Dibalik diam dan egoisku sekarang pernah banyak luka yang berusaha aku obati sendiri.
Kesabaran ku dibodohi, ketulusan ku dianggap becanda, pengorbanan ku tak pernah ternilai dan keberadaan ku tak pernah dihargai.
seen from United Kingdom
seen from China
seen from Germany
seen from South Korea
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from France
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Yemen

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
Dibalik diam dan egoisku sekarang pernah banyak luka yang berusaha aku obati sendiri.
Kesabaran ku dibodohi, ketulusan ku dianggap becanda, pengorbanan ku tak pernah ternilai dan keberadaan ku tak pernah dihargai.
Relasi apa pun dibangun oleh dua hal: motif dan kompetensi. Abaikan keduanya, dan kau akan terluka. Ujilah mereka—dan ujilah dirimu.
Relasi (sehat/tidak sehat) = motif + kompetensi
Rasanya sulit dipercaya, bahwa dia dicintai olehmu lebih baik daripada aku dahulu. Dia mendapatkan semua yang dulu hanya bisa kupinta, sampai harus kuucap dalam doa yang penuh air mata.
Dia mendapatkannya, tanpa harus memohon.
Sementara aku hanya belajar, bahwa cinta tidak selalu adil, bahkan pada mereka yang paling berharap.
Andira Wu
Instead of wanting Yang Gwansik, I tend to questioning am I that woman who is worth fighting for like Aesun?
Even watching drama can't escape me from overthingking lol
Adulting really hits different...
Footprints of the Heart in Love
"Every person has a unique way of seeking a partner. Those who strive earnestly often sacrifice time, energy, and even resources. Love can sometimes be unpredictable. Having many desired qualities often leads one to place great hopes on experiencing true togetherness. Yet in the end, every journey of love teaches us to understand ourselves better and to recognize what we truly need."
Percakapan Kemarin Malam
"Teh, gimana kabar hatimu? Apakah sudah sembuh?" Abah (ayah) bertanya padaku.
Sebuah pertanyaan sederhana yang tanpa aba-aba terlontar dan meluruhkan diamku. Abah menatapku dalam-dalam malam itu—di tengah percakapan yang tidak kusangka akan menyinggung kembali luka hati yang pernah kubenamkan begitu dalam.
Aku tersenyum tipis, lalu menjawab pelan, "Alhamdulillah, sudah, Bah."
Dan memang benar demikian. Luka itu tidak lagi berdarah. Ia kini hanya bekas yang mengajarkanku banyak hal: tentang keikhlasan, tentang melepaskan, dan tentang mencintai diri sendiri lebih dulu.
Setahun telah berlalu. Aku pernah jatuh hati pada seorang laki-laki yang tengah mengejar pendidikan dan kariernya di negeri para nabi. Kami pernah mempunyai mimpi yang sama, pernah saling percaya, saling menanti. Tapi kenyataan menuntun kami ke arah berbeda, hingga kami memilih kembali ke kehidupan masing-masing. Ya.. bukan karena berhenti mencintai, tapi karena kami memilih untuk tidak lagi menyakiti.
Abah mengangguk, lalu bertanya kembali, "Sudah ada yang mengisi hatimu lagi, Teh?"
Bingung. Aku bingung harus menjawab apa. Jadi, kali ini aku hanya tersenyum canggung dan menggeleng pelan.
Bukan tak ada. Sebenarnya ada seseorang yang sempat mengetuk pintu hatiku. Katanya, dia ingin mengenalku lebih jauh. Katanya ini, katanya itu. Namun, di balik katanya ternyata ada perempuan lain yang telah dia sandingkan diam-diam. 'Katanya' itu hanya tinggal cerita, karena nyatanya... masih ada nama yang disembunyikan di balik doanya.
Aku belajar lagi satu hal: cinta yang benar tak pernah berdiri di atas kebohongan.
Dan dari semua yang pernah datang dan pergi, aku tahu satu hal penting: hatiku bukan tempat singgah. Ia adalah rumah yang pantas dihuni oleh seseorang yang tahu caranya pulang dengan benar.
Untuk kamu yang juga sedang belajar untuk sembuh, peluk dirimu erat-erat. Kamu tidak sendiri. Dan untukmu yang pernah tersakiti oleh "katanya", ingat ini: kamu layak dicintai tanpa rahasia.
Mengenalmu adalah jatuh cinta yang benar-benar jatuh, hingga akhirnya hatiku tersungkur ke lembah kerinduan yang dibaluti sepi.
Pada dasarnya, menyukai tak harus memiliki. Biarkan alam bekerja tanpa memaksakan kehendakmu pada Tuhan.