Coba tanya ke diri sendiri, deh. Lebih sering mana? Kamu yang membandingkan dirimu sendiri dengan orang lain atau orang lain yang membandingkanmu dengan orang lain?
Jahatan siapa? Kamu ke dirimu sendiri atau mereka ke kamu?
Sweet Seals For You, Always

Andulka
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

Product Placement
No title available

No title available
NASA
KIROKAZE
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
YOU ARE THE REASON
styofa doing anything
Monterey Bay Aquarium
TVSTRANGERTHINGS
will byers stan first human second
Not today Justin
Misplaced Lens Cap
art blog(derogatory)
RMH
Three Goblin Art
Xuebing Du

seen from United States
seen from South Korea
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States

seen from United States
seen from Romania

seen from United States

seen from United States

seen from Colombia

seen from Philippines
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
seen from South Korea
seen from Indonesia
seen from Argentina
seen from Canada
@cawanrasa
Coba tanya ke diri sendiri, deh. Lebih sering mana? Kamu yang membandingkan dirimu sendiri dengan orang lain atau orang lain yang membandingkanmu dengan orang lain?
Jahatan siapa? Kamu ke dirimu sendiri atau mereka ke kamu?
Seni Melepaskan Tanpa Harus Marah
(Menata Hati — Part 3)
Daun yang jatuh itu gak pernah protes sama angin. Dia mengalir mengikuti arah dengan tenang, sampai akhirnya mendarat manis di tempatnya sendiri di atas tanah.
Begitu pula drama kehidupan kita.
Nggak semua hal di dunia ini harus kita pertahankan mati-matian sampai semua otot ketarik, dan nggak semua jalan yang berliku harus kita lawan pakai emosi yang meledak-ledak.
Kadang, ruang batin kita justru baru bisa merasakan adem dan damai yang sesungguhnya saat kita mulai belajar menurunkan ego: menerima kenyataan, merelakan yang pergi, dan percaya kalau setiap skenario perjalanan kita sudah punya titik finish-nya masing-masing.
Langkah elegan ini sinkron banget sama prinsip dasar tawakkal. Kita yang diajak buat sadar kalau tugas kita itu cuma berusaha, sisanya biar Allah yang pegang kendali penuh atas hasilnya. Kalau kata orang-orang yang jernih hatinya, "Taruhlah dunia itu di tanganmu, jangan di hatimu." Biar kalau sewaktu-waktu angin takdir berembus kencang dan mengambilnya, hati kita nggak ikut rontok.
Sederhananya: hidup kita bakal jauh lebih hemat energi kalau kita berhenti jadi sutradara dadakan yang maksa mengubah takdir orang lain atau keadaan, padahal kapasitas kita cuma sebatas pemeran utama di panggung-Nya.
Mari kita shutdown dulu semua kegaduhan di kepala.
Semoga hari ini hati kita dibuat lebih tenang, pikiran yang seharian lelah dipaksa mikir keras perlahan dilembutkan oleh-Nya, dan segala teka-teki hidup yang belum bisa kita pahami hari ini, diajarkan untuk kita terima dengan lapang dada dan ikhlas.
Yuk, matikan sejenak notifikasi HP, kurangi overthinking, perbanyak bersyukur!
Suka sekali dengan lirik lagu Nadin Amizah, "Biar kita tinggal di angkasa, bersama selama lama lama lamanya. Beralas awan berpayung Tuhan yang baik." -Berpayung Tuhan
Saat ini aku sedang berbaring di lantai kamarku, menghadap jendela, menatap langit biru cerah dengan awan putih yang terus berlalu lalang.
Begini saja sudah cukup menenangkan. Untuk saat ini, akan lebih baik jika semuanya kutelan sendirian.
Hari ini aku berhenti mencari telinga.
-Thr
Tuan,
Daku inginkan dikau
Tapi bagaimana dengan Tuhan?
Apakah keinginanku persis seperti catatan-Nya?
Apakah dikau menginginkan daku jua?
Tuan,
Daku sekarat, dadaku sesak menahannya
Bagaimana ini Tuan?
Apa yang harus kuperbuat?
-Thr
Masih terus bertanya, di mana letak salahnya? Mengapa serumit ini?
Untuk kita perempuan,
Berdirilah sebagai perempuan yang bertumbuh, layak untuk memilih, berpikir dan dimuliakan tanpa syarat. Yang lain boleh cepat, tapi kita jangan tergesa-gesa, karena Tuhan tak pernah tergesa dalam menciptakan kehidupan. Dan tidak pernah salah menentukan takdir
_Nonajingga
Baru bisa nonton film ini, setelahnya cuma bisa bengong karena perasaan hampa yang nggak bisa dijelaskan. Satu hal yang aku pahami, ada kerinduan yang tak akan pernah terobati. Rindu yang tinggal di kedalaman diri, seperti milikku, yang tak tersentuh waktu, yang terus menetap meski hidup harus terus berjalan.
Ada jiwa yang sangat mudah ku kagumi meski tak tahu alasannya. Jiwa yang sekian lama ku rindukan, yang ku nantikan tanpa keraguan. Karena tak pernah tahu jawabannya, aku berhenti mencari tahu alasannya. Tak semua rindu ingin dipahami atau diselesaikan. Ada yang cukup diakui, lalu dibiarkan hidup selamanya.
Aku pernah menjatuhkan air mataku untuknya, dan aku tak pernah pura-pura. Cinta mengajarkan ku bertahan, takdir mengajarkan ku melepaskan. Di antara keduanya, aku belajar menjadi dewasa, belajar menerima.
Hiduplah, Tuan! Hiduplah dengan baik. Jalani hari-harimu dengan ketabahan. Peluklah penat tanpa cemas. Jika rindu singgah, biarkan ia bersemayam. Hidup kerap muram, namun jagalah batinmu tetap terang.
"Jangan sampai, lukamu terus menciptakan luka."
Membaca kutipan Mas Gun ini, aku teringat bagaimana sebuah infeksi bekerja. Dalam dunia medis, kita mengenal istilah transmisi; sesuatu yang merusak akan terus mencari inang baru agar tetap hidup. Jika rantainya tidak diputus, ia akan menjadi siklus penularan yang tidak berujung.
Ternyata, rasa sakit punya pola yang mirip. Kalau luka batin tidak benar-benar kita sembuhkan, ia tidak akan hilang begitu saja. Tanpa disadari, ia menyelinap ke dalam cara kita bicara atau bagaimana kita bereaksi. Kita jadi sering menularkan rasa perih yang sama kepada orang-orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.
Ada kalanya muncul perasaan bahwa kita "berhak" untuk bersikap dingin atau sinis karena pernah dikecewakan. Rasanya seperti sebuah pembelaan diri untuk bersikap keras karena dunia pernah sekasar itu pada kita. Namun, setelah dijalani, pola ini sebenarnya sangat melelahkan. Jika setiap orang membalas luka dengan luka, kita hanya akan terjebak dalam pusaran yang saling menyakiti tanpa henti.
Memutus siklus ini memang berat. Itu artinya kita harus berani berhenti sejenak dan mencoba berdamai dengan rasa pahit itu sendiri, alih-alih melampiaskannya. Kita perlu menjaga agar amarah dari masa lalu tidak menjadi racun bagi mereka yang datang dengan niat tulus hari ini.
Pada akhirnya, kedewasaan mungkin adalah tentang keberanian untuk bilang: "Cukup berhenti di aku." Jangan sampai apa yang rusak di masa lalu malah menghancurkan apa yang sedang dibangun sekarang. Setidaknya, itu yang sedang aku usahakan hari ini.
“I hope you fall in love with someone who never lets you fall asleep thinking you’re unwanted.”
— Unknown
Jangan tanya hal apa yang membuatku jatuh hati denganmu, sebab aku tidak tahu jawaban tepatnya. Satu hal saja yang aku tahu, karena orang itu adalah kamu.
Thr
Jika pada akhirnya nanti bukan kamu orangnya, aku harap aku bisa berlapang dada dan merayakannya.
Thr
Bab yang ini kapan selesainya? 🥺
Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu selepas kesabaran yang kamu lakukan selama ini, yang akan membuatmu terpana hingga lupa betapa pedihnya rasa sakit yang kamu alami selama ini. Hingga yang tersisa hanyalah rasa syukur yang membuncah di dalam dada, yang membuatmu sadar betapa baiknya Allah atas segala kehendak-Nya.
Rahasia di balik peristiwa yang Allah hadirkan ke dalam hidup kita, memang tidak boleh dipandang tanpa melibatkan iman. Sebab hanya dengan iman lah, seseorang akan dituntun untuk tetap atau kembali ke jalan terbaik dalam bagaimana cara menyikapi segenap rahasia peristiwa.
Dalam kesedihan, tersimpan pelajaran penting akan kedewasaan. Dalam kehilangan, kita diajarkan untuk menghargai tiap-tiap detik dari suatu perjumpaan. Dalam kebahagiaan, tersimpan pesan untuk jangan terlena, sebab semua yang hadir tidak lepas dari kuasa-Nya—yang berarti kapanpun diambil kembali, sangat mudah bagi-Nya.
Manusia mendewasa dengan menyelami hikmah dari peristiwa yang ia alami. Baik itu peristiwa baik, ataupun sebaliknya. Manusia menjadi kuat dan tegar, tatkala mampu memandang peristiwa getir sekalipun, menggunakan sudut pandang iman. Rasa yakin bahwa Tuhan-nya tidak mungkin bermaksud buruk bagi hamba-Nya. Bukan berarti menangis menjadi tidak penting, namun kita harus tahu bahwa segala hal dari-Nya, terkadang memang cukup kita imani saja.
Kelak ketika waktunya tiba menyingkap seluruh rahasia-Nya, engkau akan menoleh ke belakang dengan mata yang berbeda. Luka yang dulu terasa tak tertahankan akan tampak sebagai jejak kasih sayang yang tersembunyi dari-Nya. Air mata yang pernah jatuh akan menjadi saksi bahwa Allah ternyta tidak pernah meninggalkanmu sendirian dalam rasa ketidakadilan.
Saat itu, engkau juga tidak akan lagi bertanya mengapa semua ini terjadi, sebab hatimu telah memahami, bahwa semua yang Dia takdirkan untukmu adalah cara-Nya menuntunmu pulang. Menuntunmu pulang menuju versi dirimu yang lebih utuh, lebih dewasa, dan lebih dekat kepada-Nya.
"Andaikan seorang hamba mengetahui maksud indah dibalik ketetapan takdir dari Allah, niscaya dia akan menangis malu karena prasangka buruknya kepada Allah SWT." — Syaikh Mutawalli Asy Sya'rawi
Di dalam kepala kita, barangkali ada pasar malam yang tak pernah tutup.
Riuh. Penuh teriakan ambisi yang berdesakan, dan ketakutan akan hari esok yang bahkan belum terbit mataharinya.
Saking berisiknya, kita jadi tuli.
Kita lupa, bahwa Tuhan itu Maha Romantis dengan cara-Nya yang sunyi.
Dia sering mengetuk pintu lewat "kegagalan" yang membuat kita menangis semalaman, padahal itu adalah cara Dia memeluk, menahan kita agar tidak masuk ke ruang yang salah, bertemu orang yang salah.
Kita sering menyebutnya musibah, padahal Dia sedang memberi perlindungan.
Dia mengirim pesan lewat "penundaan".
Bukan karena Dia pelit memberi, tapi karena Dia tahu bahu kita belum cukup kekar untuk memikul beban nikmat seberat itu sekarang.
Kita menyebutnya nasib buruk, Dia menyebutnya persiapan.
Kita terlalu sibuk menatap layar, mencari validasi manusia, sampai tak sadar ada notifikasi dari Langit yang terabaikan berulang kali.
Sinyal itu kuat. Sinyal kasih sayang yang tak pernah buffering. Hanya saja... Antena rasa kita yang patah.
Tertutup debu ego yang merasa paling tahu mana skenario yang terbaik.
Mungkin hari ini, saatnya kita mematikan sedikit suara bising di kepala, duduk diam, menghela napas, dan membiarkan hati membaca ulang kode-kode itu sekali lagi.
Hingga akhirnya lisan kita berbisik pelan:
"Oh, ternyata Engkau selalu ada di sini, menungguku sadar. Aku saja yang selama ini terlalu sibuk berlari menjauh."
Mengapa hikmah datang di akhir, dan kode-kode dari Allah baru dapat terpecahkan setelah semua nya terlewati. Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni. Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf (menghapus kesalahan), karenanya maafkanlah aku (hapuslah dosa-dosaku).
Kalau kamu belum nemu orang yang nyerah sama kamu, kamu jangan nyerah ya, sama diri kamu sendiri.
Ragu, engga boleh jadi pilihan, melangkahlah, meski berantakan. :)
Universe, 91225.
Siap. Aku akan melangkah walau berantakan.
Pengen Nulis ini Buat Kamu
"Gimana teh? Udah ada calon belum?"
"Buruan nikah!! Mamakmu udah ngebet pengen gendong cucu."
"Jadi kapan, teh?"
Wadaw!! Ini lebaran ajang silaturahmi apa ajang intimidasi, sih? Ha-ha
Itu cuma salah satu pertanyaan yang cukup ter-highlit di lebaran kali ini. Pertanyaan printilan lainnya pun masih banyak lagi sebenernya. Tapi, pertanyaan dengan topik yang sama inilah yang akhir-akhir ini cukup meresahkanku. Why?
Pertama, daku sangat memaklumi alasan di balik pertanyaan itu tak lain adalah karena usia up 23an itu sudah wayahnya nikah kalo di kampung tuh.
Kedua, temen-temen seumuran daku hampir dah berumah tangga semua. Jadi, ya melihatku yang masih betah dengan kesendirian ini meresahkan hati mereka. Mungkin hatiku kalah resah dibanding keresahan mereka.
Ketiga, jujur sih daku masih santai nanggepin pertanyaan modelan begitu, tuh. Cuma kadang kalo keseringan denger pertanyaan yang sama mulu, lama-lama kepikiran boss!! Masa iya daku nikah gegara "panas" karena pertanyaan "kapan nikah? " Pas lebaran?
Ya, lucu aja gitu. Pas ditanya "apa alasan kamu nikah?" Lalu daku jawab "karena daku panas dengan pertanyaan " Kapan nikah". Kan kasian juga jodoh daku nanti ketika tahu fakta ini.
Terus pengennya gimana?
Ya, daku sih pengen nya buat para lelaki di luaran sana, yang lagi ada di situasi yang sama, nih. C'mon bro!! Jangan cuma cengengesan aja. Action dong!! Usaha jemput jodohmu gitu. Jangan kek cewek deh.
Dan buat para "pelaku" yang meresahkan hati. Ayolah!! Kasih solusinya. Jangan cuma nanya doang.
Last point nih, ya. Hey!! Kamu lelaki yang salah satu nya dapat pertanyaan itu, jadi kapan kamu mau jemput aku buat duduk di pelaminan bersamamu?
Ditulis, lebaran 1442 H saat usiaku 23 tahun 9 bulan.
Hei, 5 tahun kemudian jadi semakin parah. Sungguh tertekan.
Susah ya.
Bertahan itu gak mudah. Tak jarang dalam masa bertahan adakalanya merasa bahwa diri ini sampah. Semakin kesini semakin merasa bahwa hidup ini tak pernah mudah. Menjadi dewasa dituntun harus tahu arah. Namun ketahuilah, sungguh tak mudah bagiku menentukan arah.
Apa harus aku memulai perjalanan ini bersama nya? Biar ada teman melangkah searah.
Usia 22 tahun 5 bulan. 3 minggu setelah diwisuda.
Januari 8, 2020.
Heyyyy heyyy...