Entah ada apa dengan orang-orang hari ini. Tapi yang jelas, ini sangat membuat bingung Farel. Sejak pagi tadi ia berjalan sepanjang lorong sekolah, tapi seakan-akan dunia sama sekali tidak mempedulikan kehadirannya. Padahal hari-hari sebelumnya, ia masih bersenda gurau dengan teman-temannya. Bahkan bermain futsal bersama teman-teman pria satu kelasnya saat istirahat jam sekolah. Hari ini, yang ia lihat justru wajah kesedihan.
“Hoi Rel! Ngelamun aja lu. Mau ikut ke kantin gak? Ditungguin sama anak-anak yang lain tuh di luar kelas” teguran dari Sena membuyarkan lamunan Farel.
Sena merupakan sahabat baik Farel di kelas 11 MIPA 2. Sebenarnya bukan hanya sahabat baik di sekolah saja, tapi juga di rumah. Ya, rumah Sena dan Farel berada dalam satu komplek perumahan. Sejak Farel pindah ke komplek tersebut, Sena dan Farel menjadi sering bermain bersama hingga sekolah dan bahkan kelas pun sama-sama. Seperti daun yang tak mau dipisahkan dari rantingnya.
“Males gw ikut” jawab Farel sekenanya. Memang ia sedang malas saat itu.
“Emang ada siapa aja?” tanya Farel balik
“Ayolah daripada di kelas gak ngapa-ngapain. Ada Tomi sama Rian juga. Yang cewe-cewe juga pada ikutan. Rahma, Nia, Balqis...”
Tiba-tiba Farel berubah pikiran. Ia akhirnya segera memotong perkataan Sena untuk mengiyakan permintaanya. Padahal Sena belum selesai mengabsen nama-nama yang mau ikut ke kantin di pelataran belakang gedung sekolah. Antara ia memang malas mendengar rengekan ajakan temannya itu, atau karena ada alasan lainnya.
“Jadi juga kamu ikut ke kantin?” tanya Balqis.
“Iya, bosen juga di kelas” jawab Farel dingin.
“Oh iya, gimana persiapan pentas seni sekolah? Jangan lupa ya laporan perkembangannya. Biar bisa dilihat sama temen-temen anggota MPK lainnya” pinta Farel dengan nada datar
“Insya Allah lancar. Siap pak bos” ucap Balqis membalas permintaan Farel sambil melakukan sikap seperti hormat kepada bendera. Sebenarnya Balqis agak kesal juga dengan sikap Farel yang selalu dingin.
Balqis merupakan murid kebanggaan sekolah, nilai-nilainya jangan ditanya lagi, entah itu nilai pelajaran atau nomor punggu penyerang sepak bola. Nilai di kertas ujian maupun buku tugasnya selalu antara 9 atau 10. Paling rendah pernah didapat yaitu 8,5. Paras wajahnya seperti rupa Ratu Balqis dalam cerita Nabi Sulaiman as., sesuai namanya. Hijab yang dikenakannya menyempurnakan kepribadiannya di mata orang-orang.
Farel dan Balqis sendiri juga sudah lama saling kenal dan bersahabat baik. Mereka saling kenal saat di kelas 10. Sekarang, mereka sama-sama menjadi murid yang aktif di sekolah. Farel sebagai Ketua MPK, sedangkan Balqis adalah Ketua OSIS.
Ujian akhir sekolah pun tiba dan semua murid-murid sekolah fokus terhadap ujian setelah seminggu sebelumnya sukses mengadakan pentas seni sekolah mereka.
“Jadi apa rencana kamu ke depan setelah ini Rel?”
“Rencana apa maksud lu Qis? Setelah tidak lagi menjadi Ketua MPK? Entah lah”
“Ya seperti itulah, setelah selesai dari MPK dan juga dari sekolah ini. Kalau aku hanya ingin fokus belajar, karena kita akan menghadapi ujian nasional kan di kelas 12 nanti. Setelah itu aku mau mengejar cita-citaku menjadi seorang ekonom, seperti Ibu Sri Mulyani. Sangat menginspirasi! Aku ingin bisa membangun Indonesia sebagai seorang ahli ekonomi”
Farel juga tahu kalau temannya ini sangat mengidolakan sekali sosok Ibu Sri Mulyani, yang seorang mantan menteri keuangan negara ini. Kado sebuah tiket seminar dengan pembicara Ibu Sri Mulyani yang diberikan kepada Balqis saat ulang tahunnya bulan lalu menjadi tanda bahwa Farel paham betul kesenangan Balqis. Mereka hadir bersama dengan teman-teman lainnya. Farel tahu bahwa tidak mungkin ia pergi berdua saja dengan Balqis, karena agama melarangnya.
“Hmm..rencana yang bagus. Gw doain. Aamiin” Farel menanggapi cerita panjang Balqis.
“Aamiin. Kalau kamu gimana Rel?”
Belum sempat Farel menjawab pertanyaan Balqis, namun Kepala Sekolah sudah terlanjur memanggil nama Farel untuk masuk ke dalam ruangan. Farel dan Balqis saat itu memang sedang sama-sama menunggu di depan ruang kepala sekolah karena ingin bertemu Kepala Sekolah untuk berbicara mengenai proses penggantian kepengurusan tahun ini. Dan perbincangan tersebut terhenti.
2 hari kemudian ada berita mengejutkan bagi seluruh penjuru sekolah. Balqis dikabarkan pindah sekolah semester depan, yang artinya dia tidak akan mengenyam kelas 12 di sekolah ternama se-Kota Surabaya itu.
“Hmm si Balqis hari ini gak masuk, katanya dia mau pindah? Kenapa ya? Gak ada kabar”
Seperti biasa, Farel bertanya dan berbicara dengan standar dan nada datar. Dingin tanpa ada ekspresi apa-apa.
“Lah tumben situ nanya? Biasanya cuek” sindir Sena dengan tawa sinis.
“Iya gw cuma nanya aja, emang kenapa? Salah?” tanya Farel dengan nada agak meninggi. Sepertinya ia merasa tersinggung dengan ledekan Sena.
“Hahaha...santai Rel. Tapi yang gw denger sih dia pindah karena bokapnya dipindah tugas”
“Jakarta sih katanya. Sepertinya besok dia akan berangkat. Sepulang sekolah kita-kita sama beberapa temen sekelas mau nganterin keberangkatan dia di stasiun kereta. Lu mau ikut?”
“Entahlah. Gak tau.” Kemudian Farel memisahkan diri dari Sena dan berjalan ke lorong menuju parkiran sekolah.
“Mau kemana lu Rel? Gak ke ruang MPK dulu lu kayak biasanya?”
Namun Farel tidak menoleh dan menjawab pertanyaan sahabatnya tersebut. Ia tetap berjalan lurus ke depan seperti tidak sedang terjadi apa-apa. Keesokkan harinya sepulang sekolah Sena dan beberapa teman-teman lainnya telah bersiap di parkiran untuk bergegas ke stasiun kereta, mengantarkan kepergian teman terbaik mereka.
“Rel, ikut gak jadinya? Anak-anak yang lain udah pada siap nih” tegur Sena ke Farel yang sedang memakai jaket tebalnya diatas motor.
“Mungkin nyusul gw. Mau ke suatu tempat dulu” jawab Farel sekenanya. Dipacunya motor besar tipe ninja warna merah ke luar gerbang sekolah dan menuju tempat yang ditujunya. Farel pun menghilang dari pandangan mata. Sena hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Esok paginya, Farel merasakan sesuatu hal yang aneh. Mang Tono, satpam penjaga gerbang sekolah yang biasanya selalu tersenyum dan menyambut sapaan Farel, tidak menjawab sapaan Farel dari motor saat mengendarai masuk ke sekolah. Raut mukanya nampak tidak bersemangat.
Saat sampai di kelas, ia tidak melihat keberadaan sahabat baiknya tersebut. Teman-temannya yang lain nampak bergerombol sana-sini dengan paras muka yang berbeda-beda. Ada yang cemas, sedih, gelisah, dan lain-lain. Benar, memang aneh hari ini! Bel kelas berbunyi, dan Bu Hilma wali kelas Farel masuk.
“Ayo anak-anak, bawa tas kalian. Kita segera menuju bis sekolah. Nanti kita terlambat kesana” himbau Bu Hilma kepada anak-anak di kelas.
“Ada apa ini? Apakah hari ini ada study tour? Kunjungan? Apa gw lupa ya?” gumam Farel kebingungan. Ia bertanya apa yang terjadi ke beberapa temannya, namun tidak ada yang menjawabnya. Semua berjalan begitu saja keluar kelas.
“Apa semua orang sedang memusuhi gw ya? Salah apa ya gw?” Farel pun terdiam dan merenung sejenak sebelum akhirnya ia sadar dan segera menyusul teman-temannya menuju bis sekolah. Bis sekolah pun kemudian berangkat. Tidak lama kemudian bis sekolah masuk ke sebuah komplek perumahan.
“Loh, ini kan komplek rumah gw?” batin Farel di dalam hati. Hal ini makin membuat Farel semakin bingung dan bertanya-tanya.
“Mau pada apa ke komplek rumah gw?”
Bis sekolah berhenti di sebuah rumah tingkat dua dengan pagarnya berwarna hitam telah terbuka lebar. Rumah tersebut sudah ramai dikunjungi banyak orang. Di depan rumah tersebut sudah ada Sena yang menunggu. Sepertinya ia memang sedang menunggu rombongan sekolahnya ini tiba. Namun lagi-lagi, buat apa teman-teman sekolahnya menuju ke rumah yang tidak lain merupakan rumahnya.
Semakin terkejut Farel melihat sebuah bendera berwarna kuning berada di pagar rumahnya. Gelisah dan kalut perasaannya saat itu.
“Siapa yang meninggal?? Ayah dan Ibu perasaan sehat-sehat aja. Kemarin ketemu di rumah masih baik-baik aja” pikir Farel.
Ketika masuk ke dalam rumahnya, di ruang tamu dilihatnya sang ayah sedang berbicara dengan para paman dan pakdenya. Sambil beberapa kali ayah mengambil sapu tangan dari kantung celananya dan mengusapkannya ke mata. Teman-teman serta gurunya menghampiri ayahnya untuk memberikan salam. Kemudian berjalan ke arah ruang tengah, Farel melihat ibunya yang sedang duduk bersimpuh dibawah bersama tante-tantenya kemudian berdiri untuk juga menyalami teman-teman dan gurunya yang datang.
“Ayah dan ibu gak kenapa-kenapa. Sehat-sehat aja. Lalu....siapa?”
Semakin bertanya-tanya di dalam pikiran Farel, apalagi ketika melihat sesosok tubuh yang sudah diam tidak bergerak ditutupi kain batik berwarna coklat berada di lantai ruang tengah rumahnya dikelilingi oleh orang-orang yang nampaknya sedang membacakan doa maupun surat Yasin. Sena yang sejak tadi memandu rombongan sekolah kemudian mendekati tubuh kaku tersebut dan membuka kain yang menutupi wajah tubuh tersebut.
“A..a..pa? Ah gak mungkin...bagaimana bisa mirip? Apa....”
Farel tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya. Wajah dari sosok tubuh yang sudah membujur kaku tersebut sangat mirip dengannya! Bukan, itu bukan mirip. Tapi memang itu dirinya!
“Iya sangat cepat. Kejadiannya kemarin sore, sehabis Farel pulang sekolah. Kata polisi, berdasarkan saksi mata yang melihat motor yang dikendarainya memang melaju sangat cepat. Seperti orang yang sedang terburu-buru. Motornya tidak sengaja menyenggol mobil di depannya saat sedang berusaha menyalip. Dan motornya terjatuh sangat keras, sementara Farel katanya terpelanting jauh dari motor. Kecelakaannya terjadi di jalan raya arteri menuju stasiun kereta” cerita ibu Farel ke wali kelasnya.
Tiba-tiba seperti semua perhatian orang-orang disekitar tertuju pada sesuatu. Ada yang baru datang dan masuk ke dalam rumah. Teman-teman Farel pun ada yang terkejut melihatnya, ada juga yang hanya diam. Namun tidak sedikit juga yang menghampiri orang tersebut. Mereka semua pikir dia sudah berangkat ke Jakarta dengan orang tuanya. Seorang yang Farel sangat kenal, Balqis datang dengan raut muka yang sangat sedih.
Seketika, Farel hanya bisa terdiam kaku dan mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi.
Yang diingat adalah bahwa dirinya kemarin mendapatkan berita buruk, Bahkan menjadi mimpi buruk bagi Farel. Seorang Balqis, murid terpintar di sekolahnya akan pindah. Artinya ia tidak bisa lagi dekat dengan orang yang dikaguminya tersebut. Ya, Farel sangat mengagumi sosok Balqis. Namun bagaimana pun juga ia tidak bisa berbuat apa-apa. Siapa lah ia? Apa urusannya dengan Balqis? Hanya seorang teman. Iya, hanya seorang teman satu sekolah. Sikap dinginnya kepada Balqis selama ini bukan berarti ia tidak senang kepada Balqis. Justru ia ingin dengan bersikap seperti itu, ia dapat menjaga jarak dan menahan diri agar tidak terbawa perasaannya.
Pada akhirnya, yang bisa ia lakukan hanya berusaha agar membuat senang dan tidak banyak menyakiti hati perempuan yang dikaguminya tersebut. Mencari tiket seminar dalam jumlah banyak sampai ke penjual tiket dilakukannya. Yang dituju bukan teman-temannya, tapi memang agar Balqis bisa senang melihat tokoh idolanya. Ketika mendegar Balqis akan pindah, Farel tidak ingin momen perpisahan ini hanya biasa begitu saja. Ia ingin membuatnya menjadi berkesan. Karena baginya, kehilangan yang menyakitkan adalah berpisah dengan seseorang yang dikaguminya.
Dan ia juga ingat hari itu sebelum kejadian naas itu terjadi, sepulang sekolah ia bergegas keluar kelas dan menuju parkiran. Farel ingin membelikan sesuatu terlebih dahulu untuk diberikan kepada Balqis sebagai hadiah kenang-kenangan. Tanda persahabatan menurutnya. Tidak lebih, walaupun jauh di dalam lubuk hatinya ia berharap hadiah darinya akan diingat terus oleh Balqis. Selama perjalanan menuju stasiun kereta, bagi Farel sekarang dipikirannya bagaimana ia bisa setidaknya memberikan hadiah yang telah ia beli tersebut. Namun tiba-tiba dunia menjadi gelap. hadiah yang telah dibelinya tidak akan sampai ke tangan orang yang dikaguminya tersebut, hilang begitu saja bersama kenangannya
Kita tidak akan pernah tahu bagaimana arti dari kehilangan
Entah apakah kehilangan benda ataupun seseorang
Sebelum kita merasakannya sendiri