________________________________________________________________
Saya tidak bisa memastikan, apakah teks proklamasi ini telah sesuai dengan terjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa secara baik dan benar. Tapi, saya dapat memastikan sikap Mohammad Hatta—yang berdiri di belakang Bung Karno— dan segenap tokoh-tokoh yang hadir di Jalan Pegangsaan Timur akan garuk-garuk kepala bila mendengar teks proklamasi berikut pengucapannya sedemikian rupa.
***
Setelah meriang semalaman, Bung Karno dibangunkan oleh teriakkan salah seorang koleganya. Soekarno membuka jendela, ia melihat seorang kolega yang sedang berdiri di luar rumah.
“Bung, mari kita berangkat, mereka telah menunggu kita disana,” ujarnya.
Soekarno ingat, ada acara penting yang melebihi pentingnya sidang MK. Ia meloncat dari kasur. Tanpa kebanyakan fafifu, Soekarno mandi dan berkemas. Ia kemudian naik kendaraan yang telah disediakan. Kemudian mereka menuju ke Jalan Pegangsaan Timur, naik kendaraan dengan gesit, salip sana salip sini.
Sesampainya di lokasi, Soekarno kaget bukan main. Ia kaget bukan karena ulang tahun, prank, atau karena petasan yang dinyalakan ketika bulan puasa berlangsung (boro-boro petasan, suara bom yang asli saja masih familiar di telinganya), Soekarno kaget karena momen yang ditunggu-tunggu benar-benar disambut meriah oleh banyak orang.
Soekarno kemudian berjalan dengan mantap menuju area utama. Sesampainya ia di lokasi, acara dimulai oleh panitia. Setiap barisan dirapatkan. Dirapikan. Agar tak kalah rapi dengan barisan para tentara Nipong.
Satu per satu acara berlangsung dengan lancar. Momen utama itu akan segera tiba: pembacaan naskah proklamasi. Soekarno mantap melangkah, ia naik podium.
Seketika, suasana menjadi hening.
“Cek.. Cek.. Cek..” Ia mengetuk tubir microphone.
Kemudian ia berucap salam pembuka, menyampaikan pidato sedikit dan…
Kita Sedaya Bangsa Indonesia, wonten ing mriki ngendikan babagan kamardikan Indonesia.
Uborampe ingkang arupi pindahing kuasa lan sak panunggalanipun
kalaksanan dening cara ingkang trep lan dening wekdal sakcekapipun,
Sedoyo Wakil Bangsa Indonesia
Setelah membaca satu baris kalimat, Soekarno terdiam. Ia merasa aneh dengan teks itu.
Bukan hanya Soekarno, para tokoh yang hadir turut larut dalam kebingungan. Mereka gagal paham; Sayuti Melik bengong dan tampak gelisah, Ahmad Subardjo malah mencoba mengingatkan Soekarno dengan bahasa Sunda, dan Laksamana Tadashi Maeda justru juntrungan gagal paham makna proklamasi yang berbahasa Jawa itu.
Mohammad Hatta yang berdiri tepat dibelakang Soekarno berjalan pelan dan mendekatkan bibirnya ke telinga Soekarno. Ia berbisik kepada Soekarno untuk mundur sebentar,
“Bung, jangan membaca teks ini sampai tuntas. Teks proklamasi yang antum baca itu tak dimengerti semua orang. Bukan hanya orang Jepang dan Belanda yang tidak paham. Orang-orang di sekitar sini juga belum tentu paham,” Kata Mohammad Hatta.
“Lihatlah B.M Diah, dia orang Aceh, paling ujung barat pulau Sumatera. Belum tentu beliau paham apa yang dimaksudkan dari teks dan bahasa yang Bung baca. Cobalah memakai bahasa yang umum saja, Bung. Fix, Teks Proklamasi telah dibajak, Bung!” Kata Ahmad Subardjo
“Jangan sembarangan, lantas siapa yang telah membajak teks ini? Ada-ada saja, teks proklamasi kok dibajak. Sawahlah yang pantas dibajak. Teks proklamasi tak mungkin dibajak,” Kata Soekarno meyakinkan
Suasana di lapangan itu pun menjadi gaduh. Teganglah muka para kaum-kaum marhen, murba, proletar, pekerja, sindikalis, libertarian, ekstrimis dsb. Mereka tak berani menyeka pembicaraan antar tokoh-tokoh bangsa itu. Memilih nyimak dengan seksama.
“Pasti ini kerjaannya Sayuti Melik,” Kata B.M. Diah
“Memang benar, Sayuti Melik yang menulisnya, ia juga orang Jawa totok, lahir di Sleman. Tapi, masa Bung Sayuti berani membajak surat yang penting ini. Toh ini kan juga bulan puasa, mana ada setan yang berani mengganggu manusia di bumi. Benar begitu Sayuti?” Bung Karno bertanya kepada Sayuti Melik.
“Mohon maaf, Bung. Surat yang saya serahkan kepada Bung itu salah. Sebenarnya saya yang menulis teks bahasa Jawa itu. Inilah teks proklamasi yang berbahasa Indonesia,” Sayuti Melik mendekati Soekarno sembari menyerahkan stopmap berwarna biru kepadanya.
“Sayuti, lantas apa maksudmu menulis proklamasi dalam versi jawa? Ingin membikin B.M. Diah kesulitan mencerna kata-kata ini? Indonesia nggak cuma jawa”
“Hehehe… Tidak, Bung. Saya hanya ingin mengirimkan salinan naskah proklamasi ini ke sanak famili di Sleman. Mereka kurang paham jika naskahnya berbahasa Indonesia. Saya ingin membagikan kebahagiaan kepada saudara-saudara di rumah”
“Syukurlah jika begitu. Sayuti, kau sudah paham kan Indonesia negara yang majemuk, ia tak bisa dipaksakan untuk menjadi satu kesatuan yang homogen mutlak. Suku-suku di Indonesia bermacam-macam.”
“Hehe.. Iyaaa, Bung. Saya paham,” Sayuti melik kemudian kembali ke posisi awalnya.
Dengan lantang Soekarno membacakan Teks Proklamasi versi bahasa Indonesia. Orang-orang bersorak gembira menyambut kemerdekaan Indonesia. Akhirnya Indonesia hidup bahagia. Sebelum Harto menyerang.
Begitulah imajinasi saya mengenai teks proklamasi berbahasa Jawa. Berawal dari kegelisahan tentang cocot kencono-nya teman saya yang menganggap bahwa bahasa Jawa itu maha bahasa dari segala bahasa alias superior. Kata dia, bahasa Jawa adalah bahasa universal. Statement semacam itu hanya membikin orang-orang makin mengunggulkan sukunya. Imaji ini ternyata telah terealisasi dan mengundang simpati, puluhan tahun lalu.
Awal simpati terhadap penggunaan bahasa nasional ini pertama kali muncul pada tahun 1938, tepat 10 tahun setelah sumpah pemuda dikumandangkan. Simpati itu diawali oleh kegelisahan Soedarjo Tjokrosisworo yang tak puas atas pemakaian bahasa Indonesia yang masih kacau balau. Seorang wartawan yang merasa aneh dengan kondisi dan diksi bahasa Indonesia di berbagai surat kabar.
Kongres itu dilaksanakan pada tanggal 25-27 Juni 1938 di Gedung Societeit Habiprojo, Solo. Beberapa tokoh hadir dalam kongres: Ki Hadjar Dewantara, Sanoesi Pane, Amir Sjarifoeddin, Muh Yamin, St Takdir Alisjahbana, dan K St Pamoentjak, dsb.
Yaa, bisa dibayangkan bila tokoh-tokoh yang hadir dalam kongres tersebut memakai bahasa ibu daerahnya masing-masing. Bicara iya, mudeng bahasanya pun tidak.
Ki Hadjar Dewantara dan Soedarjo bertanya menggunakan bahasa Jawa, sedangkan Muh. Yamin, Amir, St. Takdir Alisjahbana, dan Pamoentjak menjawabnya menggunakan bahasa daerah mereka masing-masing di Sumatera. Kan percakapannya jadi aneh. Pol mentok ya bersuara, bukan bercakap. Begitulah bahasa Indonesia bekerja, membikin paham semua suku. Bukan hanya suku-suku tertentu.
Delapan puluh satu tahun lalu, mereka melaksanakan kongres agar saling mengenal satu sama lain dan tidak saling mengunggulkan. Auwah, dulu Harto ada-ada saja sih. Menjawakan yang nggak jawa.