Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu selepas kesabaran yang kamu lakukan selama ini, yang akan membuatmu terpana hingga lupa betapa pedihnya rasa sakit yang kamu alami selama ini. Hingga yang tersisa hanyalah rasa syukur yang membuncah di dalam dada, yang membuatmu sadar betapa baiknya Allah atas segala kehendak-Nya.
Rahasia di balik peristiwa yang Allah hadirkan ke dalam hidup kita, memang tidak boleh dipandang tanpa melibatkan iman. Sebab hanya dengan iman lah, seseorang akan dituntun untuk tetap atau kembali ke jalan terbaik dalam bagaimana cara menyikapi segenap rahasia peristiwa.
Dalam kesedihan, tersimpan pelajaran penting akan kedewasaan. Dalam kehilangan, kita diajarkan untuk menghargai tiap-tiap detik dari suatu perjumpaan. Dalam kebahagiaan, tersimpan pesan untuk jangan terlena, sebab semua yang hadir tidak lepas dari kuasa-Nya—yang berarti kapanpun diambil kembali, sangat mudah bagi-Nya.
Manusia mendewasa dengan menyelami hikmah dari peristiwa yang ia alami. Baik itu peristiwa baik, ataupun sebaliknya. Manusia menjadi kuat dan tegar, tatkala mampu memandang peristiwa getir sekalipun, menggunakan sudut pandang iman. Rasa yakin bahwa Tuhan-nya tidak mungkin bermaksud buruk bagi hamba-Nya. Bukan berarti menangis menjadi tidak penting, namun kita harus tahu bahwa segala hal dari-Nya, terkadang memang cukup kita imani saja.
Kelak ketika waktunya tiba menyingkap seluruh rahasia-Nya, engkau akan menoleh ke belakang dengan mata yang berbeda. Luka yang dulu terasa tak tertahankan akan tampak sebagai jejak kasih sayang yang tersembunyi dari-Nya. Air mata yang pernah jatuh akan menjadi saksi bahwa Allah ternyta tidak pernah meninggalkanmu sendirian dalam rasa ketidakadilan.
Saat itu, engkau juga tidak akan lagi bertanya mengapa semua ini terjadi, sebab hatimu telah memahami, bahwa semua yang Dia takdirkan untukmu adalah cara-Nya menuntunmu pulang. Menuntunmu pulang menuju versi dirimu yang lebih utuh, lebih dewasa, dan lebih dekat kepada-Nya.
"Andaikan seorang hamba mengetahui maksud indah dibalik ketetapan takdir dari Allah, niscaya dia akan menangis malu karena prasangka buruknya kepada Allah SWT." — Syaikh Mutawalli Asy Sya'rawi


















