Mungkin aku hanya cemburu, kok bisa dengan mereka se-seru itu..
Sedangkan kala kita bersama sesepi ini, bahkan merasa paling sibuk sendiri
YOU ARE THE REASON

blake kathryn

No title available
Xuebing Du

Discoholic 🪩

PR's Tumblrdome
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

JVL

Kaledo Art

roma★
Lint Roller? I Barely Know Her

izzy's playlists!
No title available
$LAYYYTER
RMH
Keni
hello vonnie
Mike Driver

Love Begins

pixel skylines
seen from Bangladesh
seen from Ireland

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
@secretlyherarcade
Mungkin aku hanya cemburu, kok bisa dengan mereka se-seru itu..
Sedangkan kala kita bersama sesepi ini, bahkan merasa paling sibuk sendiri
Because love, should be effortless
Beriring tetapi rasanya asing 😔
What are we fighting for?
Sebelum Genap.
“Ujung dari langkah yang kita buat untuk mencari adalah penerimaan.” - Iidmhd
… karena akan selalu ada yang lebih baik tetapi yang menerima apa adanya kamu; tidak selalu ada.
Menilik postingan instastory Masgun kemarin seputar “Apa sih yang kamu ingin tanyakan kepada calon pada saat proses pranikah yang mungkin sungkan ditanyakan tetapi penting?“ dan seperti biasa respon dari ask me tersebut memberikan banyak sekali pencerahan.
Berikut beberapa hal-hal yang perlu ditanyakan menurut followers Masgun beserta tanggapannya:
Visi hidup dan rencana setelah menikah? (Make sure. Jangan sampai tidak ditanyakan)
Apa yang dilakukan jikalau marah? Pernah sampai mengekspresikan dengan kekerasan fisik? (Sifat temperamental, mudah marah, dsb perlu divalidasi di lingkungan dan pertemanan dia selama ini. Bagaimana dia jika ada masalah, dsb. Teman-teman terdekat di lingkarannya yang paling melihatnya. Potensi KDRT-nya besar jika kamu tidak bisa mengenali dan mencari data valid soal ini)
Bersediakah setelah menikah tinggal dekat dan atau bersama orang tua saya? (Ini cukup sensitif, tidak mudah bagi seorang menantu untuk beradaptasi tinggal serumah dengan mertua. Jika calonmu mengatakan bersedia, menjadi wajib bagimu untuk membantu dan membuatnya nyaman di rumah orang tuamu. Jika tidak bersedia, tidak perlu memaksa. Cari yang lain)
Orang tua berbeda ormas, bagaimana? (Termasuk berbeda soal lainnya, contoh: beda organisasi keislaman, beda budaya, beda cara pandang soal sesuatu. Ada keluarga-keluarga yang menganggap hal-hal seperti itu sebagai syarat mutlak. Ada juga keluarga yang terbuka terhadap perbedaan seperti itu. Jika tidak bisa diterima oleh keluargamu. Tidak perlu memaksakan. Menikah urusannya panjang, kalian tidak hanya hidup berdua)
Sex life. Banyak sekali kasus tiba-tiba suami didiagnosis HIV positif kemudian yang terkena imbas adalah keluarga. (Ini bisa jadi pertanyaan tabu tetapi penting. Ada yang menjadikannya hal penting, contoh: keperawanan atau keperjakaan, ada juga yang tidak. Jadi, jika sex life ini penting bagimu. Tanyakan. Lebih berat menanggung risikonya daripada beratnya bertanya)
Saya ingin bekerja walaupun sudah menikah. Bagaimana? Boleh? (Ini menjadi case di kalangan perempuan, ingin bekerja setelah menikah. Jika itu penting bagimu, tanyakan. Tidak sevisi. Cukup sampai di sini. Cari yang lain. Karena itu juga akan melihat soal mindset. Perkara nanti kamu ketika menikah akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga, itu juga keputusan sadarmu. Bukan karena disuruh dan terpaksa)
Uang yang kamu dapatkan dari mana saja? Uangnya mengalir ke mana saja? (Ini penting sekali, serupiah pun jangan sampai lolos. Karena ini untuk menjaga harta yang ada dalam keluarga itu benar-benar halal dan berkah. Sekaligus untuk menghitung zakatnya. Jika sudah sampai haul/nisabnya)
Jika saya ternyata tidak kunjung memberikan keturunan, apakah akan menikah lagi atau akan bersabar? (Ini juga pertanyaan sejenis, contoh: laki-laki atau perempuan tidak subur karena kondisi atau sakit tertentu sehingga tidak memungkinkan memiliki anak dalam pernikahan. Hal seperti ini, harusnya tidak hanya ditanyakan kepada pasangan tetapi bagaimana pendapat kedua orang tuanya. Karena bisa jadi ybs tidak mempermasalahkan tetapi tidak dengan orang tuanya)
Pernah HS (having sex) atau tidak? (Hal-hal seperti ini, mungkin ada yang terbuka dan ada yang tidak. Karena bisa jadi jika batal proses pra pernikahannya, kamu jadi tahu rahasianya. Jadi, sepakati sejak awal bahwa di proses pranikah akan terbuka. Karena bagimu ini penting, jika dia tidak bersedia. Ya sudah lebih baik berhenti sebelum lebih jauh sampai kamu mengetahui rahasianya, kecuali dia memang bersedia secara pribadi ingin mengatakannya di awal bahkan sebelum proses lebih dalam. Karena dia memiliki pandangan bahwa itu adalah pintu masuknya. Kita belajar bahwa aib yang Allah tutupi jangan sampai dibuka kembali jika ybs sudah bertobat. Jika kamu merasa perkara HS ini penting, make sure bahwa dia memiliki pandangan yang sama bahwa hal tersebut penting untuk diketahui sebelum menikah. Nanti berlanjut ke persoalan kesehatan reproduksi)
Gaji Pasangan. Ingin sekali menanyakan tetapi bingung memulainya. (Tinggal tanya, gajimu berapa dan bagaimana mengalokasikannya selama ini? Lalu rencana ke depan dengan pendapatan tersebut setelah berumah tangga. Jangan pertaruhkan hal-hal yang besar untuk perkara-perkara ketakutan-ketakutan yang kecil. Pernikahan itu hal yang sangat besar, bertanya dalam proses itu hal yang masih sangat kecil risikonya dibanding dengan menjalani pernikahan itu sendiri)
Apakah keluargamu memiliki utang? Apa saja janji-janjimu terhadap orang tuamu? (Insightfull, apa saja janji-janjimu kepada orang tua? Jawabannya akan sangat penting buat jadi pertanyaan ke diri sendiri, apakah saya bersedia membantu mewujudkan janji-janji tersebut atau tidak?)
Jika saya memiliki prinsip menghindari utang riba tetapi kamu justru kerja di bagian pencari nasabah, lalu bagaimana? (Ini prinsip-prinsip bermuamalah. Ini juga bisa direfleksikan ke hal-hal serupa yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dalam menjalankan agama. Jika bagimu penting dan tidak ada toleransi. Seharusnya tidak ada ruang untuknya. Jika masih ada ruang, berarti itu dorongan hawa nafsu)
Kesehatan. Minta tes kesehatan sebelum nikah terutama tes HIV. (Medcheck. Jika kamu meminta dia medcheck, kamu juga harus. Jika ini penting bagimu, lakukanlah. Hal ini lebih banyak manfaatnya untuk kehidupan pernikahan ke depan. Jika kemudian hasilnya diketahui ada penyakit bawaan di diri calon. Kamu harus siap untuk mengambil keputusan. Jangan menikah karena kasihan, sungkan dan takut omongan orang)
Utang atau tanggungan keluarga saya masih ada. Kamu siap menerima atau tidak? (Saya menekankan kepada teman-teman jika tahu kondisi keluarga soal utang, dsb lebih baik dikomunikasikan. Sebab, utang itu diwariskan. Ekstremnya, jika orang tua tiba-tiba meninggal dan masih ada utang maka anak-anaknya lah yang harus melunasi utangnya. Apalagi jika kondisimu saat ini masih bekerja dan berjuang melunasi utang orang tua)
Pola asuh anak. Apakah nanti akan terlibat dalam pengasuhan atau fokus bekerja? Seperti apa pola asuhnya? (Pandangan soal pola pengasuhan ini juga penting. Jangan sampai ‘kecele’. Cek tidak hanya ke dia tetapi juga keluarganya. Jangan sampai kamu pro-vaks dan baru tahu setelah menikah jika pasanganmu itu anti-vaks. Bisa perang dingin di dalam keluarga. Dan pola-pola pengasuhan lainnya)
Nanti kerjanya bagaimana? Apa masih berbeda kota juga? Karena saya juga berat melepas karir saya sekarang. (Jika pada masa perkenalan sudah tahu career path-nya berbeda dan teguh terhadap keinginan masing-masing. Memang lebih baik tidak usah dilanjutkan. Karena itu adalah misi, caramu menjalankan visi besar yang mungkin kamu sendiri tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Apalagi jika pekerjaan tersebut memiliki urgensi besar untuk tetap kamu miliki seperti karena kamu harus membantu keluarga, dsb)
Siap dengan Mama saya yang selalu mengukur segalanya dari uang? (Kita mungkin bisa menerimanya, tetapi tidak bisa menerima orang tuanya atau juga sebaliknya. Dia bisa menerima kita dan orang tua kita tetapi kita sendiri tidak yakin apakah nanti hubungan antar keluarga (orang tua x orang tua) bisa baik. Jika ini penting untuk ditanyakan, tanyakan. Jika ini penting untuk dikatakan, katakan. Karena bisa jadi rumah tangga itu oleng bukan karena kitanya tidak siap menikah dsb tetapi karena intervensi orang-orang terdekat kita sendiri)
Izin poligami karena kerja di luar kota. Saya jawab silakan tetapi bukan dengan saya. (Saya tidak kontra dengan poligami, karena itu ada dalam agama yang saya imani. Yang jelas S&K-nya berlaku. Jika kamu merasa tidak bisa memenuhi S&K-nya tersebut, tidak usah diambil)
Kenapa kamu mudah sekali berutang (uang) demi mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan? (Watak atau kebiasaan bisa ditanyakan. Apalagi jika hal tersebut adalah sesuatu yang tidak se-value dengan diri sendiri. Jika masih tetap tidak menemukan jalan tengah, berbeda pandangan yang artinya sama juga dengan berbeda value. Pernikahanmu jauh lebih berharga daripada orang tersebut)
Jika saya ada masalah dengan Ibunya bagaimana cara dia mendamaikan kami? (Insightfull, bagaimana cara calon mengatasi masalah-masalah yang akan timbul antara kita dengan orang tuanya?)
“Pernikahan itu hal yang sangat besar, bertanya dalam proses itu hal yang masih sangat kecil risikonya dibanding dengan menjalani pernikahan itu sendiri.”
… karena lebih baik gagal dalam proses ketimbang gagal setelah menjalani pernikahan.
“Membangun visi dan misi keluarga itu berangkat dari memilih pasangan hidup.” - Istri Masgun
Lebih utama jadilah sebaik-baiknya dirimu; sebelum mencari atau ditemukan.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Libatkan Allah Subhanahu Wata’ala selalu di dalam prosesnya. Lalu niatkan menikah karena ibadah.
“Jika dulu niatnya menikah karena terlanjur suka, suruhan orang tua, faktor umur, ekonomi, keadaan dan situasi, semua ini harus diubah niatnya. Diubah niatnya memang karena ibadah. Ingin mengerjakan karena perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya. Dan betul-betul jika diniatkan ibadah, semua kejenuhan, perasaan-perasaan yang terbebani karena adanya karakter pasangan, beban-beban kewajiban seperti nafkah bagi laki-laki, melayani ekstra dari perempuan ke suaminya, ini akan jadi ringan.” - Ust. Khalid Basalamah.
Sehingga pernikahanmu senantiasa dilimpahkan keberkahan dan menjadi keluarga sehidup sesurga. Aamiin.
Sebab, pernikahan bukan lembaga rehabilitasi.
Berbenahlah sebelum menikah. Berbenahlah bukan agar diterima atau sebab ingin menikah tetapi berbenahlah karena kesadaranmu sendiri dengan memohon pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala.
Jangan berharap orang lain akan berubah setelah menikah; hal tersebut tergantung kemauan yang ada dalam dirinya. Keputusan yang secara sadar dibuat oleh dirinya sendiri.
Jika kamu pun menyadari bahwa mengubah dirimu sendiri harus melewati proses yang tidak mudah dan sebentar maka menjadi mustahil memastikan kamu bisa mengubah orang lain.
Telaah karakter, cara berpikir, dsb karena di situlah ‘rumah’mu seumur hidup; nantinya. Bukan hanya ‘rumah’mu namun juga ‘rumah’ bagi anak-anakmu; kelak.
“Jangan sampai kamu menikah dengan orang yang kamu tidak ingin hidup dengan sudut pandang dan cara berpikir yang kamu tidak mau.” - Masgun
Tidak ada yang sempurna memang, tetapi putuskan dengan penuh kesadaran dan sekiranya kamu rida menjalaninya.
Jadi, pastikan semuanya sudah ‘clear’ sejak awal; sebelum genap :)
WAH, MANTAB, Terima kasih udah bikin resume dari IGS saya :)
Anjay, mau nikah ribet gila..
Aink dulu mau nikah emang nanya nanya dulu sih,. Tapi ga sebelibet itu, ga ampe sedetail itu
For what? Toh ga bisa divalidasi. Kalo pas tanya tanya, si calon kita bohong dan baru ketauan pasca nikah emang mau apa? Cerai?
Kalo checklist nya mesti sepanjang itu, nyarinya kemana? Mending kan kalo ada yang clear semua trus dianya mau sama kita.
Eh aink bukan nyuruh nurunin standar yah
Cuman ya realistis aja.
Dari pernikahan aink yang masuk tahun ketiga, aink belajar banyak hal, salah satunya adalah
“People change”
Orang yang kita tanya tanya sebelum nikah biar tau karakternya ga akan kayak gitu selamanya. Ga ngejamin.
Tapi kan ini ikhtiar kang? Ya silahkan, tapi jangan ngambil kesimpulan final dari hasil tanya tanya sebelum nikah. Yang jawab jujur aja belum tentu bisa konsisten seminggu setelah menikah. Gimana yang ngibul?
Tau sendiri lah orang kalo ada maunya kek gimana.
Aink bukan maksud, mengkritik metode orang lain dalam mencari pasangan. Apa pun metodenya ya silahkan, mau bikin checklist buat survei kek, minta comblangin kek, pake aplikasi kek, silahkan.
Whatever,..
But, be flexible.. you are marrying human.
Ada kalanya kata kata ga sesuai kelakuan, visi misi terhalang kebutuhan hidup,. Gaji dan utang yang jungkir balik.
Yes, baiknya terbuka soal utang, gaji, dan gaya hidup. Tapi menurut aink jangan saklek. Jangan mempersulit jodoh sendiri.
Trus aink tergelitik dengan statement “Pernikahan bukan lembaga rehabilitasi”
You know what? It is,..
Pasangan kita tuh kayak cermin.
Bukan, jangan mikir kalo kita boros bakal dapet yang boros lagi. Ga gitu. Tapi pasangan kita tuh jadi cermin buat perkembangan kepribadian kita.
Dalam pernikahan, pasangan adalah orang yang paling tepat untuk membantu kita bebenah diri.
Setelah menikah, ada banyak hal buruk dari aink yang baru keliatan setelah berinteraksi sama istri.
Oh ternyata aink gini, oh ternyata aink kayak gitu. Baru lah bisa dibenahi. Interaksi yang intens antara suami istri akan saling membuka hal hal yang sebelumnya ga disadari oleh masing masing pihak.
Setelah sadar, perbaikan kualitas hidup alias rehab dimulai..
Eits, jangan salah kaprah. Bukan suami ngerehab istri ato sebaliknya, tapi masing masing saling memperbaiki diri. Pasangan cuma cermin yang bantu ngasih informasi, mana aja yang masih kurang pantas.
Kita butuh cermin untuk memperbaiki dan kontrol diri kan?
Aink selalu ga sreg dengan istilah “berbenah diri” atau “memantaskan” ketika menanti jodoh atau apapun lah itu namanya.
Jadi kalo ditanya kenapa belum nikah juga alesannya “lagi proses memantaskan diri”. Wekawekaweka. Mau kepribadiannya uda sesuper Mario teguh pun kalo kata Allah belum waktunya ya jodoh ga akan dateng, Bambang.
Trus orang orang yang nikah muda dengan berbagai alesan tanpa sempet berbenah diri whatsoever apakah pernikahannya ga valid?
Aink pengen berargumen soal ini tapi bakal panjang hahaha. Next time lah
Intinya, jangan ribet dan banyak tapi. Kuncinya satu,
Kamu ridha ga sama calonnya? Calonmu?
ketika menikah pastikan kamu ridha sama orangnya sama keluarganya. Jangan serakah dengan banyak checklist yang harus dipenuhi calon pasangan kamu, toh belum tentu yang daftar ratusan ribu.
Eh kalo kamu baru bisa ridha setelah puluhan clear di chacklist ya silahkan aja sih. Toh situ yang nikah kan.
Kalo aink sih, mending ambil satu atau dua kebaikan dari calon yang bisa kalian verifikasi kebenarannya sebagai modal. Cukup pegang erat itu saja.
Jadi ketika badai pernikahan datang, kalian punya pegangan
“Dulu saya menikahi orang ini karena X dan Y dan itu cukup membuat saya ridha”.
“Find a strong why, and you will never stop at anything. Including loving your spouse”
Sekian, aink jadi ga bisa tidur setelah dua bocil baru tidur tadi setengah sebelas. Istri udah pulas, moga nyenyak tidurnya
Sejak tulisan ini berkeliaran di timeline aku belum mau reblog karena masih belum setuju. Dan setelah direblog sama Kang Rubah entah kenapa, lebih suka sudut pandang Kang Rubah. Di kepalaku lebih masuk akal. Hahaha.
“People change”
Sekian~~
Intinya, nggak semua harus di bikin ribet, cukup dijalani sebagaimana mestinya. Merancang atau berangan-angan mau pasangan yang seperti apa, itu nggak salah. Tapi disini, Allah Swt. juga punya kehendak. Dia yang menakdirkan. Karena yang terbaik bagi kita belum tentu terbaik bagi Allah.. mengutip dari postingan seorang teman “Allah memberi apa yang kamu butuhkan, bukan memberi apa yang kamu inginkan…”
Jadi, hidup berprinsip itu boleh, hanya saja lihat keadaannya. Kalau kamu banyak menuntut pasanganmu dan menaruh kriteria tinggi untuk calon pasanganmu, nggak akan banyak yang sanggup bertahan, karena semua butuh proses penerimaan. Aku dengan kekuranganku, dan kamu dengan kekuranganmu.
Jadi, cukup saling terbuka satu sama lain, dan saling menerima. Suatu hubungan akan tercipta sebagaimana mestinya.
Pada akhirnya semua ceklis yang kita buat nanti akan berubah mengikuti cara berpikir, sudut pandang dan kebutuhan kita. Tapi yang ditekankan banget emang tentang keridhoannya sih. Soalnya kalau kita ridho dan merasa cukup serta menerima baik buruknya InsyaAllah perjalanan yang akan dilewati nanti lebih bisa diterima. InsyaAllah.
Dan sepakat bahwa setiap manusia akan berubah, manusiakan makhluk dinamis.
Saya pernah setuju dan karena adanya perubahan sudut pandang maka saya juga bisa menerima dengan baik,
Find a strong why, lalu tumbuhkan Ridho, insyaAllah cukup.
Bismillah
Sami'na wa atho'na
Tidak memberikan opsi negatif.
Lebih efektif menghambat negthink berkembang
Semestinya, tak kan ada khawatir jika kau percaya Allah menjaganya
you just have to fight ur argument
Perhatian apa lagi yg aku harapkan, sampai aku lukai seorang km
Sekhawatir itu
Jadi seacuh itu
Cukuplah aku akan adamu dan keluargaku
Melatih Bercukup
Tiap tanggal 1 awal bulan biasa jadi rutinitas saya tuk mengatur pos-pos alokasi keuangan keluarga.
Prinsip keuangan kami sederhana, tiap pendapatan bulanan dibagi 4 : pengeluaran harian 25%; investasi dan tabungan 25%; infaq zakat hadiah 25%; dan pos campuran (cicilan, pendidikan anak, upgrade rumah) 25%.
Selebihnya jika ada pendapatan tambahan sekecil apapun itu, langsung dibagi dengan 1/3 kebutuhan harian/bulanan, 1/3 ziswaf, dan 1/3 investasi.
Alhamdulillah pola ini sudah konsisten diterapkan sejak 3-4 tahun lampau. Dan bekerja mengendalikan dan melatih kami belajar “mencukupkan diri”.
Porsi pengeluaran harian yang besarnya 25% itu bukan hanya belanja harian aja. Ia terdiri dari pos seabreg : belanja harian, peralatan&perlengkapan rumah tangga, jajan ayah, jajan bunda, jajan azima, transportasi, kesehatan, liburan, dan pendidikan (beli buku/ikut course).
Mekanisme ini memaksa saya harus pandai mengatur pengeluaran. Terutama pos jajan saya personal. Maklum pos ini biasanya yang kita sering khilaf kalau punya uang lebih. Beli hape, beli baju, barang-barang hobi, dll.
Contoh tahun 2018 saya beli banyak peralatan olah raga dan susu protein. Akhirnya terealisasi karena saya irit-irit pemakaian pos pribadi saya bulan-bulan sebelumnya. Sepertinya gak akan bisa beli kalau pos bernama jajan ayah ini ga dihemat dan ditabung.
Menjadi masalah kalau jatah pos tersebut sudah minus. Tanda peringatan bagi kami. Kalau tetap dipaksakan, minus akan semakin luber-luber. Minus juga akan terbawa berkelanjutan ke bulan-bulan selanjutnya. Tidak diputihkan sebelum memang bisa normal sendiri.
Akhirnya disitu kami belajar tuk mencukupkan diri. Cukup itu menurut saya bukan tindakan pasif, tapi ia aktif. Ia harus dilatih dan dibentuk. Selagi kita masih mampu mengendalikan diri terutama.
Mengendalikan diri bisa bercukup dalam materi selalu menantang. Di kala lapang maupun sempit. Mencukupkan diri kala sempit tantangannya bersabar, mencukupkan diri kala lapang tantangannya nafsu.
InsyaAllah kita selalu percaya rezeki dari Allah cukup. Nikmat Allah cukup, bahkan berlimpah. Yang buat suka ga cukup itu menggantungkan kepuasan pada nafsu kita.
Betapa indah doa dalam hadits ini : Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563)
Mengingatkan kembali pada kita tuk bergantung pada Allah semata, bukan yang lain. Apalagi jika hanya kepuasan pada pemenuhan nafsu.
Memohon kepada Allah tuk mampukan kita bercukup hanya dari yang halal. Hal yang sulit di tengah beragam sumber syubhat dan yang dilarang Allah berseliweran.
Melatih diri tuk bercukup dengan membatasi diri bukan berarti pelit dan menyusahkan diri. Tapi kita melatih nafsu tuk tidak selalu jadi panglima pengambil keputusan.
Dengan mencukupkan diri, kita bisa lapangkan yang dititipkan Allah tuk membantu melapangkan urusan orang lain. Tuk mempersiapkan masa depan seperti yang Allah perintahkan. Dan tuk lebih banyak beramal di jalan yang Allah muliakan.
Semoga kita semua dimudahkan Allah tuk mencukupkan diri dengan yang halal dan berkah. Juga dengan melatih kedisiplinan dan pengendalian diri kita atas nafsu kita sendiri.
“Cukup itu bukan tindakan pasif, melainkan aktif. Ia harus dilatih dan dibentuk.”
Makasih, Bang Jay!
Many things that make me can't exist. Include myself.
Khususnya. Penyebab utama.
Minder(?)
Gapercaya diri di segala kondisi. Dengan siapapun itu. Selalu.
Memang gatau diri aku ni
Memang.
We were stronger than this
Aku tebus waktu ini. Janji
I'm 'just' so in love with you
Dont ask, just believe it sayang