Mungkin banyak masalah yang membuat diri tidak betah, ingin meninggalkan Bumi. Tapi selalu ingat, banyak nikmat yang menguatkan untuk bertahan di Bumi. Sampai pemilik ruh bilang "Pulang, nak."
Unknown

izzy's playlists!
🪼

ellievsbear

pixel skylines
No title available
Peter Solarz
Show & Tell

#extradirty
KIROKAZE
I'd rather be in outer space 🛸
he wasn't even looking at me and he found me
sheepfilms
i don't do bad sauce passes
Three Goblin Art
trying on a metaphor

★
Today's Document
Game of Thrones Daily

Love Begins
YOU ARE THE REASON
seen from France
seen from United States
seen from France

seen from Indonesia

seen from T1
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Taiwan
seen from United Kingdom

seen from France
seen from United States

seen from United States

seen from Uruguay
seen from United States

seen from T1

seen from United States

seen from Malaysia
@sepasangsayap
Mungkin banyak masalah yang membuat diri tidak betah, ingin meninggalkan Bumi. Tapi selalu ingat, banyak nikmat yang menguatkan untuk bertahan di Bumi. Sampai pemilik ruh bilang "Pulang, nak."
Unknown
10 Ways to Simplify Life
1. Don’t try to read other peoples’ minds and don’t expect others to be able to read yours. Communicate if it is important to you.
2. Don’t expect to be friends with everyone. We all are different – and we all like different things. Instead, invest your time in a few good friends. That’s all you really need to feel happy and fulfilled.
3. Create a budget and live within your means. Accruing debt will only cause you to feel stressed.
4. Get rid of the monster of jealousy, and only compare yourself with yourself.
5. Organize your clutter and get rid of some stuff. It will leave you feeling calmer, and will save you lots of time!
6. Stay on the sidelines and don’t get drawn into pointless dramas in other peoples’ lives (unless it’s a crisis – and you know you ought to help).
7. Finish what you’ve started, and then do something else.
8. Treat every person you meet with respect, and err on the side of being patient and kind.
9. Accept there are things that you can’t change or control, and focus on those things that you can change or control.
10. Don’t be too proud to apologise. Admit that you were wrong, say you’re sorry, and move on.
Melatih Bercukup
Tiap tanggal 1 awal bulan biasa jadi rutinitas saya tuk mengatur pos-pos alokasi keuangan keluarga.
Prinsip keuangan kami sederhana, tiap pendapatan bulanan dibagi 4 : pengeluaran harian 25%; investasi dan tabungan 25%; infaq zakat hadiah 25%; dan pos campuran (cicilan, pendidikan anak, upgrade rumah) 25%.
Selebihnya jika ada pendapatan tambahan sekecil apapun itu, langsung dibagi dengan 1/3 kebutuhan harian/bulanan, 1/3 ziswaf, dan 1/3 investasi.
Alhamdulillah pola ini sudah konsisten diterapkan sejak 3-4 tahun lampau. Dan bekerja mengendalikan dan melatih kami belajar “mencukupkan diri”.
Porsi pengeluaran harian yang besarnya 25% itu bukan hanya belanja harian aja. Ia terdiri dari pos seabreg : belanja harian, peralatan&perlengkapan rumah tangga, jajan ayah, jajan bunda, jajan azima, transportasi, kesehatan, liburan, dan pendidikan (beli buku/ikut course).
Mekanisme ini memaksa saya harus pandai mengatur pengeluaran. Terutama pos jajan saya personal. Maklum pos ini biasanya yang kita sering khilaf kalau punya uang lebih. Beli hape, beli baju, barang-barang hobi, dll.
Contoh tahun 2018 saya beli banyak peralatan olah raga dan susu protein. Akhirnya terealisasi karena saya irit-irit pemakaian pos pribadi saya bulan-bulan sebelumnya. Sepertinya gak akan bisa beli kalau pos bernama jajan ayah ini ga dihemat dan ditabung.
Menjadi masalah kalau jatah pos tersebut sudah minus. Tanda peringatan bagi kami. Kalau tetap dipaksakan, minus akan semakin luber-luber. Minus juga akan terbawa berkelanjutan ke bulan-bulan selanjutnya. Tidak diputihkan sebelum memang bisa normal sendiri.
Akhirnya disitu kami belajar tuk mencukupkan diri. Cukup itu menurut saya bukan tindakan pasif, tapi ia aktif. Ia harus dilatih dan dibentuk. Selagi kita masih mampu mengendalikan diri terutama.
Mengendalikan diri bisa bercukup dalam materi selalu menantang. Di kala lapang maupun sempit. Mencukupkan diri kala sempit tantangannya bersabar, mencukupkan diri kala lapang tantangannya nafsu.
InsyaAllah kita selalu percaya rezeki dari Allah cukup. Nikmat Allah cukup, bahkan berlimpah. Yang buat suka ga cukup itu menggantungkan kepuasan pada nafsu kita.
Betapa indah doa dalam hadits ini : Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3563)
Mengingatkan kembali pada kita tuk bergantung pada Allah semata, bukan yang lain. Apalagi jika hanya kepuasan pada pemenuhan nafsu.
Memohon kepada Allah tuk mampukan kita bercukup hanya dari yang halal. Hal yang sulit di tengah beragam sumber syubhat dan yang dilarang Allah berseliweran.
Melatih diri tuk bercukup dengan membatasi diri bukan berarti pelit dan menyusahkan diri. Tapi kita melatih nafsu tuk tidak selalu jadi panglima pengambil keputusan.
Dengan mencukupkan diri, kita bisa lapangkan yang dititipkan Allah tuk membantu melapangkan urusan orang lain. Tuk mempersiapkan masa depan seperti yang Allah perintahkan. Dan tuk lebih banyak beramal di jalan yang Allah muliakan.
Semoga kita semua dimudahkan Allah tuk mencukupkan diri dengan yang halal dan berkah. Juga dengan melatih kedisiplinan dan pengendalian diri kita atas nafsu kita sendiri.
Membangun visi misi keluarga itu berangkat dari memilih pasangan hidup.
Libatkan Allah terus, minta Allah untuk menuntun. Bersegera, tapi jangan tergesa. Pilihlah yang memiliki nilai dan prinsip yang tak berseberangan secara fundamental denganmu, apapun itu, yang menjadi peganganmu.
Sholeh/ah itu luas. Peranan yang mau diambil untuk berusaha menjadi alim atau takwa itu banyak. Yang wajib adalah wajib. Sisanya soal pemikiran, kedewasaan, karakter, keluarga besarnya, pekerjaan, dan lain-lain takarlah di takaran yang sekiranya bisa kita tolerir. Sesuai kemampuanmu menerima.
Bertanyalah saat proses, pelajari dirinya dari caranya memerlakukan keluarganya atau anak kecil, periksa hubungannya dengan teman dekatnya. Ikhtiar ini, bisa kita optimalkan.
Ini nasihat, buat teman-teman yang sedang berproses. Selanjutnya, sejak awal hingga akhir bertawakkallah kepada Allah..
Ingat, jangan dicari kesempurnaan itu. Tak bakal kamu temukan pun sampai habis daya kamu mencarinya.
Ingat-ingatlah, menikah ini ajang beribadah. Kalaupun kamu punya sedikit petunjuk tentang dia dari usahamu mencari, mengorek, sedang sudah istikharah, direstui, dan memiliki kemantapan hati, maka…selama kamu libatkan Allah dan restu kedua orangtuamu, Allah nanti yang akan menuntunmu dengan caraNya.
Berumahtangga itu tak mudah, tapi dengan kuasaNya, pasti kita sanggup melaluinya.
“Embrace the struggle and let it make you stronger. It won’t last forever.”
— Unknown
Jangan bersedih ketika sekelilingmu maju beberapa langkah darimu. Jangan kecewa, ketika langkahmu takmampu menyamai mereka. Sungguh, apa yang bentang di hadapanmu, barangkali jauh lebih besar dari apa yang mereka jalani.
Ini hanya tentang waktu. Tentang berpraduga yang baik. Barangkali, di waktu yang tepat, kakimu akan menjejak pada sesuatu yang sesiapa pun akan mempertaruhkan segalanya untuk sampai ke sana. Jangan berhenti dan jangan kecewa. Kamu pantas mewujudkannya.
Jakarta, 19 Februari 2018
Finansial Keluarga Muslim
Notulensi Kajian Kemuslimahan, 15 Februari 2019
Bidang Kajian Islam dan Ilmu Pengetahuan UI Depok
——–
Finansial Keluarga Muslim
Pemateri: Ustadzah Syaza Syamsiyah
(Direktur PT. Jaya Optima, Sahabat Muslimah Dinas Perhubungan, Telkomsel Group, dan Panasonic Group, Daarut Tauhid)
—–
Pada umumnya, ketika mendengar kata rezeki, yang muncul di otak kita adalah uang. Padahal, bentuk rezeki itu banyak sekali, misalnya kesehatan, panca indra yang utuh, hingga hati yang mudah digerakkan untuk beramal soleh.
Di Jeddah, ada seorang kenalan yang memiliki bisnis restoran. Dulunya, ia bekerja sebagai office boy di sebuah perusahaan. Saking kecil gaji yang ia miliki saat itu, sampai-sampai ia malu menyebutkannya ketika ditanya. Namun, meski gaji tak seberapa, Allah menggerakkan hatinya untuk menyimpan uang yang dimilikinya di tempat yang tepat, yang diakui oleh direkturnya sendiri, tak mampu ia tiru.
Setiap kali menerima gaji, sebagian besar langsung ia sisihkan untuk anak yatim, sekalipun kondisinya sendiri sangat kekurangan dan ada tanggungan-tanggungan yang jika dihitung dengan mate-matika manusia, mustahil untuk bisa tercukupi.
Tentu di awal melakukan kebiasaan itu, keluarga keberatan. Untuk makan sendiri saja susah, mengapa harus repot-repot menanggung keperluan orang lain?
Namun, ia tetap melakukan kebiasaan ini bertahun-tahun. Ia percaya, Allah adalah sebaik-baiknya tempat menitipkan segala sesuatu dan power bersandar kepada Allah mampu melipatgandakan rezeki. Allah selalu memiliki caranya sendiri untuk mencukupkan hambanya yang bekerja keras dan tawakkal.
Ya, sebaik-baik perniagaan adalah perniagaan dengan Allah. Tidak akan merugi orang yang melakukan perniagaan dengan Allah. Jadi, sebagai seorang muslim, pandai-pandailah menempatkan harta kita di tempat yang tepat. Titipkan pada anak-anak yatim, orang-orang yang tidak mampu, orang-orang muslim yang mensyiarkan agama Allah, dan di jalan kebaikan-kebaikan lainnya.
Lalu, istiqomahlah melakukan itu sebab orang-orang yang sukses dunia dan akhirat adalah mereka yang mampu berkomitmen untuk tetap berada di jalan kebaikan. Pastikan pula harta yang kita peroleh itu halal dan tayyib.
Setelah berhasil meningkatkan keuangan menjadi lebih baik, yang harus kita lakukan adalah meningkatkan kemampuan bersedekah. Lipat gandakan kebermanfaatan diri seluas-luasnya. Jangan malah gaya hidup yang ditingkatkan sebab itu akan membuat kita menjadi orang yang tak pernah puas. Keuangan boleh meningkat, gaya hidup jangan.
___
🌏 : fb.me/masjidui
📹 : bit.ly/mesjidui
🐤 : twitter.com/masjidui
📷 : instagram.com/masjidui.id
Join di channel telegram Masjid UI untuk update info, notulensi dan rekaman kajian, klik bit.ly/masjidui atau @masjidui
-mari sebarkan-
Ada saat semesta membiarkanmu tidak tahu apa-apa dulu. Semua sudah direncanakan dengan tepat.
Antara Perbuatan dengan Pelakunya
Setiap perbuatan baik atau buruk pasti ada pelakunya. Namun setiap pelaku, suatu saat akan lepas dan meninggalkan apa yang diperbuatnya. Maka, antara perbuatan dan pelaku adalah hal yang berbeda. Kita tidak bisa menghakimi pelaku dari perbuatannya. Kita juga tidak bisa menyimpulkan perbuatan dari pelakunya.
Bencilah Maksiat, tapi Sayangi Pendosanya
Perbuatan maksiat sudah pasti dibenci Rasulullah SAW dan Allah SWT. Dan kita juga harus turut menjauhinya. Tapi karena antara perbuatan dan pelakunya adalah hal yang berbeda, maka kita harus tetap sayangi pendosanya.
Orang yang melakukan maksiat pasti mendapat dosa. Akan tetapi, pintu taubat selalu terbuka untuknya. Jika dia telah meninggalkan perbuatannya, maka dia adalah bagian dari kita. Jika dia telah memohon ampun kepada-Nya, niscaya hapuslah dosa-dosanya. Sehingga bisa jadi dia lebih mulia daripada kita. Jangan sampai kita lupa, bahwa hanya Allah-lah yang bisa membolak-balikkan hati hamba-Nya.
Janganlah kita menyerah kepada pendosa. Apalagi sampai membantu setan dengan menghinanya dan melaknatinya. Jangan pula kita menghakimi dan mencaci. Karena tugas kita adalah saling mengingatkan antar pribadi. Doakan dia agar kembali ke jalan Illahi. Mintakan kepada Allah SWT agar dosanya diampuni. Ajaklah dia dengan hikmah dengan kelembutan hati. Niscaya akan lebih mudah dalam menerima nasihat dan semakin semangat untuk memperbaiki diri.
Jika kamu melihat temanmu melakukan dosa jangan engkau malah menjadi teman setan mengalahkan dirinya; maksudnya, kamu katakan ya Allah, hinakanlah dia, laknatilah dia. Namun, mintalah kepada Allah agar dia peroleh ampunan. (Abdullah bin Mas'ud)
Kritiklah Pernyataan, tapi Muliakan Penyampainya
Setiap orang berhak mengutarakan pendapatnya. Tapi tidak setiap dari kita setuju atau suka. Kita tidak bisa memaksa semua orang untuk setuju dengan kita. Adalah hal yang wajar jika kita mempunyai pendapat yang berbeda. Sampaikanlah perbedaan pendapat dengan adab yang mulia. Antara perbuatan dan pelaku adalah hal yang berbeda, begitu pula antara pernyataan dengan penyampainya. Maka hormatilah penyampainya, karena yang kita tanggapi adalah pernyataannya. Gunakan kritik untuk menanggapi pernyataannya, bukan penyampainya. Selalu ingat bahwa kita tidak selalu benar dan orang lain tidak selalu salah.
Pendapatku ini benar. Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain itu salah, tetapi bisa jadi mengandung kebenaran. (Imam Asy Syafi'i)
Ada berbagai hikmah dan makna dalam sebuah pernyataan. Ada berbagai sudut pandang dalam sebuah pemikiran. Dan itu semua bisa disampaikan, tanpa memandang siapa yang menyampaikan. Siapapun yang menyampaikan kebaikan, wajib kita terima dan dengarkan.
Jangan melihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan. (Ali bin Abi Thalib)
Musuh Kita Adalah Penyakit, dan Bukan Penderitanya
Ibarat penyakit dengan penderitanya. Adalah perumpaan dari perbuatan dengan pelakunya. Kita membenci penyakit yang ada pada sesorang, tapi kita tidak benci kepada pribadinya. Bisa jadi orang tersebut adalah yang sangat kita cinta. Sehingga jika dia terkena penyakit, apakah dengan sebab penyakit tersebut lantas kita membencinya? Justru kita akan berusaha untuk membantunya, agar lekas sehat seperti sedia kala. Begitu pula antara maksiat dengan pendosa, serta antara pernyataan dengan penyampainya. Itu semua ibarat penyakit dengan penderitanya. Yang kita lakukan adalah membantunya untuk memperbaiki diri. Menolongnya untuk meninggalkan maksiat yang dijalani. Tunjukkan adab yang baik dengan muliakan dan sayangi. Sehingga di saat seperti inilah seharusnya kita menjadi di antara. Penengah ketika yang lain terlalu jauh membenci para pendosa. Penengah sehingga tidak menghakimi sebelum mengetahui kebenaran yang nyata. Semoga kita bisa menjadi perantara bagi kawan yang saat ini masih membutuhkan penunjuk jalan kebaikan. Semoga kita bisa menjadi perantara bagi pendosa untuk bertaubat dari kemaksiatan.
Bencilah maksiat, tapi sayangi pendosanya. Kritiklah pernyataan, tapi muliakan penyampainya. Musuh kita adalah penyakit, dan bukan penderitanya. (Ustadz Salim A. Fillah)
👨 : Yes, gaji cair.
👳 : Bersyukur nak. Gajimu nikmat dari Allah. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa."
👨 : Alhamdulillah Ya Allah.
TERUSKAN
Pernahkah kita merasa kecewa, ketika menyebarkan kebenaran, namun ditolak?
Pernahkah kita merasa sakit hati, karena kebaikan kita dibalas oleh keburukan?
Pernahkah kita merasa menyesal melakukan suatu kebaikan, lantas tidak dihargai?
Pernahkah kita merasa ingin menyerah karena kenyataan tidak seperti yang kita harapkan?
—
Adalah wajar bagi kita untuk merasakan itu semua ketika kita tidak mendapatkan hasil sesuai yang kita inginkan, karena sejatinya kita ini manusia yang punya perasaan.
Banyak dari kita yang sempat berfikir untuk lebih baik menyerah, dan fokus saja untuk memperbaiki diri, tanpa perlu memikirkan orang lain. Bukankah syurga itu adalah urusan masing-masing?
Namun ternyata, ada hal penting yang kadang kita lupakan dalam menjalankan kebaikan, bahwa sesungguhnya, setiap manusia yang menyebarkan kebaikan, akan selalu menemukan tantangan.
—
Bukankah sudah sampai pada kita, kisah para sekumpulan orang, yang menyebarkan kebaikan, namun ia selalu dihadang oleh keburukan?
Bukankah para nabi, selalu ditentang sekalipun mereka menyampaikan kebenaran?
Bukankah para nabi disebut penyihir sekalipun itu adalah mukjizat?
Bukankah para nabi disebut disebut gila sekalipun mereka yang paling berfikir?
Bukankah para nabi disebut sesat sekalipun mereka itu menunjukkan jalan?
Bukankah para nabi selalu ditolak sekalipun mereka menawarkan kebaikan?
Bukankah memang begitu jalannya kebaikan? Mengalami hadangan sekalipun itu adalah kebenaran?
Bukankah memang begitu jalannya kebaikan? Sekalipun itu adalah jalan yang lurus, namun ternyata tidak mulus?
Ya, setiap kebaikan, akan selalu bertemu dengan tantangan, dan rintangan.
Maka jangan menyerah, sekalipun banyak masalah.
Bukankah kisah para nabi, selalu berakhir dengan bahagia, sekalipun nampak menderita di awalnya?
Begitu juga dengan kita. Karena bahagia adalah milik semua umat manusia.
TERUSKAN Dumai, 13 Desember 2017
Dari Anas ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Permudahlah dan jangan kalian mempersulit, gembirakan dan jangan kalian menakut-nakuti !” (HR.Bukhari dan Muslim)
@Regranned from @if_moses - 8 PERKARA ANDA PERLU TAHU MENGENAI BAITUL MAQDIS HARI INI . . Karya: @if_moses & @daiekreatifventure . . Admin hasilkan komik/ilustrasi ni khas untuk korang2 yang bersemangat ingin dapatkan update isu terkini Palestin. . . . Selepas pengumuman Presiden Trump semalam (7 Disember 2017) yang mengiktiraf Baitul Maqdis, Palestin sebagai ibu negara Israel, ramai yang bangkit membantah. Alhamdulillah kita semua masih cakna & prihatin dengan isu ni. . . . Jadi, apa sebenarnya faktor, kesan, & kisah2 tersirat di sebalik peristiwa ni. Jadi admin ringkaskan kepada 8 perkara ni. Jom baca & jangan lupa kongsikan dengan orang lain jugak yeh! 😉 . . . #SolidaritiBersamaPalestin #PrayforJerusalem #MosesArtwork #DaieKreatifVenture #Rose2Rose #MyCARE - #regrann (di Jerusalem, Israel)
Doa Ketika mendung dan langit diselimuti awan hitam . . اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا فِيْه . .
Allahumma innii a'uudzu bika min syarri maa fiihi . . “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang terkandung di dalam awan ini.“ (HR. Bukhari). . .
Do'a Ketika Hujan Pertama Kali Turun . . اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً . .
Allahumma shoyyiban nafi’an . . “Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yg bermanfaat.” (HR. Bukhari). . . Do'a Ketika Angin Bertiup Kencang . . اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أرسلت بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أرسلت بِهِ. . .
Allahumma innii as aluka khairahaa wa khaira maa fiihaa wa khaira maa ursilat bihi, wa a'uudzu bika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarri maa ursilat bihi. . . “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan angin (ribut ini), dan kebaikan apa yg ada di dalamnya dan kebaikan dari tujuan angin itu dihembuskan. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, dan kejahatan apa yg ada di dalamnya dan kejahatan dari tujuan angin itu dihembuskan.” (HR. Bukhari dan Muslim) . . Dari group WA . . - @aprionii.regina - Kontribusi oleh @aprionii.regina
#duniajilbab
Repost dari @yusufmansurnew Belom makan rujaknya udah nangis duluan, bukan karena kepedesan tapi gara-gara denger jawaban si mbahnya yang makjleb di hati. Umurnya udah 80th, tapi semangatnya ngalahin yang muda, buka jam 5 sore sampe jam segini baru dapet satu pembeli, bahkan katanya sering kali gak ada pembeli sama sekali, beliau gak punya anak, gak punya saudara, cuma hidup sama suami yang lagi sakit, tinggal di rumah kontrakan yang (maaf) bagiku gak layak (1juta per tahun), setiap hari dari rumah kontrakan ke tempat jualan naik becak dengan tarif 20rb (padahal sering kali dagangannya gak laku sama sekali, tekor di ongkos, tekor di bahan dong). Ketika ditanya, "mbah, gak sedih tah?" Beliau menjawab, "kenapa sedih, wong masih sehat kok, masih bisa jualan, cari rejeki." Ketika dipancing pertanyaan, "mbah kalau jualan kan sering kali gak laku, rugi kan mbah, bahan-bahannya kan basi, harus dibuang, rugi buat ongkos becaknya, kenapa embah gak minta-minta aja sih?". Beliau menjawab, "endak nak, embah gak suka, gak barokah." Bagi temen-temn yang lagi jalan-jalan di daerah Jalan KH. Mas Mansur 72, Kampung Arab, Surabaya, seberang toko halim, silahkan mampir untuk sekedar ngelarisin dagangan mbah Niah, itung-itung buat membantu sesama & sedekah. Semoga beliau diberi kesehatan, kemudahan, dan kelancaran. 😭😭😭 - Note: Admin dapat share-an ini dari salah satu followers yang sharing via Line, yang dia juga hanya membantu share karena mendapati postingan tersebut di timeline linenya. Semoga ini bisa membantu si mbah, khususnya bagi masyarakat daerah Surabaya. Terima kasih 🙏
*GANTI UCAPAN KITA DENGAN DOA.* Jangan ucapkan ‘0k’ ucapkan “In syaa Allah” اِنْ شَآ ءَ اللَّهُ Jangan ucapkan “wow” ucapkan “SubhaanAllah” سُبْحَانَ اللهُ Jangan ucapkan “hebat” ucapkan “Maa syaa Allah” مَاشَآءَاللّهُ. Jangan ucapkan “saya baik2 saja” ucapkan “Allhamdulillah” الْحَمْدُ لِلَّهِ Jangan ucapkan “Terimakasih” ucapkan “Jazaka(ki,kumu)llahu Khairan” جَزَاك اللهُ خَيْرًا Jangan ucapkan “Hati2 ya…sampai jumpa” ucapkan “Fii Amanillah” فِي أَمَانِ الله Jangan ucapkan “Hello” ucapkan “Assalamu alaikkum Warahmatullah” السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ Doa yg indah untuk berterima kasih pada Allah, pada semua kesempatan. “Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatika” اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَv
Mari kita sama-sama membetulkan* : ★ *Aamiin*, ★ *In Syaa Allah , dan ★ *Menyingkat kata Assalamu'alaikum*. ★ Dalam bahasa Arab ada 4 kata amin yg berbeda makna : - Amin = Aman - Aamin = Meminta perlindungan - Amiin = Jujur - *Aamiin = Ya Allah,* *kabulkanlah do'a kami* ★ Kita seharusnya tidak menulis : *Insya Allah* = Menciptakan Allah (naudzubillah ..) Tapi pastikan kita menulis : *In Syaa Allah = dengan izin Allah* 💦💦💦💦💦 ★ Assalamualaikum, jgn disingkat, karena ;
1. As = Orang bodoh ; keledai 2. Ass = Pantat 3. Askum = Celakalah kamu 4. Assamu = Racun 5. Samlekum = Matilah kamu 6. Mikum = dari bahasa Ibrani, Mari Bercinta. - Salam pendek, - Salam sedang dan - Salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi dan tidak merubah makna aslinya :
1⃣ *Salam pendek* : “Assalamualaikum”. - Dengan 10 kebaikan.
2⃣ *Salam sedang* : “Assalamualaikum warahmatullah”. - Dengan 20 kebaikan.
3⃣ *Salam panjang* : “Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. - Dengan kebaikan sempurna.
Dengan penjelasan ini, mudah-mudahan tidak ada lagi yang menyingkat karena dapat merubah maksud. - Bila menurut anda ini ada manfaatnya, beritahu ke yg lain.
SHARE JIKA INGIN YANG LAIN DAPAT MANFAAT. Kontribusi oleh @quotesofmuslimah_
#duniajilbab