Di pagi ini akhirnya kau mengakuinya, sebuah kenyataan yang siap tidak-siap harus kuhadapi. Aku sudah merasakannya sejak dulu, bahkan sejak kau mengakhiri sesuatu yang spesial di antara kita.
Tanpa kuminta, kau akhirnya mengatakannya sendiri, bahwa kau tak lagi sendiri. Aku tidak kaget, meskipun harus kuakui sedikit-banyak hatiku tetap sakit. Tapi setidaknya aku lega, aku telah menemukan jawabannya.
Setahun lalu, ketika kau dengan tegas mengatakan bahwa kita tak mungkin seperti dulu lagi. Saat itu aku semakin yakin bahwa ini bukan tentang aku lagi, ini tentang dia yang telah hadir mengisi hatimu.
Dan sekarang, aku di antara dua pilihan: tetap memperjuangkanmu atau benar-benar menyudahinya. Aku tidak tahu, aku masih belum memutuskannya. Tapi hatiku lebih condong untuk pilihan yang kedua.
Entahlah, aku hanya berharap kau bahagia dengannya. Sedangkan aku, aku akan berusaha mencari kebahagiaanku sendiri. Meskipun berat melakukannya tanpamu.
Terkadang hidup hanya seperti sebuah perjalanan di atas kereta. Kita bertemu dengan orang tak dikenal, berbincang dan sesekali tertawa bersamanya, lalu kita turun di stasiun masing-masing dan berpisah.
Malam ini aku nangis lagi gara” baca cerita SFTH di Kaskus yang judulnya “Sepasang Kaos Kaki Hitam”. Cengeng banget ya aku, Vi? Hiks hiks, mungkin karena ceritanya yang terlalu nyesek atau dasar hatiku saja yang mudah tersentuh. Entahlah.
Vi, jujur setelah membaca cerita itu aku jadi teringat lagi denganmu. Entahlah, aku rasa setiap selesai membaca cerita sedih bawaannya inget kamu. Mungkin karena cuma kamu yang bisa aku ingat, yang pernah menjadi orang spesial di hatiku.
Kamu apa kabar? Aku kangen banget sama kamu sekarang. Aku rindu suaramu, keusilanmu, senyummu, semuanya. Apa kita juga akan berakhir seperti cerita yang barusan aku baca?
Meskipun jika pada akhirnya harus berakhir seperti itu, aku harap bisa benar-benar merelakanmu. Eh, bukan berarti aku sekarang belum ikhlas ya. Aku sudah rela kok, walau aku masih berharap Tuhan akan memberikan kesempatan keduan untukku.
Seperti yang sering aku katakan dulu, Vi, bahwa Tuhan pasti akan menuliskan ending terbaik-Nya untuk kita. Aku selalu percaya itu.
Duh, aku ngomong apa sih ini? Gak jelas banget. Ya udah ya, yang jelas aku lagi sedih banget. Dan kalau sudah sedih bawaannya keinget kamu terus. Sepertinya aku harus tidur untuk mengembalikan suasana hatiku. Bye.
Beberapa minggu terakhir ini kepalaku sering sakit yang sebelah kiri. Terutama setelah bangun tidur siang. Jadinya gak enak banget. Mau lanjut kerja jadi gak nafsu. Akhirnya cuma males-malesan sambil mainin hape.
Kata kak Yelvi itu namanya migren. Penyebabnya karena kecapekan terus kepanasan. Kalau kepanasan sih enggak menurutku. Karena aku jarang keluar, lebih banyak “bertapa” di dalam kamar.
Kalau kecapekan kayaknya sih iya, tapi bukan capek badan. Karena aku jarang melakukan aktivitas yang berat. Capek pikiran lebih tepatnya. Ya tau sendirilah programmer kerjanya banyak mikirnya. Apa lagi aku kalau sudah ngoding jadi lupa segalanya. Lupa makan, lupa tidur dan lupa waktu.
Terus kak Yel nyaranin aku untuk lebih banyak istirahat. Kalau pusing lagi bisa minum paracetamol terus tidur. Begitu katanya. Oke aku coba nanti. Semoga gak gini-gini lagi.
Oh ya selain migren, aku juga lagi punya masalah dengan tidurku. Entah sudah berapa lama aku jadi kesullitan tidur tepat waktu. Lewat jam 12 aku baru bisa tidur, padahal dari sore sudah ngantuk. Tapi pas sudah di atas kasur gak bisa terlelap.
Aku mikirnya sih karena aku jarang aktivitas fisik, jadinya gak merasa lelah. Jadi mungkin aku butuh melelahkan tubuhku supaya bisa gampang tidur seperti dulu. Do’akan aku biar cepet seperti biasanya.
Seminggu ini aku bener-bener kecanduan membaca cerita SFTH (Story From The Heart) di Kaskus. Awalnya sih cuma baca cerita horror yang kebetulan lagi booming akhir-akhir ini. Tapi kemudian salah satu temenku merekomendasikan sebuah true story lainnya tapi bergenre romance.
Judulnya “Dia, Dia, Dia Sempurna”. Bercerita tentang kehidupan Deni mulai dari SMA hingga menikah. Awal-awal membaca aku kira ini akan seperti novel-novel teenlit yang pernah aku baca dulu. Tapi aku salah.
Novel ini sedikit banyak mengingatkanku tentang dia. Dia yang entah masih ingat aku atau enggak. Dan menjelang akhir-akhir, cerita ini sukses buat air mataku mengalir. Kalau gak inget ada Vian di sampingku, aku mungkin sudah nangis sesenggukan.
Bayangkan saja, dari dua cewek yang suka dan disukai Deni, dua-duanya gak ada yang jadi nikah. Oca meninggal beberapa bulan menjelang pernikahan mereka. Sedangkan Oliv lebih memilih orang lain meskipun Deni sudah sempat melamarnya.
Cerita kedua yang kubaca “Have I Told You That I Love You”. Secara garis besar ceritanya hampir mirip seperti cerita pertama. Mungkin agak beda-beda dikit alurnya. Di sini ceritanya tentang Nanda dengan dua cewek yang disukai dan menyukainya: Lisa dan Putri.
Cerita ini juga sukses membuatku mewek lagi. Yaitu ketika Putri meninggal karena kecelakaan. Putri meninggalnya begitu mendadak, tidak seperti cerita Oca yang memang sudah lebih dulu sakit. Tapi yang namanya meninggal tetep akan memberikan duka bagi yang ditinggalkan.
Serius, aku bener-bener tersugesti oleh kedua cerita tersebut. Aku merasa seoalah-olah aku yang menjadi pemeran utamanya. Aku bisa merasakan bagaimana kacaunya mereka ketika ditinggal mati oleh calon istri mereka.
Tapi di sisi lain aku mendapatkan banyak pelajaran dari cerita-cerita itu. Aku belajar tentang cinta, persahabatan, keluarga, keikhlasan, ketekunan dll. Terima kasih telah membagikan cerita yang begitu menyentuh.
Suatu hari nanti aku berharap bisa menemukan gadis seperti Oca dan Putri yang begitu tulus. Dan semoga aku bisa menjadi laki-laki yang setabah dan seikhlas Deni dan Nanda.
Selamat jalan Oca dan Putri, semoga kalian tenang di alam sana. Aamiin.
Aku tidak tahu harus bercerita apa tentang Ipul. Terlalu banyak hal yang ingin kusampaikan hingga aku sendiri bingung harus bercerita mulai dari mana. Yang jelas, Ipul adalah salah satu teman terbaikku. Teman seperjuangan yang tak akan pernah hilang dari ingatan..
Begitu banyak hal yang aku lalui bersamanya. Mulai dari ketika kami masih menjalani ospek, merasakan menjadi pengurus UKKI, mentoring bersama, hingga menjalani masa-masa kerja praktik yang seru.
Ipul adalah orang yang paling sering mendengar cerita kehidupan pribadiku. Terutama untuk urusan cinta. DIa adalah orang yang paling tahu bagaimana waktu aku pertama kali jatuh cinta, mulai berani mendekati wanita dan jatuh bangunnya aku ketika putus cinta.
Darinya aku belajar banyak hal tentang hidup dan kehidupan. Bagaimana menjadi orang yang jujur terhadap diri sendiri. Menjadi orang yang lebih ekspresif. Menjadi orang yang lebih peka terhadap kehidupan sekitar dan hal-hal lain yang tidak bisa kusebutkan satu persatu.
Dan kini, kebersamaan itu harus berakhir. Menyedihkan memang melepas orang yang sudah tiga setengah tahun berjuang bersama. Rasanya menyedihkan. Seperti ada yang hilang.
Tapi aku yakin itu memang skenario terbaik dari Tuhan. Karena sejatinya setiap orang memiliki tugas masing-masing dalam hidup kita. Dan sepertinya, tugas Ipul dalam hidupku boleh dibilang telah usai. Meskipun tidak sepenuhnya selesai.
Kenangan bersamanya memang tidak selalu menyenangkan, tapi aku jamin semuanya itu amat berkesan. Aku tidak yakin bisa menemukan teman yang seperti dirinya lagi.
Kini, aku hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuknya. Semoga kehidupan yang lebih baik menjemputnya. Sedangkan aku di sini, akan terus memperjuangkan cita-cita dan harapanku.
Gerimis masih membungkus langit kota ketika aku, Vian dan Viki mulai berangkat menuju Lumajang, ke rumah Vian. Tujuan utama kami adalah berlibur. Melupakan sejenak kehidupan programmer yang tanpa jeda.
Jalanan licin, bahkan di beberapa tempat air mulai menggenang. Memasuki Sidoarjo, hujan mulai reda. Semakin ke barat, jalanan bahkan kering. Tidak ada tanda hujan turun.
Sekitar pukul 16.30, ban motor Viki bocor. Terpaksa berhenti, mencari tukang tambal ban. Perjalanan baru dimulai lagi setengah jam kemudian. Lalu lintas tergolong lancar, meskipun masih terlihat ramai.
Pukul 18.14, kami berhenti lagi di SPBU. Mengisi bahan bakar dan istirahat sejenak. Hari sudah gelap, tapi masih satu jam perjalanan lagi. Aku rasa perjalanan kali ini terasa lebih cepat dari yang waktu dulu.
Sejam kemudian kami akhirnya tiba di rumah Vian. Bertemu dengan keluarganya lagi. Bercanda gurau dengan Hanun --adik bungsu Vian-- yang sudah mulai masuk sekolah dasar.
Besok pagi kami berencana mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitar sini. Aku harus istirahat untuk menjaga kondisi tubuh. Tapi nanti malam ada MU vs Chelsea. Gimana dong?
Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan pada jam ke berapa kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan. Satu-dua keputusan itu membuat kita bangga, sedangkan sisanya lebih banyak menghasilkan penyesalan.
Saat itu hari masih pagi. Dedaunan masih basah oleh embun. Matahari masih malu-malu menampakkan wajahnya. Dan aku masih bermalas-malasan di atas tempat tidurku sambil memandangi layar HP.
Aku sedang memperhatikan foto seorang gadis yang sudah lama aku kagumi. Gadis yang begitu unik di mataku. Gadis yang kalau dilihat sekilas lebih mirip anak SMA daripada anak kuliahan.
“Oh iya, mau ngomong apa, Dik?” Tanyanya ragu-ragu.
Aku menghela napas panjang, meyakinkan diriku untuk mengatakannya. “Aku suka melihat matamu. Matamu indah.”
Entah apa yang mendasariku untuk mengatakannya. Aku juga tidak tahu. Hanya saja aku memang sangat menyukai matanya. Matanya yang bulat dan jernih selalu memancarkan semangat dan keceriaan. Setiap kali memandangnya selalu membuatku nyaman dan teduh. Dan aku tidak tahan untuk tidak mengatakan itu padanya.
“Masa iya, Dik? Indah dari mananya coba? Hehe.” Katanya dengan nada bercanda.
Kalau ditanya apa yang membuat matanya indah? Aku juga bingung bagaimana harus menjelaskannya. Itu seperti ketika kita ditanya apa yang kita rasakan setelah mendengar sebuah musik? Terlalu abstrak untuk dijelaskan.
“Entahlah, aku juga bingung. Yang jelas aku suka memandangi matamu. Semacam memberikan kenyamanan tersendiri untukku.” Aku menjawab sekenanya.
Guruku pernah berpesan bahwa sholat malam adalah cara terbaik untuk berkomunikasi dengan Allah. Jika kita sholat di sepertiga akhir malam, niscaya Allah akan mengabulkan do’a kita. Tidak perlu banyak-banyak, dua rakaat sudah cukup.
Tapi dua rakaat tersebut bisa menjadi berat jika tidak diniati dan tidak ada motivasi. Dulu waktu sekolah aku masih rajin melakukannya, karena selalu diingatkan oleh wali kelas kami.
Aku sudah cukup merasakan bagaimana ajaibnya sholat malam ini. Banyak hal baik terjadi yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Tidak perlu aku sebutkan satu-satu.
Selain untuk meminta, sholat malam juga cara terbaik untuk berkeluh kesah kepada Allah. Itu dulu yang aku lakukan saat tidak tahu harus bersikap bagaimana padamu. Juga saat kau memutuskan untuk menjauh dariku.
Ada kedamaian tersendiri saat air wudlu mulai membasahi wajah. Ada ketentraman saat kita mulai mengucapkan takbir. Dan ada kebahagiaan ketika kita bisa mencurahkan segala isi hati kita, segala keinginan dan harapan yang mungkin saja akan dikabulkan.
Kau tahu, namamu adalah yang sering kuperbincangkan dengan Tuhanku.
Hei, kau ada waktu sebentar? Aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Sesuatu yang sebenarnya sudah lama menjadi unek-unek di hatiku. Kau mau mendengarnya? Baiklah, begini ceritanya.
Kau tahu, anak muda zaman sekarang ini munafik sekali. Maaf jika terlalu kasar. Tapi itulah yang aku rasakan. Sekarang ini orang-orang begitu bangga hidup dalam kebohongan. Hidup di balik topeng.
Kau pasti juga bisa mengamatinya di sekitarmu. Hampir di semua media sosial, setiap orang berbondong-bondong tampil gaya. Pamer kehidupannya yang kelihatannya mewah dan bahagia. Makan di tempat mewah, mengunjungi tempat berkelas, liburan ke tempat wisata terkenal, dan berbagai macam cara lainnya yang bisa membuat mereka tampak luar biasa.
Sungguh, sebenarnya aku tidak masalah jika kehidupan mereka memang seperti itu. Maksudku, wajar jika orang-orang kaya yang melakukannya. Mereka punya uang dan itu sepenuhnya hak mereka mau dibuat apa uangnya.
Yang aku permasalahkan adalah jika yang bergaya itu orang yang kehidupannya biasa saja. Di luar mereka bergaya, padahal di rumah orang tuanya harus bekerja keras untuk membayar biaya kuliah. Apakah mereka tidak pernah berpikir bagaimana susahnya mencari uang? Apakah mereka tidak pernah peduli dengan penderitaan keluarganya? Sedangkan di luar sana mereka hura-hura.
Itu yang pertama, yang kedua tentang agama. Di zaman sekarang ini aku sering sekali menjumpai orang-orang, terutama wanita, yang mudah sekali membawa-bawa nama agama dan menyebut-nyebut nama Tuhan di setiap kata-katanya.
Kau tahu, aku punya teman perempuan. Di bionya ditulis “Allah is my first love”. Hei, jika dia memang jatuh cinta pada Allah, dia pasti tahu bahwa di agama kita wanita diwajibkan menutup auratnya. Sedangkan apa yang dia lakukan saat ini? Justru sebaliknya.
Satu lagi, teman perempuanku yang lain, mengatakan bahwa salah satu resolusinya di tahun ini adalah semakin dekat dengan Allah. Duh, bagaiamana dia bisa semakin dekat, orang dia saja masih pacaran. Apa dia tidak pernah berpikir?
Oke, disadari atau tidak, aku mungkin saja pernah melakukan salah satu yang telah kusebutkan di atas. Tapi setidaknya aku sudah menyadarinya, dan aku tidak ingin hidup di balik topeng.
Btw, terima kasih sudah mau mendengarkan isi hatiku. Ternyata aku terlalu banyak bicara. Maafkan.
Duh, sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku untuk sering-sering bercerita padamu. Aku sudah mendapat proyek baru. Dan kebetulan aplikasi yang kukerjakan kali ini butuh cepat selesai. Jadinya siang-malam aku mati-matian mengerjakannya agar bisa launch tepat waktu.
Sebagai konsekuensinya, aku jadi tidak punya banyak waktu luang untuk bercerita. Bahkan kuliah pun akhir-akhir ini tidak begitu aku perhatikan. Semoga aku tidak terlalu ketinggalan.
Tapi untungnya akhir-akhir ini aku mulai rutin membaca lagi setelah berbulan-bulan tidak membaca. Aku menyempatkan diri membaca ketika waktu istirahat siang. Atau ketika sedang menunggu Android Studio menjalankan build gradle. Juga sebelum tidur.
Ya, selalu menyenangkan ketika membaca. Aku bisa merasa hidup di dunia ‘lain’. Dunia yang bahkan tak pernah kubayangkan sebelumnya. Bisa merasakan kehidupan orang lain. Belajar banyak dari pahit-manis kehidupan di dalam cerita. Sedikit-banyak itu membuatku menjadi orang yang lebih bijak.
Oke, mungkin itu dulu yang bisa kuceritakan. Aku sudah mengantuk berat. Besok harus berkutat dengan baris-baris program lagi. Baiklah, selamat malam. Oyasumi.
Ketika pertama kali membuka mata pagi ini, aku tersadar bahwa sedang berada di rumah. Setelah sebulan tidak pulang, akhirnya bisa menyempatkan diri untuk bertemu dengan orang rumah. Maklum, kerjaku bisa dibilang sampai hari Sabtu. Jadi kalau pulang cuma sehari rasanya kurang dan jadinya lelah di jalan.
Oke kembali ke rumah. Tadi malam kebetulan ada jamiyah perempuan di rumahku dan Ibu membuat gado-gado. Jadi pas sampai rumah langsung disambut dengan gado-gado. Btw gado-gadonya pedes banget.
Untuk agenda hari ini sepertinya aku akan main ke rumah temanku untuk main PS dan juga mengunjungi dia. Akhir-akhir ini dia sedang sakit, jadi aku harus memberi dukungan moral untuknya. Hope he will get well very soon.
Selanjutnya mungkin aku akan di rumah saja menunggu saudaraku yang katanya butuh bantuan. Atau jika dia tidak jadi datang, aku bisa mengunjungi keponakanku yang lucu.
Hari ini seru banget. Setelah belanja celana jogger pants, aku, Andri dan Fuad nonton JKT48 di Grand City. Kebetulan ada pameran otomotif, dan jika ada Honda hampir pasti ada jeketi. Hari ini penontonnya lebih tertib dari sebelumnya, jadi bisa ngechant dengan tenang. Aku selalu senang ketika bisa ngechant bareng-bareng seperti ini. Entah kenapa, menyenangkan saja bisa teriak bersama-sama. Semacam membangkitkan semangat. Semakin sering nonton aku jadi semakin ingin ke teater. Hope someday I'll make it true.
Oh ya, aku lupa belum menceritakan kelanjutan studiku. Jadi, selain bekerja aku juga memutuskan untuk lanjut kuliah. Tapi tidak di LJ (lanjut jenjang) reguler, melainkan di jalur PJJ (pendidikan jarak jauh).
Kenapa harus PJJ? Jadi begini ceritanya, waktu aku diterima di Dhezign, aku ditanyai apakah mau kerja di Bogor. Aku yang sejak dulu ingin berpetualang tentu saja langsung mengiyakan.
Awalnya aku memutuskan untuk menunda kuliah, setidaknya tahun depan. Dan mencari yang dekat tempat kerja saja. Tapi setelah melihat biaya perkuliahan di sana aku jadi ragu. Rasanya terlalu mahal untuk jenjang ini.
Akhirnya aku memutuskan untuk lanjut di sini saja, tapi di jalur PJJ. Kebetulan seniorku di tempat kerja juga ada yang PJJ. Jadi, nantinya aku akan sering pulang pergi Surabaya - Bogor. Pasti seru.
Hai, apa kabar? Sudah lama sekali ya aku tidak cerita padamu. Sudah hampir setengah tahun. Bukannya aku tidak mau cerita, tapi ya gitu, masih terlalu banyak kesibukan. Oke, mulai sekarang aku janji akan lebih sering bercerita.
Baiklah, jadi setelah semua urusan tugas akhir selesai waktu itu, aku memutuskan untuk segera mencari pekerjaan. Pertama, tentu untuk segera mengisi kekosongan waktu. Kedua, aku sudah tidak ingin lagi merepotkan orang tuaku. Syukur-syukur aku bisa membantu mereka.
Setelah mengirim lamaran di beberapa perusahaan, akhirnya aku diterima di PT. Dhezign Online Solution sebagai Android Developer. Memang bukan perusahaan yang corporate, tapi aku cukup bangga bisa bergabung. Aku merasa bisa belajar banyak di sini.
Rasanya pertama kali kerja? Jangan ditanya. Gak enak banget. Pertama, karena belum ada yang kenal, jadinya aku merasa terasing. Apalagi aku bukan orang yang mudah bergaul. Kedua, gara-gara kehidupan waktu TA yang penuh dengan ‘leyeh-leyeh‘, jadinya agak kaget tiba-tiba harus bekerja seharian.
Jadi begitulah, awal-awal kerja memang berat. Harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Sempat berpikir untuk berhenti. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, sepertinya aku lebih baik bertahan dulu di sini. Orang-orangnya baik.
Apa saja yang sudah kukerjakan? Hmm, baiklah, kau bisa langsung melihatnya di sini.