Teruntuk sahabat yang sudah seperti kakak laki-lakiku,
Di tanggal ini, 14 Juni satu tahun yang lalu, aku mendapat kabar darimu yang mana tidak disampaikan langsung olehmu, melainkan orang-orang yang menyayangimu.
Saat aku membaca pesan yang dikirimkan ke kotak masukku, aku tahu kamu sudah berpulang, meski berkali-kali aku tidak memercayai. Hari ini, satu tahun kamu pergi bahkan di saat aku belum sempat berbuat banyak kebaikan seperti yang sudah kamu lakukan.
Tidak ada potret berdua sebab kita terlalu sibuk bercerita manakala berjumpa. Satu-satunya foto bersamamu ya ketika kamu datang di hari wisuda magisterku. Itupun ramai-ramai fotonya.
Kalau diingat, dua kali wisudaku kamu selalu datang, sedang aku sama sekali belum pernah. Bukan karena sibuk, namun belum sampai kamu ada di titik itu, Allah sudah lebih dulu memanggilmu.
Rasanya gimana di sana? Pasti kamu melihat kami di dunia sedang sibuk dengan ego yang menyala-nyala ya? Maaf ya, jika sampai hari ini aku bahkan belum pernah mengunjungimu. Tapi kamu percaya kan jika doa akan selalu sampai pada tempatnya?
Semua berbeda setelah kepergianmu. Sesekali aku masih membaca pesan-pesan yang isinya tentang cerita juga impian-impian masa depan. Sesekali juga aku mengirimimu pesan yang seringnya dibalas oleh ibumu tercinta.
Ibumu baik sekali ya, masih sealu mendoakan aku juga teman-teman yang turut menyayangimu. Pantas saja kamu tumbuh jadi orang yang begitu baik dan sulit dilupakan.
Jika nanti ada kesempatan, aku ingin datang mengunjungimu. Membawa banyak sekali cerita tentang hal-hal yang pernah aku sampaikan yang selalu kamu balas dengan doa paling tulus yang pernah aku dengar.
Aku mungkin belum berhasil membantumu menyelesaikan studimu, belum juga berkesempatan berkolaborasi karya sama kamu, tapi aku selalu mengupayakan apa yang jadi kemauanku sekarang. Seperti mintamu dan seperti hidupmu yang tidak pernah menyerah.
Oh iya, beberapa bulan yang lalu hubunganku dengan seorang laki-laki yang aku kira akan jadi rumahku, berakhir. Saat itu harusnya kamu menjadi orang yang berkesempatan dengar kisah menyedihkan itu. Namun ketika aku sibuk bercerita panjang lebar, tidak ada balasan yang masuk ke kotak pesanku. Dan itu menyadarkanku bahwa kamu sudah benar-benar pergi.
Kalau saja kamu ada, kamu pasti sudah mengumpatnya habis-habisan. Kamu akan bilang bahwa akan ada laki-laki baik yang tulus menyanyangiku. Seperti aku yang juga kerap mengomelimu karena sibuk mengejar seseorang yang sama sekali tidak memedulikanmu. Jika dipikir-pikir urusan percintaan kita sama ya. Sama-sama apesnya hahaha.
Dan pagi ini, di jalan menuju kantor, aku sibuk diklakson dan bingung karena salah rute perjalanan. Aku melamun, iya mengenang kamu yang dulu ada namun sekarang sudah tiada. Mengandaikan bila kamu ada di sini meski aku tahu itu sama sekali tidak masuk akal.
Kak, tenang-tenang ya. Semua orang yang kamu tinggalkan sibuk meneladani perjuanganmu dengan juga terus berjuang. Maaf jika sesekali kami lupa mendoakanmu di sana. Maaf untuk hal-hal buruk yang kami perbuat selama kamu hidup.
Sekarang kamu memang jauh. Dimensi ruang dan waktu kita sudah berbeda. Namun akan ada yang selalu dekat, yaitu kenangan yang tidak akan hilang meski waktu berlalu. Juga serangkaian doa yang meski aku tidak tahu diterima atau tidak, namun selalu aku usahakan untuk terkirim untukmu.
Sekali lagi terima kasih ya, sudah pernah lahir dan hadir sebagai salah satu orang yang hebat dan kuat. Kamu, meski tidak bisa lagi aku temui, akan selalu aku ingat sebagai sosok yang akan selalu aku kagumi.
I really miss you, Kak. Al Fatihah.