Di lapangan ini, di masa dua tahun lalu, langit mempertemukan aku dengan seorang pria baik hati, ramah, rendah hati, bijaksana, dewasa, dan baik budinya.
Aku masih ingat dengan betul, hari itu adalah hari Senin. Senin, malas sekali aku berolahraga di hari Senin. Tetapi, begitulah langit menghadirkan takdir. Sejak saat itu, aku jadi senang hari Senin dan senang juga dengan cabang olahraga lari.
Ah, sudahlah. Semuanya sudah menjadi kenangan seiring seorang yang langit pertemukan denganku, ternyata memilih wanita lain. Wanita yang tentunya lebih baik dan lebih pantas bersama dia.
Ah, sudahlah. Sudah sangat tidak pantas untuk aku merindukan pria yang sudah dimiliki dan memiliki wanita. Sudah sangat tidak pantas juga untuk aku masih mengenang semua pertemuan yang pernah terjadi.
Tujuh hari kata hatiku, tujuh hari hatiku memberi kesempatan untuk dirinya dan untuk otakku mengikhlaskan semua yang terjadi. Menerima bahwa kehadiran pria baik hati tersebut hanya untuk mengajarkan kedewasaan untukku, bukan untuk menjadi milikku selamanya. Tujuh hari, ah terlalu lama. Hati sudah muak meminta maaf karena tidak dapat menjaganya di dalam setiap doaku. Matapun sudah lelah, sebab setelah mengetahui pemilik hatinya ternyata sudah dimiliki oleh wanita lain, ia tidak pernah tenang untuk menutup mata menghantarkan kepada mimpi. Ketika kelopak sudah mulai tertutup, secara mendadak ia akan terbuka kembali. Mataku memberontak, sebab sudah tidak dipantaskan untuk merindukan pria yang selalu menari-nari di lautan hitamnya sebelum kabar buruk hadir dan merusak semuanya.
Teruntuk kamu, pria yang sangat baik hatinya. Terima kasih sudah datang sejauh ini, sudah memberikan banyak pelajaran tentang kehidupan dan pelajaran tersebut sangat berharga untuk aku. Terima kasih sudah mengajarkan tentang kedewasaan. Terima kasih sudah mengajarkan tentang kebaikan. Terima kasih sudah mengajarkan tentang terus berjuang meskipun kemungkinan berhasilnya kecil. Terima kasih sudah mengajarkan tentang bertekun di dalam iman kepada Tuhan. Terima kasih sudah ada dan menjadi malaikat pendewasaku.
Mas yang begitu sopan dan baik budinya, maaf sudah tidak setiap detik memintamu menjadi milikku di dalam doa malamku. I always try my best, Mas. Menjaga kamu di dalam doa karena tangan dan khawatirku tidak akan mampu menjaga kamu.
Mas yang sangat bersahaja, maaf doa dan pintaku untuk kesegaraan wisuda dan kelulusanmu ternyata tidak terlalu tekun, sehingga kamu baru mencapainya saat terakhir seperti ini. Maaf tidak berjuang terlalu banyak untuk kamu. Maaf tidak pernah memberi semangat secara langsung. Maaf aku tidak pernah ada secara langsung untuk kamu, untuk bahagia maupun sedih kamu.
Mas yang sangat dewasa. Sejauh Rabu sampai Minggu hari ini, aku sudah mengunjungi hampir semua tempat yang selalu menjadi tempat langit mempertemukan aku dan kamu. Gereja, aku sudah merelakan dan mengembalikan kamu. Aku sudah berterima kasih kepada Tuhan karena sudah mengijinkan kamu menjadi malaikat pendewasaku. Lapangan Brigif, aku pun sudah berpamitan dan sudah berterima kasih untuk semua pertemuan yang pernah terjadi. Aku sudah meminta ijin untuk menjadikan semuanya sebagai kenangan. Aku ingin berdamai dengan semua kenangan antara aku dan kamu. Aku tidak ingin terlarut dalam sedih jika suatu hari aku sering ke lapangan itu, karena ternyata sejak kuterima kabar bahwa kamu sudah memiliki dan dimiliki, aku jadi kecanduan lari (fyi! :D) Jalan sepanjang Cimahi menuju Ciumbuleuit, aku sudah mengembalikan semua pertemuan dan biarlah menjadi kenangan yang tidak perlu aku ingat kembali ketika aku masih akan melewati jalan-jalan tersebut. Parkiran PPAG, Lantai 3 gedung 10. Aku juga sudah mengembalikan semua pertemuan yang terjadi dan biarlah menjadi kenangan tanpa ada kamu lagi disana. Dan terakhir, Papa kamu. Pagi ini aku bertemu Papa, sepanjang misa aku tidak bisa konsen. Ingat kamu, ingat aku selalu memusatkan pikiran untuk bisa “berbicara” dengan Papa lewat pikiran, aku selalu meminta restu Papa untuk bisa bersama kamu. Pagi ini, aku memusatkan pikiran untuk berpisah dengan Papa kamu. Iya, aku sudah mengembalikan kamu kepada Papa, agar kamu dapat bersama dengan wanita yang kamu pilih. Hatiku pilu, perutku mulas, aku serasa ingin muntah. Demi tidak terlihat menangis di gereja, aku hanya bisa membungkukkan badan sambil berbisik dalam hati “Pa, aku pamit. Semoga anak Papa selalu dalam kebahagiaan”. Dan entah mengapa, seakan Papa kamu mendengar bisikan aku, beliaupun melihat ke arah aku dengan tatapan “why, nak?” yang langsung aku ambil langkah seribu kaki meninggalkan Papa kamu dengan tatapan itu. Maaf yah Papanya Mas.
Ah, sudah selesai semuanya. Lega rasanya berdamai dengan kenangan. Tidak terburu-buru, dan tanpa emosi.
Mas yang sangat visioner, Aku tinggal yah. Tumblr ini akan menjadi saksi semua perjuangan aku selama hampir tiga tahun ini (yaa meskipun ada beberapa yang sudah aku hapus). Semoga kamu selalu didalam lingkup kebahagiaan. Meskipun kamu sedih, semoga tetap ada bahagia selalu tersisa untuk kamu. Semoga kamu sukses ya di perjalanan karir kamu. Jadi arsitek yang berguna bagi pembangunan bangsa ini ya. Sehat selalu dan panjang umur. Maaf kalau pernah ganggu kamu karena rencana stalk aku ketahuan sama kamu, hehe. Maaf kalau tetiba aku suka ganggu mimpi malam kamu, hehe itu aku kalau kemarin-kemarin rindu kamu. Tetap jadi pria yang baik hati dan sangat dewasa. Tetap menjadi masyarakat yang kritis (tapi tolong tetap berhati-hati menyuarakan aspirasi). Pandaku, Masku yang sangat tembam, yang gingsulnya bikin aku leleh, aku pamit ya. Salamku untuk kedua orangtuamu. Maaf dan terima kasih, Mas.
Picture taken: Cimahi, 26th May 2017 Located: Lapangan Brigif, Cimahi
Cimahi, 28 Mei 2017 dalam rangka melepaskan semua perasaan dan menjadikannya sebagai kenangan.












