“Ayo kerjakan rencananya, sempurnakan ikhtiarnya dan kuatkan do'anya.”
— SienaAzzahra

JBB: An Artblog!
cherry valley forever
hello vonnie
Stranger Things
No title available
Cosimo Galluzzi

@theartofmadeline
we're not kids anymore.
h
RMH
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

❣ Chile in a Photography ❣
Xuebing Du
Misplaced Lens Cap
Today's Document
YOU ARE THE REASON

oozey mess
Three Goblin Art
Keni
No title available
seen from Sweden

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Norway
seen from United States

seen from Canada

seen from United States
seen from India
seen from Lithuania

seen from United States

seen from Germany
seen from Switzerland
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Australia

seen from United States
seen from United States
seen from Lithuania
seen from Australia
seen from T1
@sienaazzahra
“Ayo kerjakan rencananya, sempurnakan ikhtiarnya dan kuatkan do'anya.”
— SienaAzzahra
Banyak hal bermula dari biasa-biasa saja. Tapi, itu bukan alasan untuk menyepelekan pertanda. Bila sekiranya bisa membuatmu senyum-senyum bahagia, tertawa-tawa lega, obat saat penat, mengapa tidak mengikutinya?!
(via kotak-nasi)
Sahabat,
Pernahkah berfikir kenapa kita dipertemukan?
Allah mempertemukan kita untuk satu alasan.
Entah untuk memberi atau menerima.
Entah untuk belajar atau mengajarkan.
Entah untuk bercerita atau mendengarkan.
Entah untuk sesaat atau selamanya.
Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya.
Semua tidak ada yang sia-sia, karena Allah yang mempertemukan
Hidup kita saling mengisi, bersinggungan.
Bisa jadi kehadiran kita adalah jawaban atas do'a-do'a sahabat kita, sebagaimana mereka pun adalah jawaban atas do'a-do'a kita. Jika sudah menjadi takdir Allah, meski dengan jarak beribu-ribu kilometer kita tetap akan dipertemukan, dalam satu ikatan bernama "Ukhuwah".
Disini, selalu membuatku ingin tetap tinggal, didalam hati dan do'a-do'a sahabat. Sampai detik ini kita hebat. Detik berikutnya semoga makin hebat.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang bukan Nabi, dan bukan pula Syuhada. Tetapi para nabi dan syuhada cemburu pada mereka di hari kiamat nanti, disebabkan kedudukan yang diberikan Allah kepada mereka". "Ya Rasulullah, beritahukanlah kepada kami, siapa mereka? "Ujar sahabat: "Agar kami bisa turut mencintai mereka."
Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah tanpa ada hubungan keluarga dan nasab di antara mereka. Demi Allah, wajah-wajah mereka pada hari itu bersinar bagaikan cahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak takut di saat manusia takut, dan mereka tidak sedih di saat manusia sedih.” (HR. Abu Dawud)
Dalam Hadits lain disebutkan:
"Di sekitar Arsy Allah ada menara-menara dari cahaya, didalamnya terdapat orang-orang yang pakaiannya dari cahaya, wajah-wajah mereka bercahaya, mereka bukan Nabi atau pun Syuhada. Para Nabi dan syuhada iri kepada mereka". Ketika ditanya para sahabat: “Siapakah mereka itu ya Rasulullah ?”Rasulullah menjawab:“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling berkunjung karena Allah.” (HR. Tirmidzi)
Semoga kita adalah golongan orang-orang yang dicemburui oleh para Nabi dan Syuhada.
Semoga ukhuwah kita yang terjalin dilandasi oleh kasih sayang dan saling mencintai karena Allah.
Aamiin yaa Rabbal alamiin.....
Have a nice Friday Sahabatku.
Selamat berkumpul dan membahagiakan keluarga tercinta. Baraka Allah fikum. Aamiin
Interaksi dg Al Qur'an
Sudahkah Anda menerima tawaran Allah berupa JAMINAN kemudahan berinteraksi dengan Al-Qur'an ?? Dalam surat Al-Qomar, Allah mengulang jaminan kemudahan berinteraksi dengan Al-Qur'an sebanyak 4 kali !!! Allâh Azza wa Jalla berfirman: وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran? (al-Qomar/54:17)
َمَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ "Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan." [HR. Muslim, 3509]
Suka baca (harus) Cinta Buku
Saya termasuk orang yang menyukai membaca, membaca tema apa saja yang tentunya akan mendatangkan ilmu dan pemahaman yang baru. Tapi ga kutu buku juga sih, (hehe) sampai menghabiskan waktu berjam-jam dan punya jadwal rutinan ke toko buku hanya untuk membaca. Saya termasuk tipe pembaca yang harus menyukai dulu apa isi bukunya dan siapa penulisnya. Pilih-pilih ya ? iya, hehe...
Suka baca itu punya kecendrungan cinta lho sama buku, setuju ga ? karena jika kita menyukainya maka rasa cinta akan mengikuti dibelakangnya. Apa saja bentuk cinta buku ? yupz, harus memiliki… tanpa memiliki kita tak akan bisa mencintai buku seutuhnya. Beda lho ya sama ungkapan: “mencintai tanpa memiliki”. Aduh ko jadi bahasnya kesini sih. (Closed)
Mencintai buku itu (menurut versi saya lho ya) :
Memilikinya
Menyampulnya
Membacanya
Menyimpannya dengan baik, dan
Merawatnya
Pada intinya mencintai buku itu mempelakukan buku secara perikebukuan (aduh apalagi ini, ko ada perikebukuan segala?) perikebukuan itu memperlakukan buku dengan baik sesuai dengan fitrah dari buku. Saya termasuk orang yang agak pelit untuk meminjamkan buku, knp ? karena beberapa buku saya tidak ditemukan kembali dan entahlah berpindah kemana. Saat punya buku baru yang pasti pertama kali akan membubuhkan identitas di luar sampul pada bagian bawah buku dan kemudian menyampul buku dengan plastic mika. Setelah itu baru deh di baca.
Oh ya, saat membaca juga ada hal hal yang menjadi adab dalam membaca buku, salah satunya tidak melipat sampul buku ke belakang. Pada sebagian orang kurang peduli dengan hal ini, keliatan banget nih orang itu suka baca aja tanpa mencintai buku. Saya juga termasuk yang tidak setuju dengan asumsi orang : “kalau bukunya masih bagus itu artinya ga pernah dibaca” atau “kalau bukunya lecek atau rusak itu tandanya bukunya sering dibaca”. Buku yang di sampul dan dibaca dengan benar tidak akan menjadi lecek atau rusak. Lecek atau rusaknya suatu buku bisa terjadi karena beberapa hal berikut :
1. Tidak di sampul, (Kasian kalau buku itu ga di sampul, ibarat ga pake baju, kedinginan, hehe)
2. Membaca buku dengan melipat sampul depan ke belakang, (duh suka geregetan sama orang yang memperlakukan buku dengan cara ini)
3. Membaca sambil tiduran, (akhirnya buku juga jadi ikut ketiduran si pembaca, duh kasian deh bukunya :-P )
4. Melipat bagian yang sedang dibaca, ( :-( sedih deh kalau buku yang dipinjamkan itu pas balik kembali ke rak ternyata sudah ada bekas lipatannya. Jadi saya termasuk orang yang meminjamkan buku dan sekaligus memberikan pembatas buku sebagai penanda buku)
5. Membaca sambil makan atau minum, (kasian sih sebenernya takut bukunya kepengen makan atau minum, eh ... maksudnya sih lebih ke menjaga buku agar tidak kena air tau noda dari makanan)
Berlebihan ya ?iya. Saya termasuk orang yang apik ?iya. Gak apa apa yang penting buku saya akan saya perlakukan sesuai dengan keinginan saya, bukumu silahkan kamu perlakukan sesuai dengan keinginanmu…
Bogor 23 april 2016
Setitik kabut Selaksa rindu ku padamu (ayah) :((
tentang tantangan
Alkisah, seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya
Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.
Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.
Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.
Hadiah orangtua
Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.
Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.
Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.
Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.
Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.
Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.
Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.
Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.
Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.
Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.
Panggung Orang Dewasa
Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.
Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.
Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.
Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.
Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.
Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.
Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.
Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.
Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.
Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.
Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.
Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.
Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.
Prof. Rhenald Kasali
Sumber : grup FIM Club Pendidikan Parenting
Karena tak ada lagi yang bermanfaat sesudah kita tiada, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo'akan. Maka, betapa perlu kita berusaha dengan sungguh-sungguh agar tiap-tiap anak yang Allah Ta'ala amanahkan kepada kita menjadi orang-orang yang shalih. Inilah yang harus kita pikirkan. Tulusnya do'a saja tak cukup jika anak-anak itu tidak shalih. Yang kita rindukan bukan sekedar do'a anak-anak, sebab yang menjadikannya berharga hanya jika anak-anak itu shalih, lalu mendo'akan kita.
Fauzil Adhim, Segenggam Iman Anak Kita
Andai diumpakan Islam seperti sebuah bangunan usang yang hampir roboh, maka aku akan berjalan ke seluruh dunia demi mencari JIWA JIWA MUDA . Aku tidak ingin mengutip dengan ramainya bilangan mereka, tetapi aku ingin HATI HATI YANG IKHLAS untuk membantu dan bersamaku membina kembali bangunan usang itu menjadi sebuah bangunan yang indah. (Hasan Al Bana)
Jika hanya sebatas keluar dari lisan, niscaya hanya akan sampai ke telinga. Namun, jika yang keluar dari hati niscaya akan sampai ke hati.
Ya rabb, tetapkanlah jalan dakwah ini menjadi nafas kehidupan-ku sampai engkau mengutus Malaikatul maut untuk menjemput Ruh-ku.
Tawadhu itu menumbuhkan kecintaan dan Qonaah melahirkan ketenangan.
Sienaazzahra
Jalan ini bukan jalan yg lurus, Bukan pula jalan tanpa hambatan. Jalan ini jalan yg bergelombang, terkadang berkerikil, ada duri dan berliku. Yang pasti, setelah ada di jalan ini memohonlah do'a kepada-Nya untuk senantiasa di istiqomahkan di jalan ini. Jalan Dakwah.
Kita tidak pernah tau amalan apa yang akan mengantarkan kita ke syurga-Nya. Mari beramal tanpa memilih besar atau kecilnya amalan. Amalan kecil dimata kita bisa menjadi amalan besar dimata-Nya.
Sienaazzahra
Ayo kerjakan rencananya, sempurnakan ikhtiarnya dan kuatkan do'anya.
SienaAzzahra
Waidza maridhu fahuwa yasfiin… Berikan aku berlipat kasabaran, hati yang lapang dan tulus untuk menjalani setiap takdir yang Kau berikan Rabb.