Seiring berjalannya waktu dan berlanjutnya hidup, akan ada beberapa hal yang mungkin kita harapkan, namun tidak terjadi. Atau sesuatu yang kita inginkan kemudian terwujud, namun setelah menjalaninya kita tak merasa begitu nyaman.
Pada hakikatnya, sifat manusia itu sulit merasa puas dan selalu menginginkan yang lebih. Merupakan karakter alami seorang manusia yang memiliki ego. Ketika tak mendapatkannya, merasa kecewa. Namun ketika telah mendapatkannya pun, tidak merasa puas.
Mengapa kita sering merasa seperti itu?
Berdasarkan teori yang diungkapkan oleh tokoh psikologi Abraham Maslow, “What a man can be, he must be”.
Ada beberapa kebutuhan dalam diri yang harus dipenuhi. Setiap manusia pasti punya sesuatu yang ingin dicapainya. Salah satunya adalah kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan dalam bentuk keberadaan, nilai, maupun harta. Kemudian ketika telah merasa mencapainya, maka akan muncul keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup dari sisi tersebut pula. Apalagi dengan berada di lingkungan era sekarang yang begitu luasnya semenjak hadirnya internet dan media sosial. Ukuran nilai dasar suatu kehidupan bergeser dengan menjadikan hidup orang lain sebagai acuan. Tak hanya makan cukup 3 kali sehari, namun ketika bisa makan di cafe/restaurant pun baru dikatakan cukup.
Terkadang kita sering menggeser keinginan menjadi sebuah kebutuhan. Padahal, keinginan itu tidak selalu harus terpenuhi.
Dan ketika keinginan tersebut tidak bisa kita penuhi, seringnya kita merasa kecewa dan berakhir menyalahkan diri sendiri. Apabila hal ini terus berlanjut, maka tak lama diri akan menjadi stress berkepanjangan dan ini tidak sehat. Bukannya menghasilkan sesuatu, namun biasanya orang stres cenderung sering takut mengambil keputusan dan tidak berani mengambil langkah, apalagi resiko. Mengasingkan diri supaya tidak terlihat oleh orang lain akan menjadi pilihannya.
Terkadang, gengsi pun mengambil peran yang cukup besar dalam hal ini. Mengapa kita tak merasa cukup dengan pencapaian kita saat ini? Karena kita merasa malu akan pencapaian kita yang tak sebanding dengan orang-orang disekitar kita. Sehingga tak ada perasaan puas di dalam hati. Merasa tak mempunyai harga diri dan tidak bermanfaat.
Kita lupa, bahwa memang kita akan diberikan ujian oleh Allah. Bukan karena Ia tak menyayangi, namun begitulah cara Allah menurunkan limpahan rahmat-Nya. Seperti tersebut dalam firman-Nya:
Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah : 155)
Bersabarlah, maka akan turun berita gembira dari Allah.
Namun, apakah tidak boleh memiliki kualitas hidup yang jauh lebih baik?
Boleh. Menjadi tidak boleh jika keinginan kita tersebut hanya dilandasi alasan harga diri dan pengakuan orang lain. Yang parahnya saat ini, ingin mendapatkan sesuatu supaya bisa terlihat ‘berada’ di media sosial. Menjadi terkenal dan ’instagramable’ menjadi sebuah tujuan hidup pada abad ini. Padahal, Allah telah mengatakan bahwa orang dinilai bukan karena keberadaan maupun hartanya, tetapi iman dan taqwannya.
Rencana kita memang baik, tetapi rencana Allah jauh lebih baik.
Ada kalanya mengapa kita ditempa begitu lama dengan ketakutan dan kekurangan, dengan perjuangan dan usaha, adalah supaya kita tak silau mata ketika nanti telah diberikan rezeki tersebut, bisa lebih bijak dalam menggunakannya, sehingga menjadi muslim yang kuat dan dapat membantu sesamanya.
Untuk itulah Islam mengajarkan syukur sebagai salah satu bentuk ibadah. Sebagaimana pada Nabi dan Rasul, walau cobaan terus datang dan rintangan menghadang, namun beliau senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas limpahan nikmat Allah.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’” (QS. Ibrahim: 7).
Sungguh tak ada keraguan dalam setiap perkataan Allah yang tertuang dalam Al-Qur'an kariim.
Setiap orang pasti mendambakan kedudukan yang lebih baik dalam hidupnya, dalam hal karir, tempat tinggal, keluarga, pendidikan, dan lain-lain. Percayalah bahwa apa yang Allah berikan itu sebanding dengan apa yang kita lakukan. Seberapa besar usaha kita untuk terus mendekat kepada Allah. Semakin jauh, maka menjauh pula nikmat-Nya.
Pada akhirnya, kita lebih baik merenung, nikmat mana saja yang sering kita ingkari, termasuk nikmat hidup sehat dan berjalan normal sebagaimana mestinya. Berapa kali lupa tidak berterima kasih kepada Allah, berapa kali engga untuk menyedekahkan rezeki yang telah Allah titipkan. Sungguh, Allah tak mengajarkan kita untuk menjadi hamba yang lemah, maka bersemangatlah dan mohonkan-lah hanya kepada Allah.
Allahumma a’inni ‘ala dzukrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik
“Ya Allah aku memohon pertolonganmu agar Engkau menjadikan aku hamba yang senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepadamu dengan baik”
@shafiranoorlatifah | 24 Maret 2019
Lagi-lagi tentang syukur, karena saat terasa sempit, rasanya memang sesulit itu.