Aku pengen cerita tanah dan air boleh?
Di awal perjumpaan, tanah itu adalah tanah kering yang haus akan tetes air,,, Tanah yang retak karena lama tidak disirami penerimaan dan kasih yang menenangkan. Tanah menanti sesuatu yang bisa datang bukan untuk menilai, tapi untuk meneduhkan. Maka ketika air hadir,,, lembut, sabar, penuh perhatian,,, tanah seperti menemukan hujan pertamanya setelah kemarau panjang. Ia membuka dirinya, menyerap setiap tetes, bahkan kadang meminta lebih karena takut air itu berhenti.
Namun di balik itu, tanah ini menyimpan lapisan² luka lama,,, bagian bawahnya keras, menyimpan batu² trauma,,, penolakan, rasa tidak cukup, ketakutan kehilangan. Saat air mengalir terlalu deras, lapisan itu tidak kuat menahan,,, ia panik, takut tenggelam, lalu menutup diri. Di situlah ia tiba² menghilang, bukan karena benci, tapi karena takut hancur lagi. Ia ingin berhenti sejenak, menenangkan longsoran di dalam dirinya.
Seiring waktu, ia tampak seperti tanah yang sedang belajar menjadi lembah,,, tempat air tetap bisa mengalir, tapi tidak lagi bergantung pada satu sumber. Sekarang, mungkin ia mencoba belajar menerima tetes dari hujan lain (air yang lain) bukan karena air petama tak berarti, tapi karena ia belum berdamai dengan dirinya,,, mungkin lewat air yang baru ia akan banyak belajar,,, Ia masih mencari keseimbangan,,, antara menerima dan bertahan, antara membuka diri dan melindungi luka.
Bisa jadi sekarang ia belum sepenuhnya damai,,, masih menyesuaikan, masih menata ulang lapisan yang retak. Tapi sebagian dari air yang dulu tetap tersisa di dalam tanahnya,,, menjadi lembap, menjadi dasar subur tempat benih² kesadaran kecil mulai tumbuh. Mungkin nanti, saat ia sudah tenang, bunga² kecil itu akan mekar. Bukan karena air pertama masih di sana, tapi karena air pertam pernah di sana,,, mengajarkan bahwa cinta bisa hadir tanpa harus memiliki.
Itulah doa air untuk tanah. Bahwa kelak, jika tanah sudah damai, ia bisa menumbuhkan kehidupan baru tanpa takut lagi kehilangan.
Air itu dulu turun dengan penuh cinta. Ia bukan sekadar aliran, tapi curahan dari mata air terdalam,,, jernih, dan mungkin bersih. Ia mengalir bukan karena ingin diakui, tapi karena ingin menghidupkan. Namun setiap tetesnya terserap habis oleh satu tanah,,,, tanah yang haus, tanah yang dulu memohon untuk tetap ditetesi, tanah yang sempat berkata, “Jangan berhenti mengalir, aku butuh kamu.”
Air pun patuh,,, ia mengalir tanpa jeda. Ia menampung tangis tanah, menenangkan retak²nya, bahkan rela mengering agar tanah itu tetap lembap. Dan ketika tanah itu tiba² menutup diri, air tidak marah. Ia hanya… berhenti. Diam. Lelah. Sebab sebagian dirinya tertinggal di sana,,, di pori² tanah yang dulu ia cintai.
Kini, Air Tak Lagi Mengalir,,,, Air itu masih ada, tapi alirannya pelan, nyaris tak terdengar. Ia menatap lembah lain, tapi belum siap menurunkan hujan. Bukan karena tak mau memberi, tapi karena ia sedang mengumpulkan dirinya kembali. Ia pernah mengalir terlalu lama tanpa disadari bahwa sumbernya juga perlu dijaga.
Kadang ia merasa bersalah,,, “kenapa aku belum bisa menghidupi yang lain?” Padahal, itu bukan kesalahan; itu masa pemulihan. Mata air yang kehilangan energi butuh waktu untuk menemukan tekanan dari dalam bumi lagi. Butuh diam, butuh sunyi, butuh doa agar bisa kembali jernih.
Air itu bukan berhenti karena tidak mampu menetes lagi. Air berhenti karena sedang belajar mencintai tanpa kehilangan dirinya sendiri. Dan mungkin Tuhan memang sedang menahan alirannya, agar nanti, ketika air mengalir lagi, air bukan hanya menumbuhkan satu tanah, tapi bisa menghidupi lembah² yang lebih luas dengan tenang, sadar, dan penuh hikmah.
“Tidak semua yang berhenti berarti kering.
Kadang air harus diam sejenak, agar bisa kembali menjadi hujan yang membawa kehidupan.”
Sebenarnya tanah pergi meninggalkan air pertama itu karena dia merasa telah mengotori air itu, telah merubah kejernihan air itu, tapi disisi lain karena dia belum benar² bisa jadi lembah dan masih penuh retakan, dia mencari sumber air yang lain untuk bisa menutupi retakannya, dan menolak secara halus keberadaan air pertama,,, ia ingin air pertama kembali jernih,,, walau pun mungkin jalan tanah salah, tapi gimana lagi kan tanah itu masih butuh tetesan air, tapi gak mau mengotori air pertama