Lovely Christmas illustration by Beatrix Potter
$LAYYYTER
Keni
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
tumblr dot com
we're not kids anymore.
dirt enthusiast
Lint Roller? I Barely Know Her
Game of Thrones Daily

❣ Chile in a Photography ❣

祝日 / Permanent Vacation
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
h

Janaina Medeiros
Stranger Things
Monterey Bay Aquarium

ellievsbear
Cosmic Funnies
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
No title available
Mike Driver

seen from South Korea
seen from United States
seen from Australia
seen from United States

seen from Iraq
seen from Algeria

seen from Germany

seen from United States

seen from Lithuania
seen from Canada
seen from France
seen from Spain
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Brazil

seen from Algeria
seen from Türkiye
@readeraiders
Lovely Christmas illustration by Beatrix Potter
Friendly Reminder
Kita sadar bahwa kesendirian itu sangat menyakitkan, namun pada beberapa kesempatan kita memilih sendiri untuk menyelesaikan segala rasa suntuk dalam benak kita. Kita tahu suasana ramai hanya obat penenang dari keresahan kita selama berada di rumah. Pergi bersama teman, entah sekadar mencari makan atau ngobrol sebentar akan sangat membantu meringankan kegelisahan kita. Tidak apa-apa sendiri, atau beramai-ramai kita punya waktu untuk melerai masalah yang kita miliki. Kita harus yakin bahwa kita mampu. Peluklah dirimu sebagai salah satu rumah setelah doa-doa panjang di malam yang hening.
Semangat, ya? Kamu gak kesepian, aku disini sebagai penenangmu.
—Venushara.
20 Desember 2021 [2.53] - Currently reading a book called Rindu by Tere Liye.
Thoughts (pg. 1-88) - Sungguh melelahkan zaman dulu kalau mau naik haji harus melalui waktu yang panjang dan beresiko. Tapi sangat menggambarkan bagaimana perjuangan zaman dulu dalam menunaikan kewajiban seorang muslim. Sungguh mulia dan keren. Masih belum dapat cerita yang melatarbelakangi sifat si Ambo Uleng ini. Masih penasaran👀 mari lanjut🤣🤜🏻
Currently Reading
Si Putih by Tere Liye
—Mahmoud Darwish, from To a Young Poet
(Daily Journal December.)
Penawar lelah adalah rehat, penawar gundah adalah Sholat. Aku pernah membaca sebuah kutipan yang marak kutemukan di beranda maya, “Sholat itu penting, bukan yang penting sholat.” Aku sepakat.
Karena memang disetiap kemurungan, jawaban satu-satunya yang bisa kita temukan adalah dengan bersujud membumikan doa-doa kita kepada-Nya. Rabb selalu bersedia menampung segala komunikasi hamba-Nya melalui tengadah sederhana.
—Aku masih terus belajar.
“Apa yang membuatmu merasa takut?” tukas si lelaki dengan sepotong roti bakar yang ia pesan lima belas menit lalu. Lantas melahap habis tanpa remah sisa.
“
Aku takut ketika ada satu titik dimana ia dapat membuatku merasa nyaman, kemudian singgah seseorang baru, maupun di sekitarku, berhasil merasuki dimensinya.
Aku takut pada saat aku bertemu dengan seorang penulis yang kugemari, tiba-tiba saja temanku juga ikut mengaguminya. Atau sebelum itu menjelajah terkait siapa ia? Darimana aku mengenalnya? Setelah tahu, ikut memuji dan memenuhi porsiku.
Aku takut jika aku bertemu dengan keindahan, kemudian aku dipaksa keadaan untuk berbagi.
Aku benar-benar merasa takut apa yang aku miliki dalam kisah hidupku, menjadi kepemilikan potongan dari lembar halaman manusia yang kukenal.
Hingga aku menyadari bahwa, ketakutanku sudah mencapai ketidak-penerimaan. Ya, aku tidak suka bila dipertanyakan siapa sosok yang kugemari, apa minuman kesukaanku, apa warna yang membuatku luluh, apa makanan yang melekat baik di lidahku.
Aku tidak suka mengalokasi, walaupun Tuhan menciptakan banyak opsi. Mungkin ini terdengar serakah, tapi siapa sangka manusia bisa dengan mudah terbiasa?” Kulihat ia maklum dengan penjabaranku.
Ditulis oleh : Venushara.
Even in your struggle there is a beauty.
"Blessings are poured over you during testing times. But your heart and mind may be so fixated on the whirlwind that you don’t see the goodness around you. And even if your eyes see it, your preoccupied mind might not acknowledge it.
So take a deep breath, watch the sun rise over a new day, listen to the birds chirp, watch your beloved ones walk and talk around you, go to work or school and struggle through the day – because even in your struggle, there is peculiar and wondrous beauty."
Via Fajr Blog
There was a time where I thought about how weird it would be to have friends from different parts of the world and to have to plan a conference call, and it's very hard because everyone lives in different time zones. Now, it doesn't seem strange at all, because it's what I'm facing right now. How beautiful it is. I love how one year can change so many things to the better.
2020
It has been such a despair feeling for the these past months. I reminisced how my life was. It has been like ups and down. They're totally real. How my life was in the ups (Exchange year in USA) and now my life's in the down. Despite all of that, I have had experienced so many things either its misfortune or blessing. I was on the ranked list to get the scholarship for National Selection of State University Entrance, and by that there is systematic problem that the person in charge was brutally made a mistake by not put my name for the special list for people whose on exchange (take a gap year) or changed school because there's a gap between my school year here, in Indonesia. My dad gone mad at me. He was mad and decided by his perception that I was carelessness. BUT, It wasn't my fault! My mom and I just tried hard to solve this problem. I was trying so hard to find what's the deal. Then, months go by, this miserable news came to town that someone getting infected by COVID-19. My dad is a public health expert. He's worked hard to learn about the virus. And days by days, we are all hit by the reality that our entire family has been devastated by unexpectedly news that we are all affected with this COVID-19 on June and because of that, my mom passed away on 3rd of July. Beforehand, I was preparing for Joint Admission Selection of State Universities on 6th of July. I was depressed. My body turned ache. I was extremely get that severe symptoms that my body loss weight and I got sicker. I was on self-isolation at my house and I was taking care of myself. My dad and brother went to hospital. By half months after that, my dad try to get me a chance to join the exam, and I did it. Sadly, I failed. I was entirely torn apart by not getting in and I failed to get what my mom wants. She told me to attend the medical and dentistry school. Because she knows, how passionate I am about health. My family went down by all of this. Al-fatihah for her.
After all. It is about how I will growing with this situation that force me to be more of who I am. I went through a lot of this. Depression, sadness, and anger. And it is about to learn to accept, failing, and then just let it flow. Because that is the part of life. There's no such a thing that life is going to be that flat. Life is like a rollercoaster.
On top of that, I surely be thankful of my greatest friends from across the world who sent me a lot of strength with their creative way. My local friends, who sent me foods, alhamdulillah makanan gratis yah bund *BuleDoesn'tHavetoKnowtheMeaning. It is about how I, of coursely, be blessed that everyone loves me. In turn, I love them more. Last but not least, there are a lof of essential workers and frontliners that guide me and help me when I was sick. Who are risking their well-being to serve me and my family. And I am very thankful by that.
They are our 2020's superheroes.
Thoughts
Recently, I watched Crash Landing on You. And I found a good quote:
"Dunia ini bukan kebun bunga. Mereka yang memukul, tidak tahu sakitnya di pukul."
Seperti yang terlihat beberapa orang selalu mengikuti nafsunya, apalagi ada yang namanya kepuasan hati. Ada yang baik dan buruk. Kepuasan hati dalam bertindak atau mendapatkan yang diinginkan. Bertindak melalui lisan seperti mengatakan hal yang buruk tentang orang tersebut. Ataupun dengan cara physical. They called bullies. Mungkin sebagian orang ada yang cemburu kepada orang tsb. Atau bahkan ingin memuaskan hatinya untuk melihat seseorang terpuruk. Seperti mereka tidak akan pernah bisa merasakan bagaimana perasaan si-korbannya. Manusia, si-makhluk yang tidak bisa diprediksi isi hatinya.
Apa ada cara untuk mereka semua sadar?
Menurut saya, sulit. Apalagi setiap manusia berbeda-beda tingkat kesadarannya. Hanya tuhan yang tau dimana tingkatan cobaan yang pantas diberikan kepada mereka. Kita tidak boleh membalas. Kita tidak punya hak atas itu. Manusia tidak boleh melakukan hal sepele yang dapat mengurangi tingkat keimanannya hanya untuk membalas orang yang tidak sadar atas perlakuannya sendiri. Balik lagi ke diri sendiri. I mean, you can do it. All you need is prove them wrong. Lifting yourself.
Saya sendiri, manusia yang penuh dengan kekurangan. Masih belajar untuk membenahi pola pikir dan emosi. Sulit untuk melupakan kesalahan orang yang dilakukannya kpd saya. Saya bahkan dapat mengingat apa yang mereka katakan dan perbuat kepada saya. Saya terus belajar untuk memaafkan walaupun sulit. Rintangan hidup tidak berhenti disini. Keburukan saya inilah yang saya sadari yang sangat berdampak di kehidupan saya dari saya bisa mengingat memori masa kecil sampai sekarang. Untuk mengingat keburukan orang kepada kita lebih mudah, daripada mengingat kebaikan mereka. Maka dari itu, saya sendiri meminta terutama kepada saya sendiri untuk bisa memaafkan diri sendiri, dan selanjutnya orang lain. Dan berusaha untuk tetap positive thinking dalam keadaan apapun. [10.39pm]
232.
Teruntukmu yang sudah belum sembuh,
Silakan bergeming bahwa kamu sudah sembuh, mendiagnosa jika kamu baik-baik saja. Tidak apa-apa, kamu berhak menjadi Dokter atas tubuh dan perasaan sendiri meski pada sorot matamu aku menangkap dengan jelas tatapan ketidakjujuran.
Silakan pakai topeng, tertawa dalam keramaian lalu meringkuk saat sepi mulai menjalar pada malam yang pekat. Tak apa, sesekali menipu dunia juga perlu, agar semua tidak tahu seberapa pedih perjuanganmu untuk bertahan dari satu hari menuju hari berikutnya.
Bahkan cermin besar di sudut kamarmu sudah bosan menangkap pantulan wajah sendu, seperti—mati segan hidup tak mau. Rancu, rumpang dan ambigu. Semuanya menjadi pedang dengan dua mata tajam berlawanan sisi dan salah satunya mampu membunuhmu.
Teruslah katakan pada semua, bahwa kamu kuat dan tidak terkalahkan, sampai kamu sendiri merasa ragu lalu menangis tersedu-sedu di ujung waktu, kala temaram menyapa jendela kamarmu.
Sayangku, patah tumbuh hilang berganti, meski dalam wujud yang baru. Entah seberapa besar kekhawatiran pada masa depan dan hal lain di luar kemampuanmu kamu hanya perlu percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanmu, maka jangan terlalu lama menjauh, mendekatlah sebagai mahkluk yang tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan-Nya.
Sebab manusia hanya bisa berencana, hasilnya Tuhan yang putuskan. Kuasa penuh ada pada-Nya; Tuhan semesta alam, yang terbaik menurut kita belum tentu baik bagi-Nya dan Dia Maha Tahu atas segala sesuatu.
Kotak sejuk, 16.20 | 31 Agustus 2020.
Birthday wisdom for me.
Didalam kehidupan, terkadang kita perlu merasakan banyak tekanan sebelum akhirnya benar-benar bertemu kebahagiaan.
Karena semakin ingin bahagia, maka akan semakin banyak diuji hatinya.
Jadi, sabar ya :)
@catatan-rahasia (15/7/20)
Quick Introduction!
Hello, my name is Itty. 18 years 11 month old. I was born and raised in Makassar, South Sulawesi, Indonesia.
I am recently graduated from High School finally finished my high school tho, it supposed to be last year but I spent my pre-senior year in USA. I did Exchange Program. And maybe I will tell you some more of my experiences that hopefully I can remember it perfectly. Also some of it I will copy it from my journal.
I love books, music, draw, and food. Pretty quirky, quiet, and excited at the same time. Enjoy! My quirky life♡