“Yahh, Kakaaaaak! Ayo dong temenin aku, yayaya?” rengek Salsa yang meminta Kak Danny untuk menemaninya jalan-jalan.
“Kakak gak bisa Sal, kakak lagi banyak tugas. Tinggal minta anterin Pak Nandi aja kenapa sih!” ucap Kak Danny yang sedikit kesal terhadap ulah adiknya yang manja itu.
“Ihhh, bukannya gitu. Kakak ngerasa gak sih sekarang kita jarang banget jalan bareng, kakak selalu sibuk sama tugas, setiap aku liat pasti lagi mainin laptop. Sebenernya yang adiknya Kak Danny tuh Salsa apa laptop sih?!” Salsa mengeluarkan unek-uneknya kepada Kak Danny.
“Laptop!” ceplos Kak Danny tanpa sadar.
“Eh, maksud kakak, adiknya Kak Danny ya Salsa lah bukan laptop, masa laptop sih! Hehe.” lanjut Kak Danny sambil menyerigai.
“Tau ah! Pacaran aja sanah sama laptop!” cetus Salsa, dia berbalik meninggalkan Kak Danny.
“Salsa, Kak Danny kangen banget sama Salsa. Sekarang Salsa berubah, beda sama yang dulu.” lirih Kak Danny sendu.
Salsa sudah menjadi siswi di salah satu SMA ter-elite di Jakarta. Salsa yang manja dan ceria, keceriaannya itu bisa membuat siapapun nyaman berada didekatnya sekarang justru berubah menjadi pribadi yang tertutup, dingin, dan terkesan jutek. Disekolahnyapun dia jarang memiliki teman, hanya Helen dan Doni saja yang nekat untuk mendekatinya.
Alunan yang sangat ditunggu-tunggu, jam istirahat.
Helen berjalan ke arah bangku Salsa, bermaksud untuk mengajaknya ke kantin, hanya tinggal ada mereka berdua dikelas, lainnya sudar berburu makanan dikantin, “Sal, kantin yok! Laper guee, hehe.” Ucap Helen menunjukan deretan gigi putihnya yang berbehel.
“Males gue Len,” tanggap Salsa cuek, tanpa menolehkan wajahnya dari novel yang sedang dibacanya.
“Sal, sampai kapan si lo kaya gini terus?” tanya Helen miris.
“Kaya gini gimana maksud lo?” Salsa menutup novelnya dan berbalik menatap Helen.
“Gue udah kenal lo dari lama, ini bukan lo!” ucap Helen penuh penekanan.
“Ini ya gue lah” ujar Salsa mencoba untuk tetap santai.
“Lo selalu kaya gini, lo selalu bercermin yang dimana itu bukan bayangan lo sendiri” Helen memutar bolamatanya, kesal.
“Maksud lo tuh apa sih Len?” tanya Salsa, memicingkan matanya seolah meminta penjelasan.
“Gak usah belaga gak tau apa-apa deh Len! Gue tau gimana lo dulu. Tolong lo jadi Salsa yang dulu, Salsa yang ramah selalu ceria, yang selalu bikin siapa aja nyaman dideket lo! Gak kaya sekarang, Salsa yang diem, murung, gak punya temen!”
“Stop, Len!” perintah Salsa, dadanya pergemuruh mendengar perkataan Helen.
“Kenapa Sal? Siapa yang selalu jadi idola di sekolah? Salsa. Siapa yang bikin anak minder jadi punya temen? Salsa. Siapa yang bikin Helen gak di kucilin lagi waktu SMP? Salsa. Siapa yang bisa bikin Doni jat...”
“STOP LEN! LO GAK TAU APA-APA! MENDING LO DIEM!” bentak Salsa.
“Sal, udah! Lo gak perlu bentak Helen gitu.” Lerai Doni yang entah sejak kapan sudah berada disitu, Doni memang duduk di kelas yang berbeda dengan Helen dan Salsa.
“Dia gak tau apa-apa Don!” ucap Salsa penuh penekanan.
“Lo pikir gue tau apa, Sal? Gue sahabat lo tapi gue gak tau apa-apa tentang lo, masalah lo, dan pribadi lo yang sekarang.” Balas Doni tajam.
“Sal, kita tuh kangen sama lo, bukannya kita gak mau ngetiin lo dengan perubahan lo yang sekarang, apapun yang lo lakuin asal itu baik buat lo, pasti kita dukung. Tapi kalo kaya gini, gue ngerasa gak kenal lo, jangankan gue, bahkan gue yakin lo juga udah gak kenal sama diri lo yang sekarang.” Ucap Helen terisak. Doni yang melihat perdebatan kedua sahabatnya hanya bisa terdiam menahan sesak.
“Gue.. gue gak tau, gue gak tauu,” Salsa menelungkupkan kedua telapak tangannya di muka.
“Kita itu temenan, bahkan gue udah nganggep kalian sahabat gue. Kalo lo punya beban, kita angkat beban itu bareng-bareng. Kalo lo punya masalah, kita pecahin masalah itu bareng-bareng,” kata Doni bijak, menarik kedua sahabatnya kedalam dekapannya.
“Maaf, Len. Bukan maksud gue buat bentak lo tadi, gue cuma bingung mau jawab apa, sedangkan gue juga gak tau gimana gue, gue ngerasa kalah sama bayangan.” Ucap Salsa menyesal.
“okelah, itu bukan masalah lagi,” balas Helen tersenyum.
“Hmm, so? Ada yang mau lo critain ke kita?” tanya Doni.
Salsa menarik nafas panjang, matanya terpejam. Butiran air mengalir dari pelupuk matanya. Salsa mulai menceritakan kejadian-kejadian yang membuatnya berubah, sebuah cerita meluncur begitu saja dari bibir tipisnya, sekelebat bayangan bermunculan tanpa ampun.
“Pah, Salsa mau kerumah temen dulu ya mau ngerjain tugas,” pamit Salsa kepada Pak Putra, ayahnya.
“Sama siapa, nak?” tanya Pak putra.
“Sendiri Pah, naik motor.” Jawab Salsa.
“Kenapa gak diantar sama Pak Nandi saja? Kamu kan baru bisa naik motor, nanti kalau ada apa-apa dijalan bagaiman? Papa khawatir.”
“Bisa kok, Pah. Papa tenang aja.” Ucap Salsa meyakinkan ayahnya.
Lima menit berlalu, terdengar dering dari ponsel Pak Putra. Dikabarkan bahwa Salsa baru saja kecelakaan, beliau langsung menghubungi istrinya yang sedang belanja untuk segera melihat kondisi Salsa.
Setelah diperiksa, ternyata Salsa kehilangan banyak darah, dia membutuhkan pendonor segera, sedangkan stok darah di Rumah sakit tersebut sedang habis.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka sedari tadi, seorang tadi menghampiri Pak Putra dan isrtinya. “Permisi Pak, saya tidak sengaja mendengar bahwa anak bapak sedang menbutuhkan donor darah, kebetulan golongan darah saya sama dengan anak bapak. Apakah saya boleh membantu anak bapak?”
Senyum mengembang dibibir Pak Putra dan Ibu Dessy. “Dengan senang hati, dik. Ngomong-ngomong nama adik ini siapa ya?” tanya Bu Dessy.
“Perkenalkan, nama saya Alfa.” Jawab Alfa mengulurkan tangannya.
“Saya Putra, dan ini istri saya Dessy,” ucap Pak Putra menjabat tangan Alfa.
“Oh iya, mari kita langsung saja ke ruang dokter.” Pak Putra dan Bu Dessy berjalan menuju ruang dokter di ikuti dengan Alfa dibelakangnya.
“Siapapun lo, lo bakal ngerasain penderitaan gue!” batin Alfa, tersenyum senang.
Dokter menganjurkan untuk Alfa diperiksa terlebih dahulu, tetapi Alfa menolak, ia berkata bahwa hanya buang-buang waktu saja. Ia juga meyakinkan Dokter bahwa keadaannya stabil. Pak Putra menyetujui perkataan Alfa.
“Iya, Pah. Apa gak lebih baik kalo Alfa diperiksa dulu?”
“Gak usah, Mah. Benar kata Alfa, itu hanya buang-buang waktu saja.”
“Ya udah, deh. Terserah.” Akhirnya mereka langsung membawa Alfa ke ruang transfusi darah.
Beberapa bulan kemudian...
Sudah tiga hari Salsa terserang demam tinggi, orang tuanya membawa Salsa ke rumah sakit untuk cek darah.
Dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang sulit untuk ditebak. Orang tua Salsa menunggu Dokter untuk buka mulut dengan cemas.
“Salsa positif terserang virus HIV,” ucapan Dokter tersebut bagaikan belati yang menghujam jantung mereka. Dada mereka terasa sesak.
Seketika Pak Putra mengingat kejadian beberapa bulan lalu, pikirannyav tertuju pada Alfa. Penolakan Alfa saat dirinya hendak diperiksa oleh Dokter menjawab semuanyaa.
“Sialan kamu Alfa! Akan saya cari kamu! Kamu telah mengahancurkan hidup anak saya! Jahanam kamu!” ucap Pak Putra geram.
Pak Putra merasa bersalah kepada putrinya tersebut. Dengan teledor ia telah membiarkan darah seorang penderita HIV mengalir didarah putrinya.
Salsa telah mengetahui virus apa yang sedang bersarang ditubuhnya. Ia merasa terpukul. Sejak saat itu Salsa menjadi murung, menutup diri dari orang lain.
Awalnya orang tua Salsa bisa menerimanya dengan baik. Tapi lama-kelamaan mereka ikut menjaga jarak dengan Salsa, bahkan baju-baju Salsa dicuci secara terpisah, peralatan makannya dikhususkan. Menyadari hal tersebut, Salsa semakin murung dan menjauhkan diri dari orang tuanya, jangankan untuk mengobrol, hanya sekedar menyapa orang tuanyapun ia enggan. Hanya Danny yang tetap mendukung Salsa, ia malah lebih mendekatkan diri kepada adiknya itu. Tetapi Salsa mengacuhkan perhatian kakaknya itu, ia beranggapan bahwa, “Ntar juga Kak Danny ikut ngibrit juga kaya papah mamah,”. Ia tak mau banyak berharap kepada orang lain.
Maka dari itu, Salsa memutuskan untuk merubah dirinya menjadi pribadi yang tertutup, dan jutek, agar tidak ada yang mau mendekatinya.
Dia membuka matanya, menarik nafas panjang entah untuk keberapa kalinya, menanti reaksi dari kedua sahabatnya. ‘Gue siap apapun reaksi kalian’ batinnya.
Helen dan Doni hanya dapat menatap Salsa dengan tatapan yang sulit diartikan. Masih spechless, keduanya bungkam.
“Kenapa pada diam? Lo berdua jijik kan sama gue? Itu alesan gue gak mau terlalu deket sama siapapun. Sekarang gue sadar, gue emang gak seharusnya punya temen, itu bisa bahayain diri temen gue sendiri. So? Kalian mau pergi, kan? Gausah dipaksain.” ucap Salsa tersenyum miris.
“Sal, gue.. guee..” ucap Helen terbata-bata, tiba-tiba ia memeluk Salsa.
“Gue gak bakalan jauhin lo, gue gak jijik sama lo. Kenapa lo gak ceritain masalah ini ke kita, Sal? Lo butuh berbagi.” Doni buka suara.
“Gue bingung. Gue malu sama kalian, gue juga takut kalo bakalan ada yang jauhin gue lagi setelah orang tua gue sendiri. Saat itu gue bener-bener gak punya rasa percaya lagi sama orang. Gue pikir kalo orang tua gue aja ngehindarin gue, apa kabar kalian?”
“Oke-oke. Lo gak perlu minder lagi sama kita. Kita sayang sama lo. Gue janji gue gak bakal jauhin lo, swear.” Ucap Doni, mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
Belum ada rasa kepercayaan penuh dalam benak Salsa. Ia masih terlalu takut untuk berharap. Tapi, apa salahnya ia menikmati?
Salsa beranjak dari kursinya. Ia turun menuju lobi di lantai satu, kelasnya memang terletak di lantai tiga. Mobil sedan BMW sudah stand by di parkiran yang terlihat dari lobi. Salsa berjalan menuju mobilnya untuk segera pulang.
Sesampainya dirumah, terlihat Danny sedang bermain dengan laptopnya. Salsa baru menyadari bahwa sebenarnya ia sangat merindukan kakaknya. Ia berlari menghampiri kakaknya dan memeluknya dari belakang.
Danny tersentak merasakan ada yang menubruk punggungnya. Ia berbalik, terperangah dengan apa yang dilihatnya.
“Kakaaakk! Maafin Salsaa.” Ucap Salsa terisak, masih tetap mendekap tubuh Danny.
“Hey! Kamu kenapa?” tanya Danny mencoba melepas pelukannya.
“Kok dilepas, sih, pelukannya? Kakak jijik ya sama Salsa? Salsa tau kok kalo Salsa itu bahaya. Maaf ya kak, Salsa udah sembarangan meluk kakak.” Danny miris mendengar ucapan adiknya.
“Salsa, dengerin Kak Danny ya, sayang. Kakak kangen banget sama kamu. Mama sama papa juga kangen sama kamu, mereka...” ucapan Danny terpotong oleh Salsa.
“Mereka gak kangen sama aku, mana mungkin mereka kangen. Kalau mereka kangen, mereka pasti deketin aku, gak ngehindarin aku kaya gini.” Selanya.
“Salsa..” terdengar suara dari balik tubuh Salsa. Salsa memahami suara itu, sangat paham.
“Oh, kalian.” Sambut Salsa dengan wajah datarnya. Tiba-tiba si pemilik suara memeluknya erat. Salsa tak bisa berkutik. Ia hanya bisa terdiam, semuanya terasa menggumpal. Perasaan yang ingin meledak, entah apa. Haruskah ia marah? Menangis? Atau rindu? Salsa tetap diam. Tangannya tak kuasa membalas rengkuhan tangan kokoh itu.
“Sal, kamu salah nak. Papa dan mama tidak pernah sedikitpun ada niat untuk menjauhi kamu. Papa cuma gak kuat ngeliat kamu. Papa takut, papa lebih rapuh daripada kamu, sayang. Kamu masih bisa kuat, tapi papa? Papa sangat merasa bersalah sama kamu. Justru papa takut kamu yang akan menjauhi papa. Papa bingung, ini semua salah papa, papa ceroboh, papa teledor. Andai saja papa gak menerima tawaran itu secara langsung, andai saja papa mengikuti saran Dokter dan mama kamu, andai saja...” ucapannya terhenti ketika Salsa membalas rengkuhannya, perasaannya sedikit lega.
“Pah, mengandai-andai itu dosa, pah, hehe. Salsa ngerti kok. Ini gak sepenuhnya salah papa.” Timpal Salsa, suaranya sedikit serak. Ia melepaskan pelukan papanya. Kini giliran ibunya yang mememluk.
“Salsa, maafin mama juga ya, sayang. Mama juga ngerasa bersalah sama kamu, bukannya mama nyemangatin kamu tapi malah mama kaya gini, bersikap seperti gak perduli sama kamu, maafin mama, sayang.”
“Tapi masalah alat makan sama pakaian aku yang dipisahin, itu maksudnya apa?” tanya Salsa, suaranya sedikit menajam.
“Kamu tau kan, virus itu bisa nular lewat apa? Tapi kalo masalah pakaian, itu Mbok Jum yang misahin, mama gak nyuruh kok, sayang.” Jelas ibunya.
“Iya, Salsa ngerti kok. Maafin Salsa juga ya mah, pah. Salsa udah sinisin kalian selama ini.” Ucap Salsa, raut mukanya terpancar sebuah penyesalan.
“Kakak seneng deh, Salsa udah balik lagi, hehe.” Celetuk Danny, jarinya menyentil hidung bangir Salsa.
“Yee, emangnya Salsa abis dari mana, pake balik-balikan segala.”
“Pah, Kak Danny tuh! Jail banget sih!”
“Yah, mulai deh manjanya, huuuu!” Danny menoyor kepala Salsa.
“Eh, iya. Salsa, papa sudah menemukan dimana Alfa, nak. Papa tau datanya dari Rumah Sakit. Ternyata dia sudah menjadi pasien tetap disana. Apa yang ingin kamu lakukan pada dia? Apa kamu mau menemui dia? mau memarahi dia? atau mau lakukan apasaja sekukamu, sampai kamu puas. Bahkan kamu bisa menuntutnya.”
“Pah, mana mungkin aku mau jeblosin dia ke penjara. Pah, punya penyakit kaya gini aja udah menderitanya kaya gini, dia sama kaya aku, pah. Gak mungkin dong aku nyakitin sesama orang yang senasib?” jawabnya. Semuanya terperangah mendengar jawaban Salsa.
“kamu serius?” tanya Danny.
“Iya dong, buat apa juga kaya ginian buat bercandaan. Emangnya lucu apa?” jawabnya.
“Yaudah, Salsa. Papa sama mama mau datang ke acara peresmian perusahaan baru teman papa. Kita pergi dulu ya,” pamit Pak Putra, ia pergi bersama Bu Dessy meninggalkan kedua anaknya.
Salsa merasa lega, sedikit masih tidak percaya dengan kejadian di hari ini. Muali dari Helen dan Doni, dilanjutkan dengan Kak Danny dan kedua orang tuanya. Dia bersyukur, situasinya bisa dikembalikan seperti dulu lagi.
Salsa melirik Danny yang kembali berkutik dengan ‘pacarnya’. Danny yang merasa diperhatikanpun menoleh.
“Apa sih dek lirik-lirik? Ntar kamu naksir sama kakak kan bahaya!” tukasnya.
“ih, Kak Danny apaan sih! Siapa juga yang liatin kakak!” elak Salsa.
“Udah deh, ngaku ajaa! Kamu mau minta apa?”
“Kak, temenin aku jalan-jalan dong. Yayayay? Pliiisssss.” Pintanya memohon dan mengatupkan kedua telapak tangannya.
“Yah, gak bisa, Sal. Kamu liat kan kakak lagi banyak tugas? Minta anterin Pak Nandi aja sanah!” tolak Danny.
“Tau akh! Pacaran aja sanah sama laptop. Pantesan aja kakak masih jomblo!” celetuk Salsa, ia berdiri dari sofa dan berbalik meninggalkan Danny yang terbengong mendengar ucapan adiknya.
“HAH? EH! JANGAN SEMBARANGAN YA KALO NGOMONG!”