Datang ketika ingin, lalu pergi tanpa permisi.
Setelah tiga tahun tidak bertemu, akhirnya kau dan aku berdamai pada waktu. Temu yang tak lebih dari empat jam itu meninggalkan jejak rasa yang sendu. Sebelum bertemu, ada banyak prasangka baik dan buruk yang hadir di dalam kepalaku. Baik, kalau ternyata kau telah berubah menjadi lelaki yang hangat. Buruk, kalau ternyata kau masih tetap menganggapku sebagai pelarian sesekali. Jauh di lubuk hatiku, rasa sayang itu tak pernah sirna sedikitpun. Dilain sisi, otakku berpikir kita berdua adalah dua jiwa yang tak akan pernah bersatu. Kita yang berbeda haluan tak akan mungkin sejalan. Berjam-jam hati dan otakku bertarung, merebutkan siapa juaranya.
Setelahnya, semua terjawab sudah. Ternyata benar, prasangka baik itu tidak pernah terjadi dan prasangka buruk semakin menjadi. Hatiku kalah telak dengan kenyataan, otakku bersorak sorai, meninggalkan satu goresan diantara goresan lainnya.
Kau tetap menjadi kau yang dulu, datang padaku jika tengah sepi dengan segudang “mau”. Selepas itu pergi dan kembali asing seolah aku tak pernah ada dalam satu harimu. Tetapi sadar atau tidak, kepergianmu tak lagi tinggalkan tangis semalam suntuk. Aku hanya diam menatap langit-langit, mendengarkan lantunan musik dari sepasang sejoli ditto dan ayu. Hatiku teramat deras malam tadi, namun airmataku teramat kemarau tuk menangis.
Ku ingat lagi waktu tubuhmu memunggungiku, matamu masih sibuk mencari sosok yang tengah berbicara padamu melalui telpon. Aku hanya menatapmu tanpa berbicara apapun, kau terus mengabaikanku yang berkali-kali memajukan langkah agar kita lebih dekat. Kakimu terus menjauh seiring wajahmu yang enggan menatapku.
Akhirnya, sosok itu datang, kau duduk tepat di belakangnya. Tidak ada aba-aba pergi, kau berlalu begitu saja, Sementara aku masih terpaku di tempat kita bertemu, membiru pilu. Semesta mungkin saat itu menjadi saksi, bagaimana jahatnya dirimu padaku. Datang ketika ingin, lalu pergi tanpa permisi.
Tangerang, 27 Januari 2020.