Halo, Perkenalkan saya Akhyar.
Tahun 2011 akhir, ketika sedang menyelesaikan sekolah program Intervensi Sosial di UI, Mbak Yetti, salah seorang dosen saya menyampaikan nasihat di kelas:
“Jadilah seperti cacing, menyuburkan dalam senyap.”
Kalimat itu mengguncang saya. Pertama, hampir tak ada usaha saya untuk menyuburkan sesuatu, tetapi di lain sisi, saya suka sekali berteriak ke sana ke mari seolah-olah saya telah melakukan banyak hal.
Semenjak itu saya suka merenung, berpikir-pikir apa yang benar-benar bisa saya lakukan untuk menggemburkan tanah, melapangkan akar-akar tanaman untuk memperoleh hara.
Beruntung, momen-momen sepi itu terjawab enam bulan setelahnya ketika saya bertemu dengan dua teman: Naya dan Tery.
Pertengahan 2012, Naya pindah dari Bandung ke Depok. Di Bandung ia dan kawan-kawannya dari ITB memiliki kegiatan bernama Sekolah Bermain Balon Hijau (SBBH). Kadung sudah memiliki kegiatan yang begitu ia cintai di Bandung sana, ia mengajak saya untuk membuat sekolah dengan konsep seperti SBBH juga, tetapi di Depok. Kebetulan saya sempat mendengar Tery, adik kelas saya di Psikologi UI, berencana menjadikan kontrakannya sebagai tempat anak-anak bermain. Sebelumnya memang sudah ada anak-anak yang bermain di halaman kontrakannya, tetapi belum ada kegiatan yang terstruktur. Jadilah saya mak comblang bagi dua orang ini. Syukurnya dua perempuan ini ternyata saling cocok. Lahirlah makhluk bernama Sekolah Bermain Matahari Oktober 2012. Nilai utama yang diusung adalah: apresiatif.
Nilai ini adalah titik tolak dan cara pandang SBM melangkah. Bahwa pada setiap diri manusia pasti ada kebaikan yang siap tumbuh dan berkembang. Bahwa setiap manusia memiliki kebaikan yang jika ditemukan segera, dirawat dengan baik, diberi kepercayaan, manusia itu akan menjadi dirinya dalam versi yang terbaik. Dari ide inilah SBM menolak kata evaluasi ketika memberikan catatan proses belajar ke setiap adik yang belajar di SBM. Baik itu catatan harian setelah selesai kegiatan atau catatan laporan akhir semester. Konsep evaluasi tidak sepenuhnya buruk, tetapi menstimulasi pengajar untuk membandingkan seorang anak dengan indikator ideal tertentu. Sementara “apresiasi” akan memaksa pengajar membandingkan bagaimana diri peserta didik sebelum pembelajaran dilakukan dibandingkan dengan setelah pembelajaran dilakukan. Pada apresiasi yang dihargai adalah “gain score” bukan titik akhirnya karena tiap manusia berangkat dari garis start yang berbeda-beda. Dengan tujuan untuk membuat semua orang tua di sekitar kontrakan Tery yang ada di Pinggir Ciliwung Pondok Cina Depok, bisa mengakses SBM, sedari awal SBM tak memungut biaya apa pun. Pengajar yang biasa dipanggil “Kakak Guru” semuanya sukarelawan. Saya sering bercanda ke Kakak Guru, sukarelawanan itu yang benar hanya di kata “rela”-nya, kata “sukanya” ya seringkali hadirnya nanti-nanti. Untuk biaya operasional SBM mendapatkan bantuan dari berbagai donatur dan tak jarang ya dari kantong Kakak Guru lagi.
Apresiasi juga diterapkan dalam menjalankan organisasi SBM. Pada lima Rapat Kerja Tahunan pendekatan Appreciative Inquiry (AI) selalu digunakan untuk merumuskan program-program kerja satu tahun ke depan. Pendekatan AI berfokus pada aspek-aspek positif yang telah dimiliki oleh seluruh elemen yang ada di SBM, sebagai organisasi, komunitas, Kakak Guru, Adik peserta didik, para ibu, dan lingkungan sekitar SBM. Abstraksi dari ini semua akan berakhir dengan apa yang disebut inti positif SBM. Dari inti positif inilah dirumuskan mimpi bersama. Selanjutnya mimpi bersama diturunkan menjadi program kerja yang memiliki indikator ketercapaian yang terukur. Dengan pendekatan seperti ini ada dua konsekuensi yang terjadi pada SBM dari tahun ke tahun, pertama, program kerja setahun ke depan tidak ditentukan oleh evaluasi program kerja tahun sebelumnya, dan kedua, program kerja yang disepakati melahirkan struktur organisasi yang tepat guna untuk menjalankan program kerja.
Setelah Rapat Kerja Tahunan ini SBM baru memulai tahun ajaran baru, dengan membuka kesempatan untuk adik yang baru, Kepala Sekolah dan struktur pengurus sekolah yang baru, dan tentu saja tema baru. Ya, dari awal hingga setelah hampir enam tahun ini, SBM mengadopsi pendekatan belajar tematik. Jadi, setiap semester meskipun tujuan pembelajarannya relatif sama tetapi Kakak Guru SBM merancang kegiatan dalam nuansa tema yang telah disepakati.
Semester itu tema yang digunakan adalah tentang profesi. Pada akhir pekan itu kegiatan besarnya adalah pemeriksaan gigi adik-adik, sembari memperkenalkan profesi dokter gigi. Memang salah seorang Kakak Guru SBM adalah mahasiswa akhir FKG. Ia datang dengan mengajak kawan-kawannya yang lain. Seru sekali acara hari itu. Meskipun ada juga yang kelihatan takut karena harus membuka mulut di depan orang yang tak dikenal, sebagian lagi begitu antusias mengikuti praktik bagaimana menyikat gigi yang benar.
Kegiatan hari itu ditutup dengan memberi hadiah dan foto-foto bersama. Beberapa adik diminta ke depan sembari ditanya, “siapa yang mau jadi dokter, ayo ke depan, kakak akan pinjamkan jaket dokter kakak ya.”
Beberapa adik cepat maju ke depan dan mulai memakai jaket yang kedodoran. Sebagian orang di ruang itu tersenyum geli. Saya? Hampa.
Tubuh saya benar-benar bergetar. Suara di kepala saya benar-benar mengamuk.
“Apa yang telah kau lakukan di tempat ini? Apakah kau melakukan ini hanya karena ingin terlihat baik? Menghilangkan rasa bersalah? Lalu setelah kau tawarkan semua mimpi-mimpi kepada anak-anak ini, kau biarkan saja mereka kembali kepada lingkar kehidupan mereka sebelumnya?”
Saya tak kuat melihat adik-adik itu. Saya keluar sembari menahan tangis.
Saya paham, SBM tak boleh lagi hanya menjadi sekadar Sekolah Anak Usia Dini yang dikelola secara sukarela dan dilaksanakan Sabtu dan Minggu. SBM harus melampaui itu.
Keinginan ini linear dengan semakin dipercayanya SBM oleh para ibu yang tinggal di sekitar SBM. Ditandai dengan makin banyaknya adik yang bermain setiap Sabtu dan Minggu.
Berangkat dari kesadaran seperti inilah, pada Rapat Kerja Tahunan SBM tidak ada lagi usulan untuk “membuat para ibu segera pulang setelah mengantar anaknya.”
Di SBM ada kesadaran bahwa bagaimana pun pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua dan paling optimal hanya bisa dilakukan orang tua. Merekalah yang memiliki porsi waktu terbanyak bersama anak mereka. Di SBM, fokus terhadap para adik dan melupakan orang tua menjadi tak relevan. Justru para ibu harus paham dan melihat secara langsung bagaimana cara yang tepat dalam berinteraksi dengan anak.
Saya masih ingat di tahun pertama SBM, masih ada ibu yang mengatakan anaknya “bodoh” atau “ya gitu aja gak bisa” ketika anaknya kesulitan menempelkan kertas dengan lem atau mewarnai sembari berhati-hati agar cat tak keluar dari garis gambar. Sekarang kalimat-kalimat itu sudah tak terdengar.
Pernah juga, setelah memakan sesuatu seorang adik membuang begitu saja bungkus makanannya di halaman sekolah. Saya mendatangi adik itu dan membawakannya tempat sampah. Ternyata adik itu menolak dan lari ke ibunya. Ibunya gusar dan berujar ke saya “ya kak, gitu amat. Namanya juga anak kecil.” Sekarang, ibu-ibu SBM hampir tak ada lagi yang berpikir seperti itu. Mereka semakin bisa melihat bahwa membuang sampah pada tempat yang disediakan, antre ketika harus bergiliran, saling berbagi sesuai kesepakatan adalah hal-hal baik yang memang harus dibiasakan sejak dini.
Secara singkat bisa dikatakan, SBM tak ingin kegiatan efektif yang hanya berdurasi lima jam dalam sepekan, Sabtu dan Minggu itu, tak berdampak kepada para ibu. SBM membiarkan mereka belajar dengan mengamati kegiatan yang ada di SBM. Psikologi menyebutnya: vicarious/observational learning.
Inilah langkah pertama: SBM pelan-pelan menjadi tak sekadar PAUD tetapi diam-diam memberi pelatihan “parenting” kepada para Ibu.
Di tahun ketiga SBM, pada saat Rapat Kerja Tahunan muncul ide brilian yang tentu saja mungkin lahir karena SBM mengadopsi pendekatan AI. Kebetulan pada saat itu ada yang sedang dekat pekerjaannya dengan OJK dan ada juga yang bekerja di Bank. Ide itu disetujui menjadi program bernama Financial Literacy, seturut itu dibentuk pula divisi baru di SBM: Divisi Finlite.
Tahun itu setiap pekan para ibu didampingi untuk mulai belajar mengelola keuangan keluarga dengan tepat guna. Ujung dari program setiap Ibu yang bersedia menjadi peserta kegiatan ini mendapatkan buku tabungan yang bisa disetor kepada Kakak Guru setiap pekan. Tujuan akhir tabungan adalah untuk persiapan biaya masuk Sekolah Dasar anak-anak mereka. Belakangan Kakak Guru tidak lagi menjadi koordinator untuk pengumpulan uang. Mereka memilih salah seorang dari mereka untuk menjadi penanggung jawab. Pada titik ini saya mulai yakin SBM tak menjadi candu, yang membuat komunitas sekitarnya mengalami ketergantungan, tetapi bisa menjadi pendorong, agar komunitas menjadi semakin baik dan bisa berdiri sendiri.
Kemudian setelah di tahun keempat para ibu mendapatkan pelatihan untuk membuat kue-kue kering dari salah seorang Kakak Guru yang memang seorang chef, para ibu berinisiatif dengan tentu saja bekerja sama dengan Kakak Guru di divisi Community Empowerment, mendirikan Dapur Matahari. Produk Dapur Matahari sudah beredar pada waktu Ramadan kemarin. Ada beberapa jenis kue kering yang dijual dan yang penting semua kue terjual habis. Ini tentu menjadi isu di banyak kegiatan pemberdayaan. Suatu komunitas diberi pelatihan tertentu, tetapi kemudian hasil dari pelatihan itu tak memiliki sifat keberlanjutan karena ada kesenjangan pada produksi dan pasar.
Terakhir, saya ingin menutup presentasi ini dengan satu simpulan sementara saya terhadap SBM. Semenjak saya mahasiswa, saya tahu begitu banyak kegiatan mahasiswa yang bergiat untuk membantu masyarakat. Ada yang bertahan, tetapi sebagian besar menghilang.
Sejauh ini dari pengalaman saya selama di SBM, paling tidak ada dua konsep kunci mengapa SBM bertahan dan terus berkembang.
Pertama: kesetiaan. Kita tak bisa mengingkari anak-anak muda adalah orang-orang yang penuh rasa ingin tahu. Di SBM rekruitmen Kakak Guru diadakan minimal sekali setahun. Pendaftarnya bisa menembus angka seratus orang. Akan tetapi yang benar-benar bisa bertahan di semester pertama sekitar 25% saja. Sebagian berpikir bahwa SBM hanya tentang bermain dengan anak-anak. Siapa yang tak gembira melihat wajah anak-anak yang polos itu. Ternyata merancang pembelajaran, menulis apresiasi untuk tiap adik setiap kegiatan hari itu selesai, memikirkan bagaimana para Ibu bahkan komunitas terus bersama-sama berkembang, ternyata tak semudah apa yang terlihat di Instagram @sbmatahari. SBM tak fokus pada pergi. SBM fokus pada yang setia. Kesetiaan inilah yang membuat program-program SBM terus berjalan dan berkelanjutan dari tahun ke tahun. Kita tak berkeluh kesah, tetapi memberi apreasi pada hal-hal yang memang berjalan, bekerja dengan baik, dan meninggkatkan nilainya di tahun depan.
Kedua: kepercayaan. Perbedaan latar belakang budaya, sosial, pendidikan dan tentu saja ekonomi pada awalnya menciptakan jarak antara Kakak Guru dan para Ibu. Kakak Guru yang pada awal terbentuknya SBM sebagian adalah mahasiswa sementara para Ibu sebagian besar adalah ibu-ibu muda yang pendidikan paling tingginya adalah SMA dan sehari-hari hidup di pinggir Ciliwung tentu memiliki cara berbahasa yang berbeda.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, para Ibu semakin yakin bahwa SBM tak punya udang di balik batu. SBM dan Kakak Guru memang layak diberi kepercayaan. Tidak ada hadiah yang lebih berharga yang bisa diberikan orang lain padamu selain kepercayaan. SBM memeluk kepercayaan ini dan berusaha memaksimalkannya dengan memberi stimulasi sebanyak mungkin kepada para adik, para Ibu, dan tentu saja komunitas sehingga mereka pada akhirnya memiliki aspirasi sendiri. Ada semacam kesiapan untuk berubah yang pelan-pelan, tetapi pasti semakin besar.
“Kak, bagaimana kalau kita bikin bank sampah? Biar ibu-ibu tidak lagi membuang sampah ke sungai.”
Itu kata salah seorang Ibu suatu waktu. Saya belum tahu akhir dari aspirasi ini. Tapi saya yakin ide ini akan membawa SBM ke tempat yang lebih menantang dibanding hari ini.
- Tulisan ini dibuat dan disampaikan oleh Ka M. Akhyar yang memaparkan tentang Sekolah Bermain Matahari di acara Tedx ~~ 🌻🌻🌻