Akhirnya Aku menyerah. Bukan karena sebuah kekalahan, bukan karena sebuah kekurangan, tapi karena kepatuhanku pada Sang Maha Cinta. Sebuah keyakinan bahwa Ia akan tergantikan, sedangkan Dia tak akan pernah tergantikan. Dia yang memiliki Jiwa dan tubuh ini. Dia, "Sang Maha Kehidupan". Siang itu, Aku terhentak oleh sebuah pernyataan sang kekasih hati, memberi sudut pandang, penuh makna. Berasumsi demi kebahagiaanku. Tak pelak saat jurang kegetiran menyelimuti, kekasih hati siap menjadi penolong, mengalahkan segala kegetiran, merengkuhku dari keterpurukan. Membawaku ke dalam lembah kesyahduan, yang memiliki sinar penghangat, pemberi ketenangan. Kekasih hatiku, Ibundaku. Aku mencintai Ia. Tak ayal, benakku pun sesak oleh rencana masa depan bersamanya. Merangkai pilar-pilar fondasi rumah tangga. Membangun dan menjadikannya sebuah taman surga. Taman kebahagiaan. Mungkin memang Aku yang tak lagi percaya, bahwa semua akan baik-baik saja. Mungkin Aku yang tak lagi yakin, dapat menyelesaikan segala hal yang melanda. Atau bisa saja, Ia pun demikian. Hanya Ia tak lantas memperjelas. Memilih menanti, sebuah kepastian. Datanglah hari dimana Aku siap memperjelas segalanya. Memutuskan untuk kembali bercengkrama dengannya atau memberinya kepastian, sebuah akhir fondasi rumah tangga, yang mirisnya, belum sampai kami rangkai. Aku mengajak Ia menjadi pendampingku di surga-Nya kelak. Aku menanyakan dan memastikannya. Memintanya untuk kesekian kali. Berharap Ia berkata "Iya". Saat Ia terdiam, kemudian tersedan, kuyakinkan diri, itulah jawabnya. Akhirnya, "Ia pun menyerah". Kami hanyalah manusia, Yang mempertahankan sebuah keyakinan. Sampai titik akhir. #Sarah Noer