Surat balasan atas pertanyaan “Bagaimana caramu melupakannya, bukannya kamu sangat menyayanginya?”
Aku belum melupakannya, dan aku tak tau cara melupakannya. Pun hatiku secara jujur tak ingin melupakannya.
Jadi, bagaimana caraku melupakannya? aku bahkan tidak pernah mencoba melupakannya. Aku masih seringkali memutar kenangan ketika dulu kita bersama. Lalu tertawa sendiri seperti orang gila.
Aku sangat menyayanginya, mungkin. Bagaimana aku berjalan jauh dan ujungnya kembali kepadanya, itu kisah lama yang memang benar adanya.
Kau tau, kemarin lusa dia memintaku kembali, dia bilang merindukanku, dia bilang ingin membuat cerita baru denganku.
Apa aku benar-benar menyayanginya? Karena hari itu aku tak bahagia mendengar semua ucapannya. Aku tak ingin kembali, sekalipun aku masih ingin peduli.
Lalu pertanyaan berikutnya “Secepat itu kau menggantinya dengan yang baru?”
Tidak ada yang menggantikan dan tergantikan. Semua yang pernah hadir di hidupku memiliki posisinya masing-masing. Dia dulu memang pernah menjadi alasan bahagiaku tapi sekarang masa itu telah berlalu, tak perlu diungkit-ungkit. Dia dulu memang pernah menyakitiku hingga aku kesulitan untuk percaya pada orang lain, tapi masa itu telah berlalu, tak perlu dibahas lagi. Tak ada yang digantikan. Dia masih ada dalam hatiku sebagai masa lalu, sebagai suatu kenangan, sebagai sesuatu yang tak perlu lagi diprioritaskan.
Pertanyaan terakhir “Seandainya orang baru itu lebih menyakitkan, kamu bakal kembali sama dia?
Seandainya aku lebih merasa sakit ketika dia ku yang sekarang menyakitiku, aku bersyukur. Setidaknya itu membuktikan aku lebih menyayanginya daripada masa laluku.
Aku tak ingin kembali. Kita telah hancur, dan tak akan pernah menjadi satu kesatuan yang utuh dan penuh sekali lagi, tidak mungkin. Dan lagi, aku bukan pilihan yang terakhir. Ketika lelah mencari yang sempurna dia kembali, mengaku menyesal. Jawabannya tidak. Aku memberinya kesempatan untuk memilihku dan dia tak bisa memilih, dia ragu, dia ingin meyakinkan dirinya. Tapi kenyataannya dia hanya tak bisa menemukan gadis yang lebih bodoh dariku dalam hal menyayanginya, lantas dia kembali. Apa aku pantas diperlakukan seperti itu?
Karena, semakin aku dilukai aku semakin meninggikan hargaku.
Dan, kuberi tau kamu beberapa hal. Ketika aku menerima untuk menciptakan suatu hubungan itu artinya aku telah siap mengesampingkan semua kisah masa laluku dan masa lalunya. Seandainya aku jatuh cinta dengannya dan menjadi bodoh, itu jauh lebih baik daripada aku jatuh cinta dengan masa laluku dan terus bodoh.
Jatuh cinta itu pakai logika, tapi mengikhlaskan masa lalu jauh lebih membutuhkannya.
Jadi seandainya aku jatuh cinta dengan bodoh, maklumi aku. Karena logikaku sedang bekerja mengikhlaskan masa laluku :)
Saudara tak sedarahmu,
Aku.