Di dalam pernikahan kadang masalah datang seperti benang kusut yang sulit terurai hanya karena tidak segera diluruskan.
Rasa tak mau mengambil konflik membuat saya di awal pernikahan enggan berdiskusi, enggan beradu pendapat, klo sudah ada tanda2 perbedaan otomatis bibir ini manyun atau ada segelintir air yg turun di pelupuk mata.
Suami saya yg jauh lebih tenang dan kalem dr saya berkali2 untuk mengingatkan bahwa perbedaan pendapat itu wajar, tapi ya ternyata waktu 4 tahun bahkan seumur hidup ini adalah waktu belajar terus menerus menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi.
Dulu ada satu titik saya berpikir dan merasa jika masalah dibicarakan, maka situasi yang menyenangkan ini bisa berakhir dengan kericuhan. Karena sikap saya menghindari konflik, masalah hari sebelumnya tidak dibahas.
Tapi.. masalah yang tidak dibicarakan ini sebenarnya masalah yang belum tuntas. Masalah yang seringkali akan kembali lagi datang dengan kondisi yang lebih berat. Uch... Karena keengganan untuk menyelesaikan, akhirnya justru membuat bola bola masalahnya menjadi besar. Bahkan lebih besar dari kemampuan kita mengatasinya. Akhirnya sudah terlambat dan terlalu ruwet untuk diatasi. (Jangan sampai ya)
Kita tidak ingin membicarakan masalah dengan tujuan agar hari berjalan dengan baik. Namun justru masalah akan seperti bumerang yang kembali menghampiri kita. Karena masalah semestinya diselesaikan, bukan dihindari. Belajar bersikap lebih tenang dalam segala hal, mendengarkan dan menyampaikan pendapat dengan baik adalah pelajaran seumur hidup. Di akhir diskusi suami mengingatkan kali ini bukan teori yg bisa diajarkan kedua anak kita tapi teladan.












