Sepulang kuliah terakhir hari Kamis kemarin, pukul 14.30 sepertinya. Aku menapakkan langkah perlahan di trotoar jalanan kampus. Sesekali aku menengok ke belakang, berharap sebuah mobil kuning berhenti dan menghampiri. Hanya saja belum ada satupun mobil kuning yang melewatiku, apalagi menyapa dan menghampiri.
Kemudian seorang perempuan dengan rambut terurai tertutup helm yang menunggangi motor beat hitamnya berhenti di sampingku seketika.
“ Mba, boleh minta tolong?” celetuknya setelah menghentikan laju motor dan membuka kaca helmnya
“ Kenapa mba?” balasku singkat saja
“Saya mau pulang mba, ke Salatiga. Soalnya Ibu saya mau operasi usus buntu.” Terangnya
“DEG” seketika jantungku berdesir sekuatnya. Antara tak percaya karena seolah pernah mendengar kalimat yang sama tapi kasihan juga dengan kondisi Ibunya.
Aku memang orang yang begitu lemah jika harus mendengar Ibu sakit, pun kalau itu bukan Ibuku aku akan tetap membayangkan Ibuku mengalaminya pula.
Aku memang sudah berkilah sedemikian hingga untuk berusaha menolak, hanya saja aku tak kuasa dengan wajahnya yang begitu memelas dan begitu mengharap aku membantunya.
“Tadi saya bawa uang dua puluh ribu mba, tapi ban motor saya bocor. Dan sekarang bensin motor saya hampir habis. Saya nggak bisa pulang mba, sedangkan Ibu saya mau dioperasi hari ini. Pinjami saya uang tigapuluh ribu mba.” timpalnya
“Aku Cuma punya uang receh nggak ada lima ribu mba, makanya saa jalan nggak naik angkutan” balasku
“tapi di kos mba ada simpanan uang?” tanyanya lagi
“Ada” balasku lugas akibat reflek
“ayo mba saya antar ke kos mba” pintanya
“nggak usah mba, kos saya jauh” timpalku
“ nggak papa mba, biar nanti kalau saya ngembaliin uang mba tau tempat mba tinggal” desaknya
Aku yang seolah kalah dalam perlobbyan pun akhirnya menurut saja. Membonceng motornya kemudian mengarahkan jalan menuju wisma, padanya. Hingga tersampaikanlah di depan wisma tercinta, Cordoba namanya.
Aku masuk ke dalam kamar, mencari uang yang tersimpan dalam dompet bersama gulungan kertas-kertas nota. Nyatanya tak kudapati uang receh. Yang ada hanyalah limaratusan, duaratusan, dan kawan-kawannya yang begitu receh, atau lembaran uang ratusan ribu yang baru aku ambil sehari sebelumnya dari ATM. Aku pun mencari seseorang untuk menukarkan uangku menjadi pecahan yang lebih kecil, tapi hanya bisa kupecahkan menjadi limapuluh ribuan saja.
Antara mau maju dan mau mundur karena keraguan akhirnya kupaksakan maju untuk memberikan lemaran limapuluh ribu satu satunya yang kupegang.
“nggak ada uang receh mba, adanya ini” ucapku menyodorkan uang pada perempuan yang mengaku bernama Rika itu
“iya mba, makasih” balasnya sambil mengambil sodoran uangku dan kemudian berlalu
Aku menatapnya pergi dan seolah aku merasa benar-benar telah tertipu, sedang aku baru menyadari sepenuhnya setelah dia berlalu. Maka muncullah ribuan pertanyaan dalam otakkuatas kejanggalan yang banyak.
Dia yang katanya anak USM bisa nyasar sampai ke UNDIP, sedangkan jalan USM Salatiga hanya satu jalur. Dia yang katanya mau ke Salatiga, motornya tak bernomor polisi. Dia yang katanya ban motornya bocor menghabiskan uang dua puluh ribunya untuk menambal, padahal tambal ban cukup delapan ribu. Dia yang katanya mau beli bensin buat ke Salatiga dengan meminjam uang tiga puluh ribu, padahal untuk ke Salatiga bensin sepuluh ribu rupiah sudah lebih dari cukup. Dia yang katanya mau mengembalikan uangku, nyatanya sampai hari ini tak kembali. Padahal dia sudah kuberi tahu namaku dan tahu alamat wismaku.
Hari dimana aku merasa begitu tertipu memang membuatku kecewa. Seolah aku orang yang begitu bodoh dan mudah dibodohi. Melihat kejanggalannya sebanyak itu. Tapi aku mencoba menenangkan diri. Uang lima puluh ribu bukanlah apa-apa. Kalau itu harus aku berikan pada perempuan itu, maka itu memang bukan rezekiku. Dan aku yakin, aku melakukannya karena Allah menggerakkan hatiku. Semoga saja dengan uang itu kamu bisa mendapatkan hidayah dari perbuatan tidak baikmu itu ya Mba...
Memberi atau tidak memberi, baik tidaknya tergantung dengan niat kita. Pesan saja buat teman-teman, kalau ada orang asing minta bantuan, jangan langsung kita beri bantuan. Karena kita tidak tahu bagaimana sebenarnya niat mereka. Kalau perlu koreksi kejanggalannya dulu. Karena kalau niatnya buruk, kemudian kita menolak, kita bisa jadi membantunya untuk meninggalkan perbuatan dosa tersebut, minimal sekali. Kalaupun dia benar-benar membutuhkan, kita nggak punya kewajiban membantu sepenuhnya kok, karena kita bukan saudara dekat dengan mereka. Bahkan seorang pengemis yang minta tolong ke kita, kita masih punya kesempatan untuk tidak memberi atau menolak membantu dengan cara yang baik.
Hati-hati ya Gaeess penipuan bungkusnya macam-macam. Memang sih, tidak merugikan kita, tapi merugikan sang penipu -karena rizkinya tidak halal dan tentunya nggak berkah-. Jadi, menolak menolong orang asing adalah salah satu cara untuk kita menolong mereka.