Mengerdilkan Diri Sendiri
"Kalau harus milih satu warna, menurutmu warna apa yang paling mengambarkan Mila di pikiranmu?"
"Karena Mila yang seimbang, punya banyak energi, dan Mila yang percaya dirinya melebihi ketakutannya."
Aku dibuatnya terdiam memikirkan kata-katanya barusan. Sedangkan tanpa dia dan seluruh orang yang mengenalku ketahui, orens adalah warna yang kubenci. Menurutku orens teralu silau, teralu bersinar, teralu ingin diliat, teralu energik, teralu panas. Berbagai sifat yang aku tidak mau ada dalam diriku.
Sehingga saat dia mengatakan orens adalah warna yang paling mengambarkan sosokku di pikirannya. Aku tidak terima. Aku menolak. Aku terdiam, bertanya ..., "apakah memang aku orang yang seperti itu?"
Dalam percakapan lain, aku bercerita kepadanya tentang aku yang ingin menjadi seorang penulis yang akan selalu jadi diri sendiri. Aku jujur padanya bahwa ekspektasi orang lain, membuat menulis menjadi terasa berat bagiku.
Dia menenangkanku dengan memperlihatkanku sosok-sosok penulis besar yang tetap konsisten menjadi diri mereka sendiri.
"Aku kepengen kayak mereka," ucapku.
"Bisa banget kalau Mila, mah,"
Terkadang, aku suka heran mengapa seringkali orang lain lebih mampu percaya dengan mimpi-mimpi kita sendiri di banding kita yang memiliki mimpi-mimpi itu? Mengapa orang lain terasa lebih mengenal dan mengetahui akan diri kita di bandingkan diri kita sendiri yang telah bersamanya dalam kurun waktu yang lama? Mengapa orang lain menjadi sosok pertama yang mendukung cita-cita kita dan kita malah menjadi bagian yang mengerdilkan apa yang kita ingin usahakan?
Terkadang, kita menjadi orang pertama yang mengecilkan proses yang telah kita lalui dan mimpi yang ingin kita raih. Sehingga keberadaan orang-orang yang percaya bahwa kita mampu, dan kita pasti bisa, akan sangat membantu kita untuk bisa berpikir bahwa kita lebih dari sekedar apa yang selama ini sering kita sangkakan.