Lanjut S2 bukan tentang pencapaian,
… tapi tanggung jawab
Foto saat wisuda S1 (Tangerang Selatan, 2024)
Bisa menempuh pendidikan hingga bangku perkuliahan di Indonesia adalah sebuah privilege. Bagi sebagian orang, kuliah terasa seperti hal yang biasa saja. Seolah jalan yang "sudah seharusnya" dilalui. Tapi faktanya tidak sesederhana itu.
Nyatanya, hanya 10,2% penduduk Indonesia yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi (S1). Dari jumlah itu, yang melanjutkan hingga S2 bahkan lebih kecil lagi.
Terlepas dari apakah seseorang memang ingin kuliah atau tidak, angka ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia masih menjadi ruang yang sangat eksklusif, tak semua orang punya kesempatan yang sama untuk memperolehnya.
Privilege yang Membawa 'Utang'
Sejak menjalani studi S2, aku menyadari bahwa gelar ini bukan pencapaian, tapi tanggung jawab.
Logikanya sederhana. Kalau hanya segelintir orang yang punya akses ke ilmu setinggi ini, sementara mayoritas masyarakat tidak, maka ilmu itu bukan milik pribadi semata. Ia adalah semacam 'utang' kepada semua orang yang tidak pernah mendapat kesempatan yang sama.
Sebagai mahasiswa Magister, kita sering dianggap lebih pintar, lebih berwawasan, lebih "segalanya".
Anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Sebab logikanya, semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin besar pula akses terhadap ilmu dan cara berpikir yang terstruktur.
Tapi realitanya, gelar tidak otomatis membuat seseorang lebih bijaksana. Titel bisa didapat tanpa harus benar-benar mengubah cara seseorang berpikir atau bersikap terhadap sekitarnya.
Maka, jika ilmu yang kita punya tidak lantas membuat kita menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, lalu untuk apa sebenarnya ilmu itu?
Tak Ada yang Menuntut, Tapi Seharusnya Ada yang Berubah
Tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan seorang magister untuk berbuat A, B, C, atau D. Tidak ada polisi moral yang mengawasi apakah gelar itu dipakai untuk kebaikan atau tidak.
Tapi justru di situ letak ujiannya. Ilmu yang kita peroleh seharusnya membentuk cara kita memandang persoalan di sekitar kita menjadi lebih peka, sensitif, dan solutif.
Secara tidak langsung, kita punya peran untuk menjadi bagian masyarakat yang wise di tengah society yang penuh kebisingan informasi dan opini instan.
I know, it's not an easy path to walk.
Jikalau pun kita belum mampu menghadirkan perbaikan nyata bagi masyarakat, minimal jangan sampai kita justru menjadi bagian dari perusakan ideologi, moral, dan intelektual generasi penerus kita.
Memilih untuk Bertanggung Jawab
Menjadi bagian dari kelompok kecil yang mengenyam pendidikan setinggi ini sebenarnya adalah sebuah pilihan yang berisiko.
Risiko untuk terus dituntut lebih, risiko untuk terus mempertanyakan diri sendiri apakah ilmu yang dimiliki sudah cukup memberi manfaat, risiko untuk tidak merasa nyaman dengan kondisi yang ada.
Untuk teman-teman sesama Magister, apakah kalian juga memikirkan hal yang sama?
So, let's take the risk!
Risiko untuk terus bertanggung jawab atas ilmu yang kita peroleh, bukan sekadar berbangga dengan gelar.










