Aku mengenal seseorang yang dengannya, rasa lelah bukan berarti apapun jika dibanding dengan peluh keringat yang membasahi dahinya* Sering suatu ketika, rasanya ingin berhenti saja. Memilih tidak peduli dengan tugas dan tanggung jawab yang datang beriringan, bahkan rasanya tidak adil ketika teman sendiri memilih tidur dengan alasan lelah sementara mata kita masih terjaga meski jarum jam sudah menunjuk pukul 02.00 Tapi, aku mengenal dengan jelas seseorang yang terkadang rela waktu tidurnya tersita sekian jam hingga akhirnya hanya tersisa 2 jam untuk beristirahat. Apa saja yang beliau lakukan dalam waktu 24 jam? Mari aku beri tahu garis besarnya.. Pagi seusai sholat subuh berjamaah dimasjid, meski suhu tidak mencapai 18 derajad tiap pagi, air begitu dingin menusuk hingga ketulang, beliau meraih sekop untuk membersihkan kotoran hewan ternaknya, sekian menit setelahnya, mencacah rumput untuk dimakan sapi-sapinya, sampai tidak terasa sudah pukul enam. Lalu apa setelahnya? Tentu saja seorang gadis kecil sudah siap dengan seragam dan tas sekolahnya, menunggu beliau untuk mengantarnya kesekolah. Sepulang dari mengantar sekolah, beliau sempatkan sarapan kemudian berangkat ke ladang. Jangan tanya apa saja yang beliau kerjakan di ladang, karena akan panjang cerita jika ku jabarkan satu persatu. Kenapa begitu? Karena pukul 11.30 beliau baru pulang kerumah, tentu saja panas terik matahari tidak beliau hiraukan. Lain halnya jika jadwal beliau harus ke kantor kelurahan. Pagi sampai siang hari, pekerjaan beralih kesana. Urusan itu belum selesai lagi nanti setelah menjemput gadis kecil tadi dari sekolah, balik lagi keladang, sampai sore hari menjelang ashar. Dan aku beritahu sebuah rahasia, sampai gadis kecil tadi lambat laun menjadi seorang gadis remaja, rutinitas itu tetap beliau lakukan. Belum lagi urusan yang datang silih berganti, malam hari harus menetapkan sebuah keputusan bersama warga-warganya, atau datang hari ketika ronda di kelurahan menjadi jadwal bagi beliau. Sekarang gadis kecil itu sudah masuk ke perguruan tinggi, uban di rambut beliau semakin bertambah. Pernah suatu ketika (seusai liburan), sepulang dari ladang, tanpa makan siang terlebih dahulu, beliau mengantarnya kekampus yang notabene cukup jauh dari rumah. Asal muasal cerita adalah adanya rapat yang harus gadis itu datangi, tetapi karena dadakan jadilah harus diantar lebih cepat sehari sebelum dia masuk kuliah. Meski dia telah menjelaskan bahwa dia bisa meminta ijin untuk tidak datang rapat , tidak enak hati karena beliau terlihat lelah, beliau justru menutupi rasa lelahnya dengan segera menghidupkan mesin, jadilah detik itu juga perjalanan magelang-semarang dimulai. Siang hari, seusai dzuhur, hujan membasahi jalanan, perjalanan magelang-semarang terhambat sekian menit karena ban bocor. Jauh dari bengkel, tidak bisa balik lagi kerumah, akhirnya beliau sendiri yang mengganti ban bocor itu dengan ban cadangan. Maka jadilah, rasa lelah dari ladang, rasa lelah menyetir, hujan turun, beliau berkutat dengan ban bocor, dan bilang "tidak apa-apa" sungguh tidak apa-apa, demi melihat anaknya menunaikan amanahnya. Bersama rintik hujan yang turun, bersama itu pula hati basah oleh rasa haru dan perasaan-perasaan lain yang sulit dijelaskan. Maka kuperkenalkan pada kalian, beliau adalah orang yang sering kupanggil "BAPAK" Ya, beliau yang berlelah-lelah untuk anak dan keluarganya, beliau yang menyempatkan waktunya mengurusi warga, menjadi pemimpin rumah tangga sekaligus pemimpin masyarakat, tapi tak pernah mengeluh sedikitpun. Dan keyakinanku pada bapak, ayah, papa, atau apapun sebutan kalian untuk bapak kalian, pastilah apapun yang ada pada mereka, mereka tetaplah pahlawan. Karenanya cukuplah dengan perjuangan mereka menjadikan alasan bagi kita untuk tidak mengeluh atas segala tugas dan tanggung jawab yang Allah amanahkan pada kita. Kamu lelah, maka ingatlah ada orang tua yang berlelah-lelah berjuang untuk kita, tanpa mengeluh, tanpa minta imbalan apapun dari kita. Maka, untuk proses menuju cita-citamu membahagiakan mereka, pantaskah kita mengeluh? Semarang , 260817 ----------------- pict : bapak dipayungi ibu ketika mengganti ban bocor. aku dimana? aku yang foto mereka, alasannya? aku sudah berusaha meminta biar aku saja yang memegang payung, tapi mereka berdua melarangku, bilang aku duduk saja. kenapa? karena kakiku belum sembuh total setelah kecelakaan, jadilah mereka khawatir berlebihan, hingga selalu saja diantar jemput magelang-semarang kalau waktu liburan. Begitulah, rasa cinta yang tak perlu diungkapkan dengan kata, tercermin pada orang tua mu yang selalu membuktikan dengan tindakan. Saatnya pula bagi kita membuktikan rasa cinta kita pada mereka bukan?