FENOMENOLOGI SEBAGAI PENDEKATAN STUDI KEISLAMAN
Oleh : Resti Ayu Febriani
Fenomenologi berarti merupakan gejala atau apa yang menampakan diri pada kesadaran kita. Fenomenologi lahir dan digunakan dalam studi agama sebagai sebuah metode penelitian ilmiah melawan pendekatan – pendekata teologis. Sejarah kemunculan awal fenomenologi berkembang pada abad ke-15 dan ke-16. Saat itu, terjadi perubahan terbesar dalam diri manusia terkait perspektif tentang dirinya. Teori fenomenologi hadir sebagai perlawanan dari teori sebelumnya yang memandang segala sesuatu dari sudut pandang ketuhanan. Menurut Husserl, fenomenologi merupakan sebuah kajian tentang struktur kesadaran yang memungkinkan kesadaran – kesadaran tersebut merujuk kepada objek – objek diluar dirinya.
Pendekatan fenomenologi berusaha untuk mendapatkan gambaran utuh juga esensi dibalik fenomena keberagaman manusia. Pendekatan fenomenologi mempunyai dua karakteristik dasar. Pertama, fenomenologi sebagai metode untuk memahami agama orang lain dengan perpektif netralis dan menggunakan preferensi orang yang bersangkutan untuk melakukan rekontruksi dalam dan menurut orang lain tersebut. Karakteristik selanjutnya yaitu fenomenologi memperbaiki rancangan taksonomi guna membagi fenomena masyarakat beragama dan berbudaya. Dalam kaitannya dengan studi agama, pendekatan fenomenologis tidak pernah terbakukan dengan jelas, sehingga dibutuhkan upaya – upaya dalam menetapkan factor-faktor yang termasuk dalam pendekatan fenomenologis.
B. Metode Burhani sebagai Metode Pendekatan
Merupakan metode berfikir yang didasarkan pada keruntutan logika dan akal, tidak didasarkan pada teks maupun pengalaman. Beberapa ilmuwan yang menerapkan metode burhani adalah
a. Kaum filsuf mazhab peripatetik
b. Kaum teolog (terutama mu’tazilah dan Syi’ah)
c. Kalangan Fuqaha (terutama mahzab Hanafi)
Islam memberikan kedudukan tinggi terhadap akal. Akal memang merupakan suatu kelebihan yang Allah berikan kepada manusia, yang dengan akal tersebut manusia diharapkan akan mampu untuk melaksanakan tugas serta fungsinya dimuka bumi ini yaitu sebagai khalifatullah dan Abdullah. Ibnu Rusyd mengasaskan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini masuk ajaran agama tunduk pada keniscayaan kausalitas dan mesti bisa dimengerti oleh akal atau rasio manusia.
C. Integralisasi Metode Burhani dengan fenomenologi
Fenomenologi adalah suatu metode yang secara sistematis berpangkal pada pengalaman dan melakukan pengolahan-pengolahan pengertian. (Dimyati, 2000). Karenanya, manusia sebagai makhluk yang selalu melakukan komunikasi, interaksi, partisipasi dan penyebab yang bertujuan. Kekhususan manusia terletak pada intensionalitas psikisnya yang ia sadari, yang dikaitkan dengan dunia arti dan makna. Maka, dunia makna manusia dapat diteliti dengan metode fenomenologi. Pada prakteknya, Husserl hanya meninggalkan dua kaidah penting dalam fenomenologi, yakni: reduksi fenomenologis dan konstitusi. Reduksi fenomenologis merupakan upaya peralihan pandangan dari alam real menuju “ kesadaran”. Sedang reduksi eidetik mementingkan esensi (eidos) tetapi dalam bentuknya yang paripurna. Reduksi fenomenologis ini yang kemudian dinamakan “ sikap fenomenologis” (bagus,2005).
Epistemologi Burhani, berbeda dengan epistemologi bayani dan irfani, yang masih berkaitan dengan teks suci, burhani sama sekali tidak mendasarkan diri pada teks, juga tidak pada pengalaman. Dengan demikian, sumber pengetahuan burhani adalah rasio, bukan teks atau intitusi. Rasio inilah yang dengan dalil-dalil logika, memberikan penilaian dan keputusan terhadap informasi-informasi yang masuk lewat panca indera, yang dikenal dengan istilah tasawwur dan tasdiq. Penggabungan antara rasionalisme dan empirisme atau disebut juga Integralisasi metode burhany dengan fenomenologi pada kehidupan sehari-hari adalah kita bisa mengetahui sebab akibat dari seorang perempuan yang melahirkan berdasarkan teori dan pengalaman yang ada.
Fenomenologi merupakan sebuah kajian tentang struktur kesadaran yang memungkinkan kesadaran – kesadaran tersebut merujuk kepada objek – objek diluar dirinya. Dalam kaitannya dengan studi agama, pendekatan fenomenologis tidak pernah terbakukan dengan jelas, sehingga dibutuhkan upaya – upaya dalam menetapkan factor-faktor yang termasuk dalam pendekatan fenomenologis. Metode Burhany Merupakan metode berfikir yang didasarkan pada keruntutan logika dan akal, tidak didasarkan pada teks maupun pengalaman. Metode ini dijadikan oleh kaum rasional muslim (filsuf dan teolog) sebagai salah satu metode ilmiah untuk dapat menemukan teori teori rasional secara ilmiah. Burhani menyadarkan diri kepada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Bahkan dalil-dalil agama hanya bisa diterima sepanjang ia sesuai dengan logika rasional.
Anwar, Saeful.2017. Pendekatan Dalam Pengkajian Islam Kontribusi Charles J.Adam Terhadap Kegelisahan Akademik.An-Nas : Jurnal Humaniora.Vol.2(1)
Mujib, Abdul.2015. Pendekatan Fenomenologi Dalam Studi Islam. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam.Vol.6
Novayani, Irma.2019. Pendekatan Studi Islam “Pendekatan Fenomenologi Dalam Kajian Islam”.Jurnal At-Tadbir STAI Darul Kamal NW Kembang keran.Vol.3(1)
Rangkuti, Fatimah Rahma.2019.Implementasi Metode Tajribi, Burhani, Bayani, Dan Irfani Dalam Studi Filsafat Pendidikan Islam. Al-Muaddib : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial & Keislaman. Vol.1(2)
Rusli.2008.Pendekatan Dalam Studi Agama Konsep, Kritik Dan Aplikasi. Islamica. Vol.2 (2)