Bicara (Bodoh) Dengan Para Budak Cinta : Kenapa Pada Dasarnya Beberapa Organisasi Melarang Adanya Pacaran Antar Pengurus
Prolog "Dari dulu, gue selalu terdoktrin dengan kata-kata larangan berpacaran antar pengurus di organisasi yang sama. Gue tanya kenapa? Jawabannya pun variatif. Ada yang bilang menghindari kecemburuan sosial, ada yang bilang sudah menjadi tradisi turun temurun, ada yang bilang pernah ada kejadian yang kurang mengenakkan dan menyebabkan banyak masalah bagi organisasi tersebut, dan masih banyak alasan lainnya. Hari ini saya menyampaikan sebuah opini pribadi kenapa pada akhirnya banyak laranganan mengenai pacaran dalam satu organisasi yang sama"
-
Organisasi mahasiswa seringkali disepakati bersama sebagai tempat untuk berproses, adanya proses yang baik dalam berorganisasi lantas ditandai dengan profesionalitas kepengurusan di dalamnya. Profesionalitas kerja pengurus yang bentuknya beragam ini pada akhirnya sedikit demi sedikit tergerus dengan ego dan perasaan. Ada yang capek, lantas memilih pergi meninggalkan seluruh amanah yang dititipkan kepadanya, ada yang melanggar peraturan yang bahkan sudah disepakati bersama, tak sedikit bahkan mereka-mereka yang dikatakannya sebagai petinggi organisasi mahasiswa yang membuat peraturan tersebut yang justru melanggarnya. Lucu memang dengan banyak hal unik di lingkungan berorganisasi sebagai mahasiswa.
Kenapa banyak organisasi mahasiswa melarang adanya pacaran antar pengurus di organisasi tersebut? Beberapa orang lantas menanyakan dan mempermasalahkan "Bukankah sudah menjadi rahasia umum? Apa salahnya? Malah bisa saling support bukan?". Peluang tersebut memang ada, tapi sayangnya, hingga saya mengangkat tulisan ini dan menemukan pada fakta lapangan bahwa lebih banyak orang-orang yang lantas buta karena cinta dibanding menjunjung profesionalitas dalam menjalankan perannya. Tapi bukan peluang ada atau tidaknya orang yang tetap menjunjung profesionalitasnya, melainkan ada hal yang perlu disorot bahwa perihal asmara sebaik-baiknya, seyogya-yogyanya dan sebijak-bijaknya dipertimbangkan kembali dengan matang, kawan.
Kita kembali ke sebuah statement umum di ranah bersama bahwa seluruh manusia tidak bisa mengendalikan perasaannya terhadap siapapun bahkan perasaan suka dan sayang kepada lawan jenisnya. Mencintai dan menyukai seseorang pikirku merupakan suatu hal yang sangat logis dan masuk akal. Namun, lagi-lagi kita dihadapkan dengan sebuah ego, mengedepankan perasaankah atau profesionalitas dalam menjalankan amanah? Mencintai dan menyukai seseorang adalah wajar, namun tindakan setelahnya yaitu memutuskan berpacaran dalam satu organisasi yang sama sungguh akan berdampak buruk. Ya, mungkin tidak buruk bagi yang berpacaran, namun buruk bagi orang-orang lain yang merasakannya.
Menjaga
Satu kata yang menjadi pokok dalam semua alasan adanya larangan berpacaran ini. Perihal menjaga. Menjaga apa? Pertama, menjaga marwah diri sendiri dan juga organisasi mahasiswa. Mungkin, iya, kamu merasa terjaga dengan adanya pasanganmu yang selalu ada di sampingmu, menemani setiap rapat, berangkat-pulang rapat atau kumpul organisasi bareng dsbnya. Namun, organisasi bukanlah ruang individu, melainkan ruang bersama, di dalamnya terdapat kesepakatan-kesepakatan yang sudah disepakati bersama. Terlebih beberapa kali ditemukannya orang-orang yang berpacaran dengan mesra padahal ada banyak orang dalam ruang itu yang kemudian merasa risih terhadapnya. Ada yang rapat membahas permasalahan sesuatu, lantas jika kemudian salah satunya dipermasalahkan, mereka-mereka yang berpacaran dihadapkan pada 2 pilihan apakah hendak membela pasangannya atau menjaga respect rekan-rekannya. Kedua, menjaga perasaan banyak orang. "Ya kalau begitu semua pacaran saja, beres". Oh, tidak semudah itu ferguso. Kita dapat kembali ke paragraf sebelumnya yang disana disepakati bahwa memiliki perasaan ialah suatu hal yang wajar dan tidak dipermasalahkan. Melainkan menjaga perasaan banyak orang di dalamnya yang nantinya akan berdampak banyak. Ada banyak orang yang sejauh ini menahan diri untuk menyatakan perasaannya kepada sesama pengurus-pengurus lainnya karena menghormati peraturan yang ada, respect terbesarku untuk kalian atas sikap baik kalian. Namun ada juga yang memilih masa bodoh dan bahkan mengumbar-umbarnya di publik pengurus lainnya. Menjaga perasaan banyak orang dari kecemburuan sosial tentu perlu dan penting. Ketiga, adanya perlakuan istimewa jika dihadapkan dalam sebuah problematik, entah dengan adanya keberpihakan kepada pasangan jika dihadapkan dengan masalah organisasi meskipun sudah menyatakan tidak adanya keberpihakan, padahal terlihat jelas adanya keberpihakan dalam menyelesaikan problematik ini. Ada juga yang diistimewakan dalam menjalankan amanahnya untuk membackupnya dan membiarkan pasangannya dengan urusan pribadi, sementara tidak membantu yang lainnya. Sungguh menjadi perilaku yang parasit tentunya. Menjaga banyak praduga publik terhadap organisasi, dan masih banyak lainnya.
"Untuk apa kita memikirkan orang lain padahal itu urusan personal diri kita? Kok situ yang repot?"
Pada intinya, memiliki perasaan suka, bahkan cinta kepada sesama pengurus lainnya adalah perasaan-perasaan yang wajar, namun, ada baiknya untuk tidak melangkah lebih jauh selagi masih dinyatakan aktif beramanah. Ada mereka-mereka yang berusaha saling menghormati peraturan yang ada untuk tidak melangkah lebih jauh selama masih aktif. Jika pada akhirnya memang tidak bisa untuk melakukan itu dan tetap memutuskan untuk berpacaran, setidaknya tidak menunjukannya dalam ranah-ranah publik bahkan di sosial media sekalipun, sungguh. Jadikan pacaran kalian mungkin sebagai gerakan underground, pastikan juga setidaknya tidak menjadi permasalahan dan beban bagi yang lainnya. Silakan saling menghormati, dan menghargai. Bukan berarti dalam hal ini lantas ikut campur lebih dalam pada urusan-urusan personal, namun kita berbicara mengenai efek dan dampak di dalamnya dan bagi lingkungannya. Wallahu 'alam.
*Menjadi bagian dari opini pribadi, suka tidak suka silakan, memang susah nampaknya bicara kata dengan mereka-mereka yang sudah bebal hatinya















