senja ditutup dengan gerimis dingin, selaras mengikut prakiraan tentang ketidakstabilan iklim pada kuartal dua tahun ini. siluet pohon-pohon baja makin terlihat mengabu, beserta dengannya gemerlap hingar-bingar videotron kian nampak beradu satu sama lain.
sistem pembuluh sistemik kurasa adalah pengibaratan yang layak bagi tol dalam kota malam ini; kepadatan lalu lintas kearah kota-kota satelit tengah berisikan jiwa-jiwa yang lelah dan suntuk, sangat mual dengan karbondioksida hedonisme dan polusi kepentingan golongan yang lengket mencipta kantuk.
dibalik jendela mobil yang berembun, matanya lihai menatap pendar ibukota secara dalam. suasana yang kian syahdu setelah lagu-lagu chrisye diputar menemani sisa perjalanan, cukup untuk memutar selaksa kenangan baginya.
mobil timor keluaran 1999 itu melesat, membelah jalan protokol nasional sembari mencipta deru-deru sekelebat. dibawanya pria kecil yang baru saja menenun kepatah-hatian dari seseorang yang disukanya, harap-harap baginya hal itu akan nampak lebih dari sekedar sela diksi tak berjiwa dengan nama:
"Kapan Ku Harus Berterimakasih?"
Angkasa begitu lihai meredup # Pada makhluk yang tak sepenuhnya hidup
Deras batin bergejolak # Untuk apa dirimu mengelak?
Ujarku disergap jerit hati # Intuisimu melengking, menebas mati
Siang-siang yang kian usang # Melepas sauh menghadap pasang
Bersiap kembali pada semula # Tiada kasih membelah cakrawala
Batin ini regas # nyatanya, tercerabut pada alasan yang sama sekali tak berlandas
Resah # tak terbilang tiap singgah. Ku hampir menyerah
Hilang arah # Berlarut-larut menjelma gelisah
dibinanya arwah-arwah bisu 'tuk menghadap pada palung berwajah firdaus;
sebuah realita penuh kegelapan yang berideologikan pemaknaan surgawi dibalik perang nafsu yang kian teruk.
dalam sudut pandang penonton, palung firdaus ialah manifestasi yang logis atas hipokritisme rasa insan. mengalir seakan hal itu adalah solusi paling simetris dalam membunuh perasaan.
dan kau, adalah sekian dari penuntun yang menggiringku pada jurang itu. kau lihai memilih alur, seakan kau tengah membawa bom waktu yang sewaktu-waktu meledak. kau menghindar seiring perjalanan, memilih tuli disamping ragaku yang terus-terusan kelimpungan mencari makna akhir kita.
hingga tepi jurang, kita saling tatap. kulihat manik mata indah yang dulu sangat kudambakan. kulihat lesung di pipimu, yang dulu menjadi alasanku untuk tetap bersemangat menjalani hari sebagai seorang teman. kulihat hidungmu yang memerah, yang menjadi bahan bagiku untuk selalu menjahilimu kala kita semeja.
entah kapan kali terakhir kudengar suara mungil itu, yang dengannya jantungku berdegup begitu indah.
dan ya, hingga akhir, tak ada satupun dialog terujar diantara kita. kita berakhir menjadi makhluk yang tak sepenuhnya hidup. batin kita bergolak pada raga masing-masing, bertanya, berputar dalam logika semrawut yang kita ciptakan sendiri.
kau tinggalkan jasad ini, disaat penuntun lain mendorong jiwa yang dibawanya. kau sisakan diriku seorang untuk lantas memilih pilihannya sendiri, entah mengikuti mu kembali, atau jatuh lantas menjadi jiwa yang baru.
namun kala itu, satu hal yang begitu janggal terlintas, suatu hal yang selalu kuucapkan pada setiap yang kutemui, begitu rumit untuk kukatakan.
aku membusuk kebingungan, terus berdiri dimulut jurang. termenung atas kapan waktu yang tepat untukku mengucap terima kasih.
hingga kau sirna, dan aku terjatuh.