Gghjjk

❣ Chile in a Photography ❣
we're not kids anymore.

Origami Around
NASA

Janaina Medeiros
wallacepolsom

No title available
Keni

★

PR's Tumblrdome
RMH
d e v o n
noise dept.
Lint Roller? I Barely Know Her

titsay

shark vs the universe

pixel skylines
occasionally subtle

ellievsbear

No title available
seen from Lithuania

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Japan

seen from United States
seen from United States

seen from South Africa
seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
@senyumanpena
Gghjjk
💗💗
RTM : Anak dan Zaman
Setelah berkeluarga, saya dan istri seringkali berdiskusi tentang kids jaman now dan segala rupa tantangannya. Sampai-sampai, tanpa sadar saya sendiri membandingkan bagaimana dulu masa kecil saya dengan anak-anak kecil zaman sekarang. Dan kami pun cemas, bagaimana kelak di zaman anak-anak kami ketika sudah lahir ke dunia ini.
Rasanya, perbandingkan itu tidak pernah selesai. Kami merasa, zaman kecil kami jauh lebih aman di bandingkan zaman sekarang, dalam banyak hal. Saat itu, kami juga lupa kalau setiap generasi pasti akan menimbulkan tantangannya sendiri berdasarkan zamannya. Dan sebagi orang tua/calon orang tua, sudah seharusnya kita bersiap untuk itu. Membekali diri dengan pengetahuan, dengan keterampilan, dengan keimanan, ketika kelak mendidik anak agar mereka bisa tumbuh menjadi baik, mau seperti apapun zamannya.
Tugas kita, sebagai generasi yang akan melahirkan generasi berikutnya, tidaklah mudah. Dalam membangun dan membina rumah tangga, semuanya berawal dari sini.
Pertama, dari saat kita memilih pasangan hidup. Proses ini bisa dikatakan gampang-gampang susah. Dan setiap orang yang ingin menikah akan melalui fase-fase kritis tsb, fase dimana merasakan betapa sulitnya membuat pilihan. Di usia berapapun, fase tersebut datang. Sebab, salah satu hak anak adalah dipilihkan orang tua yang baik, dan hak anak kita nanti tentu saja ia berhak memiliki ayah/ibu yang baik. Dan itu adalah pilihan kita, jodoh adalah takdir yang diikhtiarkan.
Kedua, memilih lingkungan tinggal yang baik. Selepas menikah, biasanya akan memutuskan untuk tinggal. Memilih tempat tinggal pun gampang-gampang susahnya, mirip seperti mencari jodoh. Kita bisa memilih untuk tinggal di rumah yang tertutup, berpagar tinggi, di lingkungan yang antar tetangganya tidak saling kenal. Bisa juga di daerah perkampungan, di tempat-tempat urban, di apartemen, dsb. Semuanya adalah pilihan. Dan bisanya, tempat tinggal yang kita pilih menyesauikan dengan tempat dimana kita bekerja. Dan, memilih lingkungan yang baik, itu memang sulit. Adalah sebuah anugerah yang luar biasa bila kita memiliki tetangga yang baik, lingkungan yang saling menjaga dan terjaga. Jadi, memilih tempat tinggal memang tidak hanya urusan bentuk fisik rumah, tapi juga bentuk sosialnya.
Ketiga, memilihkan pendidikan yang baik. Tentu saja pendidikan pertama adalah dari orang tua, wajib bagi orang tua memiliki bekal ilmu untuk mendidik anak-anaknya. Terutama pendidikan karakter. Sebagai orang islam, saya dan istri sepakat bahwa urusan tauhid harus diajarkan dan selesai sejak di rumah. Sebelum nanti anak-anak pergi merantau, pergi jauh menuju cita-cita atau impiannya. Urusan tauhid menjadi tanggungjawab kami. Karena itulah bekal yang bisa menjaga anak-anak, dimanapun ia berada, di lingkungan manapun nanti ia tumbuh di luar rumah.
Ada banyak hal lain. Dan sudah waktunya untuk bangun dan berhenti untuk khawatir. Kita tidak akan bersikap adil bila menginginkan anak-anak nanti tumbuh seperti bagaimana dulu ketika kita masih kecil. Zaman sudah berganti, sudah berkembang jauh, dan pikiran kita harus maju. Kita bersiap dan harus siap untuk menghadapi tantangan zaman untuk anak-anak kita nanti bertumbuh. Menjadi orang tua, juga gampang-gampang susah. Semoga, kita diberikan anugerah anak-anak yang baik dan berbakti dan kita dimampukan dalam menjalankan amanah sebagai orang tua yang baik.
Yogyakarta, 10 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi
Memang, kecemburuan itu terkadang sangat tidak masuk akal
setelah bertemu dengan teman SMP yang merasa cemburu karena mantannya sempat berteman denganku haha. Padahal waktu itu aku pribadi belum ada yang namanya pernah suka atau pacaran sama orang -_-
Jadi saat kondangan ke salah satu teman sejak TK, kita bertemu dan bercerita banyak hal. sampai akhirnya dia berkata dengan lantangnya “kamu kan dulu pernah pacaran sama bekas pacarku” dan semua teman-teman mendengarnya. Konyol memang, lucu juga. Tetapi dengan spontan aku menjawab “pacaran? umur segitu aku masih belum pernah ngrasain suka sama orang apalagi pacaran. plis deh jangan malu2in aku di depan temen2″. dia menjawab “loh emang jelas-jelas kamu ngerebut dia kok”. Masya Allah baiklah aku mengalah saja.
Cerita yang sebenarnya adalah sangat simple. Dulu aku satu organisasi OSIS dan Pramuka bersamanya. Kita tidak pernah berduaan dan tidak pernah dekat sama sekali. Karena kita 1 divisi yang mengurus hal yang sama jadi kita sering berkoordinasi. Selain itu, dulu semasa SMP saya pun sering diamanahi untuk menjadi pengibar bendera di hari Upacara baik untuk upacara setiap senin maupun upacara setiap kegiatan pramuka di hari jumat. Sangat kebetulan sekali aku sering dipasangkan dengan dia untuk mengibarkan bendera oleh guru kami. Yes, hanya sesimple itu.
Jadi, untuk kamu yang ngomong dengan lantangnya di hadapan teman2 semoga kamu bisa menjaga sikap saat kita berjumpa dengan teman-teman yang sudah tidak lama bertemu. Semoga kamu bahagia selalu. :)
Dan untuk aku pribadi, plis jangan suka kepikiran dan baper sama orang-orang yang ngomongnya ngaco tanpa bukti. wkwk
💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Pada saat Idul Fitri 2017, seperti biasa kamu bersilaturrahmi ke rumahku, mengajak ngobrol bapak mama dan tentunya bermain dengan Syafiq adikku. Sebelum hari itu, memang kamu sudah mengatakan akan ada beberapa hal yang ingin disampaikan olehmu kepada kedua orang tuaku. Sesaat sebelum kamu menyampaikannya, aku masih ikut duduk bersama dengan kalian di ruang tamu biasa kita bertemu. Terlihat sekali ada sedikit kecanggungan yang tidak pernah kulihat sebelumnya hahaha😂. 3-5 menit aku duduk bersama kamu, bapak, dan mama belum juga ada kata2 yang menjadi inti pertemuan hari ini. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kamar dan menguping dari dalam tentang isi pembicaraan kalian. Dan... Jeng jeng jeeeng, you did it!!! Alhamdulillah kamu berhasil mengutarakan kesungguhanmu menyayangiku di depan orang tuaku. Kamu mengatakan akan mengajak kedua orang tua dan keluargamu untuk bertamu dan saling berkenalan dalam acara lamaran yang direncanakan pada tahun baru islam. Dalam obrolan saat itu kamupun memastikan dan bertanya "apakah bapak dan mama merestui hubungan kami?". Di dalam kamar dengan hati yang sangat deg degan akhirnya aku lega dan berkata alhamdulillahhh karena jawaban dari bapak dan mama sangat merestui hubungan kami berdua. Restu orang tua in syaa Allah adalah restu dari Allah. Kami berdua yakin, dengan restu tersebut kami dapat melalui segala susah-senang di kehidupan bersama kami kelak.
Dan.... 3 bulan itu sungguh ternyata bukan waktu yang lama. Hari itu datang jugaa untuk kita berdua. Kamu dengan kurang lebih 30 anggota keluarga bersilaturrahmi ke rumahku, menyampaikan tujuan baikmu, menyampaikan rasa cintamu kepadaku dengan cara yang begitu apik di depan keluarga kita berdua. Bagiku, cara itulah cara paling romantis darimu untukku.
Tentang semua prosesi hari itu, aku ingin mengingat bahwa betapa bahagianya aku hari itu. Betapa aku merasa sangat bersyukur dipertemukan denganmu. Allah maha baik memang, selama ini kamu bertahan denganku padahal aku sangat jauh dari kata dewasa. Saat aku mengeluh segala hal negatif, kamu selalu melengkapiku dengan memberikan nasehat2 positif. Saat aku yang sangat spaneng ini, kamu dapat mengimbangiku dengan cara yang santai. Semoga rencana ke depan kita dipermudah oleh Allah SWT.
Terima kasih selalu ada dalam bahagia dan dukaku. Semoga aku pun begitu, dapat selalu mendampingi dalam segala bahagia dan dukamu.
Aku memilihmu karena Allah. Jika aku diberikan kesempatan untuk mengulang hidupku lagi dari awal, aku akan tetap memilihmu, mas Angga Abqori Bachrian.
~Dari aku yang selalu jadi sasaran pembuangan kentutmu~
Sabtu, 30 September 2017.
Bismillah...
Hidup sering terlihat tidak adil bagi kita, namun itulah yang terbaik bagi Allah
Menghadapi kejujuran terkadang menyakitkan.
Dulu.. Aku tak suka menceritakan sedikitpun masalah dan kesulitan ku Aku tak suka bercerita kesenangan yang telah aku dapatkan Aku tak suka mengeluh jika aku sedang sakit dan butuh pertolongan Aku tak suka membicarakan hal-hal yang menurutku tidak penting Aku tak suka dan tak ingin membicarakan semua hal yang menurutku tidak pantas orang lain tau selain diri sendiri Aku tak suka keluar makan bersama teman-teman Aku tak suka menghabiskan nasi atau makanan di piringku, sehingga Irwan atau Ganik yang sering menghabiskannya hahaha Oiya, aku juga tak suka rasa pedas sama sekali.. Ternyata aku yang seperti dulu, berubah setelah mengenal kalian.. Sekarang.. Tanpa kalian paksa, aku bisa menceritakan segala isi hatiku saat ini Saat ada kesulitan yang ku dapatkan, tak segan lagi untuk aku ceritakan dan meminta pendapat dari kalian Porsi makan ku? Meningkat 2xlipat dibandingkan dulu Selera pedasku bagaimana? Mungkin kalian tidak percaya Mie sepedas samyang sudah kuat aku lahap dan ketagihan😂😂 Ada beberapa hal sering dan selalu kita lakukan. Saat kita janjian untuk bertemu dan bermain, Gombet Angga yang sering terlambat datang. Dia paling suka tidur sepanjang hari. Paling lama mandinya. Dia ngga suka ngerjain tugas dan buat Presentasi dalam bentuk power point, sehingga terkadang aku yg membuatkan power point untuknya.tapi kalau boleh jujur saat aku baca tulisan pekerjaan dan power point yg dia kerjakan sendiri, bisa dibilang bagus dan menarik tentunya lebih baik Dr yg biasa aku kerjakan untuknya. Di antara kami berempat, mungkin dia orang yang paling royal dan mau melakukan apapun untuk teman-temannya. Kalo Gombet Irwan, dia orang yang paling cepet lulus di antara kami berempat. Orang yang spaneng. Dia lulus dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat cumlaude dan salah satu lulusan terbaik. Si kutu buku yang sangat Ontime. Dia paling bete kalo ada yang terlambat walau satu menit..hahaha dan dia adalah partner menulis karya ilmiah semenjak Kita di SMA..kalo urusan tulisan, kita saling berpendapat. Kabar baiknya, sampai sekarang dia masih rajin menulis seperti dulu, sedangkan aku? Sudah tertinggal jauh. Dia punya kebiasaan suka menggangguku di malam hari untuk menyatukan halaman karya ilmiah atau skripsinya. Herannya adalah sudah pernah aku ajarkan, tapi ga bisa-bisa sampai sekarang. Nah, sekarang giliran Gombet Ganik. Ganik itu kalau dari luar keliatan slenge-an, males, dan cuek. Tapi ternyata semuanya itu salahhh... saat mau keluar, dia sangat memperhatikan penampilan. Dia sama sekali bukan orang pemalas. Untuk mencapai sesuatu yg dia inginkan dia bisa belajar sepanjang malam. Hasilnya? Dia adalah lulusan terbaik (IPK tertinggi) di FIB saat kelulusan kami. Saat namamu di panggil ke atas panggung, demi Allah aku merinding dan nangis nik..😂😂 Dia bukan orang yg cuek, melainkan orang yang sangat perhatian. Dulu saat kami masih mengurus Sintesa, kami pernah sakit dan di rawat di rumah sakit. Dan nama penyakit kita dua duanya sama. Hahaha sehingga waktu itu ada agenda kepanitiaan yang sedikit terbengkalai karena sakit kita. Saat dirinya sedang sakit dulu, dia masih sangat memperhatikanku. Mengingatkanku makan dan istirahat. Ya, di malam itu saat aku sedang hancur, saat aku hanya ingin menemuimu, saat aku ingin menangis, saat aku lelah, aku datang mendatangimu. Kamu tau kan? Kamu memiliki tempat khusus di hatiku, nik. (To be countinued-)
Curhat : Kehidupan Pascamenikah (40 Hari Pertama)
*harusnya ini ditulis setelah 40 hari, eh malah ditulis setelah entah hari ke berapa.
Sebelum menikah, guru saya pernah berpesan sesuatu pada saya, yang saya praktekkan di awal pernikahan.
“Pik, nanti kalau sudah menikah, 40 hari pertama nggak boleh berantem. Nggak boleh marahan sama sekali.”
“Sama sekali bu?”
“Sama sekali. Meskipun kamu harus nangis-nangis nahan emosi, tahan. Jangan diluapkan. Jangan sampai kamu berkata-kata yang nggak baik, jangan sampai ribut-ribut. Dieeem aja, tahan. Sampai 40 hari.”
“Emangnya kenapa bu?”
“Nanti kamu akan terbiasa untuk meredam ego dan emosimu. Ibu dulu juga dipeseni hal serupa sama teman ibu yang menikah duluan. Kata beliau 40 hari pertama itu sedikit-sedikit mulai terbuka kelebihan dan kelemahan pasangan, jadi harus banyak sabarnya.”
Akhirnya waktu sebelum menikah saya mengajukan permintaan ini kepada suami. Supaya yang berjuang nggak saya sendiri. HAHA.
Terus gimana Pik 40 hari pertamamu?
Hari pertama sampai ke tujuh masih mulus, jalan tol, terus makin hari makin tahu gimana ternyata pasangan kita. Ada momen-momen dimana rasanya pas ituuuuuuuuuu kzlll harus nahan-nahan. Apalagi saya sama suami nggak LDR dan suami bekerja di rumah, jadi hampir 24 jam penuh kami saling membersamai. Kadang kalau udah kesel, nangis-nangis sendiri. Sampai nulis-nulis di diary sambil terisak-isak WAHAHAHAHA LEBAY. gak ding, ga terisak-isak juga.
Namanya juga dua orang asing, beda pola asuh, beda karakter, beda sifat, beda deh pokonya. Jadi harus maklum kalau ada yang nggak pas kadang-kadang. Misalnya nih kejadian di kami seperti ini : Mas adalah tipikal orang yang disiplin dan lebih banyak thinking, sedangkan saya cenderung selow dan lebih banyak feeling. Mas suka bersih-bersih, nggak kotorpun dibersihin. Sayanya bersih-bersih nggak sebegitunya. Mas lebih suka warna-warna seperti abu-abu, hitam, putih, dan merah. Kalau saya warna-warna cerah dan mostly pink. Mas suka terlalu hemat, saya realistis (kalau butuh beli, pengen mendekati butuh ya beli hahahaha). Mas hampir Vegan, dan saya masih betah dengan daging, lemak, dan jeroan. Wk. Dan banyak hal-hal lain yang bertolak belakang. Banyak yang harus saling diterima.
Tapi alhamdulillah, kami lulus 40 hari nggak berantem dan marah-marahan. Dan memang pembelajarannya kerasa sekarang, semoga sampai kami menua. Saya jadi belajar buat diem dulu kalau kesel, baru kalau udah enakan saya cerita. Kalau Mas lagi emosi, juga belajar buat nggak lama-lama. Dan kami berdua belajar nggak mengungkit-ungkit kesalahan pasangan (ya meski nggak bikin perjanjian untuk ini, tapi tanpa dibilangpun saya belajar dari Mas buat nggak ngungkit kesalahan). Kalau salah yaudah, salah, minta maaf, sebisa mungkin jangan diulangi.
Kalau prinsip Mas : komunikasikan. Semuanya harus dikomunikasikan dan emosi nggak boleh kebawa tidur. Kalau kesel bilang. Nggak boleh sok kuat. Kalau saya beda: sok kuat dulu di awal. Komunikasikan kalau lagi pas nggak marah, biar enak. wkwkwk. Nah lho. Tapi pada intinya, kita harus belajar untuk meredam lalu mengkomunikasikan semuanya dengan baik dan baik-baik. Saya masih belajar sih, huhu. Kadang malah nggak tahu harus gimana bilangnya, terus malah ditulis. Berharap Mas baca. Tapi saya sembunyiin. Dasar perempuan WKWK.
“Darimana pasanganmu bisa tahu atau berbenah kalau kamu nggak bilang?” kata Mas.
Pasangan kita juga perlu tahu apa yang kita rasakan, agar jika itu menyangkut kekurangan, bisa saling instropeksi. Dan jika menyangkut kelebihan, biar bisa saling berbahagia. Tapi nggak boleh tersulut emosi. Boleh kalau demi kebaikan–marah, tapi jangan marah-marah :)
Terimakasih bu, untuk pelajaran 40-Hari-Pertama-Anti-Berantem-dan-Marah-Marah. Kami belajar banyak. Semoga, bisa menjadi hikmah untuk teman-teman semua. Buat yang sudah menikah, nggak papa 40 harinya nggak pertama, di tengah-tengah juga nggak papa, asal disepakati dan diusahakan berdua. Biar sama-sama berjuang dan kebiasa. Intinya sih, ini cuma pembiasaan dan peredaman ego/emosi.
Semoga curhatan ini bermanfaat!
Semoga suatu saat nanti, kamu bisa mengerti dengan cara apa aku mencintai dan menyayangimu.
Boleh aku bercerita denganmu? Mmm..mungkin lebih tepatnya mengungkapkan perasaan yang terpendam. Bukan, aku tidak ingin mengeluh. Bukan juga, aku bukan ingin menyalahkanmu. Aku hanya ingin menceritakan segala hal yang aku rasakan. Apakah kamu mengizinkan? Jika tidak, aku tak akan memaksa. Biarkan ungkapan ini tetap kupendam dan berharap akan "kulupakan".
Terkadang atau bahkan sering kali, diam merupakan keputusan terbaik
Kamu rindu menulis yang sudah beberapa tahun kamu lupakan? Bagaimana sekarang rasanya saat ada keinginan menulis lagi? Senang bukan? Alhamdulillah.. terima kasih buat kamu yang 2 hari lalu menggetarkan hatiku untuk kembali "belajar" seperti dulu.
Keluarga : Berbagi
Sudah hampir dua pekan setelah menikah. Hal paling terasa adalah intensitas saya terhadap gadget berkurang drastis. Dan rasanya ada banyak hal yang ingin saya tulis, terkait kehidupan keluarga. Terutama keluarga baru, segala hal menjadi baru. Dan ini tidak tentang bagaimana cerita di keluarga kami, melainkan pelajaran apa yang kami dapat bersama-sama, pelajari bersama, dan dihikmahi bersama.
Benar sekali kata teman-teman saya dulu ketika jauh hari sebelum menikah, yaitu tentang menghabiskan ego. Dan tentu saja menghabiskan ego tidak semudah itu, mungkin paling tepat adalah keahlian meredakan ego.
Saya terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Saya terbiasa belanja pakaian tidak lebih dari 30 menit, seringnya hanya 15 menit karena saya tahu beli apa, berapa, ukuran apa, dan dimana. Kini saya tahu rasanya belanja tiga jam dan hanya dapat sepotong pakaian.
Tas punggung saya kini bertambah isinya, kadang bertambah dengan lipstik, bedak, kaos kaki, dan jilbab. Saya juga semakin terbiasa tertusuk peniti (dan sejenisnya seperti jarum pentul), sesuatu yang tidak pernah ada dalam dunia saya sebelumnya. Saya bingung, bagaimana mungkin perempuan bisa berlenggang nyaman dengan peniti dimana-mana pada kerudungnya.
Kembali tentang pakaian, warna favorit saya untuk pakaian hanya 3; merah maron, hitam, dan abu-abu. Kini saya tidak bisa secara egois memilih warna tersebut karena harus menyerasikan dengan warna lain yang dipakai oleh istri saya, begitu pula sebaliknya.
Saya jadi paham mengapa perempuan mandinya lebih lama dari laki-laki. Step-by-stepnya ternyata memang lebih banyak. Saya juga semakin terbiasa dengan komentar penampilan, kini saya maklum bila istri saya mengomentari penampilan saya yang selalu hitam, abu-abu, dan merah maron.
Dan setelah menikah memang hidup bertambah warnanya, warna dalam artian sebenarnya dan kiasan. Ada hal-hal baru yang memang mewarnai hidup ini, juga memang benar-benar ada warna tak terduga yang masuk ke dalam daftar pertimbangan saya, yaitu merah muda (pink). Saya tidak pernah memiliki barang berwarna pink kecuali sticky notes. Kini saya mulai ikhlas untuk memasukan unsur pink ke dalam rumah saya yang serba putih dan abu. Menyelaraskan dan menyerasikannya agar tetap indah.
Jadi, menikah memang tentang berbagi ruang. Ruang dalam hidup, dalam pikiran, dalam hati, dan dalam ego. Semakin luas ruang yang kita sediakan untuk berbagi, maka semakin mudah kita menerima apapun yang ada dalam diri pasangan. Selamat berbagi, selamat menyiapkan ruang.
Rumah, 6 Oktober 2016 | ©kurniawangunadi
Lucu :D