“Kamu tuh udah umur segini, udah bukan saatnya lagi main-main. Perempuan tuh punya batas waktu. Udah riskan kalau kamu melahirkan di atas umur 35. Lagian kalau masalahnya rezeki, itu mah pasti ngikutin, pasti ada aja rezekinya, jangan diragukan kuasa Tuhan. Kalau dia emang gak serius, ngapain dipertahanin? Tinggalin! Kenapa kamu nunggu sesuatu yang nggak pasti?!”
Kegiatan ngopi-ngopi selepas bangun tidur mestinya santai dan menyenangkan. Moodku seharian akan tergantung bagaimana situasi saat ngopi-ngopi pagi. Kalimat panjang yang disampaikan dengan nada tinggi dan volume keras itu membuatku yakin moodku akan rusak seharian. Seminggu ke depan, bahkan.
Banyak argumen berseliweran di kepalaku: Batas waktu?! wtf. Tidakkah semua orang emang punya batas waktu, tapi apakah itu akan jadi alasan yang tepat untuk menikah? Umur. Berapa banyak yang menikah muda, tapi belum dikaruniai anak?! Tidakkah akan sangat jahat menjadikan itu sebagai standar kebahagiaan? Apa itu jadi alasan yang tepat untuk menikah? Ingin punya anak. Orang tua mestinya bangga sama anak-anaknya yang nikah muda dan punya anak di usia muda. Jika dua hal itu yang utama, married by accident jadi terdengar masuk akal kan? Oh, rezeki pasti ngikutin? Diketawain tuh sama jumlah orang yang cerai karena alasan ekonomi.
Aku marah. Sangat marah. Yang keluar dari mulutku cuma, “Apa itu bisa jamin kebahagiaaan aku?!”
“Iya!” katanya, tegas. Kehabisan argumen.
“Oh wow, situ Tuhan?!” tutupku. Muak, aku walk out.
But, what if she’s right?
Suatu waktu, dalam perjalananku pulang, di angkot Cimahi-Ledeng, lima tahun sebelum dialog yang jadi pembuka tulisan ini, aku ngobrol dengan laki-laki yang sekarang jadi pacarku. Topiknya adalah alasan mengapa seseorang memutuskan untuk pacaran. Dia bilang, pacaran adalah proses untuk ke jenjang yang lebih serius. Mungkin sambil belajar tanggung jawab, aku menambahkan. Dia bilang, kita selalu punya pilihan soal siapa yang kelak jadi pasangan kita. Oh, jadi jodoh itu kita yang pilih? aku bertanya.
Beda hal, katanya.
Kebanyakan, perempuan menikah sama laki-laki bukan karena alasan cinta, tapi karena realistis aja. Laki-laki yang berakhir jadi suami mereka bukan orang yang bener-bener mereka jatuh cintai. Laki-laki juga gitu, alasan menikahnya karena udah waktunya ingin menikah aja, trus cari perempuan yang wife material. Cinta jadi nomor dua. Aku pengennya sebelum aku siap nikah udah punya pasangan yang sama-sama bakal mikir ke jenjang itu, katanya.
Kami sepakat.
Yang tidak terkatakan dan kuyakin kami sepakati juga: ingin bisa saja berakhir hanya sebagai keinginan.
Bagaimana jika, setelah segala perdebatan di kepala tentang bagaimana idealnya hidup, bagaimana kita berusaha menjalani hidup seperti yang kita mau, ternyata menjadi seseorang yang realistis adalah keputusan yang sebetulnya paling tepat?
Aku yakin, setiap orang punya momen dalam hidup ini ketika orang tua kita berusaha mengenalkan kita sama anak dari tante kerabatnya om yang adalah adik tiri sepupu jauh mama atau papa. Lalu kita berpikir, oh, please, kita bukan Siti Nurbaya! Perjodohan adalah pengekangan atas kebebasan berpendapat, pemaksaan sepihak. Lalu mereka menasihati bahwa cinta bisa dipelajari. Bahwa di atas segalanya yang paling utama adalah tanggung jawab (baca: kaya raya). Bahwa sebagai perempuan, kita sebaiknya memilih seseorang yang cinta kita, dibandingkan yang kita cintai.
Perjodohan itu tak pernah terjadi, bagi sebagian orang yang merasa dirinya beruntung. Tapi andai itu terjadi, kepala skeptis yang luar biasa idealis ini berimajinasi bahwa yang akan kutemui adalah tampilan yang tidak menyenangkan, lalu terjadi percakapan membosankan, kencan yang mengerikan, lalu berakhir dengan dia yang ingin mengobrol lebih lanjut dan kita yang mencari alasan-alasan untuk mengabaikan. Tapi bagaimana jika ternyata seseorang yang datang lewat pintu perjodohan itu menyenangkan, bagaimana jika ternyata ia lucu, berpenampilan lumayan, dan punya banyak hal menarik untuk diceritakan, bagaimana jika ternyata cinta benar bisa dipelajari, bagaimana jika ternyata jatuh cinta tidak sesulit yang kita bayangkan (apalagi kalau dia kaya raya hingga kita tak perlu mengandalkan voucher gratis ongkir untuk belanja di e-commerce)?
Bagaimana jika ternyata cinta memang nggak sepenting yang kita kira?
1 Juni 2021, @nawangrizky
Aku tidak menyesali apa pun yang kumiliki saat ini. Aku masih berkeyakinan bahwa aku mengambil keputusan yang tepat. Keputusan-keputusan itulah yang membawaku pada segalaku yang sekarang. Aku masih berkeinginan untuk menikah dengan seseorang yang kucintai dan mencintaiku sama besarnya. Aku bahkan pernah berdoa, aku ingin bertemu orang yang Kau takdirkan buatku sejak sekarang, bagaimanapun keadaannya, aku ingin mengenalnya dan tumbuh bersamanya. Aku masih berpikir jika inginku terkabul, hal-hal lain, bahkan yang pahit sekalipun, akan lebih mudah kuterima. Aku tak keberatan mengandalkan voucher gratis ongkir untuk belanja online jika paketnya nanti datang ke tempat tinggalku bersama seseorang yang betul-betul kucintai tanpa terpaksa.
But, what if she’s right?
What if at the end of the day, I’m thinking, damn it, she’s right.
Wahai saudara ku.. Wahai sahabat ku.. Wahai kakak ku.. Wahai adik ku.. Wahai teman ku.. Wahai sejabat ku.. Menikah bukanlah perkara karena telah banyak orang yang menyinggung mu.. Bukan lah perkara usia mu yg telah lanjut.. Bukan lah perkara membahagiakan orang tua.. Bukan lah perkara malu terhadap orang lain.. Bukan lah perkara keinginan orang lain.. Melainkan adalah niatan dalam dirimu yang memang sudah matang.. Melainkan adalah tujuan dirimu untuk mempersunting anak orang lain.. Melainkan untuk mempersatukan dua insan yang memiliki niat, tujuan, visi dan miso kedepan yang beriringan.. Melainkan menerima kekurangan dan kelebihan orang yang akan di persunting.. Dan ingat lah.. Pernikahan bukan ajang agar orang lain memandang mu lebih.. Pernikahan bukan lah sebuah permainan.. Pernikahan adalah sesuatu yang serius dan difikirkan secara matang.. Pernikahan adalah untuk beribadah.. Dan bukan pula ajang mencari rejeki.. Bila memang sudah ada niatan segerakanlah.. Bila memang sudah ad di depan mata jangan siakanlah.. Bila memang itu caranya jalankan lah.. Ini adalah soal keihklasan hati.. Bukan ajang ceunah but feel it.. #capruk #anything #penikmatrasasakit #keeprocking
Ketika ku lihat lembayung mensenjakan hari itu ku teringat hingar bingar selimuti perasaan— perasaan yang terfermentasikan keadaan.
Secara diam-diam aku menyimpulkan bahkan memparafrasekan setiap kicauan burung gereja— bahkan kutilang. Ketika mereka mensyukuri perkara lembayung.
Mereka, selalu menyejukan dengan nada yang standar tapi tak kuasa ku tiru. Seolah membuat iri—mereka cerdas membuat seorang dengan kantung mata tebal berfikir bijak dengan kenyataan yang menderanya.
Mereka adalah instrument yang kekal dalam keganjilan—petang menuju malam. Seolah tanpa padam, bersuara lantang dan tak aral.
Mereka terlihat bahagia dengan polusi yang telah menjadi kota megapolitan di tubuhnya. Tubuh kecil itu menampung sedikit kebahagiaan dengan bermilyar partikel polusi. Tapi, tak tampaknya dia berkeluh kesah.
Mereka bahkan berevolusi menjadi phoenix yang menyembuhkan diri mereka dengan bersua—juga bersuara.
Mereka adalah guru tanpa gelar sarjana yang selalu taat mengajar. “ketika senja menjelang dan malam datang perlahan, kau harus senantiasa bahagia dengan kenyataan.” burung gereja dan kutilang.
Waktu aku beranjak dewasa, kalimat “musuh terbesar seseorang adalah dirinya sendiri” membuatku selalu berdoa aku ingin kenal dengan musuhku dulu. Lalu Tuhan memberi konflik panjang dan kurasa aku sudah cukup mengenalnya: bagaimana aku menghadapi masa remaja, drama keluarga, ekonomi yang tak punya, patah hati, drama pertemanan, circle-circle toxic. Been there done that. Tapi yang baru kusadari, aku gak pernah bermasalah dengan kesehatan.
Then covid-19 happens.
Udah setahun lebih pandemi covid-19 ini ada. Dan selama itu juga kita berusaha beradaptasi sama berbagai keadaan: ya stay at home, ya work from home, ya ekonomi drop, ya panic buying beli segala macem perlengkapan yang sebelumnya nggak dirasa perlu, masker, vitamin, hand sanitizer. dan berbagai emosi: ya takut, ya sedih, ya marah, ya kecewa.
Aku nggak bisa lupa bagaimana perasaan khawatirku waktu sadar kalo Dito masih harus berjibaku sama pasien, rumah sakit, dan alat-alat perang macem APD dan masker karena bagian dari JQR yang juga bagian dari satgas covid-19. Dia pernah bilang suatu hari bahwa kita akan perlu bersabar karena kita mungkin nggak akan ketemu untuk beberapa waktu, dia takut malah bawa penyakit untukku. Sejak itu aku nggak pernah lupa berdoa supaya Tuhan ngejaga dia dan orang-orang yang di sekitarnya.
Sahabatku, Meta, akhir tahun lalu memutuskan buat pulang ke Jawa setelah sekian lama lock down dan gak pulang kampung. Pada sebuah hari, dia pergi ke pasar sama ibunya, lalu katanya, ibunya tiba-tiba merasa pusing, ngedrop, lalu dibawa ke rumah sakit. She’s got covid. Beberapa hari di rumah sakit, ibunya meninggal dunia. Al fatihah. Meta, yang waktu itu nungguin ibunya di rumah sakit, ternyata terpapar covid juga. She spends weeks in hospital, struggling with grief, sadness, loneliness, and oxygen saturation.
Meta yang bikin aku nulis goal baru: aku pengen sehat.
Thank god, she’s fine now. Udah balik ke Bandung, suka aku teriakin kalo maskernya ditinggal karena doi mau comot-comot makanan.
Lalu Bapak ibu positif covid.
*take a deep breath*
Kemarin-kemarin ini ada siswaku yang ngadu bahwa ada teman mereka yang covid dan memaksakan diri, yang menurut mereka, adalah alasan kenapa ia dan kawannya postif juga. Screenshot percakapan mereka berisi kata-kata kasar dan variasi umpatan. Mereka marah. Dan aku paham kemarahan itu. Di saat yang sama kawanku cerita kalau sepupunya juga bergejala covid tapi nggak periksa. Sepupunya itu punya asma dan magg yang lumayan parah. Waktu akhirnya periksa dan ternyata positif, kawanku kesal karena sepupunya memutuskan isoman, padahal menurut kawanku, ia seharusnya ke rumah sakit agar dapat perawatan yang mumpuni. Dan aku paham kekesalan itu.
Ibu sempet nggak bisa nyium bau, padahal ibu adalah pengendus profesional. Aku nggak hiperbola, gaes. Ibu bisa nyium bau ee kucing di ruang tamu padahal ibu di teras lantai dua. Gitu, dan kalian bayangin aja perasaanku waktu ibu bilang, “ibu nggak kebauan ee kucing, Ki.” sambil setengah bisik-bisik di balik masker karena beliau nggak mau buka mulut lebar-lebar karena takut akan membahayakan aku. Aku punya kekesalan dan kemarahan yang sama waktu Bapak Ibu bergejala. Di saat yang sama, ada takut, khawatir, sedih, why this, why that, what if this, what if that.
Tapi aku memutuskan untuk nggak fokus ke perasaan itu.
Ini hari kedua kami isolasi mandiri. Aku bersyukur karena Bapak udah gak demam dan ibu udah nyanyi-nyanyi dan ketawa-ketawa lagi. Kemarin ibu ngangetin ayam kecap dan gosong, dan ibu dengan gembira bilang kalau ibu udah bisa nyium bau gosong. Mereka udah duduk berdua nonton Youtube di tengah meskipun Bapak masih lemes. Aku bersyukur Mbak Tia aman dan baik-baik aja di Jakarta, aku dan Rian yang serumah sama ibu bapak juga baik-baik aja, kami baru mau antigen nanti siang.
Wulan, adiknya Dito, juga beberapa hari ini punya gejala yang sama kayak ibu. Katanya sekarang juga udah baikan, alhamdulillah. Nanti siang Dito dan keluarganya juga baru mau dites. Kayaknya juga akan berlanjut isolasi mandiri. Me and Dito are in the same page to handle this situation, kami sharing film-film yang bisa ditonton, jadi tempat curhat satu sama lain, masih sayang-sayangan dan saling mendoakan.
And it’s fine, we have each other and we have all the support we need.
18 Juni 2021, @nawangrizky
Segala kesal, marah, panik, bingung, sedih itu adalah perasaan yang wajar, paham. Tapi aku percaya itu nggak bisa menyelesaikan masalah, cuma ngurang-ngurangin imun doang aja. Hehe. Semangat ya kalian semua yang lagi pada isoman, semangat juga buat kalian yang masih mesti berjuang keluar dan kuat-kuatan imun sama covid yang makin banyak aja. Aku doain semoga kita semua sehat-sehat aja, semua orang yang kita sayang juga sehat dan baik-baik aja.
Saya punya alergi dingin sejak dulu. Dingin sedikit, bentol-bentol. Kata ibu, ini penyakit turunan, nenek dan tante saya punya keluhan yang sama. Ibu bilang, saya kurang kalek, harus banyak makan peyeum biar alergi dingin itu hilang. Tapi alergi itu tak pernah hilang. Kayu putih dan jaket sudah jadi sahabat saya sejak saya belum punya teman.
Itu sebabnya saya tak suka AC atau kipas angin.
Itu sebabnya hampir tiap hari saya mandi pakai air hangat.
Itu sebabnya saya tak suka berenang.
Itu sebabnya saya suka hangat tangan kamu.
Saya beranjak dewasa, makin gendut (saya pikir salah satu alasan saya alergi itu juga karena saya kurus banget dulu, jadi nggak ada lemak yang bisa dibakar sama sekali kalo saya kedinginan), setiap hari ngajar di kelas yang ber-AC sehingga sudah sangat terbiasa dengan suhu 17 derajat (dan sekarang punya kamu yang bisa dipinjemin jaketnya atau digenggam tangannya!), bentol-bentol karena alergi dingin itu sudah jarang sekali muncul. Hanya sesekali saja, saat hujan terus-terusan dan saya lupa bawa jaket.
Saya masih mandi pakai air hangat dan saya masih tak suka berenang.
Awalnya saya berpikir, ketidaksukaan saya dengan air dingin muncul karena saya alergi. Namun ternyata enggak. Ada saatnya saya buru-buru dan enggak sempat manasin air jadi terpaksa mandi gebyar-gebyur pakai air dingin, dan enggak ada bentol satu pun, atau kalaupun ada, saya enggak apa-apa. Saya menyadari, bukan setitik-dua titik bentol itu yang bikin saya males mandi pakai air dingin, tapi saat mandi pakai air dingin, saya suka tahan napas. Eungap. Itu juga yang terjadi kalau saya berenang, nyelup sedada aja langsung sesak. Nggak lancar napasnya. Saya enggak tahu orang lain begitu juga atau enggak, tapi saya selalu gitu. Berkali-kali saya mengingatkan diri saya sendiri untuk mengatur napas, tapi enggak bisa. Susah.
Kakak saya bilang, saya trauma.
Kami dibesarkan dengan keyakinan bahwa dikerem di kamar mandi atau di-gerujuki air dingin adalah hukuman kalau kami nakal. Barangkali ada benarnya, air dingin, bagi saya, adalah sebuah hukuman. Air dingin mengingatkan saya pada kamar kecil yang dikunci dari luar atau pada ibu yang marah-marah menyeret saya ke kamar mandi lalu tanpa aba-aba membanjur saya dengan air dingin.
Ibu bilang, ibu enggak mau menghukum kami dengan mencubit atau menyakiti kami secara fisik, verbal juga enggak, lagian mandi air dingin kan bagus buat badan. Ngunci kami di kamar mandi sebetulnya semacam time out, tapi rumah kami enggak punya ruangan berpintu yang bisa dikunci (nggak boleh ada yang mengunci diri, jadi pintunya cuma gorden atau pintu koboi—ini pun tampaknya adalah oleh-oleh dari trauma yang Bapak bawa), selain kamar mandi. Parenthood sucks ya, mam?
Saya ingin bisa berteriak "the cold never bother me anyway!" kayak Elsa, tapi belum bisa.
The cold always bother me.
*
Kita, manusia, pasti punya ketakutan-ketakutan semacam itu.
"Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Beberapa ahli psikologi juga telah menyebutkan bahwa takut adalah salah satu dari emosi dasar, selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan." (diambil dari: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ketakutan)
Ada yang bilang, secara naluri, manusia takut sama gelap dan suara keras. Tapi saya punya kawan yang ketakutannya aneh, ada yang takut cicak, takut karet gelang, ada yang takut balon, bahkan takut nasi. Adik laki-laki saya paling takut kecoak terbang, sementara ibu takut ketinggian.
Yah, memiliki ketakutan membuat kita tetap manusia.
Meski semua orang punya ketakutan, bagaimana cara setiap orang menunjukan ketakutan itu beda-beda. Beberapa orang akan menangis saat dihadapkan dengan ketakutan, yang lain barangkali sembunyi dari ketakutan itu, yang lain lagi akan pura-pura tegar, sementara yang lain akan cenderung marah. Respon orang terhadap ketakutan itu juga beda-beda tergantung latar belakang dan situasinya.
Suatu hari saya tindihan dan saya tidak habis-habis membaca ayat kursi, keringat dingin, ketakutan setengah mati, di lain hari saya tindihan dan kesal, saya capek dan ngantuk, bukannya baca ayat kursi, saya misuh-misuh dalam hati. Dan ternyata, it easier. Ibu saya takut ketinggian, tapi kalau anak-anaknya takut jalan di jembatan penyeberangan, ibu akan melawan ketakutannya demi kita, sok tegar bilang, "Enggak, ini tuh aman. Gak apa-apa," padahal sendirinya takut.
Ketakutan dapat diperangi dengan kekuatan, dan kekuatan kadang hadir karena kita terpaksa dan tak punya pilihan lain selain menghadapinya. Pada akhirnya, kita akan dihadapkannya dengan ketakutan itu, sendirian.
15 November 2020, @nawangrizky
(sudah ditulis sejak lama, entah kenapa ingin dipost sekarang)
Dan tahap pertama untuk menghadapinya adalah dengan tidak menutup mata, tetapi mengakuinya.
Kamu tu bucin banget. Makin bucin malah belakangan ini.
Kalo lagi ngomongin pacar kamu, kamu tu kelihatannya cinta mati banget. Love death.
Lagi jatuh cinta kali ya. Kan kalo lagi jatuh cinta emang suka gitu sih, ada masanya.
Di IG suka keliatan hidupnya tu bahagiaaaaaa banget, cinta-cintaaan mulu. Pencitraan.
Biasanya kan, yang paling suka pamer kebahagiaan tu yang paling gak bahagia.
*
I was laughing.
Komentar gini tu nggak sekali dua kali sebenernya, nggak aneh juga, dan aku nggak keberatan juga. Bucin is my middle name, and I’m proud of it. Alay dari sananya, sok romantis dari sananya. Dan kebetulan pacar aku (kayanya sih) bahagia aja dijadiin konten hamba yang emang bucin dari sananya. Dia mah seneng-seneng aja digombalin gitu. Jadi kalo kesannya aku bucin, emang. Kalo keliatannya kami bahagia, emang. Kalo kesannya cinta mati, at the time, emang.
Jadi pernyataan itu nggak butuh tanggapan lain selain ketawa aja.
4 Juni 2020, @nawangrizky
Aku cuma menulis hal-hal yang ingin kusimpan sebagaimana hal-hal itu ingin kusimpan. Maksudnya, kebahagiaan aku seringnya eksplisit karena demikianlah aku ingin menyimpannya. Kesedihanku seringnya implisit karena demikianlah aku ingin menyimpannya.
Kenapa yang di-share yang cinta-cintaannya doang? kata siapa~~
Perempuan itu menekuri layar laptopnya yang kosong. Kursor berkedip-kedip menunggu keyboard ditekan, tapi perempuan itu tak melakukan apa-apa. Tangan kirinya menopang dagu, tangan kanannya hanya berputar-putar mengusap-usap huruf-huruf di keyboard, tak tahu mau menulis apa. Kepalanya banyak sampah.
Matanya sesekali melirik telepon genggam yang berdiri di samping cangkir kopi. Telepon genggam itu masih hangat, habis ia gunakan menonton drama korea tiga episode. Campuran antara menikmati pemandangan oppa-oppa, adegan-adegan gemes bikin kangen pacar, dan nangis-nangis. Selain kepalanya, dadanya sekarang juga banyak sampah.
Memelototi telepon genggam berlayar gelap itu beberapa detik lalu ia tersadar, sebetulnya apa yang ia tunggu?
Pacarnya sedang sangat sibuk, ia tahu.
Biasanya juga, kirim-kiriman pesan hanya bisa dilakukan setelah pukul sembilan malam, itu pun hanya ucapan aku tidur duluan, selamat tidur, lalu dijawab iyah, mimpi indah. Sebegitu templatenya hingga perempuan itu hafal jumlah huruf a dan h pada iyah-nya tergantung dari tingkat kesibukan si pacar. Tapi semalam tidak, hampir pukul sebelas malam, perempuan itu bertanya apa pacarnya belum beres kerja, karena sejak tadi tak ada kabarnya. Sapaannya dijawab tak lama, “aku lagi ikut diskusi zoom” dan sebuah link undangan. Oh, perempuan itu membatin.
Gigi perempuan itu sedang tumbuh dan bergerak lagi. Ia sakit kepala sejak sore, sudah digosok kayu putih dan hot cream, sekarang perempuan itu sedang terbaring dengan sweater, selimut, dan kaos kaki. Ia tak ingin terlibat diskusi atau debat apa pun, ia ingin dipeluk.
“Aku mau tidur aja, sakit kepala.”
“Iyah,” jawabnya.
Perempuan itu tahu ia tak perlu kesal, tak pantas kesal. Pacarnya tak salah apa-apa, lelaki itu memang tak punya tanggung jawab atas perasaan-perasaan ini. Atau atas kekangenan dan kebaperannya akibat drama korea yang sedang ditontonnya. Atau atas sakit gigi dan sakit kepalanya. Perempuan itu bahkan yakin pesannya barusan dijawab via pop up message saja karena jika keluar, dan berlama-lama menanggapi pacarnya yang sedang manja, lelaki itu bisa saja ketinggalan diskusi yang sedang seru.
Negara butuh pemuda-pemuda yang fokus diskusi tentang peliknya Indonesia saat ini. Diskusi tentang korona dan kebijakan pemerintah Indonesia tentu lebih penting dibanding pacarnya yang sedang sakit kepala.
Tak menjawab apa-apa lagi, perempuan itu membawa sakit gigi, sakit kepala, dan iyah pacarnya ke dalam mimpi.
*
Saat bangun tadi pagi, perempuan itu langsung dihadapkan dengan timbunan pekerjaan. Sibuk seharian, sampai malam tiba. Saat malam sudah gelap, dan tak ada lagi kegiatan, perempuan itu merekap berapa banyak komunikasi dengan pacarnya hari ini. Siang tadi, saat pacarnya update foto ibunya dan perempuan itu bertanya apa hari ini ulang tahun ibunya, pacarnya cuma jawab iyah. Perempuan itu mengirim pesan pribadi ucapan selamat ulang tahun dan doa-doa pada ibunya, memajang foto ibu dan pacarnya beserta ucapan selamat, dan sudah.
Jika diingat-ingat, ia melalui hari ini tanpa menyimpan kesal tadi malam. Ia baik-baik saja, masih menyimpan tanda hati di samping nama pacarnya. Masih cinta sepenuh-penuhnya.
Tapi ia ragu pacarnya juga begitu.
Buktinya sampai detik ini saja, pukul setengah sebelas malam, tak ada pesan apa pun masuk ke telepon genggamnya. Pacarnya tak mengabarinya apa-apa. Telepon genggamnya haus perhatian seharian. Perempuan itu mengulurkan tangan, membuka kunci telepon genggam dan kotak pesan. Di bawah nama pacarnya, ada tulisan online yang hilang timbul. Lelaki itu mungkin sedang bekerja. Perempuan itu sudah hendak mengetik, menyapa dan menanyakan kabarnya duluan, tapi perempuan itu mengurungkan niat.
Laki-laki itu pasti sibuk.
Jika pacarnya sudah santai, ia tentu akan mengiriminya pesan.
Malam ini, perempuan itu memutuskan untuk menunggu.
12 April 2020, @nawangrizky
Perempuan itu mulai mengetik, ia ingin cerita mimpinya semalam saat ia sakit gigi dan sakit kepala, dan pacarnya sedang sibuk diskusi soal negara.
Semalam aku bermimpi,
Aku tidur dan kau memelukku.
Yang kutahu, aku tak ingin bangun, tak ingin beranjak, tak ingin memperbaiki posisi saat itu. Aku merasa aman, merasa cukup, merasa sedang berada di tempat yang seharusnya.
Lelaki itu memandangi gulungan asap di depannya. Tiga puluh tusuk sate ayam langsung terbaring di panggangan sesaat setelah ia memesan. Sudah pukul 21.35, tak banyak orang lagi di tempat ini. Lelaki itu mengambil vapornya, mengisap, dan mengembuskannya panjang, menambah populasi asap-asap di hadapannya. Rasanya kepalanya penat banyak sampah.
Lelaki itu melirik telepon genggamnya, lampu LED notifikasinya menyala tak habis-habis. Dalam hitungan menit, detik bahkan, pasti ada pesan yang masuk ke telepon genggamnya. Koordinasi jarak jauh seperti ini memang cuma menghabiskan memori HP. Notifikasinya berjejalan, telepon genggamnya dibanjiri pekerjaan. Andai ia bisa mengabaikannya sesaat saja, ia akan sangat senang, tapi tak bisa, banyak orang menunggu jawaban pesannya. Sebegitu sibuknya, hingga ia bahkan tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Rasanya dadanya sesak banyak sampah.
Memelototi telepon genggam yang menyala-nyala itu beberapa detik lalu ia tersadar, sebetulnya apa yang ia cari?
Ia sedang sangat sibuk, semua orang tahu.
Menjadi bagian dari pusat segala informasi tentang pandemi ini membuatnya tak kehabisan pekerjaan. Kemarin saja, ia membantu koordinasi pemulasaraan pasien PDP dua kali, sambil berkoordinasi dengan penyumbang masker dan melaporkan pendistribusiannya, sambil berkoordinasi dengan organisasi lain soal bantuan ke kota-kota lain, belum kabar tentang banjir dan bencana alam lainnya. Kerumitan-kerumitan itu membuatnya punya waktu tak tentu, kadang pagi, kadang malam sekali.
Setiap hari ia bahkan cuma bisa meluangkan waktu setelah pukul sembilan malam untuk pacarnya sendiri. Itu pun hanya sepatah kamu lagi apa dari perempuan itu yang kemudian dijawabnya dengan forward-an pesan-pesan yang berjejalan di telepon genggamnya, yang biasanya dibalas lagi dengan doa-doa dari pacarnya. Baginya, kadang doa-doa itu cukup menghibur, membuatnya bernapas sesaat, membuatnya ingat di antara tumpukan-tumpukan pekerjaan ini, ia tetap manusia biasa.
Makanya kemarin malam, ketika teman-temannya bilang akan mengadakan diskusi via zoom saat pekerjaannya sudah selesai, ia menyambutnya senang hati. Akhirnya ia punya waktu untuk eksistensi dirinya sendiri. Diskusinya berjalan seru sampai tersela pesan dari pacarnya, “kerjanya belum beres?” tanyanya. Pesan itu segera dijawab bersama link undangan agar perempuan itu ikut diskusi juga. Memuaskan hasrat eksistensi sekaligus melepas rindu pada kawan-kawan dan pacarnya terdengar sempurna.
“Aku mau tidur aja, sakit kepala,” katanya.
Oh, lelaki itu membatin.
Tentu, perempuan itu tak bisa disalahkan atas pekerjaan yang menumpuk dan kesibukan yang membuat waktunya sangat sedikit ini. Ia juga tak bisa memaksa perempuan itu untuk mengerti keinginannya untuk berdiskusi dan melepas rindu pada kawan-kawannya. Perempuan itu juga tak perlu tahu seberapa ia juga merindukan pacarnya itu. Kasihan, perempuan itu sedang sakit kepala, tak perlu lah dijejali harapan dan inginnya.
“Iyah,” ia menjawab pesannya tadi.
Singkat. Seperlunya.
*
Satenya baru saja dibalik saat telepon genggamnya berdenting kedatangan pesan, dia melihat nama si pengirim pesan. Pacarnya. Dengan pesan berisi sepatah panggilan sayang. Perempuan itu biasanya begitu saat ia mengirim pesan dalam keadaan mengantuk, setengah sadar, atau ketika terbangun tengah malam dan aku belum mengabarinya apa-apa. Ia menjawab pesan itu dengan sepatah kata iyah. Refleks. Lelaki itu baru menyadari ini sudah hampir pukul 11 malam dan perempuan itu belum menanyakan kabarnya.
Siang tadi perempuan itu sempat mengomentari foto yang dipasangnya untuk ulang tahun ibunya. Tak lama, perempuan itu memasang foto dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk mama. Foto itu tak ia komentari karena baginya, lebih baik pacarnya mengucapkan selamat ulang tahun dan mendoakan mama langsung saja, toh mama tak akan melihat postingan instagramnya itu.
Lelaki itu menunggu beberapa menit, tapi perempuan itu tak mengiriminya pesan balasan lagi.
Lelaki itu menambahkan penjelasan bahwa ia sedang di jalan menuju rumah, ini sedang mampir sebentar beli sate, tadi habis bekerja bagi-bagi nasi. Perempuan itu perlu tahu ia bekerja keras hari ini. Biasanya penjelasan itu cukup agar perempuan itu membalas dengan doanya dan pesan agar ia hati-hati di jalan. Tapi tidak, perempuan itu malah membalas, “Ohh. Iya atuh.”
Lelaki itu menambahkan informasi bahwa ia juga bekerja membantu koordinasi pemakaman seseorang yang meninggal kena serangan jantung. Ia mengirimi rincian tugasnya dan foto-foto laporan. Biasanya perempuan itu membalas dengan ucapan bela sungkawa dan mengapresiasi kerja kerasnya. Tapi tidak, perempuan itu malah membalas, “Ohh. Aku khawatir aja kamu gak ada kabar.”
Sate ayamnya sudah jadi. Lelaki itu membayar dan bersiap ke motornya lagi saat pesan balasan dari perempuan itu datang.
“Iyah,” jawab perempuan itu.
Singkat. Seperlunya.
12 April 2020, @nawangrizky
Sesampainya di rumah ibunya menyambut, ternyata belum tidur karena menunggunya. Ibunya kemudian menemaninya late dinner dengan sate ayam dan nasi panas. Ibunya lalu bercerita, pacarnya tadi mengirimi mama pesan, mengucapkan selamat ulang tahun, panjang lebar doa-doanya, dan ucapan semoga doa mama terkabul semua.
“Mama bilang, mama ingin anak-anak mama segera berumah tangga, sakinah mawadah warrahmah sama pasangannya, saling sayang dalam suka dan duka.”
“Dia jawab aamiin huruf besar semua,” mamanya tertawa.