self portrait is dead
wallacepolsom

oozey mess
we're not kids anymore.
No title available

Andulka
TVSTRANGERTHINGS
styofa doing anything
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
h
cherry valley forever
YOU ARE THE REASON
Jules of Nature
Cosimo Galluzzi

Janaina Medeiros
he wasn't even looking at me and he found me
Alisa U Zemlji Chuda

❣ Chile in a Photography ❣
Three Goblin Art

titsay
Misplaced Lens Cap
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Venezuela
seen from Venezuela
seen from Venezuela
seen from Venezuela
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
@saudarabimo
self portrait is dead
my latest artwork.
whatever
dunno what to eat
hancur, hancurlah sakitku
hilang, hilanglah lelah ku
lalu pergi, pergilah keluh ku
lenyap, lenyaplah bau bawang dan kecewa
maka jadilah, jadilah harapku
dan dekat, dekatlah senyumku
kurt cobain parody
Aku bercerita tentang malam, mengeja sunyi mengucap sepi, aku masuki gelap sesak tak terungkap, tempat dimana aku temui tukang mie ayam tanpa mecin.
Rasanya akhir-akhir ini ada yang menganjal, tapi apa ya? Mungkin batu ginjal? Ah tapi bukan, atau serpihan aspal? Bukan juga, lalu apa ya? Ahh tak taulah...
Senar gitar bungkus
Bagaimana dengan mu?
Sejak kecil, saya lupa kapan tapi saya memang suka coret-coret sejak dulu ketika ingus saya masih naik turun dan belum bisa saya seka. Ketika itu saya suka mencoret apa saja dengan pensil warna, pulpen, crayon atau apapun yang bisa digunakan untuk mencoret, bahkan kaos kaki. Tembok mungkin jadi tempat favorit untuk dicoret, selain lebar dan luas tembok juga merupakan media gambar gratis yang tidak perlu saya beli dari warung layaknya buku gambar. Namanya anak kecil, gambar yang dihasilkan pun tidak beraturan, bermodal imajinasi dan daya coret tanpa skill mumpuni kelas anak-anak maka biasanya jadilah coretan benang kusut nan rumit kalo dicerna secara akal sehat manusia normal.
Saya hidup dikeluarga yang tak begitu paham tentang seni menggambar. Ayah seorang pecinta sepak bola yang merangkap guru olahraga. Sedangkan ibu adalah seorang broken home yang sedari kecil sudah jauh dari orangtua, yang kini sepertinya lebih mahir dalam mengurus seluk beluk tugas ibu rumah tangga daripada menelaah apa saja unsur-unsur seni rupa.
Setelah agak besar, saya masih sering menggambar walaupun tak seintensif dulu. menggambar biasa dilakukan disela-sela mengikuti pelajaran di kelas sewaktu saya duduk dibangku SMP. Sewaktu berseragam putih biru, memang saya sedang hobi-hobinya belajar bermain musik maka tidak heran hobi menggambar pun cenderung lebih menurun porsinya. Saya selalu tertarik untuk melakukan dan mengenal hal baru terutama musik ketika itu, alat musik pertama yang saya coba pelajari adalah gitar. kenapa gitar? karena satu-satunya alat musik yang ekonomis (bisa saya pinjam) karena waktu itu teman dan kerabat notabenenya banyak yang punya gitar, maka dari teman pula saya coba belajar maen gitar, tidak intensif sampai mengikuti les dan sebagainya, karena lebih banyak saya pelajari secara otodidak atau melalui buku sakti “cara cepat menjadi dewa gitar” (hahaha…).
Bersambung…
Wakakaka...
Thanks Mr.Backlight for taking a good care Mr.Rahmat
Enak juga ini, halalan thoyiban. #zeroalcoholbeer #guinnesszeroabv #alcoholfree
hahaha...