Mahakarya Yang Keliru
Ada satu candaan paling sunyi yang pernah dilemparkan semesta ke hadapanku. Bahwa seseorang yang tidak pernah ditakdirkan untukku, ternyata adalah manusia yang paling mahir membuatku jatuh hati.
Kalau dipikir-pikir, itu lucu. Bagaimana bisa seseorang yang datang tanpa membawa kunci, justru menjadi satu-satunya yang tahu persis bagaimana cara membuka pintu hatiku yang paling terkunci rapat?
Kamu hadir tidak seperti badai yang berisik. Kamu itu, seperti gerimis di bulan Juni. Datang dengan ketukan paling lembut, menyelinap di antara celah-celah sepi yang kukira sudah mati rasa. Lewat caramu menatap dunia, lewat bagaimana suaramu mengeja namaku, atau sesederhana caramu menertawakan hal-hal kecil yang bahkan orang lain tak pernah peduli. Semuanya terasa begitu pas. Begitu presisi. Seolah-olah jiwamu memang dirancang khusus hanya untuk melengkapi retak-retak di jiwaku.
Aku pernah jatuh cinta sebelum ini. Tapi bersamamu, aku tidak sekadar jatuh; aku menyerahkan diri. Aku seperti menemukan rumah yang selama ini kucari dalam peta yang salah. Aku begitu yakin, “Ah, setelah perjalanan sejauh ini, tujuanku pasti manusia ini.”
Namun, di situlah letak patahnya.
Semesta begitu rapi menyusun skenario. Kamu dibuat-Nya begitu sempurna di mataku, begitu ahli memikat seluruh warasku, hanya untuk sebuah babak akhir bertuliskan “bukan untukmu”. Kamu diletakkan begitu dekat dalam jangkauan rasa, tapi begitu jauh dalam ketetapan takdir. Kita seperti dua garis yang sengaja dipersilangkan hanya untuk saling menyapa, lalu dipaksa bergerak menjauh tanpa pernah bisa kembali ke titik temu.
Sekarang, aku paham. Seseorang yang paling mahir membuat kita jatuh hati memang kadang bukan dikirim untuk dimiliki. Dia dikirim sebagai ujian untuk melihat apakah kita bisa mencintai sebuah ciptaan tanpa harus menyalahkan Sang Pencipta ketika ia diambil kembali.
Dan akhirnya aku mengerti, tidak semua yang membuat hati merasa pulang harus berakhir menjadi tempat menetap, ini membuatku bisa menjadi lebih bijaksana. Aku percaya, Sang Pencipta tidak pernah keliru mempertemukan maupun memisahkan. Jika memang seseorang ditakdirkan untukku, maka sejauh apa pun jalannya, ia akan datang pada waktu yang telah dipersiapkan. Dan entah bagaimana, saat hari itu tiba, aku pasti tahu.
Maka biarlah cerita ini selesai sebagaimana semestinya. Tanpa saling menggenggam lagi, tanpa saling menunggu lagi. Hanya dua manusia yang pernah saling menemukan, lalu belajar saling melepaskan dengan baik.
- Indramayu, 19 Mei 2026
















