Seringkali aku salah mengira.
Aku pikir, kemuliaan itu terletak pada seberapa banyak buku yang kulahap, seberapa fasih lidahku mengutip dalil atau seberapa tinggi tumpukan gelar yang berderet di belakang namaku. Aku sibuk membangun perpustakaan megah di dalam kepalaku. Aku menumpuk teori, menghafal rumus dan mengoleksi hikmah orang-orang bijak. Hingga kepalaku penuh, sesak dan berat. Dan dengan isi kepala itu, aku mulai merasa lebih tinggi dari orang lain.
Namun, aku lupa pada kaidah yang paling keramat. Ilmu yang mengendap di kepala tanpa mengalir ke tangan dan kaki, hanyalah racun. Ia akan membusuk menjadi kesombongan.
Apa gunanya aku tahu letak surga, jika kakiku enggan melangkah ke arah sana?
Apa gunanya aku hafal ribuan hadis tentang sedekah, jika tanganku masih gemetar saat hendak merogoh saku?
Apa gunanya aku paham teori sabar, jika emosiku meledak hanya karena hal sepele?
Jika ilmu hanya berhenti di kerongkongan, maka aku tak ubahnya seperti kuldai (keledai) yang memanggul kitab-kitab tebal di punggungnya. Membawa beban berat ilmu, namun tak merasakan sedikitpun manfaatnya.
Kaidah tertinggi ilmu bukanlah "Hafal", melainkan "Amal".
Ilmu itu bukan untuk didebatkan di ruang seminar yang dingin, tapi untuk dibumikan di jalanan kehidupan yang berdebu.
Tuhan tidak akan bertanya seberapa rapi catatan di bukumu. Tuhan akan bertanya "Mana jejak kakimu?"
Sebab pada akhirnya, sebodoh-bodohnya manusia adalah mereka yang tahu jalan pulang, tapi memilih untuk duduk diam dan mati dalam kesesatan teorinya sendiri.
"Ilmu tanpa amal adalah pohon tanpa buah, ia tumbuh gagah menjulang ke langit, namun mandul tak memberi manfaat bagi bumi yang memijaknya."
@clichemistry











