Lalu
Aku tau. Aku benar-benar tau. Deretan hal bodoh yang telah kulalui. Aku juga tau. Detik itu cepat berlalu. Semua hancur. Menjadi masa lalu. Nasi sudah menjadi bubur. Yang lalu biarlah berlalu. Kini saatnya bagiku untuk perbaiki diri. Menekan diri untuk selalu lebih menghargai apa yang sudah diberikan orang lain. Menjadi lebih baik lagi. Bagiku. Rasa ini selalu ada. Tak akan pudar. Meresap sangat dalam. Meskipun ku tau kau telah menjadi lalu. Tak akan hilang. Tetap menjadi yg terbaik. Dulu, kini, hingga nanti. Bagimu. Mungkin ini tidak berlaku bagimu. Bagimu aku bukanlah sesuatu. Bagimu aku hanyalah pembual. Bagimu aku hanyalah semu. Bagimu aku hanyalah lalu. Lalu hingga berlalu. Padam hingga tak lagi bisa diredam. Kini. Aku masih bersyukur. Sangat bersyukur. Allah menamparku di awal. Aku mau memperbaiki. Aku mau merubah. Aku mau berbenah. Kini. Muak mu terhadapku menjadi koreksi. Sudah barang tentu bodoh jika aku masuk ke lubang yang sama. Lalu. Rasa itu tidak pernah lalu. Asal kau tau. Sungguhku tak pernah lalu. Asal kau tau. Kesempatan. Ku yakin akan selalu ada. Bagiku. Juga bagimu. Harapku sangat besar. Rasaku sangat dalam. Kini aku berserah diri. Aku yg bermain api. Aku siap dgn konsekwensi. Meskipun kesempatan itu hanya angan. Meskipun kesempatan itu tak pernah ada bagiku. Satu yg kau harus tau, rasa sungguh ku akan selalu ada. Tak akan berlalu. Surabaya, 16 April 2017















