17 Yang Ke-312: Menemukan Jalan
Dalam sebuah perjalanan, menemukan jalan tepat kearah setiap yang kita tuju adalah hal yang menyenangkan. Seperti ruang-ruang kosong yang tumbuh di dalam hati lalu penuh terisi. Ruang-ruang yang semula kosong lalu puas dengan keramaian, mendorong endorfin yang semula terkurung di sudut-sudut hampa untuk meledak ke seluruh permukaan.
Banyak jalan ajaib bisa ditemui oleh kita yang mulai melangkah ragu. Di hadapan persimpangan atau jalan yang mendadak sepi meskipun sebelumnya kita yakini. Tak semua jalan berujung menyenangkan, namun tak akan pernah ada jalan tanpa pelajaran. Seperti saat sesekali tersesat pada jalan yang kita pilih sendiri. Ketidakmampuan kita untuk memastikan apa yang sudah menunggu di ujung jalan adalah kengerian tersendiri. Terlalu jauh untuk dilanjutkan, terlalu dekat untuk kembali. Sedangkan kita berada di pertengahan jalan yang gelap nan sunyi. Jauh dari hiruk pikuk rekan sebaya yang telah memilih jalannya sendiri-sendiri.
Kekhawatiran yang muncul dilengkapi dengan banyak tanda tanya. Sudahkah kita mengambil jalan yang tepat menuju kepada apa-apa yang kita cita-citakan? Benarkah cita-cita yang kita citakan sesuai dengan apa yang kita butuhkan? Lebih jauh lagi, apakah kita mampu mencapai cita-cita yang ingin kita tuju?
Pertanyaan yang mestinya dengan mudah kita bisa menjawab, namun ternyata tidak bagi ku. Seperti mahasiswa yang masuk kelas ujian tanpa persiapan, menatap soal dan lembar jawaban tiba-tiba menjadi hal tersulit di dunia. Mencoba mengawasi diri sendiri, mengamati pengawas yang pandangannya sedang patroli. Melirik kanan lalu ke kiri. Semua orang terlihat tenang dan asik mengisi kertasnya sendiri-sendiri. Di saat seperti itu penyesalan seketika menjadi teman paling akrab sedunia. Memeluk kita erat-erat sampai kepala merasa berat.
Pasrah adalah satu-satunya jalan. Sambil merenung, sudah benarkah jalan yang kita tempuh? Sesekali menghardik diri sendiri bagaimana bisa sebodoh itu. Sampai ketika kita mulai menyalahkan diri kita di masa lalu yang salah memilih jurusan. Benarkah demikian? Entahlah, yang ku ingat saat itu aku berdoa agar kebodohan saat itu segera berakhir. Masa itu terlewat dan kini tidak lagi ada di kekacauan itu.
Aku pernah ada di sana, mungkin kamu juga. Yang mau aku sampaikan adalah, rupanya begitulah caranya kehidupan bekerja. Membiarkan kita yang berakal menentukan apa-apa yang kita mau lewat manapun jalan yang kita tuju.
Di dalam perjalanan yang gelap, berliku, kadang terjal naik dan turun, di antara ketidakpastian itu kita akan dipertemukan dengan pertolongan-pertolongan ajaib yang kita pun tidak bisa menerkanya secara pasti. Kapan pertolongan itu datang, bagaimana, oleh siapa dan lain sebagainya. Satu hal yang ku sadari, pertolongan itu muncul tepat setelah aku mengakui kebodohan, ketidakberdayaan dan pasrah atas kelulusan mata kuliah yang ujiannya tidak bisa ku jawab. Datang gumpalan kertas berisi jawaban dari meja belakang tepat saat pengawasan lalai. Menyusul teman di kiri dan kanan yang membuka lebar lembar jawabannya saat pengawasan lalai untuk yang kesekian kalinya. Terima kasih Tuhan, doa ku kau kabulkan. Atau mungkin doa mamak bapak ku dari kejauhan. Terima kasih teman-teman telah menjadi tangan Tuhan.
Kekacauan itu terlewat dan diikuti kekacauan-kekacauan lain kemudian. Bahkan hingga saat ini. Kekacauan yang muncul belakangan. Memgamati diri sendiri yang pernah ingin melesat jauh kedepan menyamai teman-teman baik yang lebih dulu ada di depan.
Ternyata pelarian ku tidak sekencang yang ku harapkan. Ia sering lelah, kadang berhenti, kadang balik arah. Keragu-raguan yang sama muncul berulang kali. Di antara mata dan layar komputer yang baru menyala setiap pagi. Di antara perempatan dan lampu merah yang menghadang. Di antara adzan maghrib dari jauh dan kamar yang berantakan.
Belakangan aku kembali pada kekacauan yang sama. Menanyakan kepada diri sendiri soal jalan yang telah dipilih dan dilalui. Soal bagaimana cara mencapai ujung jalan yang terasa jauh. Bagaimana menyusul siapapun yang ada di depan sehingga kita bisa berdampingan.
Hingga satu titik, aku berhenti. Mencoba kembali pada ingatan bagaimana aku bisa melewati kekacauan semacam ini. Aku tak ingat jika pernah sekacau ini, bahkan mungkin berdoa dan berpasrah sebagaimana ritual ini berhasil sebelumnya tidak akan mempan kali ini. Bergerak maju lalu berhenti. Mencoba mundur lalu berhenti. Aku mencari berbagai titik, mencoba berbagai cara sambil berharap menemukan jawabnya. Beberapa musim hujan melalui beberapa Februari, jawaban itu tidak segera muncul. Tidak ada lagi gumpalan kertas jawaban dari belakang, atau teman di kanan dan kiri yang membuka lebar jawabannya. Jikapun ada, kini kami mendapati ujian yang berbeda.
Tidak kunjung menemukan jawaban, ku lewatkan ujian yang itu. Persetan dengan hasilnya, lagi pula kalau tidak lulus, nilainya tidak akan dipampang di papan pengumuman dengan nama lengkap. Orang-orang tidak akan tahu, aku tidak perlu malu. Melanjutkan perjalanan kedepan dengan melupakan kekacauan yang lalu. Sampai, aku bertemu mereka.
Adik-adik sekolah dasar yang ingin menjadi apa saja, tanpa ragu, tanpa malu-malu. Di sepetak tanah kecil, di antara komplek perumahan, mereka bermain dan belajar untuk menjadi apa yang mereka inginkan setelah dewasa. Ada yang ingin jadi pilot, dokter bedah, bahkan youtuber katanya. Jawaban tegas yang muncul setiap mereka ditanya ingin apa. Meskipun kecil, mereka punya energi positif yang sangat besar. Dari wajah-wajah ceria itu, aku menemukan diri ku sendiri.
Aku ingat pernah sekecil dan sebebas mereka. Berceloteh sesuka hati tanpa takut ini itu menghadang di ujung jalan. Bahkan ingin menjadi pahlawan bertopeng yang menumpas penjahat pun tidak takut kala itu. Lalu aku kembali pada diri ku yang kini. Aku menemukan jawaban dari ujian yang telah kulupakan. Tersenyum dan menuliskannya disini.
Rupanya kita hanya perlu terus berjalan pada setiap jalan yang kita ragukan. Terus berjalan, entah maju, mundur, belok kemanapun, kita perlu terus berjalan. Lelah sudah pasti, maka istirahatlah beberapa saat untuk kembali berjalan. Kita adalah pejalan yang menjalani hidup persatuan waktu. Tidak peduli berapa kecepatannya, pokoknya kita herus terus berjalan. Bukan untuk saling mendahului, karena kita punya dan memilih jalan sendiri-sendiri. Kita perlu terus berjalan sampai menemukan bahwa hidup kita adalah sebuah perjalanan yang kita bertanggung jawab penuh atas perjalanan itu sendiri. Kita berhak atas apapun yang kita jalani. Kita perlu terus berjalan sampai menyadari bahwa memang hidup ini harus dijalani sendiri sampai Tuhan mengirimkan beberapa orang lain sebagai pertolongan untuk kita melanjutkan perjalanan itu sendiri hingga sampai di ujung jalan.
Cipularang, 21 Februari 2020.
Dalam perjalanan menyusul rombongan dinas yang meninggalkan ku karena bangun kesiangan.















