Ada Banyak Bentuk Terlambat, Salah Satunya Terlambat Menyatakan Perasaan
Ada banyak momen terlambat yang silih-berganti kita rasakan, kadang menjengkelkan, menyebalkan, bahkan menyesakkan. Walaupun di satu sisi tentu ada banyak kesepakatan bahwa melambat bukanlah suatu hal yang tabu dalam kehidupan, tapi, seringkali terlambat menjadi momok menakutkan bagi siapapun yang bertaruh dengan waktu, janji, dan upaya.
Terlambat bangun subuh, tentu sangat membuat hati dilema. Apalagi bagi mereka yang susah dibangunin dan pelor/kebo tidurnya.
Terlambat makan, akan sangat menderita bagi yang memiliki maag, dan asam lambung.
Terlambat janjian, yang harusnya janji temu jam 09.30 ternyata baru bisa ditemui di jam 11.00, tentu akan membuat momen bertemu menjadi canggung karena keterlambatannya. Belum lagi jika baru pertama kali bertemu, awkwardnya akan semakin parah karena pertemuan pertama yang meninggalkan kesan buruk setelahnya,
dan berbagai jenis terlambat lainnya yang tentu banyak tidak enaknya juga menyesakkan rasanya.
Salah satu bentuk terlambat yang paling menyesakkan adalah terlambat dalam urusan perasaan, terlambat menyatakan perasaan. Terlambat menyatakan perasaan lebih akan terasa perih jadinya jika dia yang kita suka, ternyata sudah bersama dengan yang lainnya.
Langkah-langkah yang dulunya sejajar, saling beriringan, kini semakin jauh untuk dikejar, bahkan, sudah ada yang dengan beraninya menyamakan langkahnya, menyejajarkannya. Di sisi lain, kita masih belum sadar merasakan keterlambatannya. Masih merasa bahwa langkahnya masih sejajar, tanpa tahu jaraknya sudah jauh untuk dikejar. Masih melihat bahwa yang dicinta dapat tergapai dengan usaha-usaha yang telah dipikirkan matang untuk disegerakan dalam beberapa tahun ke depan. Sampai akhirnya kita tersadar, bahwa dirinya lebih cepat dari yang kita kira, lebih siap dari yang kita rasa, walau akhirnya kita menyadari bahwa ruang di hatinya tidak pernah sama sekali menghadirkan namamu dalam doanya.
Tulisan di atas menyadarkan saya akan satu momen saat kami sedang belajar pekanan di rumah guru kami. Topik bicara kami memang banyak berbicara tentang perasaan, juga persiapan untuk menata diri dan hati memasuki fase berkeluarga. Dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan, salah satu hal yang paling menyadarkan juga menyakitkan bukan hanya tentang perasaan yang tidak berbalas, melainkan tentang perasaan yang terlambat untuk diutarakan.
Di satu momen dalam forum belajar tersebut, saya bertanya tentang sesuatu, yaa walau sebenarnya saya pun juga mengerti akan seperti apa respon beliau dalam menanggapinya.
"Tadz, bolehkah dalam satu kesempatan, saat kita merasa bahwa dia adalah orangnya, kita ajak dia untuk membicarakan hal-hal untuk jenjang yang setelahnya?".
Pertanyaan tidak selesai di situ, lantas saya lanjutkan lagi,
"Tapi, tadz, dia sedang dalam proses mengenal dengan orang yang lain, bolehkah saya untuk tetap menyatakannya walaupun saya tahu dia sedang berproses mengenal yang lainnya?."
seketika jeda panjang terjadi di ruang disksui tersebut, meninggalkan banyak rasa penasaran di benak yang lainnya juga, menyisakan momen hening yang berkepanjangan, sampai akhirnya,
"Kamu sudah tahu harusnya bagaimana, le. (le panggilan dari orang tua untuk anak laki-laki) Sudah seharusnya kamu menghargai proses tersebut walau sebenarnya kesempatan itu masih terbuka. Namun, sudah seyogyanya sebagai seorang muslim kita menyadari baik-buruk yang terjadi setelahnya, apalagi jika dia juga sedang dalam fase mengenal lainnya. Jangan egois untuk dirimu sendiri, ya, nak."
Beliau kemudian bertanya,
"Dia yang ada di wishlist urutan pertama yang waktu itu pernah kamu ceritakan?".
Sambil meringis, pertanyaan itu hanya dibalas dengan anggukan saja.
Pada akhirnya, terlambat menyatakan perasaan menjadi satu hal yang menyebalkan. Walau telah berkali-kali merasakan perasaan-perasaan yang tak berbalas, namun, rasa sakit terlambat menyatakan perasaan dan mengetahui bahwa dia sudah melangkah lebih jauh dengan yang lainnya, lebih menyesakkan, bahkan menyakitkan. Bagaimanapun, doa-doa baik senantiasa teriring untuk setiap niat baiknya, setiap langkah baiknya, walau tidak bersamanya.
Pada hari pernikahannya nanti
aku akan berdiri, menjauh dari keramaian
melihat dari sudut mata, banyak senyum saling berbahagia
melihat cintaku yang menemukan cintanya
berdiri anggun, dan manis dengan elok parasnya
tidak ada kata selanjutnya,
semua sudah berakhir walau tidak sesuai rencana
lagipula, cerita ini sudah menemukan ujungnya
bahagia selamanya, sepanjang usia, walau kau tidak dengannya
ditulis di laut Sapudi, 18 Juni 2024















