Dunia Kini
“If u have to address the current situation in the world, how u express it? like whats ur perspective? Bebas, mau dari sudut pandang Sospol, Ekonomi, Technology, Culture, Mental Health or anything. If you think Tech matters enough than lainnya dimasa sekarang (misalnya). Then why?”
Pertanyaan yang tiba-tiba muncul secara random di notifikasi pesan beberapa sore yang lalu. Sempat ingin langsung respon, tapi ku kira akan jadi diskusi yang panjang, sedangkan ada pekerjaan yang aku sudah janji menyelesaikannya sejak berminggu-minggu sebelumnya.
Beberapa hari berselang, aku kembali pada pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang belum sempat ku sampaikan jawabannya. Supaya lengkap juga utuh, ku kira sebaiknya ditulis saja. Supaya banyak diantara kamu yang baca bisa kasih timpalan barang kali ada yang kurang tepat. Selain untuk menjawab pertanyaan yang tadi, tulisan ini dibuat dalam rangka memaksa diri untuk kembali menulis. Bukan Cuma untuk mengisi halaman yang tampak kosong, tapi untuk memindahkan isi kepala yang udah sesak seperti mau meledak. Seperti apa yang diminta seseorang beberapa waktu yang lalu.
Soal pertanyaan bagaimana dunia kini, sebenarnya adalah pertanyaan yang sama yang pernah muncul di kepala beberapa waktu belakangan. Pertanyaan yang ku kira juga sudah terjawab dengan sendirinya di sela-sela waktu saat hidup berjalan setelahnya. Jawaban yang kemudian membuat ku yakin sekaligus maklum dengan apa-apa yang terjadi belakangan. Jawaban yang mulanya ku yakini hanya untuk diri ku sendiri. Namun, sepertinya perkiraan ku bisa jadi ga tepat setelah tahu ada orang lain mempertanyakan hal yang sama. Bahkan mungkin kamu juga. Oleh karenanya, ku coba bagikan jawaban yang ku maksud. Barangkali bisa juga menjawab pertanyaan serupa yang mungkin saja tumbuh di dalam pikiran mu dan juga pikiran-pikiran orang yang lain.
Belakangan, bertubi-tubi muncul hal-hal ga menyenangkan di sekitar kita. Wabah penyakit, banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus, bentrokan kelompok, korupsi yang ga udah-udah dan masih banyak hal menyedihkan lainnya. Semuanya terasa sangat dekat dengan kita, seperti mengepung hari-hari yang kita jalani.
Semuanya terjadi secara cepat, bertubi-tubi tanpa jeda yang pasti. Di saat yang sama, kita seperti tak siap menghadapinya. Hanya kesedihan yang kita punya untuk menyambut kehadiran mereka. Serangan mendadak dipadu dengan pertahanan yang lemah adalah perpaduan yang sempurna untuk membuat diri terlilit dalam kesulitan.
Dalam kondisi seperti itu, kemudian bersemayamlah energi-energi negatif di dalam diri kita. Bersenyawa dengan perasaan, tumbuh merambat mengisi rongga-rongga kosong di dalamnya. Pelik. Dunia yang sangat pelik bagi kita yang kecil dan tidak berdaya ini. Rasanya kesulitan ini sangat pekat. Gelap dan legam seperti langit sore sebelum hujan lebat di bulan Januari.
Di titik itu, aku menemukan ketidakberdayaan menjadi satu-satunya yang ada di dalam diri. Ketidakmampuan melawan keadaan yang sulit dan nelangsa ini. Setiap hari aku harus menghadapi kenyataan bahwa kasus positif covid terus meningkat, angka kematian juga sejalan, nakes kewalahan, rumah sakit sesak dengan antrian. Membayangkannya saja dada ku ikutan sesak. Belum selesai covid ditangani, muncul banjir bandang serentak di beberapa wilayah. Hujan yang belakangan lebat jadi alasan. Gempa muncul di beberapa titik, disusul gunung Merapi meletus. Dilengkapi dengan kanal-kanal berita utama yang diisi oleh cerita pejabat public yang menyunat dana bansos, atau bentrok antar LSM yang berebut proyek, atau kisah pasangan menikah yang saling membunuh karena depresi terhimpit ekonomi, atau masih banyak beriita-berita lain yang sangat mengangkat emosi.
Semuanya mengalir deras setiap detik melalui kanal-kanal sosial yang aku sendiri membukanya. Semuanya terhubung langsung dan dikonsumsi setiap saat aku membuka gadget dan notifikasi di dalamnya. Segala informasi serta kejadian dijejalkan kepada pikiran yang tentu saja terbatas kemampuannya. Sadar atau tidak, semua informasi yang ditangkap akhirnya diproses di dalam diri. Hasil pemrosesan informasi itu kemudian membuat perasaan kita reflek memberikan respon terhadapnya. Respon yang muncul tentu saja bisa kita duga. Karena informasi yang masuk adalah berkaitan dengan masalah yang tidak menyenangkan bahkan cenderung menyedihkan, maka perasaan kita akan memberikan reaksi yang serupa. Akhirnya, kita merasakan hati yang nelangsa atas hal tersebut.
Hidup memang sudah banyak sedihnya, ditambah lagi banyak sekali informasi-informasi menyedihkan. Apa semua ini ga kelewatan Ya Tuhan? Masalah sebanyak ini harus dihadapi sama manusia yang ga berdaya macem aku gini? Seketika berhenti bertanya, seketika itu pula jawabannya muncul.
Ya, kita adalah manusa yang sangat lemah dan tidak berdaya dibanding dunia dan seisinya. Hal sederhana yang sering kali kita lupa. Sering kita merasa bahwa di dalam hidup kita harus menghadapi semua hal yang ada di hadapan kita. Bahkan tidak jarang kita mencampuri urusan-urusan lain di luar kemampuan kita. Kita ingin turut andil dalam segala masalah yang terlihat mata, meski hanya untuk sekedar menambahkan komentar.
Sifat dasar manusia memang yang katanya mahluk social, sehingga kalua ada urusan yang terkaiit social/orang lain/lingkungan lain bawaannya pengen ikutan aja. Sifat dasar yang kemudian diamplifikasi dengan fasilitan jaringan internet dan kanal media social. Perpaduan yang sempurna untuk membuat FOMO tumbuh subur di dalam diri kita.
Lalu apa hubungannya dengan kekacauan dunia yang terjadi belakangan?
Bagi yang meyakini, segala kisah yang terjadi di dalam hidup, termasuk di dalamnya segala kekacauan yang akan berujung pada kebinasaan dunia adalah sebuah keniscayaan. Semuanya niscaya terjadi cepat atau lambat, hanya soal waktu. Kehancuran dunia yang memang sudah digariskan karena ulah manusia, yaitu kita sendiri. Manusialah yang sudah digariskan menjadi mahluk yang binasa atas perilakunya sendiri.
Nyata dan kasat mata. Bagaimana kita membuang sampah sembarangan, menggunduli hutan, mengasut, membangun berita bohong, dan masih banyak perilaku lain yang seringkali hanya demi keuntungan sendiri. Dampaknya? Bisa kita lihat dan rasakan sendiri kekacauan yang terjadi.
Kehancuran dunia yang memang sejak awal adalah keniscayaan. Suka atau tidak, dipikirkan atau tidak, itu akan tetap terjadi. Kita yang menjalani hidup di atasnya, tidak bisa mempercepat maupun memperlambat kejadiannya barang sedetikpun. Sehingga segala kerusakan yang terjadi akibat ulah manusia adalah bagian dari kisah yang telah digariskan.
Sebagai manusia yang aku yakin kamu ga berkontribusi pada kerusakan itu, kamu cuma punya kartu “yaudah lah mau gimana lagi.”
Kenicayaan tentang kehancuran dunia adalah satu hal. Manusia yang berbuat kerusakaan di dunia adalah hal yang lain. Keduanya saling terkait satu sama lain dalam satu garis yang tegas adanya.
Meskipun kamu bukan bagian dari manusia yang keji itu, kamu tetap akan menjadi manusia yang merasakan akibat dari ulah mereka. Dengan kata lain, kesulitan yang bisa terjadi karena ulah manusia juga niscaya akan kamu alami dan mungkin ga bisa kamu hindari kedatangannya. Keniscayaan yang memang menyedihkan, tapi apa boleh buat.
Hal yang bisa kita lakukan terhadap keniscayaan yang dimaksud adalah, mempersiapkan diri. Kita perlu menjadikan diri kita sosok yang siap untuk menghadapi segala sesuatu yang buruk. Ketika kesulitan menghadang, kesiapan kita akan menolong diri kita dari kesengsaraan yang mungkin mengikuti setelahnya.
Selain bersiap diri, hal lain yang bisa kita lakukan adalah sadar diri. Kita perlu sepenuhnya sadar bahwa kita adalah manusia yang sangat terbatas kemampuannya. Dibanding seisi alam, kita hanyalah partikel kecil yang diberi kesempatan hidup di semesta yang luas. Dengan menyadari keterbatasan, naluri kita akan mengarahkan diri kita hanya kepada hal-hal yang sekiranya mampu kita hadapi. Sebaliknya, naluri kita akan membawa diri kita untuk menjauhi hal-hal yang sekiranya di luar kemampuan kita. Seperti pesan dari para stoa, ketenangan hidup manusia bisa dibangun ketika manusia hanya menjalani apa-apa yang memang di dalam kendalinya.
Hal penting lain yang perlu dilakukan adalah, disconnect. Dunia maya dengan segala macam isinya sangat mempengaruhi kehidupan kita di dunia nyata. Tidak sedikit dari kita yang bisa merasa depresi atas hal-hal yang kita temui di dunia maya meskipun itu bukan masalah yang terkait langsung dengan kita sendiri. Sejak era internet terjadi, seseorang yang terhubung kepadanya dapat mengakses jutaan informasi yang di dalamnya termasuk manifestasi dari berbagai bentuk kebaikan dan keburukan yang bercampur-baur. Sedangkan tidak semua orang mampu mengolah informasi sebanyak itu dengan baik dan benar. Internet adalah dunia yang ga bisa kita kendalikan, sehingga jikalau kita memaksakan diri untuk terus terhubung kepadanya, bisa habislah kita. Hal yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan diri sendiri dengan cara memutuskan diri dari internet.
Kembali pada pertanyaan, bagaimana kondisi dunia saat ini?
Jawabannya adalah ga baik-baik aja. Buruk bahkan, semakin hari semakin dekat dengan kehancuran.
Lalu, gimana cara supaya kita bisa bertahan dan menjalani hidup sampai akhir sesuai dengan garis takdir?
Ga tau, kita ada di masing-masing jalan kehidupan, maka kita akan menghadapi masalah yang masing-masing berbeda. Satu hal yang pasti dan penting, agar kita bisa menjalani hidup dengan segala kerumitannya, kita harus menjadi manusia yang waras dan selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk.
Caranya?
Sadar diri. Kenali diri kamu, kamu mau apa, bisa apa dan harus gimana. Ukur diri sendiri. Supaya bisa menghadapi apa yang menghadang di jalan hiidup mu. Kalo sekiranya mampu ya hadapi, kalo ga mampu ya hindari, carii jalan lain. Dengan begitu, mudah-mudahan kita bisa bertahan hingga akhir hayat.
Apa yang paling penting untuk kamu di masa sekarang?
Sehat lahir & batin akan selalu cukup untuk kamu kapanpun. Kesehatan mu yang utama. Dengan menjadi pribadi yang sehat, kamu bisa lebih unggul dalam berbagai keadaan. Keputusan yang kamu ambil di dalam hidup akan senantiasa rasional. Pun ketika masalah menghadang, kamu akan menjadi personal yang mampu menciptakan solusi. Mudah-mudahan.
So, stay healthy. Stay alive, gimana pun sulitnya hidup. Lagian kamu ga sendiri, ga cuma dunia mu yang lagi susah, dunia kita semua juga. Kalo emang kerasa berat banget, istirahat. Pasrah. Nanti juga ada yang nolongin.
RL #210130









