h

Jar Jar Binks Fan Club
Lint Roller? I Barely Know Her

Love Begins

gracie abrams
Sade Olutola
Show & Tell
he wasn't even looking at me and he found me
Misplaced Lens Cap
Keni
The Stonewall Inn
Claire Keane
ojovivo
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
Sweet Seals For You, Always
Interview Vampire Daily

No title available
One Nice Bug Per Day

Kiana Khansmith

No title available
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil

seen from France
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Uzbekistan
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Chile
seen from China
seen from United States
@ririul-blog
Kau tau?
Aku hanya ingin lidahku menjadi ringan. Agar aku tidak kesulitan terhadap apapun yang ingin kuceritakan tentangku, dihari kemarin, hari ini atau rencana hari esok.
Kau tau? Bukan aku lelah melebarkan telinga dan hati untuk menampung kisahmu. Ataupun menguatkan pundak untuk tempatmu menyandarkan penat. Hanya aku juga ingin merasakan sebaliknya. Sepertimu.
Kau tau? Dalam diri ini masih banyak ruang kosong untuk mendengarkanmu, mungkin hingga seabad ke depan. Hanya saja, ada ruang lain yang terlalu penuh dan sempit untuk menahan manis pahit hariku yang sepatutnya deras mengalir keluar dan lenyap.
Kau tau? Aku selalu berharap aku masih satu-satunya bagimu, manusia yang kau andalkan. Untuk ceritamu, tentang duniamu. Hingga aku sedih, jika kau melihat sisi terdalamku yang akan menggoyahkanmu.
Kau tau? Kau akan runtuh ketika hatiku retak, kau akan hancur ketika airmataku menetes, kau akan menyesal ketika aku rapuh. Sebab itu lidahku beku.
Kau tau? Aku tidak ingin kau tau.
-CM- 22:28 DPK
Citra sayang, semoga Allah memelukmu dengan kasih sayang dan ampunan. semoga Allah menghapuskan semua dosa-dosamu, menerima semua amal dan kebaikanmu.
mengerjakan dan memikirkan
kita mungkin sudah pernah mendengar kisah tentang segelas dan seteko air. kalau kamu belum tahu, begini kira-kira cerita itu.
seorang dosen psikologi membawa segelas dan seteko air ke dalam ruang kuliahnya. beliau bertanya kepada para mahasiswa: mana yang lebih berat, segelas air atau seteko air? dengan mudah, para mahasiswa menjawab bahwa seteko air tentu lebih berat.
kini, pertanyaannya diubah menjadi percobaan. seorang mahasiswa diminta untuk memegangi seteko air selama satu menit. mudah saja, tantangan itu mulus dituntaskan.
selanjutnya, mahasiswa yang sama diminta memengangi segelas air. kali ini, selama setengah jam. baru setengah waktu dari yang ditentukan, mahasiswa itu ingin menyerah.
kembali kepada pertanyaan mana yang lebih berat, kini semua memahami bahwa yang menjadikan sesuatu berat, lebih utama bukanlah berat mutlaknya, melainkan seberapa lama kita memeganginya, memikulnya. prinsip yang sama berlaku bagi masalah-masalah dalam hidup, dalam urusan-urusan sehari-hari.
belakangan–dengan banyaknya pekerjaan yang terasa menumpuk–saya teringat akan cerita segelas dan seteko air. saya menjadi tersadar bahwa beberapa hal terasa begitu berat bukan karena sesuatu tersebut sungguh-sungguh berat, melainkan karena saya tak kunjung menyelesaikan dan meletakkan gelasnya.
sebisa mungkin, saya menyuruh diri sendiri untuk meletakkan secepat mungkin semua gelas yang harus saya pegangi. ternyata, inilah yang bekerja bagi saya:
pertama, saya menghindari multitasking. dulu, saya pernah merasa bangga jika bisa melakukan banyak hal secara bersamaan. setelah belajar dan mengalami, saya menyadari bahwa itu adalah salah satu bentuk menumpuk masalah dan memegangi gelas untuk waktu yang lebih lama. ini kira-kira hitungannya.
misalnya kita punya 100 energi setiap hari dan kita harus menyelesaikan lima pekerjaan yang masing-masingnya butuh 100 unit energi agar bisa selesai. jika kita mengerjakan semua pekerjaan setiap hari, maka di akhir hari pertama, tidak ada pekerjaan yang selesai. yang ada adalah lima pekerjaan yang masing-masing dua puluh persen selesai. kalau kita mengerjakan dua pekerjaan di hari pertama, maka di akhir hari pertama, tidak ada pula pekerjaan yang selesai. yang ada adalah dua pekerjaan yang setengah selesai dan tiga pekerjaan yang tersentuh sama sekali. bagaimana jika kita hanya mengerjakan satu saja? satu pekerjaan akan tuntas selesai, artinya gelas sudah bisa diletakkan. meskipun masih ada empat lagi, paling tidak yang satu sudah.
kedua, saya membaca bahwa ada penelitian yang menyebutkan: kebanyakan orang terlalu banyak membuat rencana/resolusi yang tidak bisa dipenuhi dalam satu hari, tetapi terlalu sedikit membuat rencana/resolusi yang bisa dipenuhi dalam satu tahun. maka, saya pun mengganti penggalan waktu rencana dan resolusi hidup. rencana harian menjadi mingguan. resolusi tahunan menjadi kuartalan (per tiga bulan).
ketiga dan yang paling utama bagi saya adalah mengerjakan dan memikirkan–alih-alih memikirkan dan mengerjakan. mengapa begitu? saya belajar bahwa di dunia ini segala sesuatu membutuhkan gerakan. buku tidak akan pernah jadi tanpa betul-betul ditulis, misalnya. kita tidak akan pernah sampai di garis akhir dalam lomba maraton jika kita tidak melangkah. maka, bergerak saja dulu! bergerak adalah bagian dari berupaya, bagian dari merayu Tuhan agar kemudahan dan inspirasi diberikan kepada kita.
ingin menulis? coba buka dulu halaman kosongnya, lalu tulis apa saja. pada mulanya akan terasa sulit karena kita belum punya rencana, tak ada yang dipikirkan. lama-lama, mungkin yang berpikir adalah jari-jari kita, begitu mengalir kita menulisnya.
semangat ya. semangatlah menata hidup. semangat meletakkan gelas satu per satu. mungkin gelas itu skripsimu, naskah bukumu, laporan-laporan yang harus kamu buat, apa pun itu.
semangat! jangan lupa untuk meletakkan gelasmu.
truth untold
manusia itu ‘kelar’ kalo ditunjukkin sama Allah satu aja kekurangan/aib dirinya yang selama ini gak orang-orang tahu. sebetulnya gampang banget buat Allah bikin kita ilfeel sama seseorang dengan ditunjukkan at least satu aja kekurangannya yang selama ini gak pernah ’go public’. dan sebaliknya, gampang banget juga buat Allah bikin orang lain ilfeel sama kita dengan ditunjukkan satu aja kekurangan kita yang selama ini berusaha kita sembunyikan rapat-rapat.
tapi apa? lihatlah betapa Maha Baik-nya Allah masih bersedia nutupin semua itu sampai detik ini padahal kita udah kayak apa nabung dosanya. Allah membiarkan orang lain memiliki ekspektasi yang baik tentang diri kita padahal kita belum tentu sampai pada ekspektasi itu. syukur-syukur kalau kenyataannya seperti yang diekspektasikan, barangkali on the way, atau yang paling menyedihkan tidak sama sekali.
beberapa orang merasa terbebani dengan anggapan baik yang tinggi tentang dirinya. namun di saat yang sama mereka juga tidak ingin dianggap sebaliknya. beberapa orang ingin dianggap biasa saja layaknya manusia biasa yang tidak luput dari cela namun di lain waktu ingin diakui juga. beberapa yang lain memilih meng-aamiin-kan saja anggapan-anggapan itu dengan harapan bahwa suatu hari akan menjadi yang sebenarnya. semua itu bukan berarti mereka buruk, bukan. mereka hanya ingin dihargai sebagai makhluk yang masih berproses dan berprogres sebagaimana mestinya, seutuhnya, kurang dan lebihnya.
2019.02.07
yang harus selesai
gini loh, dek. habis menikah itu, masalah tuh tambah banyaaak, bukan jadi berkurang. kamu harus mikirin keuangan keluarga, kesehatan keluarga, pendidikan anak-anak, aktualisasi masing-masing anggota keluarga. itu dalam lingkup besarnya. dalam lingkup kecilnya? mikirin hari ini mau makan apa, jemuran sudah kering belum, pintu sudah dikunci belum. banyak yang diurus.
jadi, kalau memang niat menikah, ya kamu harus selesai dulu, dek, sama hal-hal dasar yang jadi pasaknya rumah tangga. kepercayaan, percaya nggak sama calon pasangan? kejujuran, bisa nggak kamu jujur sama diri sendiri dan sama calon pasangan? komitmen, kesetiaan, mau menerima, hal-hal seperti itulah.
kalau kamu dan calon pasanganmu sudah selesai sama hal-hal dasar itu, artinya kalian sudah siap untuk mempersiapkan diri untuk menikah. belum benar-benar siap menikah loh. kenapa? karena habis itu yang harus diobrolin masih banyak.
gimana kalian mengatur keuangan keluarga. mau tinggal di mana dengan cara apa, ngontrak kah nyicil rumah kah. gimana caranya bertukar sepatu biar sama-sama baik sebagai menantu. besok kalau punya anak gimana mendidiknya. apa bentuk melayani dan taat menurut masing-masing. rencana jangka panjang masing-masing dan gimana kalau itu harus dilebur. bahkan, bisa sampai seputar mau punya ART apa enggak. suka ngosek kamar mandi enggak. mau punya anak berapa (ini kendali Allah memang tapi bisa juga direncanakan).
juga, yang mungkin tabu diomongin di depan, seperti gimana kalau sampai terjadi masalah dan amit-amit harus berpisah. apa arti kekerasan dalam rumah tangga menurut masing-masing. dan lain-lain.
wajar sih, kalau saat mau menikah, kamu diselimuti kekhawatiran. akan langgeng nggak ya, dia akan setia nggak ya, akan bahagia nggak ya. itu memang tugasnya setan supaya yang mau menikah ragu-ragu dan nggak jadi menikah.
tapi, dek. ada banyak banget yang lebih penting dan utama untuk dipikirkan dan direncanakan daripada itu, apalagi daripada masa lalunya atau kekhawatiran tentang kesetiaan dia di masa depan.
intinya ya dek, setiap orang pasti punya masa lalu sehingga kamu nggak usah mikirin masa lalu calon pasanganmu. nggak usah, nyusahin. sekaligus, kamu jangan berharap deh bahwa kamu bisa mengubah seseorang. kalau sayang ya pasti dia menjadi dirinya yang terbaik. lagian, nggak enak menjalani hubungan yang penuh dengan tuntutan.
dah, selesaikan dulu yang dasar-dasar. kalau sudah siap untuk mempersiapkan diri untuk menikah, persiapkan diri (dan calon pasangan) untuk menikah. baru deh menikah.
prinsipnya kan, nanti gimana bukan gimana nanti. semangat persiapannya!
akan terlewati
pagi ini kamu duduk di tepi tempat tidurmu. kamu mengusap-usap muka, mengumpulkan keberanian dan semangat untuk melewati satu hari lagi. saat yang sama kemarin, atau kemarin lusa, atau minggu lalu, atau bertahun-tahun lalu, kamu pernah duduk seperti ini dan berpikir bahwa kamu tidak akan bisa melalui hari itu.
tapi kamu melaluinya. kamu melewatinya. meskipun hari-hari itu kembali berakhir dengan kurang menyenangkan, kamu bisa. berkali-kali kamu ingin tidur saja, tidak masuk sekolah, tidak masuk kuliah, tidak masuk kerja, tidak bangun untuk melakukan hal-hal yang menjadi tanggung jawab. tidak jarang, yang membuatmu ingin pergi bukanlah kewajibanmu, melainkan bagaimana lingkungan dan sekitar membuatmu merasa tidak mampu, tidak berharga.
tapi kamu bangun. kamu melaluinya. kamu melewatinya. kadang, yang membuatmu semangat hanya sekadar makanan enak, hanya sekadar wangi kendaraan yang kamu tumpangi, hanya suara-suara dan lagu yang kamu suka, hanya seseorang yang ingin kamu temui. tak masalah. kamu tahu apa sumber kebahagiaanmu dan itulah yang penting!
ada hari-hari di mana semangat tidak ada. pada hari itu, tolong, temukanlah sesuatu yang akan membuatmu bertahan. kamu tahu apa sesuatu itu. bangunlah sekali lagi. bertahanlah satu hari lagi.
suatu pagi nanti, kamu akan bangun dari bermimpi tentang masa lalu. percayalah, kamu akan tersenyum dan bersyukur karena semua telah terlewati. semua akan terlewati.
Tulisan : Kesempatan
Kemarin saya bertemu dengan adik kelas saya di SMA dan juga ketika di ITB. Kami tak sengaja bertemu saat check in di Bandara Yogyakarta dan ternyata kami punya tujuan yang sama dan akan berangkat dengan pesawat yang sama pula, waktu check in pun kami duduk di nomor yang berdekatan. Takdir. Sambil menunggu boarding, kami ngobrol banyak hal. Maklum, kurang lebih sudah hampir tiga tahun tidak bertemu sejak saya lulus dan pindah ke Yogyakarta. Obrolan standar. Sedang apa di sini? Sekarang kerja dimana? Dsb. Dia baru menikah dua bulan yang lalu dan sekarang bekerja di sebuah BUMN Migas di negeri ini. Obrolan kami tetap kehidupan pasca kuliah, pekerjaan, aktivitas, keluarga dsb. Salah satu yang menarik adalah ketika kami membahas tentang pekerjaan. Ia menyinggung soal lowongan CPNS yang sekarang ini sedang dibuka. Bahkan diberbagai group whatsapp, into tersebut dibagikan berkali-kali oleh teman-teman yang lain. “Mas, gak minat daftar CPNS? Lagi banyak banget itu dibuka.” “Yah mau gimana, gak ada minat. Daripada coba-coba terus mengambil jatah rezeki orang lain yang mungkin lebih ingin. Alhamdulillah sudah manteb dan mau menekuni bidang kerja yang sekarang.” “Iya juga ya. Jalan rezeki setiap orang memang beda-beda.” “Iya banget. Ini juga mau rencana sekolah lagi soalnya.” “Wah, aku juga pengin sekolah lagi Mas. Tapi, mungkin kudu nyari cara kan soalnya kerja di BUMN.” Kami ngobrol ngalor ngidul tentang banyak hal. Sampai pesawat kami boarding. Dulu, kedua orang tua saya ingin sekali saya menjadi PNS. Sewaktu lulus SMA pun sempat disuruh daftar sekolah kedinasan. Tapi apa hendak dikata, hati tidak ada kecenderungan ke arah sana. Hingga sampai di titik ini, sudah menjadi keputusan bulat bahwa saya mau berkarir di sektor swasta. Bismillah. Dan lowongan CPNS pun tidak berhasil menggoyahkan tekad tsb. Meski memang tawarannya sangat menjanjikan. Saya punya tujuan, ada visi. Dan saat ini, jalan yang sedang saya tempuh guna mencapai tujuan tsb. Kata seorang seniorku. “Kalau kita tahu betul apa tujuan kita, kita tidak akan mudah tergoda oleh hal-hal lain yang mengalihkan kita dari tujuan tsb. Memang ketika kita menempuh jalan untuk ke tujuan itu, kita akan banyak melewatkan kesempatan lainnya. Tapi percayalah pada tujuan dan kata hatimu.” Bismillah. Untuk teman-teman yang mau berjuang untuk mengambil kesempatan (CPNS) yang saat ini dibuka. Semangat. Doa, niat yang tulus, dan proses yang jujur selalu menjadi senjata yang tak tertandingi. Dan semoga menjadi rezekimu, kalau bukan. Jangan bersedih. Berbanggalah, karena kamu sudah berikhtiar. Medan, 7 September 2017 | ©kurniawangunadi
Seringnya, kita tidak bisa memilih semua pilihan. Padahal, menurut kita, semuanya penting. Semuanya berharga, tapi lagi-lagi, kita hanya bisa mengambil salah satu, tidak semua sekaligus. Bukankah sering, kita takut melepaskan kesempatan, ingin mendapatkan semuanya. Tapi rumus hidup di dunia ini tidak seperti itu, selalu ada hal yang dikorbankan untuk hal yang lain. Selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan dan kalau kita tak juga berani mengambil konsekuensi tsb. Pada akhirnya, kita tidak membuat pilihan apapun. Kita terlalu takut mengambil resiko. Terlalu lama berpikir dan selalu berpikir tentang diri sendiri. Lupa, kalau pilihan kita berdampak pada kehidupan-kehidupan yg lain. Kita sibuk mencari keuntungan pribadi. Sibuk mencari cara agar diri kita selamat, lupa untuk peduli dg yg lain. Pilihan-pilihan yang ada di depan kita selalu mengajarkan kita untuk berpikir lebih luas, tidak hanya tentang diri sendiri. Apakah kita sudah berhasil belajar dari setiap pilihan yang kita buat sebelum ini?
Jangan terkecoh dengan jumlah yang banyak. Di Alqur'an, kata banyak sering disandingkan dengan keburukan. Banyak yang tidak bersyukur, banyak yang tidak mengerti. Maka, ubah yang banyak dari kita itu menjadi berkah. Harta kita banyak? jadikan ia berkah. waktu kita banyak? jadikan berkah. Hafalan Alqur'an kita banyak? jadikan berkah. Agar banyak tak hanya bilangan yang membinasakan, tapi menyelamatkan…
Uni. 2017 (via rumahati)
“kirana, kau menang. saya hampir tidak pernah kecewa menunggu hujan.” “banyu, sepertinya hujan tidak lagi perlu ditunggu.” “hm?” banyu menoleh. “hujan akan datang kalau dia rindu. hujan selalu datang. itulah alasan hujan jatuh. sesungguhnya dia rindu.” “kepada bumi?” kirana menjeda, “atau kepada lautan.” banyu menipiskan pandangan. hatinya sejurusan lapang.
siap reprint sepertinya :)
Memulai, menjalani, dan mengakhiri sama-sama tidak ada yang mudah. Untuk itu, berdoalah lebih banyak untuk meminta kekuatan, kesabaran, dan segala hal yang berguna untuk menghadapinya. Sebab, perjalanan ke depan tidak pernah dijanjikan akan semakin mudah.
Kurniawan Gunadi (via kurniawangunadi)
KRITERIA SUAMI SETEGAR PILAR
Oleh ust. Hasan Faruqi
Senin kemaren, saya mengikuti sebuah kajian yang judulnya menarik. Akhir ya saya ikut, maklum, ilmu sebagai suami itu perlu ditambah, biar enggak salah menjalani pernikahan yang lamanya seumur hidup.
Mengapa judul kajian ini suami setegar pilar? Kenapa harus pilar?
Laki-laki memang diperintahkan oleh Allah agar dirinya itu harus menjadi seorang suami yang kuat, tak hanya kuat, tapi mampu menopang rumah tangga. Itu kenapa, suami disebut dengan pilar.
Tugas suami sendiri sebetulnya tercantum dalam Q.S. An-Nisa ayat 34 yang berbunyi
“Kaum laki-laki itu adalah pelindung bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). …”
Pada ayat tersebut, dijelaskan, seorang pria haruslah mampu menjadi pelindung bagi kaum wanita, terutama dalam rumah tangga.
Dalam tafsir imam ibnu katsir, dijelaskan bahwa pelindung ini mencakup dalam 4 hal, yakni sebagai seorang pemimpin bagi wanita, pembesar (atau yang mengatur), pengambil keputusan (yang menentukan hukum di rumah), dan pendidik dan pelatih adab bagi istri.
Kriteria seorang suami yang baik dan bisa memipin keluarganya, terbagi dalam 4 jobdesk yang harus dilakukan.
1. Suami yang merencanakan.
Seorang suami wajib merencanakan rumah tangganya, salah satu yang paling penting adalah visi rumah tangga tersebut. Jangan sampai ia mengalir tidak jelas tanpa tujuan.
Seperti halnya ketika mendidik anak, jangan sampai suami membiarkan pengajaran anak hanya bertumpu pada istrinya. Memang, istri adalah madrasah bagi anak. Tapi ingat, suami adalah kepala sekolah. Seorang kepala sekolah, tahu betul, kurikulum apa yang berjalan, metode yang disampaikan, serta bagaimana perkembangan anak didiknya. Jika kita tidak paham apa yang diajarkan, hanya tahu jika ada suatu masalah, kita bukan kepala sekolah, kita ini hanya penjaga sekolah. Tidam paham kurikulum, hanya senyum ketika sang anak didik melewati kita.
Banyak orang tua tidak merencanakan rumah tangganya, sehingga banyak orangtua yang gagal mendidik anak ketika masih kecil, sehingga ketika remaja sang anak malah sering bertengkar dan berselisih dengan orangtua.
2. Suami yang mengatur
Tidak ada satu orangpun yang senang untuk diatur-atur. Satu-satunya alasan kenapa orang tersebut mau dengan senang hati menjalankan aturan, adalah karena adanya wibawa dari orang yang memerintah, jika dalam kasus ini maka seorang suami/ayah.
Suami wajib berwibawa. Namun kadang banyak orang yang salah kaprah. Wibawa itu, lahir dari dua sifat besar. Yakni karena ketegasan, dan kedekatan dengan subjek. Dengan hal tersebut, subjek yang kita inginkan (anak misalnya) akan lebih mudah menerima perintah dengan baik. Namun kadang kita suka salah, wibawa dibangun dengan rasa takut dan gemetar. Sehingga, istri/anak-anak mengikuti peraturan yang ada bukan karena kesediaan diri, namun karena takut dengan suami/ayah. Dan suasana seperti ini, membuat istri/anak-anak lebih merasa tenang ketika sang suami/ayah tidak ada. Aneh kan?
Hal kecil yang bisa membuat wibawa seseorang turun, adalah dengan menjanjikan sesuatu yang tak bisa ditepati. Misalnya, kita berjanji memberi es krim kepada anak, namun pada akhirnya kita tidak memberikannya, cuman bilang “nanti ya”. Hal ini bisa menghilangkan kewibawaan orangtua di mata anak, karena anak jadi malas mengikuti perintah yang tidak ada imbalannya.
3. Suami yang menjaga
4. Suami yang mengontrol
Untuk nomer 3 dan 4 akan dilanjut pada pertemuan berikutnya.
—
Seorang laki-laki bisa masuk dan “ditarik” ke neraka oleh 4 orang, yakni Ibunya, istrinya, anak perempuannya, saudara perempuannya. Jika ke 4 orang ini melakukan kesalahan ataupun dosa, sedang kita sebagai laki-laki hanya mendiamkannya saja, tanpa pernah mengingatkan. Serem juga yah.
Seorang suami juga harus concern tentang sumber kehalalan rezekinya. Seorang istri bisa mengingatkan kepada istrinya dengan membisikkan kata-kata di telinganya :
“Suamiku, carilah rezeki yang halal. Aku bisa sabar menahan lapar jika tidak makan di dunia, tapi aku tidak bisa sabar jika harus makan api neraka”
Itulah kriteria suami setegar pilar. Pria harus kuat, karena beban yang harus ditanggungnya dalam rumah tangga sangatlah besar.
Kurang lebih itu rangkumannya. Semoga bisa berjumpa di pertemuan berikutnya.
Terima kasih kepada mimfoundation.com karena telah membuat kajian ini.
Doa aja dulu
Seperti hari-hari biasanya, saya ke kampus dengan berjalan kaki atau naik angkutan umum atau nebeng sama teman. 😁 Tapi kemarin kondisinya adalah jika saya jalan kaki maka saya terlambat. Jika saya naik angkutan umum maka saya harus mengeluarkan uang, yang saat itu satu-satunya lembaran uang yang masih tersisa di dompet 2000 rupiah. Lalu jika saya nebeng sama teman saya harus menghubunginya lagi dan belum ada kepastian apakah dia bisa datang dalam waktu singkat. Akhirnya saya memutuskan untuk keluar rumah, berdoa agar saya bisa cepat sampai tujuan tanpa mengeluarkan uang.
Terkabul.
Belum jauh saya berjalan, ada seorang perempuan yang mengendarai motor melintas. Kurang dari 20 meter di depan saya, motor tersebut berhenti dan memutar balik ke arahku. Saya tidak mengenalnya dan dia tidak mengenalku. Tapi dia menawarkan tebengan karena kami searah. 😂😂😂
Siapa coba yang menggerakkan hati perempuan itu kalau bukan Allah?
Allahusshamad. Jangan pernah menyepelekan doa. Perkara kecil - besar bawa ke Allah dan berdoalah.
(via karimahkei)
WANITA YANG KEMATIANNYA DISAMBUT PARA MALAIKAT
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kisah ini mungkin telah sering kita dengar. Namun, sekedar mengingatkan kembali tentang perjuangan wanita mulia ini, semoga dapat mengembalikan ghirah kita untuk juga bisa menteladani beliau, wanita yang ‘berhati baja’.
Nusaibah Binti Ka’ab radhiyallahu anha, namanya tercatat dalam tinta emas penuh kemuliaan.
Bahkan kematiannya mengundang ribuan malaikat untuk menyambutnya.
Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang beristirahat di bilik tempat tidur.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh.
Nusaibah menerka, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud.
Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya.
“Suamiku tersayang”, Nusaibah berkata, “Aku mendengar pekik suara menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”
Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya.
Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.
“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang.”
Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang.
Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.
Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di medan perang. Beliau syahid…”
Nusaibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”
Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan,
“Amar, kaulihat Ibu menangis….?.. Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah Syahid. Aku sedih karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi.
Maukah engkau melihat ibumu bahagia….?”
Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.
“Ambillah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terhapus.”
Mata Amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku ragu, seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”
Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah.
Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri.
“Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”
Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu.
“Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”
Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan di medan tempur, mereka menuju ke rumah Nusaibah.
Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan?..”
serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?..”
Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”
“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis. “Kau berduka, ya Ummu Amar…?..”
Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan?.. Saad masih kanak-kanak.”
Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela,
“Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah yang gagah berani.”
Nusaibah terperanjat. Ia memandang puteranya. “Kau tidak takut, nak?..”
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng, yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan tentara itu.
Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu Akbar!..”
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah.
Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya.
“Hai utusan,” ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diriku yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”
Sang utusan mengerutkan keningnya… “Tapi engkau wanita, ya Ibu….”
Nusaibah tersinggung, ….
“Engkau meremehkan aku karena aku wanita?.. Apakah wanita tidak ingin pula masuk ke Syurga melalui jihad?..”
Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan mengendarai kuda yang ada.
Tiba di sana,..
Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum.
“Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”
Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.
Dirawatnya mereka yang mengalami luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk dan memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba rambutnya terkena percikan darah.
Nusaibah lalu memandang. Ternyata kepala seorang tentara Islam tergolek, tewas terbabat oleh senjata orang kafir.
Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.
Apalagi ketika dilihatnya Rasulullah terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh. Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi, menyaksikan hal itu.
Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang tewas itu.
Dinaiki kudanya. Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk.
Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.
Hingga pada suatu waktu ada seorang kafir yang mengendap dari arah belakang, dan langsung menebas putus lengan kirinya.
Nusaibah pun terjatuh, terinjak-injak oleh kuda. Peperangan terus berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga tubuh Nusaibah teronggok sendirian.
Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada orang yang bisa ditolongnya.
Sahabat itu, begitu melihat ada tubuh yang bergerak-gerak dengan susah payah, dia segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu.
Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau…..?..”
Nusaibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya,
“Bagaimana dengan Rasulullah?.. Selamatkah baginda?..”
“Baginda Rasulullah tidak kurang suatu apapun…”
“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan?.. Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”
“Engkau masih terluka parah, Nusaibah….”
“Engkau mau menghalangi aku untuk membela Rasulullah?..”
Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke medan pertempuran.
Banyak musuh yang dijungkir balikkannya. Namun karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus oleh sabetan pedang musuh.
Gugurlah wanita perkasa itu di atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.
Tiba-tiba langit berubah mendung, hitam kelabu. Padahal tadinya langit tampak cerah dan terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.
Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,
“Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan?.. Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”
MasyaAlloh….. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar..
Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla menempatkan mereka, dan kita semua di Syurga-Nya disamping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aamiin..
⚡Note….
Apa yang telah kita perbuat untuk menegakkan Dienullah Islam…… ?😞
Kisah penuh inspiratif ini seharusnya dapat menggugah jiwa juang kita, agar tidak cengeng melepas anak -anak yang sedang berjuang. Ibu yang kuat melahirkan anak-anak menjadi kuat, akankah kita mampu menjadi Nusaibah Nusaibah masa kini ? 😞
Wallahu'alam…
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
9. memilih yang baik
sejak beberapa bulan yang lalu–sejak mbak yuna lahir tepatnya–saya kepingin ganti hape. alasannya, saya ingin punya kamera yang bagus untuk mengabadikan momen-momen tumbuh kembang mbak yuna (sekaligus ingin kalau fotonya di-share di sosial media tampak lebih mentereng–jujur). setiap bulan, saya pun mencoba untuk sedikit-sedikit nabung.
di tengah perjalanan menabung saya, laptop ibu saya rusak. laptop ibu itu usianya sudah lebih dari 5 tahun, dapat hibah dari sekolah karena sudah tidak dipakai lagi. laptop-laptop yang dibeli bersamaan dengan laptop itu kebanyakan sudah rusak dan mati total. spesifikasi laptopnya hanya bisa dipakai untuk mengetik dan browsing–itu pun dengan kecepatan siput.
akhirnya, saya pun berinisiatif membelikan ibu laptop (pakai anggaran kantor tentu, tidak mengganggu gugat tabungan hape saya). ceritanya laptop ini kejutan, kami hadiahkan tanpa bilang-bilang. saat laptop baru tersedia, laptop lama ibu selesai diperbaiki. ibu yang dihadiahi laptop bilang, “nggak usahlah. dipakai sama yang lain saja. ibu cukup kok pakai yang ini (laptop lama). kan sudah bisa nyala sekarang.”
di situ saya merasa malu.
ibu saya memang juara soal berhemat. tidak hanya laptop, ini berlaku juga untuk benda-benda elektronik lain, listrik dan air, perkakas-perkakas, baju, makanan, bahkan sabun dan teman-temannya. sering saya heran sendiri dengan ibu yang secara natural bisa begitu pas menempatkan segalanya. tidak pernah berlebihan. saya sangat jarang melihat ibu “memanjakan dirinya” dengan kemewahan, bahkan tidak dengan kenyamanan.
waktu saya tanya kenapa ibu bisa begitu, kata ibu, “karena bisa untuk yang lain.” jawaban ibu sangat sederhana tapi sangat telak. karena ibu dan ayah berhemat-lah, ibu dan ayah bisa membangun sekolah dari garasi sampai ada di enam kota. karena ibu dan ayah sangat sederhana-lah, ibu dan ayah bisa membesarkan anak-anaknya dengan cukup. kami bisa sekolah, bisa mengembangkan diri.
saya jika berkaca pada diri sendiri: manusia dengan gaji dan penghasilan pas-pasan, belum punya rumah sendiri, belum punya tabungan untuk anak sekolah, belum punya tabungan kesehatan, dan lain-lain–tapi hobinya jajan, senangnya jalan-jalan, makan-makan. juga, senangnya ingin selalu serba kekinian.
kesimpulannya, saya belum melek dengan “karena bisa untuk yang lain.” pertama, saya merasa berada di zona nyaman. kedua, saya minim sekali pengalaman memberinya. padahal kalau kita konversi, satu ponsel pintar bisa jadi kambing kurban. satu laptop bisa jadi sapi mungkin. jajan sekali makan di resto bisa untuk makan seminggu sekeluarga lain.
salah satu pertanyaan di hari akhir kelak adalah ke mana harta kita pergi, bagaimana harta kita digunakan. idealnya kita memilih yang baik, yang lebih bermanfaat. tentu saja, kita bisa memilih jika kita punya pilihannya, jika kita mengetahui pilihan apa saja yang ada.
kata ibu, cara latihannya mudah. sering-seringlah memikirkan orang lain. sering-seringlah melihat ke bawah. sering-seringlah bersyukur. kalau kita terbiasa memikirkan diri sendiri, rasanya enak menyamankan diri sendiri saja. kalau kita terbiasa memikirkan orang lain, rasanya nggak tega berlebih-lebihan, meskipun kita mampu untuk itu.
rencana beli hape pun bubar jalan. di benak saya bergaung terus-menerus, “yang boros saudaranya setan.”
10. kata-kata yang baik
salah satu biang masalah apapun di dunia ini–baik masalah kecil maupun besar, baik masalah keluarga, pertemanan, bisnis, maupun kebangsaan–adalah kata-kata. jangankan kata-kata yang tidak baik, kata-kata yang baik saja belum tentu dinilai sebagai kata-kata baik oleh yang menerima.
juga obatnya. segala macam masalah di dunia ini, apalagi masalah hati, obatnya adalah kata-kata. tak percaya? Alquran buktinya.
saya teringat waktu saya baru-baru menikah. mas yunus sering minta maaf sama saya karena kami hidup dengan ketidaknyamanan–karena mas yunus masih sekolah dan sibuk luar biasa. mas yunus sering minta maaf untuk keterbatasannya dalam menafkahi saya, termasuk keterbatasan memberi waktu, perhatian, dan sebagainya.
saat itu–dan sampai sekarang–saya sering bilang sama mas yunus bahwa perempuan (dan anak-anak), pada dasarnya membutuhkan segala nafkah tersebut. tapi, yang paling dasar dari itu semua, perempuan (dan anak-anak) butuh dinafkahi kata-kata yang baik, sebab kata-kata yang baik adalah wujud cinta dan kasih sayang. kadang-kadang, saya juga menagih mas yunus dengan jenis nafkah ini. “mas, cerita dong…” atau “mas, kasih nasihat dong…” atau “mas, aku perlu saran…” atau sepucuk surat tentang keresahan yang dibalas mas yunus dengan tulisan yang menenangkan plus nukilan ayat Alquran.
jika kata-kata yang baik adalah obat sakit hati:
kalau lagi sakit hati, yang kita perlukan bukanlah banyak bicara, sebab hati yang luka lebih cenderung mengeluarkan kata-kata yang juga penuh luka. kalau lagi sakit hati, yang kita perlukan adalah banyak mendengarkan. mendengarkan (membaca) Alquran, mendengarkan nasihat-nasihat baik dari orangtua, keluarga.
kalau lagi sedih, marah, atau kecewa, sebaiknya sebisa mungkin kita diam dari bicara. sebaiknya kita jauh-jauh dari sosial media. seringkali kita menyesal karena mengatakan sesuatu daripada tidak mengatakannya.
kalau minim pengetahuan kita akan suatu perkara, sebaiknya kita menahan untuk bicara, terbawa “berita”, apalagi ikut membagikannya. meskipun kata-kata itu baik, belum tentu kata-kata itu dianggap baik oleh yang menerima.
tentang kata-kata yang baik ini, Nabi pun mengajarkan kita untuk saling memanggil dengan sebutan yang baik, memberi anak dengan nama yang baik.
kata-kata yang baik adalah doa. pernahkah kamu merasa beruntung, merasa bangga, merasa bersyukur, merasa bahagia atas kebaikan-kebaikan yang datang kepadamu–yang kamu pikir adalah hasil upaya dan jerih payahmu? sesungguhnya di antaranya, ada yang datangnya karena kata-kata yang baik, dari orang tuamu.
jangan lupa untuk menahan diri saat merasa kurang baik. jangan lupa untuk saling menafkahi dengan kata-kata yang baik. jangan lupa, bahwa yang paling berhak atas kata-kata baik kita adalah orang tua kita, yang karena kata-katanya, kita menjadi kita yang sekarang.