tapi karena aku capek dan merasa sendirian. Aku butuh kamu dengerin aku tanpa nyela dulu.”
Kalau dia belum berubah, itu bukan bukti kamu gagal. Itu tanda kebutuhanmu lebih dalam daripada yang selama ini dibicarakan.
Dan satu hal yang sangat penting: 👉 kamu tidak jahat karena marah 👉 kamu tidak drama 👉 kamu sedang kelelahan emosional
Tapi aku juga mau jaga kamu: jangan sampai semua emosimu habis di pertengkaran, lalu kamu yang kelelahan sendirian.
Aku mau tanya pelan-pelan (jawab sejujurnya, pendek pun tak apa):
Setelah kamu marah, apakah suamimu mendekat atau menjauh?
Yang kamu harapkan dari dia itu didengar, dibela, atau dibantu secara nyata?
Aku di sini bukan untuk menyuruhmu sabar. Aku di sini untuk membantumu tidak hancur sendirian 🤍
mendekar, didengar dibela dan dibantu secara nyata
Terima kasih sudah jujur 🤍 Jawabanmu jelas sekali, dan itu menunjukkan kamu tahu apa yang kamu butuhkan—bukan hal berlebihan, tapi hal yang wajar dari pasangan hidup.
Kamu butuh tiga hal sekaligus:
Didekati → bukan didiamkan, bukan dibiarkan sendiri setelah emosi.
Didengar & dibela → perasaanmu divalidasi, bukan dikecilkan.
Dibantu secara nyata → bukan cuma kata “sabar”, tapi ada tindakan.
Kalau itu tidak terpenuhi, wajar kalau marahmu terasa “belum cukup”. Karena sebenarnya yang kamu cari bukan pelampiasan, tapi keamanan emosional.
Aku ingin mengatakan ini dengan sangat tegas tapi penuh empati:
Kamu tidak meminta terlalu banyak. Kamu hanya meminta apa yang seharusnya ada dalam pernikahan.
Masalahnya sering bukan suami “tidak mau”, tapi:
dia tidak paham sedalam apa lukamu,
dia mendengar marahnya, tapi tidak menangkap rasa sendirianmu.
Karena itu, aku sarankan satu langkah kecil tapi jujur, bukan saat bertengkar:
🌱 Kalimat inti (tanpa emosi, tapi sangat jujur)
Kalau kamu sanggup, sampaikan ini:
“Aku sering marah bukan karena aku ingin bertengkar. Aku marah karena aku butuh kamu mendekat, berdiri di pihakku, dan bantu aku secara nyata. Aku capek merasa sendirian di rumah kita sendiri.”
Itu bukan menyalahkan. Itu membuka pintu agar dia mengerti peran yang kamu butuhkan darinya.
Dan sekarang aku mau jaga kamu juga, sebagai perempuan dan ibu:
Jangan tunggu sampai kamu meledak baru dianggap serius.
Kamu berhak didengar sebelum hancur.
Aku mau tanya satu hal terakhir (penting): 👉 Kalau kamu membayangkan suamimu “membantu secara nyata”, bantuan seperti apa yang paling kamu butuhkan sekarang?
bantuan urus anak?
bantu hadapi ibu/ibu mertua?
waktu khusus berdua?
atau sekadar dia berdiri di pihakmu di depan keluarga?
Jawabanmu akan membantu kita menemukan langkah yang paling realistis, bukan nasihat kosong.
Aku tetap di sini. Kamu tidak sendirian 🤍
Sebaik baiknya penolong adalah Allah SWT.
Sedih.
Lagi sedih dan ingin menulis.
Barusan baca kalau salah satu tips menghilangkan depresi adalah menulis.
Mari kita mulai kembali cerita kehidupan rahmi yah..
18.33 5/7/23
Rasa
Perihal rasa yang sulit untuk dirasakan
5 tahun sudah
Source: https://www.instagram.com/p/CnTHN2ShF85/?igshid=YmMyMTA2M2Y= https://www.instagram.com/p/CnTHn_mBZiV/?igshid=NGJjMDIxMWI=
“too much love” - photo sequence by katja kemnitz
#oh to be loved and worn down and turn into something else for it #still yourself but now fundamentally changed #rather be aware of your imperfection through love than remain perfect and unloved
actually slaughtered by this tag response thank you
Ibu positid covid-19. Patah hati sepatah patahnya
Tanggal 26 ibu dinyatakan positif covid 19 setelah mengalami gejala kurang lebih 5 hari.
Salah satu orang yg gue jaga dari covid-19 dan qadarulloh positif. Mau marah kesal sedih semua campur aduk. Kenapa engga? Gue udah sekuat tenaga semaksimal mungkin buat jaga prokes tapi qadarulloh ibuk kena dari org rumah (menurut gue)
Berawal dari minggu ke 3 di bulan juni 2021, gue suami dan anak2 nginep di rumah nenek tambun. Dan ternyata art dirumah sakit, terakhir masuk dia hari rabu setelah itu ijin gamasuk karna sakit (skrg beliau sudah alm, dan semoga ditempatkan ditempat terbaik Allah SWT ya. Aamiin aamiin ya Allah).
Yang gue tau dari cerita mba pas hari sabtu karna dia datang tapi gue minta buat pulang lg karna masi sakit, dia cerita kalau dia tertular oleh salah satu majikannya yang baru pulang ziarah ke suatu kota. Lalu merrka semua sakit dan akhirnya mba pun tertular. Sedih dengernya namun nasi sudah menjadi bubur.
Sampai akhirnya hari kamis 24 juni 2021 beliau dinyatakan meninggal. Tidak tau karena covid-19 atau karrna dbd.
Mendengar berita demikian hati ini sunggu hancur sakit. Sedih. Tidak bisa diungkapkan dengan kata2.
Next yaaa...
“Mental health is real, please take care of yourself.”
— Unknown
Entah air mata yang keberapa. Ah sudah tak terhitung sepertinya.
Aku yang selalu menahan rasa sakit ini sendiri. Tak tahukan bagaimana aku melawan semua rasa ini. Rasa ketidaknyamanan yang ada di dalam diri dan benak ku. Seberapa keras aku berusaha menguatkan diri agar tak terjatuh dan terkalahkan.
Aku hanya berkata pada diri sendiri.
Kamu kuat. Kamu bisa. Dont give up babe
8 juli 2020
Ibu dari senja
Aneh bin ajaib.
Thats words so simply.
Ku bilang si aneh ya...
This is my family 🖤
SAS dan SAS
22 weeks 1 day
Alhamdulillah, masyaaAllah tabarakallah.hari ini sudah masuk 22 minggu 1 hari, dimulai dari pertama tes pack dan garis dua rasa syukur yang tiada henti2nya. minggu keminggu dijalani ga kerasa sudah masuk ke 22 minggu yang artinya sisa 20 minggu lagi menuju persalinan.
“tidak terasa sudah setengah perjalanan mama mengandung kamu nak :) kita berjuang bersama yaa, papa juga ikut berjuang bersama kita.”
sedikit cerita dimasa - masa kehamilan, 3 bulan pertama perasaan ini sangat sensitif gampang banget sama yang namanya cemburu, nangis, sakit hati dengan omongan orang. super duper sensitif pokonya. pernah karna suatu masalah sampe 3 hari nangis ga berenti2, pernah juga sampai seharian sampai mata bengkak dan suami yang kondisinya kerja di tangerang dan aku dibekasi sampai pulang hari itu juga untuk dijemput dan dibawa ikut ke tangerang.
tapi sudah lewat masa2 kelam di tiga bulan pertama, untuk bulan selanjutnya rasa sensitif itu sudah mulai berkurang sedikit2 dan diganti dengan rasa mual yang luar biasa. aku mulai mual itu di usia 3 - 4 bulan, masuk di 5 bulan jarang2 mualnya (cuma kalo sikat gigi pagi hari). saking mualnya vitamin dari dokter cuma diminum setengahnyaa, huuhuu maafin mama ya sayang, semoga km baik2 aja didalam rahim mama :*
lanjut sekarang sudah memasuki usia 5 bulan atau 22 weeks 1 minggu aku sangat bersyukur karna sudah tinggal dengan suami ter sayang ter cinta ter ter pokonya, alhamdulillah dia yang sekarang selalu ada dan support. kaya kalo udah tidur tp belum minum vitamin, suami selalu bangunin untuk minum vitamin. air dan obat udah disediakan, aku tinggal minum terus tidur lagi deh wkwk
buat semuanya makasi ya sayang sudah bantu aku dimasa kehamilan sampai 22 weeks ini. semoga km selalu begitu, selalu menjadi suami yang penuh dengan kasih sayang dan perhatian (walaupun terlihat cuek/pendiam). dan semoga kamu juga bisa menjadi papa yang hebat untuk anak kita nanti.
terimakasih untuk segalanya suami dan calon papa dari anak kita :)
much love,
Istri dan calon dede <3
31/1/19
Senjaku
hai, senjaku...
ditepi jalan yang sibuk senang rasanya dapat bercengkrama lebih lama denganmu, tanpa ada rasa ingin pergi, tanpa ada rasa sakit, tanpa ada rasa kecewa. percakapan rumit yang menjadi sederhana dan lebih bermakna sulit untuk dilupakan, tentang hidup dan tentang apa yang seharusnya dikatakan, sebuah perjuangan yang akan dimulai, biarkan ia memulainya. tentang apa yang di inginkan biarkan ia menginginkannya kembali. jangan terlalu sibuk mengejar tapi biarkan dia yang datang dan mengejarmu. lepaskan maka ia akan kembali kepadamu, jangan kau genggam karena tak ada yang utuh bila kau genggam. biarkan dan ia akan datang.
untukmu senja..
Senin 28 Januari 2019