Menjadi Muslim yang Sempurna
Akhir-akhir ini, kembali merenungkan bahwa ternyata berislam dan menjadi muslim yang sempurna tuh ngga sesederhana kalimatnya.
Dulu, aku sempat berada dalam kesadaran bahwa berislam itu ya artinya mengerjakan sholat lima waktu, puasa ramadhan, dan ibadah-ibadah ritual lainnya.
Tapi, ternyata akan lebih baik kalo ngga sampai di situ aja. Memaksimalkan diri sebagai seorang muslim artinya :
1. Beribadah sebagaimana yang Rasulullah ajarkan. Ya sholatnya, lancar ngajinya, tajwidnya beres. Kalo bisa, punya hafalan juga.
2. Berusaha merawat tubuh dengan sebaik-baiknya, ya olahraga, merawat diri, wangi, rajin sikat gigi, makan makanan yang halal dan thoyyib. Karena mukmin yang kuat lebih Allah sukai daripada mukmin yang lemah.
3. Kalo nongkrong bareng temen nggak nggosip.
5. Murah senyum sama orang lain (dengan tetap memperhatikan batasan lawan jenis).
6. Beres dalam urusan keuangan. Kalo punya hutang dilunasi sesegera mungkin, dan bersedekah apapun yang kita bisa jika memungkinkan, sesederhana nyiramin tanaman di depan rumah. Itu juga sedekah. Bisa nabung, setidaknya buat naik haji diri sendiri.
7. Belajar yang sungguh-sungguh sebagaimana para generasi Muslim sebelum kita yang nggak pernah males-malesan kalo belajar. Bahkan bisa punya banyak keahlian di berbagai bidang. Ini maksudnya bener bener ahli ya. Bukan yang cuma tau tau aja.
8. Memaksimalkan ikhtiar kita dalam segala urusan, yang artinya kalo belum maksimal ya akan tetep ikhtiaaaar terusssss sambil berserah sama Allah. Sebagaimana dicontohkan oleh Ibunda Hajar yang ketika mencari sumber mata air sampai semaksimal itu, sampai 7 kali muterin Bukit Shofa dan Marwah. Sampai pada titik maksimalnya.
dan lain sebagainya, yang mungkin terlewat untuk aku tuliskan atau aku belum tau.
Kalo dipikir-pikir, masya Allah banget ya. Banyak hal yang perlu kita lakukan sebagai seorang muslim. Memang sih, itu bukan kewajiban. Tapi, memaksimalkan diri sebagai seorang muslim tentunya adalah hal yang sangat baikk.
Meskipun ya pasti tetep ada capeknya, nangis-nangisnya, ya Allah ya Allah nya, bingungnya. Tapi, semoga itu bisa menjadi timbangan amal kebaikan kita, yang juga menjadi saksi bahwa kita pernah seserius itu dalam berislam.