memohon pada Tuhan dengan teramat sangat.
Jika selepas dari pertemuan itu, saya dan kamu tidak akan pernah menjadi kita yang utuh, tolong—
segera hilangkan rasa gemuruhnya, saya ga mau tersakiti sendirian.
sedang kamu, sibuk merajut bahagia tanpa saya—ikut serta.
Dan ternyata, Tuhan tetap mempertahankan rasanya.
membiarkan bayangmu turut serta pada setiap perjalanan hidup saya, seakan menuntun saya pada setiap perjalanan menyenangkan lainnya, pun ketika saya sedang berada pada titik saya meminta dengan pasrah, Tuhan memberikan kedua jalan yang keduanya merupakan jawaban. Jawaban menuju jalan bahwa kamu bukanlah tujuanku.
Dan jawaban menuju satu kabupaten yang lebih dekat denganmu.
Apa artinya saya dan kamu memang akan menjadi kita yang utuh?
Apa artinya Tuhan tetap mau saya menyimpan kamu? Menunggu sampai waktu di mana kamu dan aku dipertemukan kembali untuk menjadi utuh?
atau ternyata, Tuhan sengaja mempermainkan saya? Membiarkan saya terbuai pada rasa yang saya sengaja pelihara?
Lalu buat apa semesta kembali membiarkan kamu merusak segala bentuk pertahanan yang sudah saya bangun—tepat pada sebelas bulan pasca terjadinya pertemuan? Kenapa juga hanya sebuah postingan keikutsertaan kamu pada kehidupan orang lain berhasil meruntuhkan segalanya?
Lupakah Tuhan bahwa—jauh sebelum saya bertemu dengannya— saya pernah berdoa dengan sungguh-sungguh dan mengucapnya berulang di setiap doa saya bahwa jangan pernah biarkan saya jatuh cinta selain pada-Nya? Tidakkah Tuhan ingat bahwa saya pernah berdoa merapal mantra meminta untuk jangan pernah membiarkan saya jatuh cinta pada ciptaan-Nya sebelum saya siap merasakan gemuruhnya?
Dan jika Tuhan mengizinkan saya jatuh cinta pada ciptaan-Nya, saya memohon dengan teramat sangat,
untuk jangan ada jatuh cinta kedua
jangan pernah hadirkan patah hati pertama.