[Ceritaku]
Awal bertemu adalah saat kami belajar fisika dasar di selasar asrama ITS. saat itu kami belum tau wajah masing masing, hanya bertegur sapa lewat sosial media. Teringat ketika itu aku memintanya untuk membawa mahram karena aku memang tidak biasa untuk berduaan dengan wanita, tapi apa daya tak ada temannya yang bisa menemaninya malam itu. Dan pada akhirnya kuputuskan pergi bersama temanku untuk bertemu degannya. Malam itu kami membahas tentang bilangan gelombang, sebenarnya dia sudah mengerti, mungkin ia hanya ingin memastikan pemahamannya saja. Entahlah, dia terlihat lebih pintar dariku. Hari-hari selanjutnya, kami semakin sering bertemu, berkumpul lebih tepatnya. berkumpul sesama alumni MAN yang berbeda daerah. Kami bercerita tentang sekolah masing masing, bernostalgia, berbagi cerita sambil makan bersama. Berkumpul bersama mereka membuatku lebih nyaman berada jauh dari kampung halaman, ya.. berkumpul sebagai teman.
Waktu berjalan maju, dan kami menghadapai Ramadhan pertama kami dikampus. Saat itu, ada tawaran untuk bergabung dalam sebuah kepanitiaan yang tugas utamanya adalah menyemarakkan ramadhan di kampus, RDK 35 namanya. Beberapa dari kami mendaftar untuk menjadi panitia. hitung-hitung menambah pengalaman baru, merasakan ramadhan di kampus dan melakukan berbagai agenda kebaikan. Dalam kepanitiaan ini ternyata aku dan dia di tempatkan pada tim yang sama. kami menyebutnya tim “Muhammad Al Fatih”, yang salah satu tugasnya adalah menyiapkan buka bersama dengan karyawan yang ada di ITS.
Ba’da Dzuhur, disuatu sore, di bulan Ramadhan, saat kami bersama-sama menyiapkan program buka bersama untuk karyawan ITS. Aku menghampiri ida yang sepertinya belum mendapatkan tugas. Saat itu, ia menggunakan jilbab berwarna merah muda, cocok dengan baju warna putih yang dikenakannya. Dengan malu dan tanpa menatapku, kami berkoordinasi. Begitu cepat, hanya beberapa kata dan aku sudah memberikan komando atau tugas untuk membantu dalam menyiapkan acara. Sementara aku harus pergi untuk mengambil hidangan buka puasa. Dalam diam, diatas sepeda motor pinjaman. Ada desiran rasa ketertarikan padanya, namun segera aku hapus bayangan tentangnya. Benar mungkin puasa membantu kita untuk tetap fokus pada apa yang kita niatkan.
Sejak saat itu rasa itu mulai tumbuh. Membesar tiap bertemu dengannya. Namun, sejak saat itu juga rasa itu harus tertahan, rela untuk dipendam dalam-dalam, dilebur oleh kesibukan. Karena rasa itu belum bisa di pertanggung jawabkan. Meski kami sering bertemu dan berkumpul sesama alumni, rasa itu tetap harus terpendam dalam diam. Cukup untuk kagum dahulu pikirku mengalihkan.
3 tahun berlalu, dan ida akan segera lulus dari ITS. Syawal 1437 H, hari itu kami berkirim pesan bertanya kabar masing masing, bercerita tentang rencana masa depan, dan sedikit curhat. “Mau menikah umur berapa ?” tanya ida. “Aku sih umur 25 targetnya. Tapi, kalo ada khadijah yang meminta untuk menikahinya, In Syaa Allah ndak nolak” balasku polos sambil nyengir lalu terkejut oleh jawaban ida atas pesanku. “Kalau aku khadijahnya, gmana ?”. Lenggang, dan merasa tak percaya atas apa yang aku baca, maka ku coba tanyakan ida lagi. “yang bener mau sama aku ?, yaa ayoo” jawabku tak mau kehilangan kesempatan emasnya.
Namun karena aku belum lulus, niat untuk segera menikahi ida harus tertunda. Terlebih lagi kami harus meyakinkan orang tua kami. Maka kami memutuskan untuk belum bisa lanjut ketahap selanjutnya. Dan tak ada ikatan antara kami. Seandainya ada yang datang pada ida lebih dulu dari aku, tak ada larangan baginya untuk menolak. pun begitu denganku, jika ada wanita yang aku suka dan saat itu aku sudah ingin menikah, tak ada larangan untukku untuk menunda.
Seiring berjalan waktu. Setelah lulus S1nya (dengan waktu tempuh 3,5 tahun), Ida memilih untuk menghafal Al-Qur’an sambil menempuh S2. Sementara aku, setelah lulus kuliah (dengan waktu tempuh 4 tahun), aku mencoba mencari peruntungan di ibu kota dengan berkerja di suatu perusahaan multinasional. Kami tak lagi membahas peristiwa syawal 1437, tapi rasa itu masih terus ada, berharap belum di dahului orang lain.
Agustus 2018, Aku coba untuk memulai pembicaraan tentang yang dulu kami tunda. Menanyakan kesiapan dan kesempatan untukku. Alhamdulilah, bulan itu ida mau menikah dan akan meyakinkan orang tuanya. Mengetahui hal itu, maka hal yang harus aku lakukan adalah juga meyakinkan orang tuaku. Sebulan lamanya kami meyakinkan orang tua masing masing bahwa anak-anaknya telah siap menikah. Kami coba kenalkan siapa ida kepada orang tuaku, dan siapa aku kepada orang tua ida. Yaa, salah satu caranya dengan bersilaturrahim kerumah ida di bulan September. Alhamdulillah, saat silaturrahim kedua bapak mengundang orang tuaku untuk melamar anaknya.
Singkat cerita, 28 Oktober 2018, bertepatan dengan hari sumpah pemuda. Aku melamar Ida. Dan pernikahannya dilakukan pada tanggal 23 desember 2018. Sekian~
Tidak ada salahnya menunggu, Ia mengajarkan keteguhan hati
benar begitu @rosyidaii ?
💕💕 @dza1213











