Barangkali, Sampai Jumpa.
Mungkin, yang paling menyedihkan dari sebuah perjalanan bukanlah ketika ia berakhir.
Melainkan ketika kita baru menyadari bahwa beberapa momen ternyata sudah terjadi untuk terakhir kalinya.
Aku sering memikirkan satu pagi yang mungkin tidak akan pernah kuingat tanggalnya.
Kami berjalan menuju Crawford atau CBE seperti biasa.
Aku sedikit lebih cepat karena kelas hampir dimulai.
Suamiku mendorong kereta bayi ke arah parenting room. Mungkin salah satu anak tertidur. Mungkin yang satu lagi sedang menunjuk bebek-bebek yang berkeliaran di rerumputan. Kami mengucapkan, “Nanti ketemu lagi,” seperti yang sudah berkali-kali kami lakukan.
Tidak ada yang istimewa.
Tidak ada yang terasa seperti perpisahan.
Hari itu hanyalah satu dari sekian banyak hari yang kami jalani.
Baru sekarang aku berpikir, mungkin itulah terakhir kalinya kami melakukan semuanya.
Terakhir kalinya aku berjalan menuju kelas dengan mengetahui bahwa, tak jauh dari sana, keluargaku sedang menunggu.
Terakhir kalinya parenting room menjadi bagian dari rutinitas kami.
Terakhir kalinya perjalanan menuju kampus terasa begitu biasa hingga kami tidak merasa perlu mengabadikannya.
Barangkali memang begitulah cara Allah mengajarkan kita tentang waktu.
Ia tidak memberi tahu bahwa sesuatu sedang terjadi untuk terakhir kalinya.
Sebab jika Ia memberi tahu, mungkin kita tidak akan sanggup menjalaninya seperti hari-hari sebelumnya.
Kita akan terlalu sibuk menggenggam, alih-alih menikmati.
Lalu waktu terus berjalan.
Musim dingin berganti.
Tugas demi tugas selesai.
Anak-anak bertambah besar.
Dan tanpa benar-benar kami sadari, perjalanan yang dulu terasa begitu panjang kini tinggal menghitung hari.
Lucu ya.
Dulu kami sering menghitung kapan semuanya selesai.
Satu semester lagi.
Satu presentasi lagi.
Kami begitu ingin sampai di ujung perjalanan.
Sekarang, ketika ujung itu benar-benar terlihat, rasanya justru ingin meminta waktu berjalan sedikit lebih lambat.
Bukan karena masih ada yang belum selesai.
Melainkan karena kami belum siap mengucapkan terima kasih kepada semua hal yang selama ini kami anggap biasa.
Pada jalan menuju kampus yang kami lewati hampir tanpa berpikir.
Pada udara dingin yang dulu mungkin sering kami keluhkan.
Pada bebek-bebek yang selalu terlihat seolah mereka tidak pernah memiliki tujuan selain menikmati hari.
Pada parenting room yang diam-diam menjadi saksi begitu banyak pengorbanan yang tidak pernah masuk ke dalam transkrip nilai.
Dan pada kota ini.
Yang menerima kami ketika kami datang membawa begitu banyak ketidakpastian.
Lalu melepas kami ketika kami pulang dengan kehidupan yang tidak lagi sama.
Kelak, mungkin kami akan kembali.
Mungkin anak-anak sudah tidak lagi mengingat jalan-jalan yang dulu mereka lewati setiap minggu.
Mungkin mereka bahkan tidak ingat bahwa pernah ada sebuah ruangan kecil tempat mereka bermain sementara ibunya sedang kuliah.
Tidak apa-apa.
Memang bukan mereka yang diminta mengingat.
Biarlah kami yang mengingat.
Bahwa di kota ini, Allah pernah mengajarkan kami arti cukup.
Bahwa di kota ini, kami belajar bahwa keluarga tidak membuat mimpi menjadi lebih jauh. Justru keluargalah alasan mengapa kami terus melangkah.
Dan bahwa di kota ini, kami berkali-kali melihat pertolongan Allah datang, sering kali pada saat kami merasa tidak lagi memiliki apa-apa selain harapan.
Karena itu, rasanya aku tidak ingin mengatakan selamat tinggal.
Aku hanya ingin berkata,
barangkali, sampai jumpa.
Sebab beberapa tempat memang tidak diciptakan untuk dilupakan.
Mereka diciptakan untuk sesekali dirindukan, lalu—jika Allah mengizinkan—dikunjungi kembali.












