Sudah
Sudah, sudahi saja Memang sudah lama disudahi Hanya perasaanku saja yang belum menerima Terima kasih dan selamat berbahagia

if i look back, i am lost

Kiana Khansmith
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

⁂
Keni
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

izzy's playlists!

#extradirty
styofa doing anything
NASA
RMH
Claire Keane
Sade Olutola

Kaledo Art
No title available
Xuebing Du

ellievsbear
we're not kids anymore.
i don't do bad sauce passes

Origami Around

seen from United States

seen from Australia

seen from Germany
seen from Chile

seen from Malaysia

seen from India

seen from United Kingdom
seen from Australia
seen from Malaysia

seen from India

seen from Germany
seen from United States
seen from Türkiye

seen from India

seen from Germany
seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from Australia

seen from Türkiye
@ristoarso
Sudah
Sudah, sudahi saja Memang sudah lama disudahi Hanya perasaanku saja yang belum menerima Terima kasih dan selamat berbahagia
Terkadang lucu?
Ya namanya juga hidup. Banyak fase yang akan dilalui kemudian dilewatkan hingga akhirnya berusaha dilupakan. Kesiapan manusia berbeda-beda dalam segala situasi. Dan aku, tidak pernah siap untuk mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah aku tanyakan. Ya karena aku tidak tanyakan. Selucu itu memang diriku. Ingin banyak tahu untuk memastikan, tapi tak pernah siap untuk mendapat jawaban. Tak baik memendam suatu hal, karena itu akan selalu gentayangan sampai kapanpun walau dengan orang yang berbeda. Rasanya ingin seperti pemain Benteng Takeshi yang selalu menjawab ‘Siap’ ketika tantangan dimulai. Dan aku? Terkadang lucu dalam mengarungi samudra yang entah akan berlabuh kapan dan dimana
Peralihan?
Benar memang, Untuk melupakan seseorang, butuh pengalihan khusus. Ah, dasar, aku-nya saja yang memang butuh mengalihkan. Lelah? Iya, jelas! Ya, aku-nya lagi dan lagi yang memang belum siap bahwa semua akan terikat pada waktu-Nya. Buka hati? Malas. Kan tadi sudah bilang, lelah. Mengulang kembali berkenalan satu sama lain. Membiasakan diri dengan segala keadaan yang terjadi. Sudahlah, aku ingin semua mengalir. Tapi ingat, aku harus berjuang juga untuk menjemput kebahagiaan. Ya karena bahagia itu, aku yang ciptakan.
Hadir Tanpa Diminta
Kita banyak protes perihal doa-doa yang belum juga terkabul, sambil sering lupa bersyukur atas kebaikan-kebaikan yang hadir tanpa diminta. Padahal, boleh jadi kebaikan yang hadir tanpa diminta itulah yang benar-benar kita butuhkan, sementara yang sering kita ucap dalam doa hanyalah keinginan berlandaskan nafsu.
30 Januari 2020
Bismillah... Mulai detik ini aku ikhlas melepasmu Bukan berarti aku tak cinta Bukan berarti aku tak peduli Hanya saja cinta ini belum saatnya menguasai hatiku . Aku takut rasa ini akan terus menerobos jika aku tak coba untuk membentenginya Aku takut rasa ini akan mengurangi rasa cintaku pada-Nya Aku takut Dia cemburu Aku takut kekecewaan yang pernah kudapat dari manusia kan terulang lagi Oleh karena itu, aku akan belajar mengikhlaskanmu . Aku tau ini takkan mudah untuk kujalani Tapi hanya dengan cara inilah aku akan membuktikan pada Rabb-ku bahwa aku benar-benar mencintai-Nya lebih dari apapun . Biarlah senyum dan tatap mata ini tertunda dulu Aku takkan rela jika keimananmu terganggu hanya karena lengkung senyum dibibirku Takkan ku biarkan pandangan mataku ini menjadi penyebab lunturnya cintamu pada-Nya . Tadinya aku mengira apakah kisah cinta kita akan berakhir seperti kisah Ali dan Fatimah Yang saling diam padahal menyimpan rasa Yang saling memendam tapi pada akhirnya disatukan karena ridha-Nya Namun kemudian aku berpikir Jika kita saling memendam rasa selama mungkin, namun pada akhirnya tidak disatukan Apakah aku masih bisa terima? Apakah aku masih bisa ikhlas? Oleh karena itu, mulai saat ini aku belajar mengikhlaskanmu . Biarlah saat ini kita saling sibuk Aku sibuk menshalehahkan diriku Dan kau sibuk menshalehkan dirimu Agar jika suatu saat kita bertemu kita sudah siap untuk membangun mahligai cinta yang sesungguhnya Namun jikalau kita tidak ditakdirkan bersatu Mungkin itu adalah takdir terbaik dari Sang Ilahi Intinya, aku sudah ikhlas melepasmu..
Nanti kita cerita tentang hari ini?
Kayaknya bakal memupuk cerita kembali hingga pada waktunya kita berada di zona yang sama. Zona waktu dan tempat. Dan kuharap ketika itu terjadi, salah satu dari kita sebagai pendengar, bukan pencerita dikeduanya. Mungkin aku yang akan jadi pendengarmu. Sebab aku tak ingin terlalu dominan pada egoku sendiri.
Kalut (?)
Lucu ya, ya begitulah kehidupan. Bahagia kita yang rasakan, sedihpun kita yang ciptakan. Sebentar, kenapa sedih? ya wajarlah banyak harapan yang sudah disematkan, namun hilang begitu saja. Eh, hilang (?)
Jangan mudah menaruh rasa dengan yang hilang, lalu kembali, hilang lagi, dan entah apa lagi yang sedang direncanakan. Abu-abu. Kalau tau sejak awal begitu, kenapa masih?
Ingat, ikhtiarkan pasrahkan semua pada Allah atas segala yang terjadi. Semua orang berhak merencanakan dan memilih yang terbaik. Mungkin, Allah sedang menguji ikhtiarmu sampai mana. Ikhlas dan sabar adalah ilmu tertinggi yang tidak hanya sebagai kata yang mudah terucap.
Repost-an gambar ini sudah lama bertengger di dalam draft tumblr ku, sejak 2016/2017 kali ya.
yea. i can’t agree more.
kalau ditanya, apakah aku pernah memikirkan hal hal seperti diatas, “kerja capek mau nikah aja!”, tentu saja aku pernah. bukan cuma sekali dua kali, tetapi berkali-kali.
Aku pernah menjalani masa-masa sulit setelah lulus kuliah, mencari pekerjaan yang luar biasa menguras tenaga, menguras pikiran, dan tidak kunjung mendapatkannya, ketika itulah pernyataan-pernyataan itu berlarian mengelilingi pikiran. Ketika sudah mendapatkan pekerjaan kemudian menjalaninya dengan susah payah, air mata, emosi yang naik turun, niat yang timbul tenggelam, disaat itu juga pernyataan “kerja capek mau nikah aja!” muncul dan seakan membanjiri pikiran.
Sampai aku menyadari satu hal, bahwa menikah itu bukanlah jalan pintas untuk keluar dari jenuhnya kehidupan. Saat itu aku mendengar kabar temanku yang baru beberapa bulan menikah, ia gusar dengan pikirannya sendiri yang ingin cepat-cepat mengakhiri janjinya saat akad. Ia sudah bertahun-tahun pacaran dan akhirnya memutuskan untuk mengikat hanya karena umur dan ‘ingin hidup lebih bahagia’. Namun pada kenyataannya, menikah bukanlah akhir dari tujuan hidup manusia yang bercita-cita ingin menjadi lebih bahagia. Justru setelahnya ada perjalanan yang panjaaaaaaaang sekali, bebatuan, hujan, panas terik yang menemani perjalanan itu.
Aku termasuk orang yang mempercayai, ‘selesaikanlah urusanmu, sebelum kamu memutuskan untuk menikah’, karena akan ada banyak sekali urusan setelah menikah. It means, bukannya aku takut menikah, tapi tentang persiapan bagaimana aku dapat deal dengan sesuatu yang menghampiri kehidupanku, dan bagaimana aku bisa menyelesaikannya satu persatu agar siap menghadapi ujian didepan tanpa terbebani masa lalu yang menumpuk karena belum selesai,
se-sederhana itu pemikirannya, tapi langkah yang diambil sangat besar.
Ini sejatinya tentang bagaimana aku aware terhadap diriku sendiri. Tentang bagaimana aku mengenali diriku sendiri untuk kemudian aku perkenalkan diriku ini dengan orang lain, dan dari situlah lingkungan kita sendiri yang akan menseleksi inner circle yang dimiliki.
persiapan itu bukan hanya persiapan dengan orang lain, lebih dalam lagi bersiap dengan diriku sendiri, karena pada akhirnya aku yang akan menghadapi dan menjalani bukan orang lain. Getting married need much preparation :)
Kadang kita mesti menampakkan keunikan diri kita untuk menjadi outstanding di berbagai peran. Mencari pembeda antara diri kita dengan orang-orang pada umumnya agar tumbuh rasa cinta pada diri sendiri (self-compassion), yang bisa membuat kita lebih dekat pada tujuan penciptaan kita.
Tetapi, merasa diri kita terlalu unik juga enggak baik karena bisa bikin kita memisahkan diri dari kerumunan. Dampaknya bikin kita jadi narsistik atau jumawa. Bukan hanya itu, ketika kita merasa diri kita "eksklusif", kita jadi lebih sulit untuk menerima hal buruk yang menimpa kita. Kita jadi cenderung merasa, "Hanya aku yang hidupnya menderita." Karena kita terlampau menganggap yang kita alami sebagai sesuatu yg unik. Padahal, mungkin enggak begitu.
Jika itu terjadi, mungkin itu pertanda bahwa kita perlu sering-sering terhubung satu sama lain sebagai manusia biasa. Berbincang sambil melepas segala kosmetik dan atribut hingga menyisakan kelemahan dan keterbatasan saja. Lalu, pelan-pelan kita akan menerima bahwa semua manusia pada hakikatnya sama dalam banyak hal.
Sama-sama pernah merasa menderita sama-sama, pernah merasa insecure, sama-sama bertarung dengan dirinya, sama-sama merasakan berbagai luapan emosi yang sulit digambarkan, sama-sama pernah merasa gagal, sama-sama sedang berjuang mencapai tujuan, sama-sama bergulat dengan tanggung jawab, sama-sama pernah membandingkan dirinya dengan orang lain, dan sama-sama diuji dengan berbagai persoalan.
Ya, pada hakikatnya semua manusia cuma manusia biasa, ngga ada yg flawless. Hanya saja itu semua tidak selalu terlihat dan diperlihatkan. Ada banyak topeng untuk menyembunyikannya, media sosial salah satunya.
Mungkin sulit bagi kita untuk lebih terhubung sebagai manusia biasa, karena kita takut dinilai dan takut kecewa. Tetapi, mungkin hanya itu cara agar kita berhenti menjadi penyebab ketidakbahagiaan satu sama lain.
Barangkali harus ada keseimbangan antara 'merasa unik' dan 'merasa sama' agar kita tetap mencintai diri kita dan bergairah menjalani peran kita yang berbeda-beda (demi mencapai tujuan penciptaan), namun di sisi lain tetap luwes dan tabah ketika menghadapi krisis atau persoalan tak terduga. Karena kita tahu, itu terjadi pada semua orang. Ya, semua orang.
Kembali(?)
Hai, kamu. Terima kasih sudah memulai mengajakku untuk bertemu. Menghabiskan waktu untuk nonton, makan, window shopping, dan bercerita dibawah lampu parkir motor sebuah mall yang dulunya adalah tempat pertama kali kita ketemu. Sesederhana itu bahagiaku, saat ini.
1 tahun 2 bulan kita ga ketemu dan tiba-tiba kamu ngajak itu hal yang, aneh. Lebih ke takut sih. Takut kalau aku kalut lagi dengan perasaanku. Ah ya over thinking saja, mungkin. Tapi, terima kasih. Terima kasih untuk sikapmu yang kembali hangat sebelum (mungkin) dulu aku punya salah padamu?
Aku berharap? Mungkin. Tapi yang jelas, aku bahagia kita bisa kembali berkomunikasi. Karena rasanya ga enak lost begitu aja. Setidaknya kita dalam keadaan baik-baik saja :))
Aku dan Anggar. Lama tak berjumpa di medan laga. Walau sulit untukku melanjutkannya, tapi aku tetap jadi bagian dari mereka. Lihat, banyak harapan dari wajah-wajah generasi baru. Ada rindu dari Aku, yang meratapi kakiku.
Liburan (lagi)
Berlibur adalah suatu hal yang menyenangkan. Walau setelah itu menyakitkan bila melihat saldo tabungan :)
Rejeki bisa dicari lagi, tapi waktu tak dapat terulang. Ya, waktu. Waktu tak dapat terulang. Apalagi waktu berlibur bersama orang-orang yang disayang. Kali ini bukan cerita tentang libur rutinan, tapi liburan dadakan. Sepupu dari Palembang datang ke Tangerang. Ini kali kedua dia kesini. Anak tunggal dari Alm Om yang paling bungsu di keluarga Bapak.
Kami begitu dekat, sebab Alm Om Wawan sendiri sejak dulu tinggal bersama Bapak. Dan aku tau sejak kecil. Jadi, melihat Ilman, seperti melihat Om Wawan :) Anak yang soleh. Ga pernah ribet kalo minta jalan-jalan. Cuma bilang, ‘Mba, Ilman mau kesini-kesana-kemari tapi kalo gabisa, gapapa ntar cari alternatif’. Dan aku ga pernah nolak mau-nya dia. Karena dia, juga adikku.
Udah ah, mau nulis banyak tapi pasti mewek. Hehe
Pejuang skripsi?
Sedikit bercerita, katanya dulu itu aku pejuang skripsi.
Aku masih mengingat saat dimana aku berjuang atas nama skripsi. Kalau mereka bilang drama karena dosen, ku bilang tidak juga. Semua drama yang ada hanya sebatas waktu. Aku tak ingin waktu yang ku punya menghalangi target yang akan ku raih.
Visioner, ya itu aku. Bahkan terlalu. Sejak lanjut kuliah S1 tahun 2014 sudah ku targetnya 3 semester atau tidak lanjut kuliah. Maka dari itu, mata kuliah yang ku ambil sudah ku rancang agar bisa memenuhi target. Dan tak disangka, 2015 ada mata kuliah tambahan dan itu wajib, KKN.
Juli 2015, aku sudah menentukan akan mengambil skripsi tentang apa. Melihat waktu hanya tersisa 9 bulan, ku putuskan untuk mengambil skripsi tentang tugas akhir saat D3. Kenapa? Agar aku melanjutkan saran yang ku buat saat tugas akhir ku selesaikan.
Mudah dong skrispsi nya? TIDAK! Sebenarnya mengambil tema rekayasa pengolahan pangan awalnya ku ambil tentang hasil bumi yang ada di Maitara, tempat ku KKN. Tapi, aku rasa aku tau akan banyak tantangannya. Sebab, untuk mendapatkan bahan, harus dari sana. Ongkos yang berat tepatnya. Sebelum mengambil skripsi, Dosen sudah ku tembung duluan. Beliau dosen pembimbing saat tugas akhir D3, jadi ku pikir beliau juga akan mengerti skripsi yang akan ku mabil.
Lalu, drama nya dimana? Awal mula adalah drama tentang Dosen yang ku pilih, ternyata beliau sudah full anak didik yang beliau bimbing skripsinya. Dan beliau pun meminta maaf tidak bisa menjadi pembimbing utama, disaat seminggu lagi seminar proposal dan penelitian sudah kujalani 30%.
Sedih? Jelas, karena aku harus mencari pembimbing utama untuk menggantikan beliau. Bagaimana cara ku adaptasi konsul, apa yang beliau targetkan untukku juga. Cerita singkat, akhirnya ku pilih dosen yang dulu menjadi pembimbing akademik saat D3 untuk menjadi dosen pembimbing utama skripsi.
Beruntung Ya itu yang ku rasakan atas nikmat Allah. Ibu dosen yang baik dan mengerti maksudku. Ku berikan timeline yang sudah ku buat untuk menyelesaikan skripsiku. Beliau kaget, karena tidak hanya punya 1 atau 2 timeline, tapi aku punya 4 untuk timeline jikalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akan targetku. Ku ceritakan keadaan ekonomi dsb. Beliau pun memberikanku tantangan untuk bisa mengetahui, seberapa berhasilnya aku melampaui targetku dengan tantangan yang diberikan beliau. Seminggu setelah beliau setuju dengan segala mau ku, beliau pun memberikan persetujuannya untuk aku melaksanakan seminar proposal. Tapi sayang, saat semprop tiba, di H-2 jam, beliau tidak bisa datang. Kau tau bagaimana sakitnya perasaanku? apa harus di undur? Alhamdulillah, untungnya saja tidak. Semprop tetap berjalan walau tanpa beliau.
Penelitian pun berlangsung, karena laboratorium kampus tidak memadai untuk proses penelitian, maka sebagian penelitian pun ku lakukan di UGM. Tidak usah bayangkan, rasakan saja sebulan PP Solo-Jogja setiap pagi hihi nikmat :)) Ditambah dengan 3 kali gagal dalam proses uji TPC, hasilnya melewati standar. Artinya, tidak layak. Dan harus kulakukan berulang. Huft sejak itu aku benci dengan uji mikrobiologi.
Tiba saatnya Januari 2016 akan berakhir, puncak dari semua drama. Kenapa ku sebut begitu? Waktu pemberkasan terakhir tanggal 29 Januari, sedangkan Januari itu problematika percintaan yang kurasa menyebalkan datang. Bisa-bisanya dilibatkan dalam hubungan seseorang. Cih! Persetan dengan itu. Jangan karena percintaan skripsi terbengkalai! Ditambah keluarga udah nanya kapan lulus dan olahan data skripsi banyak yang ga sesuai, semua karena kepanikan. Ya lord, huft. Bahkan sempat ku berlari meninggal skripsi, tapi hanya 3 hari. 2 hari camping dan 1 hari one day trip. Selama liburan pun, tak tenang rasanya. Bahkan ku tinggalkan untuk bekerja paruh waktu pun tak tenang. Saat itu ku berpikir, sudahlah, kau tak bisa menyelesaikan pendidikanmu!
Tapi, semua berlalu karena dukungan dari banyak orang yang masih sayang padaku, uwwuuh :)) Aku melihat semangat Iim dan Dila yang memang sejak awal kita ingin skirpsi bareng dan akhirnya aku gajadi karena aku punya target sendiri hehe maafin ya Dan kita berjuang bersama, walau gabisa wisuda bersama :((
Sampai sebelum pemberkasan skripsi terakhir ditutup, kulakukan konsul ke dosen, dan beliau memberikan ijin untuk melakukan seminar hasil 21 Januari 2016. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. No drama. Setelah semhas selesai, ku lakukan konsul untuk Ujian Skripsi ke bagian sekretariat jurusan, dan dosen pengujinya adalah dosen pembimbing yang awal sebelum diganti. Alhamdulillah, dipermudah :))
Ujian dilaksanakan 27 Januari, yang artinya H-2 pemberkasan wisuda ditutup. Ujian yang berat, laptop lemot, surat ada yang ketinggalan dikostan, pokoknya drama ujian disebabkan oleh kepanikan pribadi. Beruntung, ada Amita yang sigap anter berkas yang ketinggalan, ada Nastha yang standby beli ini itu, ada banyak supporter saat itu :’) mereka orang-orang baik yang selalu siap sedia. (auto mewek lagi). Pas ujian, ya banyak PR nya. Ditambah mati lampu dan hujaaaan deres, mewek lah aku saat keluar dari ruangan sidang itu. Lulus bersyarat, untuk memperbaiki revisi skripsi.
Ku kebut lah esok hari untuk revisi dosen pembimbing utama dan kedua lalu di acc. Esok harinya beruntungnya lagi lah aku, dikasih fast track sama dosen penguji tanpa antri sama mahasiswa lain untuk konsul revisi skripsi. Sehari ku kebut 5x bolak-balik abang rental print sampe kasbon dulu. Dan tibalah, Jumat berkah tanggal 29 Januari 2016 ku selesaikan pemberkasan skripsi. Ditutup dengan perbincangan dosen penguji hingga menuju malam hari. Beliau berpesan, untuk tetap ingat kampus dan perjuangan saat menyelesaikannya. Mengingat kebaikan-kebaikan orang-orang sekitar dan selalu berbuat baik dan jangan berharap kita baik untuk dibalas baik juga. Mendoakaku agar bisa lanjut jadi Dosen bereng beliau, dan ku amini semua doa beliau, Dear Bu Dwi, terima kasih atas segalaya :’) Drama belum selesai, saat meminta tanda tangan Pak Dekan Fakultas, beliau pergi ke Jepang! Tapi, sebelum beliau pergi, beliau sempat ke ruangannya dan menandatangani skripsiku :)) Ku kebutlah semua, termasuk surat bebas laboratorium, perpustakaan dsb
Alhamdulillah semua sesuai target :) Lulus di Januari dan wisuda dibulan Maret. Sampai saat ini, aku selalu senang dengan cerita yang aku lewati untuk menyelesaikan skripsi. Kenapa? Aku ingin ceritaku ini menjadi pelajaran. Untuk siapa? Untuk orang-orang yang mulai merasa lelah dengan tugas akhirnya dalam dunia pendidikan. Ceritaku memang tidak semenderita cerita-cerita para pejuang tugas akhir atau skripsi lainnya. Tapi, aku ingin beritahu kamu, menjadi seorang yang visioner itu menyenangkan! Target, usaha, dan doa. Waktu takkan bisa terulang. Usaha tak akan mengkhianati hasil. Dan doa, tak akan pernah terputus.
Dear Qulbi, jika kau membaca ini, teteh harap kamu masih semangat menyelesaikan tugas akhirmu. Coba bayangkan, senyum ibu, bapak, adik-adik serta bude dan pakde yang membesarkanmu foto bersama dengan mu yang menggunakan toga :) Aku memang tidak tahu seberapa sulitnya anak teknik informatika membuat games untuk tugas akhirnya. Maka dari itu, aku hanya memberimu doa yang takkan terputus buat adek kost sekonyol kamu!
Aku bahagia melihat orang-orang yang dulunya pergi, sekarang ia kembali. Entah kembali dengan cerita bersama orang yang dulu, atau kembali dengan cerita bersama orang yang baru. Entah hanya sekadar ingat bahwa dulu pernah berbagi cerita bersama atau memang rindu untuk berbagi cerita bersama.
Sebuah pelukan hangat yang dinantikan dapat meredam nikmatnya kerinduan terpendam. Aku rasa semua orang akan begitu. Bertemu dengan cerita lama, kemudian diingatkan lembali itu hanya untuk mengingat bahwa dulu kita pernah pada fase seperti itu. Bukan ingin mengulangi, tapi memang tidak dapat diulangi.
Tapi, bolehkah kita merindu dengan cerita dulu? Boleh, tapi hanya untuk mengingatnya sebagai pembelajaran. Kita harus berpikir lebih baik. Hal yang dulu pernah menyakiti, tidak perlu terulangi bukan?
Bersiaplah dengan skenario Allah, semua akan baik-baik saja. Walaupun tidak baik, ingatlah, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya dalam hal apapun itu.
BAPAK
Bapak adalah laki-laki paling khawatir saat anak perempuannya jatuh cinta. Ketika usia anaknya bertambah menjadi kepala dua. Bukan kepalang beliau siang malam memikirkan segala kemungkinan. Laki-laki seperti apa yang akan anak perempuannya nanti ceritakan. Cerita yang mau tidak mau seperti petir di lautan siang-siang.
Kekhawatiran itu tidak berlebihan. Sebab sepanjang pengetahuannya, tidak ada laki-laki yang baik di dunia ini kecuali dirinya sendiri. Untuk kali ini, Bapak boleh menyombongkan diri. Karena kenyataannya memang begitu. Tidak ada laki-laki yang cintanya paling aman selain bapak. Ibu sendiri mengakui.
Bapak adalah laki-laki yang paling takut anak perempuannya jatuh cinta. Laki-laki mau sebaik apapun tetaplah brengsek baginya, berani-beraninya membuat anaknya jatuh, cinta pula. Sudah dibuat jatuh, dibuat cinta pula. Benar-benar tidak masuk akal.
Malam itu, ketika dikira anak perempuannya terlelap. Bapak berbicara kepada ibu di ruang tamu. Tentang segala kemungkinan yang terjadi bila anak perempuan satu-satunya diambil orang. Tentang sepinya rumah ini. Tentang masa tua. Tentang hidup berumah tangga. Kukira bapak berlebihan. Tapi warna suaranya menunjukkan kepedulian.
Aku yang sedari tadi pura pura tidur, mendengarkan. Semoga aku bertemu dengan laki-laki yang lebih bijaksana dari bapak. Karena aku membutuhkan kebijaksanaannya untuk memintanya tidak meninggalkan bapak dan ibu sendirian.
Ku harap ada yang menga-aamiin-kan. ©kurniawangunadi
Tulisan ini termuat di buku saya, Hujan Matahari (2014) hlm. 91-92
Pelajaran dalam perjalanan
Libur akhir tahun udah kaya rutinitas tagihan mereka. Ya mereka, adik dan sepupu. 5 tahun kebelakang selalu rutin liburan di Solo dan sekitarnya. Jadi kebiasaan sampai sekarang.
Awalnya mau berangkat tanggal 21-23 Desember 2018, tapi karena ada undangan dari temen, jadi tertunda. Diputuskan untuk berangkat tanggal 28 siang, tapi Qadarullohnya Allah kasih kesempatan buat ikut test cpns sampai tahap skb. Alhamdulillah. Akhirnya tetep berangkat tanggal 28 Desember 2018 sore harinya. Padahal, sampai tanggal 25 belum ada kejelasan jadwal kebagian sesi berapa. Akhirnya diputuskan untuk beli tiket dadakan.
Pelajaran yang pertama kuberikan pada mereka adalah meminta bantuan teman yang ahli dalam per-bis-an. Ku hubungi Dimas yang ahli dalam per-bis-an itu untuk minta nomor agen-agen yang ada di terminal Pulogebang. Karena perjalanan dari tempat test ke terminal pulogebang cukup dekat. Mereka belajar untuk memilah mana bis yang nyaman untuk dijadikan armada menuju tujuan. Kalo bis ga nyaman, yang ada capek dijalan dan gabisa nikmatin liburan.
Kuajak mereka berkenalan dengan lingkup pertemananku. Agar mereka tau, bagaimana menjalin pertemanan dengan rasa keluarga. Memang sejak dulu mereka sudah ku kenalkan dengan teman-temanku sewaktu merantau di Solo. Agar mereka tau, bahwa kebaikan seorang teman akan selalu tetap terjaga karena silaturahmi. Kuajak mereka untuk bersilaturahmi ke rumah Mas Basith, guru dalam perjalanan hidup merantau di Solo. Melalui beliau, ku tau cara mendapat uang saku tambahan untuk bertahan hidup. Membangun koneksi dan memupuk kepercayaan terhadap tim. Bahkan aku tidak memesan hotel untuk menginap. Ku ajak mereka untuk menginap ke rumah Nastha. Dia adik tingkatku sewaktu kuliah. Dan ternyata kita masih saudara jauh. Dan ku ajarkan ke mereka, walau jarak memisah, tapi silaturahmi tetap terasah.
Ku ajarkan mereka untuk mengatur waktu sebaik mungkin. Waktu sedikit apapun harus tetap bermanfaat ketika suasana liburan. Mengatur keuangan transportasi yang digunakan selama berlibur. Ku ajarkan mereka untuk meminimalisir keuangan tetapi mendapatkan kenyamanan. Aplikasi pembelian tiket memudahkan kami walau harus pulang lewat Semarang untuk melipir sekalian. Namun, tidak ku ajarkan mereka untuk mengatur keuangan konsumnsi selama liburan, karena kalau kelaparan, tak nikmat merasakan liburan.
Dear kalian wahai adik-adik pengeret tapi selalu mbanium sayang, Ku harap perjalanan kali ini kalian mendapat banyak perlajaran untuk kalian terapkan nantinya. Semoga akhir tahun 2019 kalian bisa liburan berdua dan mbanium juga berdua dengan jodoh mbak ya :))) Aamiin Ya Rabb
Pertemuan dalam ruang bahagia
Random, ya begitulah yang dilakukan setiap pertemuan. Kali ini nikmat yang dirasa adalah waktu yang ditunggu untuk memberikan kabar bahagia. Berawal dari rencana libur akhir tahun, yang sempat gagal saat minggu lalu. Dan terealisasikan setelah mundur satu minggu kemudian.
Partner mencari uang saku tambahan. Beda kampus, beda fakultas, beda angkatan, tapi satu tujuan. Untuk membuat diri bahagia dan saling membahagiakan. Menikmati waktu yang sama, waktu merantau.
Tiga tahun sejak awal perkenalan, mereka orang yang masih sama dengan ke random an yang diperbuat. Menikmati perjalanan. Mengukir kenangan. Biar suatu saat nanti, akan ku kenalkan pada masa depan, mereka adalah orang yang teramat berarti.
Waktu itu mahal. Butuh tenaga dan materi. Perjalanan menuju satu titik dalam ruang bahagia.Mendapat berita bahagia bahwa salah satu dari mereka akan menyempurnakan agama. Setelah melewati drama cinta banyak episode. Aku tau, bahagia itu diciptakan oleh orang-orang yang ingin bahagia dengan doa, usaha dan campur tangan semesta alam-Nya. Akan ada pelangi setelah hujan.
Dear kalian, terima kasih sudah membuat cerita akhir tahun 2018 menjadi sebuah kenangan. Akan selalu ku nikmati setiap episode kehidupan. Akan ku nanti kapan waktu itu datang. Karena aku ingin memberikan kabar, dalam ruang bahagia bersama kalian.
Solo-Bandungan-Boyolali-Klaten
29 Desember 2018